Hanya Kepada Allah SWT
Oleh SiS Antarkita
Dalam kehidupan ini manusia selalu bergerak, berusaha, dan beramal. Ada yang bekerja keras mencari nafkah, ada yang berjuang dalam kegiatan sosial, ada yang berdakwah, ada yang membangun usaha, ada pula yang mengabdikan dirinya dalam berbagai program yang bertujuan menghadirkan manfaat bagi banyak orang.
Semua aktivitas itu pada dasarnya adalah bagian dari amal kehidupan. Namun di balik semua amal tersebut ada satu pertanyaan yang sangat penting untuk selalu kita tanyakan kepada diri sendiri: kepada siapa sebenarnya kita berharap balasan dari semua yang kita lakukan?
Sering kali tanpa disadari manusia berharap balasan dari manusia. Berharap dihargai, berharap dipuji, berharap diakui sebagai orang yang berjasa. Bahkan kadang seseorang berharap namanya disebut sebagai orang yang memiliki peran besar dalam sebuah keberhasilan.
Ketika harapan itu tidak terpenuhi, hati menjadi gelisah. Timbul rasa kecewa. Bahkan tidak jarang seseorang merasa tidak dihargai atas apa yang telah ia lakukan.
Di situlah sesungguhnya arah niat kita sedang diuji.
Jika amal kita terlalu bergantung pada penilaian manusia, maka ketenangan hati kita juga akan sangat bergantung pada manusia. Ketika manusia memuji, kita merasa senang. Ketika manusia tidak menghargai, kita merasa kecewa.
Padahal manusia memiliki banyak keterbatasan. Manusia bisa lupa. Manusia bisa tidak mengetahui apa yang kita lakukan. Bahkan manusia bisa salah dalam menilai.
Karena itu seorang mukmin diajarkan untuk meluruskan kembali arah harapannya.
Ketika berbuat kebaikan, hendaknya kita menanamkan keyakinan dalam hati bahwa balasan sejati hanya datang dari Allah SWT. Manusia boleh saja melihat atau tidak melihat, menghargai atau tidak menghargai, tetapi Allah tidak pernah luput dari mengetahui setiap amal yang dilakukan oleh hamba-Nya.
Sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan tidak pernah hilang dari pengetahuan Allah.
Kesadaran seperti ini membuat hati menjadi lebih tenang. Kita tidak lagi terlalu sibuk memikirkan apakah orang lain mengetahui apa yang kita lakukan atau tidak. Kita tidak terlalu khawatir apakah nama kita disebut atau tidak.
Karena yang paling penting adalah Allah mengetahui niat dan usaha kita.
Begitu pula dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Manusia sering merasa kuat karena memiliki kemampuan, pengalaman, atau jaringan pertemanan. Namun pada saat tertentu manusia akan sampai pada titik di mana semua itu terasa terbatas.
Ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kecerdasan.
Ada masalah yang tidak bisa diatasi hanya dengan kekuatan.
Ada keadaan yang membuat manusia benar-benar merasa tidak berdaya.
Pada saat itulah seseorang akan menyadari bahwa tempat bersandar yang paling kokoh hanyalah Allah SWT.
Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
Hanya kepada Allah kita meminta petunjuk dan hidayah.
Dan hanya kepada Allah kita menggantungkan rahmat dalam setiap langkah kehidupan.
Ketika hati benar-benar bersandar kepada Allah, kehidupan terasa lebih ringan. Manusia tetap bekerja keras, tetap berusaha, tetap berjuang, tetapi hatinya tidak lagi terbebani oleh keinginan untuk selalu mendapatkan pengakuan dari manusia.
Ia berbuat baik karena memang ingin berbuat baik.
Ia membantu karena memang ingin memberi manfaat.
Ia bekerja karena ingin menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya.
Tujuan utamanya hanya satu: mencari ridha Allah SWT.
Keyakinan seperti ini membuat seseorang tidak mudah goyah oleh pujian dan tidak mudah patah oleh kritik. Ia memahami bahwa hidup ini bukan panggung untuk mencari pengakuan manusia, tetapi perjalanan untuk mendekat kepada Allah.
Ketika manusia memahami hal ini, maka ia akan menjalani hidup dengan hati yang lebih ikhlas. Ia tidak lagi terlalu sibuk membuktikan dirinya kepada manusia, tetapi lebih fokus menjaga hubungan dengan Allah.
Karena pada akhirnya semua amal akan kembali kepada-Nya. Semua usaha akan dinilai oleh-Nya. Dan semua harapan sejati hanya pantas disandarkan kepada-Nya.
Maka dalam setiap langkah kehidupan, tanamkanlah keyakinan dalam hati:
Hanya kepada Allah SWT kita berharap balasannya.
Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
Hanya kepada Allah kita menyandarkan petunjuk, hidayah, dan rahmat-Nya.
Dan ketika hati benar-benar bersandar kepada Allah, manusia akan menemukan ketenangan yang tidak bergantung pada penilaian siapa pun.
SiS Antarkita