Ikhtiar vs Takdir

Ikhtiar vs Takdir

Oleh SiS Antarkita

Salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam kehidupan manusia adalah tentang hubungan antara ikhtiar dan takdir.

Ketika seseorang mengalami kegagalan setelah berusaha keras, muncul pertanyaan:

“Kalau akhirnya ditentukan Allah, untuk apa saya berikhtiar?”

Sebaliknya, ketika seseorang berhasil setelah bekerja keras, muncul keyakinan:

“Ini semua karena usaha saya.”

Dua cara pandang tersebut sama-sama berpotensi menyesatkan apabila tidak dipahami secara utuh.

Dalam perspektif yang keliru, manusia sering mempertentangkan antara ikhtiar dan takdir. Seolah-olah keduanya berada pada dua sisi yang berlawanan.

Padahal dalam pandangan Islam, ikhtiar dan takdir bukanlah lawan, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang Allah SWT ciptakan untuk manusia.

Ikhtiar adalah kewajiban makhluk.

Takdir adalah hak prerogatif Allah SWT.

Keduanya harus berjalan beriringan dan harmonis.

Kesalahan Memahami Ikhtiar

Banyak manusia menempatkan ikhtiar sebagai penentu utama keberhasilan.

Akibatnya, ketika berhasil, ia merasa keberhasilan itu murni hasil kecerdasannya.

Ia lupa bahwa kecerdasan yang dimilikinya berasal dari Allah.

Ia lupa bahwa kesehatan yang membuatnya mampu bekerja berasal dari Allah.

Ia lupa bahwa kesempatan yang datang kepadanya juga berasal dari Allah.

Ia lupa bahwa di luar perhitungannya terdapat ribuan faktor yang tidak dapat ia kendalikan.

Ketika seseorang menganggap keberhasilan semata-mata hasil ikhtiarnya, maka tanpa disadari ia sedang menggeser pusat ketergantungannya dari Allah kepada dirinya sendiri.

Inilah awal lahirnya kesombongan.

Allah SWT mengabadikan ucapan Qarun yang merasa seluruh keberhasilannya berasal dari dirinya sendiri:

“Sesungguhnya aku diberi harta itu hanyalah karena ilmu yang ada padaku.”

(QS. Al-Qashash: 78)

Qarun lupa bahwa ilmu yang dimilikinya juga pemberian Allah.

Ia menuhankan kemampuan dirinya.

Dan sejarah mencatat bagaimana kesombongan itu berakhir dengan kehancuran.

Kesalahan Memahami Takdir

Di sisi lain, ada pula manusia yang menjadikan takdir sebagai alasan untuk bermalas-malasan.

Mereka berkata:

“Kalau memang rezeki sudah ditentukan, untuk apa bekerja keras?”

“Kalau memang jodoh sudah ditentukan, untuk apa berusaha?”

“Kalau memang sukses sudah ditentukan, untuk apa belajar?”

Pemahaman seperti ini juga tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Karena Allah yang menetapkan takdir adalah Allah yang memerintahkan manusia untuk berikhtiar.

Allah SWT berfirman:

“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu…”

(QS. At-Taubah: 105)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Bersungguh-sungguhlah dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.”

(HR. Muslim)

Hadis ini sangat jelas.

Berusaha adalah perintah.

Memohon pertolongan Allah adalah kewajiban.

Dan menyerah sebelum berusaha adalah kelemahan yang tidak dianjurkan.

Mengapa Allah Memberikan Ruang Ikhtiar?

Pertanyaan mendasar yang perlu direnungkan adalah:

Jika Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, mengapa Allah tidak langsung memberikan hasil tanpa proses?

Mengapa manusia harus bekerja?

Mengapa manusia harus belajar?

Mengapa manusia harus berjuang?

Mengapa manusia harus menghadapi berbagai ujian kehidupan?

Padahal Allah sangat mampu memberikan segala sesuatu tanpa proses.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah’, maka jadilah ia.”

(QS. Yasin: 82)

Bagi Allah, menjadikan seseorang kaya adalah mudah.

Menjadikan seseorang sukses adalah mudah.

Menjadikan seseorang terkenal adalah mudah.

Menjadikan seseorang gagal pun sangat mudah.

Namun Allah tidak menjadikan kehidupan berjalan seperti itu.

Allah menciptakan proses karena ada hikmah yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil.

Tujuan Dasar Penciptaan Manusia

Sering kali manusia terlalu fokus pada hasil sehingga lupa tujuan utama keberadaannya di dunia.

Allah SWT berfirman:

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Inilah tujuan dasar kehidupan.

Bukan menjadi kaya.

Bukan menjadi terkenal.

Bukan menjadi pejabat.

Bukan menjadi pengusaha besar.

Semua itu hanyalah kemungkinan-kemungkinan dalam perjalanan hidup.

Tujuan utama penciptaan manusia adalah ibadah.

Ketika tujuan hidup dipahami dengan benar, maka cara pandang terhadap ikhtiar akan berubah.

Ikhtiar bukan lagi sekadar alat untuk mendapatkan hasil.

Ikhtiar adalah sarana ibadah.

Ikhtiar Sebagai Wasilah Ibadah

Seorang petani yang menanam padi dengan niat mencari rezeki halal sedang beribadah.

Seorang pedagang yang jujur sedang beribadah.

Seorang guru yang mengajar dengan ikhlas sedang beribadah.

Seorang ayah yang bekerja keras menafkahi keluarga sedang beribadah.

Seorang ibu yang merawat anak-anaknya dengan penuh kasih sayang sedang beribadah.

Bahkan seseorang yang sedang berjuang bangkit dari keterpurukan ekonomi, selama ia tetap menjaga kehalalan dan kesabarannya, juga sedang beribadah.

Di sinilah letak keindahan Islam.

Nilai ikhtiar tidak hanya terletak pada hasil akhirnya.

Nilai ikhtiar terletak pada proses penghambaan kepada Allah.

Mengapa Hasil Tetap di Tangan Allah?

Karena Allah ingin menjaga hati manusia.

Seandainya keberhasilan dijamin oleh ikhtiar, maka manusia akan menuhankan ikhtiar.

Manusia akan percaya bahwa dirinya adalah pencipta keberhasilannya sendiri.

Manusia akan semakin jauh dari rasa syukur.

Manusia akan semakin dekat kepada kesombongan.

Sebaliknya, dengan menjadikan hasil sebagai hak prerogatif-Nya, Allah mengajarkan manusia tentang kerendahan hati.

Bahwa setelah seluruh usaha dilakukan, tetap ada ruang untuk tawakal.

Tetap ada ruang untuk berdoa.

Tetap ada ruang untuk berharap kepada Allah.

Tetap ada ruang untuk mengakui keterbatasan diri.

Perspektif Mukmin Tentang Keberhasilan dan Kegagalan

Seorang mukmin tidak mengukur hidup hanya dari berhasil atau gagal.

Karena berhasil dan gagal adalah penilaian manusia.

Sedangkan yang dilihat Allah adalah iman, niat, kesungguhan, kesabaran, dan ketakwaan.

Bisa jadi seseorang gagal dalam bisnis tetapi berhasil dalam kesabaran.

Bisa jadi seseorang kehilangan pekerjaan tetapi berhasil menjaga kejujurannya.

Bisa jadi seseorang tidak kaya secara materi tetapi kaya di sisi Allah karena syukur dan tawakalnya.

Allah SWT berfirman:

“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”

(QS. Al-Mulk: 2)

Perhatikan.

Allah tidak mengatakan siapa yang paling sukses.

Allah tidak mengatakan siapa yang paling kaya.

Allah tidak mengatakan siapa yang paling terkenal.

Allah mengatakan:

“Siapa yang paling baik amalnya.”

Penutup

Maka sesungguhnya ikhtiar dan takdir bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.

Ikhtiar adalah perintah Allah.

Takdir adalah keputusan Allah.

Ikhtiar adalah kewajiban hamba.

Takdir adalah hak Allah.

Ikhtiar adalah ladang ibadah.

Takdir adalah wilayah kekuasaan Allah.

Karena itu, seorang mukmin akan terus melangkah.

Ia bekerja sebaik-baiknya.

Ia belajar sebaik-baiknya.

Ia berusaha sekuat-kuatnya.

Ia berdoa sebanyak-banyaknya.

Namun hatinya tetap tenang.

Karena ia sadar bahwa tujuan hidup bukan sekadar mencapai apa yang diinginkan, melainkan menjadikan setiap langkah hidup sebagai ibadah kepada Allah SWT.

Jika berhasil, ia bersyukur.

Jika gagal, ia bersabar.

Jika diberi, ia rendah hati.

Jika ditahan, ia tetap berbaik sangka kepada Allah.

Sebab pada akhirnya, bukan keberhasilan atau kegagalan yang akan menyelamatkan manusia di hadapan Allah, melainkan keimanan, ketakwaan, dan bagaimana ia menjadikan seluruh ikhtiarnya sebagai jalan menuju ridha Allah SWT.**

Tinggalkan Balasan