You are currently viewing Optimisme Bersama Allah SWT

Optimisme Bersama Allah SWT

Optimisme Bersama Allah SWT

Kekuatan Iman di Tengah Makar Manusia

Oleh SiS Antarkita

Dalam perjalanan kehidupan manusia, sering kali kita menyaksikan kenyataan yang membuat hati terasa berat. Ketika kita berharap kejujuran ditegakkan, justru yang tampil adalah tipu daya. Ketika kita berharap keadilan berdiri tegak, justru yang terlihat adalah permainan kepentingan.

Manusia merancang berbagai strategi, membangun kekuatan, mengumpulkan pengaruh, bahkan tidak jarang menggunakan cara-cara yang tidak jujur untuk mencapai tujuan.

Kita sering menyaksikan makar manusia yang begitu kuat.

Ada intrik.

Ada manipulasi.

Ada upaya menjatuhkan pihak lain demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Dalam situasi seperti itu, manusia bisa saja merasa kecil. Seolah-olah kebenaran tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menghadapi kejahatan yang terorganisir.

Namun seorang mukmin tidak boleh kehilangan optimisme.

Karena iman mengajarkan bahwa di atas semua rencana manusia, ada rencana Allah yang jauh lebih sempurna.

Allah SWT telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:

وَمَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُ ۗ وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ

“Mereka membuat tipu daya, dan Allah pun membalas tipu daya mereka. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

(QS. Ali ‘Imran: 54)

Ayat ini memberikan ketenangan bagi orang-orang yang beriman.

Manusia boleh saja membuat rencana.

Manusia boleh saja menyusun strategi.

Manusia boleh saja membangun kekuatan untuk menjatuhkan orang lain.

Namun semua itu tidak pernah benar-benar berada di luar kekuasaan Allah SWT.

Tidak ada satu pun rencana manusia yang mampu melampaui kehendak Allah.

Bahkan dalam banyak peristiwa sejarah, kita melihat bagaimana rencana manusia yang tampak begitu kuat akhirnya runtuh oleh kehendak Allah dengan cara yang tidak pernah disangka-sangka.

Ada kekuasaan yang tampak kokoh, tetapi runtuh dalam sekejap.

Ada kekuatan yang tampak tidak terkalahkan, tetapi akhirnya hancur oleh kehendak Allah.

Semua itu menunjukkan satu kebenaran besar dalam kehidupan:

Allah adalah Sang Pengatur segala urusan.

Karena itulah seorang mukmin tidak boleh kehilangan harapan, meskipun menghadapi situasi yang tampak sulit.

Optimisme seorang mukmin lahir dari keyakinan bahwa Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu.

Dalam Surah Al-Ikhlas ayat ke-2 Allah berfirman:

اللّٰهُ الصَّمَدُ

“Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu.”

Kalimat singkat ini memiliki makna yang sangat dalam.

Ketika manusia menghadapi kesulitan, kepada Allah ia bersandar.

Ketika manusia menghadapi ketidakadilan, kepada Allah ia mengadu.

Ketika manusia menghadapi makar manusia, kepada Allah pula ia menggantungkan harapan.

Allah adalah tempat semua harapan kembali.

Manusia boleh saja memiliki kekuatan, tetapi kekuatan manusia selalu terbatas.

Manusia boleh saja memiliki kekuasaan, tetapi kekuasaan manusia tidak pernah mutlak.

Hanya Allah yang memiliki kekuasaan yang mutlak dan sempurna.

Karena itulah dalam menghadapi kehidupan yang penuh ujian ini, seorang mukmin harus tetap berjalan dengan dua sikap sekaligus:

Berikhtiar dengan sungguh-sungguh, dan bersandar sepenuhnya kepada Allah SWT.

Ikhtiar adalah bentuk tanggung jawab manusia.

Sedangkan tawakal adalah bentuk pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Ketika dua hal ini berjalan bersama, lahirlah optimisme yang kuat dalam diri seorang mukmin.

Optimisme yang tidak mudah runtuh oleh keadaan.

Optimisme yang tidak mudah hancur oleh tekanan kehidupan.

Karena ia tahu bahwa pada akhirnya, Allah-lah yang menentukan hasil dari setiap perjuangan manusia.

Maka dalam menghadapi berbagai kompleksitas kehidupan—baik dalam kehidupan pribadi, kehidupan sosial, maupun kehidupan bangsa—kita tidak boleh kehilangan keyakinan.

Mungkin hari ini kita melihat ketidakadilan.

Mungkin hari ini kita melihat tipu daya manusia.

Tetapi seorang mukmin selalu percaya bahwa kehendak Allah selalu lebih kuat daripada makar manusia.

Selama manusia tetap menjaga kejujuran, tetap berusaha melakukan kebaikan, dan tetap bersandar kepada Allah, selalu ada jalan yang akan Allah bukakan.

Karena pada akhirnya, ketika semua kekuatan manusia terasa terbatas, hanya kepada Allah-lah kita menggantungkan harapan.

Dan bersama Allah SWT, optimisme tidak pernah mati.

SiS Antarkita

Tinggalkan Balasan