Antarkita: Ikhtiar Kecil dari Inspirasi Rasulullah ﷺ Membangun Pasar
Sejarah bukan sekadar kisah masa lalu. Ia sering kali hadir kembali dalam wajah yang berbeda, namun dengan persoalan yang serupa. Apa yang dihadapi Rasulullah ﷺ di Madinah pada abad ke-7, dalam banyak hal mencerminkan kondisi umat Islam hari ini—khususnya dalam bidang ekonomi dan penguasaan pasar.
Pada masa awal hijrah, Rasulullah ﷺ mendapati bahwa denyut ekonomi Madinah dikuasai oleh pasar Bani Qainuqa’, yang dikendalikan kaum Yahudi. Sistem pasar tersebut sarat dengan praktik riba, manipulasi harga, dan monopoli. Kaum Muslimin, meskipun jumlahnya terus bertambah, hanya menjadi pengikut dan konsumen, bukan pengendali sistem.
Rasulullah ﷺ tidak memilih jalan konfrontasi fisik, tetapi melakukan ijtihad peradaban: membangun sistem alternatif. Beliau mendirikan pasar sendiri—yang kemudian dikenal sebagai Pasar Manakhah—sebuah pasar yang bebas riba, tanpa pungutan yang menindas, menjunjung kejujuran, dan memberi ruang keadilan bagi semua pedagang. Dalam hadis disebutkan:
“Ini adalah pasar kalian. Jangan dipersempit dan jangan dipungut pajak.”
(HR. Ibnu Majah)
Pasar bagi Rasulullah ﷺ bukan sekadar tempat transaksi, tetapi instrumen kedaulatan umat. Di sanalah martabat, kejujuran, dan kemandirian ekonomi ditegakkan.
Kondisi Umat Hari Ini: Sejarah yang Berulang
Jika kita jujur membaca realitas hari ini, kondisi tersebut terasa kembali hadir.
Pasar ritel modern—mulai dari produk kebutuhan pokok hingga jaringan distribusi—sebagian besar dikuasai oleh kekuatan modal besar yang bukan berasal dari umat Islam. Umat Islam, meski menjadi mayoritas penduduk dan konsumen, justru sering berada di posisi paling lemah dalam struktur ekonomi.
Lebih jauh, daging ayam pedaging, yang merupakan konsumsi terbesar umat Islam di Indonesia, dari hulu hingga hilir—pakan, bibit, peternakan, rumah potong, hingga distribusi—nyaris sepenuhnya dikuasai oleh korporasi besar non-Muslim. Ini bukan sekadar persoalan bisnis, tetapi persoalan kedaulatan pangan dan keadilan ekonomi umat.
Di ruang digital, keadaan serupa terjadi. Marketplace digital dan layanan ojek online—yang kini menjadi tulang punggung ekonomi harian masyarakat—didominasi oleh modal asing. Teknologi yang seharusnya menjadi alat, berubah menjadi sistem yang mengendalikan manusia. Relasi sosial semakin tereduksi menjadi hubungan transaksional semata.
Padahal Islam memandang ekonomi sebagai bagian dari ibadah sosial. Allah SWT berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia…”
(QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini menegaskan bahwa urusan dunia—termasuk ekonomi—harus dikelola dengan nilai, bukan diserahkan sepenuhnya pada keserakahan sistem.
Antarkita: Ikhtiar Kecil, Sikap Besar
Dalam situasi seperti inilah Antarkita hadir. Antarkita tidak lahir dengan klaim besar, tidak pula dengan ambisi menumbangkan raksasa ekonomi global. Antarkita lahir sebagai pilihan sikap.
Ia mengingatkan kita pada kisah burung pipit dalam peristiwa Nabi Ibrahim AS. Ketika api raksasa dinyalakan untuk membakar Ibrahim, burung pipit datang membawa setetes air. Secara logika, air itu tak akan memadamkan api. Namun burung pipit tidak sedang menghitung hasil, ia sedang menentukan keberpihakan.
Allah SWT kemudian berfirman:
“Wahai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”
(QS. Al-Anbiya: 69)
Bukan besarnya air yang dinilai, tetapi niat dan posisi hati.
Antarkita memaknai perjuangannya dalam kerangka itu. Ia adalah ikhtiar kecil di tengah hegemoni ekonomi kapitalistik. Namun kecil atau besar bukan soal ukuran, melainkan arah dan keberpihakan.
Membangun Pasar Alternatif ala Rasulullah ﷺ
Seperti Rasulullah ﷺ yang membangun pasar sebagai jalan kemandirian umat, Antarkita terinspirasi untuk menghadirkan ekosistem ekonomi alternatif:
Teknologi yang sederhana dan mudah diakses.
Relasi bisnis yang menghidupkan kembali hubungan antarmanusia.
Ruang tumbuh bagi UMKM agar tidak tergantung pada sistem yang menindas.
Ekonomi yang memandang manusia sebagai subjek, bukan sekadar data dan transaksi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini menjadi fondasi bahwa ekonomi dalam Islam bukan sekadar mencari untung, tetapi membangun kemaslahatan bersama.
Antarkita hadir dengan kesadaran penuh akan keterbatasannya. Namun ia percaya bahwa setiap ikhtiar yang dilandasi niat baik dan nilai keadilan akan dicatat sebagai bagian dari perjuangan peradaban.
Selebihnya, hasil bukan milik manusia. Tugas kita adalah berikhtiar dan berpihak. Adapun kemenangan sejati, kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT, Sang Pemilik Kehidupan dan Pasar Semesta.
SiS, Antarkita