Prof. Brian Yuliarto, Mendikti Saintek, Kader Muhammadiyah dan Ketua PCM Cibeunying Kaler
Oleh: SiS, Antarkita
Di dalam perjalanan panjang Muhammadiyah, ada satu nilai yang terus diwariskan lintas generasi, tetapi kerap diuji oleh zaman: rendah hati dalam bermuhammadiyah. Nilai ini bukan sekadar akhlak personal, melainkan fondasi etika organisasi. Ia menentukan bagaimana kader memandang jabatan, menempatkan diri dalam struktur, dan memilih ruang pengabdian.
Nilai itulah yang menemukan bentuk paling konkret pada sosok Prof. Brian Yuliarto—seorang ilmuwan, profesor, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, sekaligus kader Muhammadiyah yang berkhidmat sebagai Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cibeunying Kaler.
Dalam sebuah literasi reflektif tentang Muhammadiyah, ditegaskan bahwa aktif di cabang dan ranting adalah ujian kerendahan hati sekaligus sekolah kepemimpinan yang sesungguhnya. Cabang bukan sekadar unit administratif, melainkan jantung persyarikatan. Di sanalah denyut dakwah sosial, pendidikan, dan pembinaan jamaah berlangsung secara nyata. Di sanalah kader belajar bersabar, mendengar, bermusyawarah, dan bekerja dengan sumber daya terbatas.
Menjadi Ketua PCM, terlebih bagi seorang profesor dan pejabat negara, bukanlah perkara prestise. Tidak ada panggung besar, tidak ada sorotan luas. Yang ada adalah kerja sunyi, dinamika jamaah, dan problem konkret warga. Karena itu, kesediaan Prof. Brian memimpin PCM bukan sekadar jabatan struktural, tetapi pernyataan sikap ideologis dan etis.
Muhammadiyah sejak awal tidak membangun tradisi kader instan. Dalam literasi organisasi ditegaskan bahwa kader yang “meloncat” ke struktur atas tanpa pengalaman basis sering kali rapuh—easy come, easy go. Sebaliknya, mereka yang ditempa di ranting dan cabang akan memiliki ketahanan moral, kedalaman empati, dan kematangan kepemimpinan. Prof. Brian justru menegaskan prinsip ini dengan cara yang elegan: semakin tinggi amanah, semakin kuat keterikatannya dengan basis.
Sebagai Ketua PCM Cibeunying Kaler, Prof. Brian berada di ruang yang egaliter. Ia duduk sejajar dengan guru sekolah Muhammadiyah, pengurus masjid, aktivis AUM, pedagang kecil, dan jamaah biasa. Tidak ada jarak akademik, tidak ada hierarki kekuasaan. Yang ada adalah musyawarah, kebersamaan, dan tanggung jawab kolektif. Inilah wajah Muhammadiyah yang paling otentik: gerakan yang memuliakan ilmu tanpa meninggikan ego.
Literasi Muhammadiyah juga mengajarkan bahwa jabatan bukan ukuran keutamaan kader, melainkan konsistensi dalam khidmat. Prof. Brian membawa etos itu hingga ke level negara. Ketika ia dipercaya menjadi Mendikti Saintek, amanah tersebut bukan sekadar pengakuan atas kapasitas keilmuannya, tetapi juga ujian nilai. Apakah sains akan diposisikan sebagai komoditas elit, atau sebagai instrumen kemajuan yang berkeadilan?
Muhammadiyah, sejak KH. Ahmad Dahlan, memandang ilmu sebagai sarana pembebasan. Ilmu tidak boleh tercerabut dari realitas umat. Ia harus berpihak pada kemanusiaan, keadilan, dan kemaslahatan. Dalam posisi strategis sebagai Mendikti Saintek, Prof. Brian berada di persimpangan penting antara kampus, negara, dan masyarakat. Identitasnya sebagai kader Muhammadiyah memberi landasan etik agar kebijakan pendidikan tinggi dan riset tidak kehilangan orientasi sosial.
Yang menarik, literasi tentang rendah hati dalam bermuhammadiyah juga menekankan pentingnya memikirkan lingkungan terdekat terlebih dahulu sebelum berbicara pada level yang lebih luas. Prof. Brian mempraktikkan hal ini secara literal. Ia tidak hanya berbicara tentang masa depan sains Indonesia di forum nasional, tetapi juga memikirkan bagaimana persyarikatan di tingkat cabang bisa tumbuh, hidup, dan relevan bagi jamaahnya.
Kisah ini menjadi cermin penting bagi kader muda Muhammadiyah hari ini. Di tengah godaan popularitas, jabatan, dan eksposur publik, Muhammadiyah mengingatkan bahwa proses tidak boleh dilompati. Bahwa berkhidmat di ranting dan cabang bukanlah beban, melainkan kehormatan. Bahwa kerendahan hati bukan kelemahan, tetapi sumber kekuatan moral.
Muhammadiyah tidak kekurangan orang pintar. Yang selalu dibutuhkan adalah orang-orang berilmu yang mau tetap menjadi kader, pemimpin yang tidak tercerabut dari jamaah, dan tokoh yang tidak lupa pulang ke rumah persyarikatan. Prof. Brian Yuliarto menghadirkan teladan itu secara utuh: ilmuwan yang membumi, pejabat yang beradab, dan kader yang setia pada proses.
Dari Cibeunying Kaler hingga pusat kebijakan nasional, ada benang merah yang tidak terputus: benang pengabdian. Benang nilai. Benang kerendahan hati. Dan di situlah kita belajar bahwa keagungan Muhammadiyah tidak dibangun oleh siapa yang paling tinggi jabatannya, tetapi oleh siapa yang paling tulus khidmatnya.
Di zaman ketika banyak orang berlomba naik ke panggung besar, Prof. Brian mengajarkan satu pelajaran sederhana namun mendalam:
bahwa jabatan boleh setinggi langit, tetapi khidmat harus tetap membumi—di cabang, di jamaah, dan di persyarikatan.
SiS, Antarkita