Menghadirkan Solusi di Dunia Pendidikan Muhammadiyah
Belajar dari MIT
Muhammadiyah adalah anomali yang mengagumkan dalam sejarah Islam modern. Ia bukan negara, bukan korporasi, bukan pula lembaga donor internasional. Namun aset yang dikelolanya—tanah, bangunan, rumah sakit, sekolah, universitas—mencapai skala yang bahkan membuat banyak negara berkembang iri. Dalam banyak kajian, Muhammadiyah disebut sebagai salah satu organisasi masyarakat sipil terkaya di dunia.
Tetapi justru di sinilah paradoks itu bermula.
Di balik gedung-gedung megah dan jaringan amal usaha yang luas, masih ada kisah lama yang terus berulang: guru Muhammadiyah bergaji rendah.
Kisah tentang pendidik yang hidup sederhana, bahkan kekurangan. Tentang guru yang mengajar dengan idealisme tinggi, namun pulang ke rumah dengan kegelisahan ekonomi. Tentang pengabdian yang panjang, tetapi masa tua yang rapuh.
Ini bukan sekadar soal nominal gaji. Ini adalah soal sistem.
Masalah Lama yang Tidak Pernah Benar-Benar Diselesaikan
Permasalahan gaji guru Muhammadiyah bukan persoalan individual, bukan pula kesalahan kepala sekolah atau pimpinan lokal semata. Ia adalah konsekuensi logis dari model pembiayaan pendidikan yang transaksional.
Model ini sederhana:
Murid membayar SPP,
SPP dipakai untuk menggaji guru,
Jika murid sedikit, gaji kecil,
Jika ekonomi orang tua terguncang, guru ikut terguncang.
Dalam model seperti ini, guru secara tidak langsung “dibayar murid”. Walaupun tidak kasat mata, secara akuntansi itulah yang terjadi.
Pendidikan berubah menjadi hubungan ekonomi jangka pendek, bukan misi sosial jangka panjang.
Inilah yang membuat pendidikan mudah goyah. Dan inilah yang seharusnya tidak terjadi pada lembaga pendidikan berbasis dakwah seperti Muhammadiyah.
MIT: Pendidikan Tanpa Ketergantungan pada Mahasiswa
Di belahan dunia lain, MIT berdiri dengan filosofi yang sangat berbeda. MIT adalah universitas yang sangat kaya. Namun kekayaannya tidak membuatnya malas menggalang donasi. Justru sebaliknya, MIT adalah salah satu institusi pendidikan paling agresif dalam fundraising endowment fund.
Fakta yang sangat penting dan jarang dibicarakan secara jujur: jika seluruh mahasiswa MIT tidak membayar tuition fee sekalipun, keuangan MIT tetap surplus.
Artinya, MIT tidak menjadikan mahasiswa sebagai sumber nafkah institusi. Mahasiswa tidak dibebani tanggung jawab membiayai dosennya. Pendidikan diletakkan sebagai public good, bukan komoditas.
Lalu dari mana MIT hidup?
Jawabannya adalah endowment fund—dana abadi yang dikumpulkan dari masyarakat, alumni, filantropi, dan korporasi, lalu dikelola secara profesional melalui investing company. Dana ini tidak dihabiskan. Pokoknya dijaga. Hasilnya dipakai untuk menopang pendidikan lintas generasi.
Endowment Fund dan Wakaf: Dua Nama, Satu Hakikat
Apa yang disebut endowment fund dalam dunia Barat sejatinya identik dengan wakaf dalam Islam. Bahkan, dalam Islam, wakaf memiliki dimensi spiritual yang jauh lebih kuat karena bernilai amal jariyah.
Ironisnya, justru lembaga pendidikan Islam sering kali gagal menjadikan wakaf sebagai tulang punggung sistem pembiayaan. Wakaf berhenti sebagai simbol kesalehan, bukan instrumen ekonomi strategis. Tanah wakaf dibiarkan pasif. Bangunan wakaf tidak produktif. Tidak ada arus kas yang menopang kesejahteraan guru.
Muhammadiyah sesungguhnya memiliki semua prasyarat untuk unggul:
kepercayaan publik,
jaringan umat,
legitimasi teologis,
pengalaman mengelola amal usaha.
Yang belum dimiliki secara serius adalah paradigma pengelolaan wakaf modern.
Investing Company, Bukan Operating Company
Pelajaran paling penting dari MIT adalah ini:
dana abadi harus dikelola sebagai investing company, bukan operating company.
Artinya, lembaga pengelola wakaf tidak sibuk mengelola sekolah, rumah sakit, atau bisnis operasional secara langsung.
Tugasnya adalah:
menginvestasikan dana secara profesional,
menumbuhkan nilai aset,
menghasilkan imbal hasil berkelanjutan.
Hasil investasi itulah yang kemudian disalurkan ke sekolah dan universitas untuk:
menggaji guru secara layak,
membiayai riset dan inovasi,
menjaga kualitas pendidikan tanpa menaikkan SPP.
Dengan model ini, guru tidak lagi bergantung pada jumlah murid. Pendidikan tidak lagi tergantung pada daya beli orang tua. Sistem menjadi stabil, adil, dan berjangka panjang.
Mengapa Muhammadiyah Harus Berubah Sekarang
Jika perubahan ini terus ditunda, risikonya sangat besar:
pendidikan Muhammadiyah akan semakin tertinggal,
guru-guru terbaik akan berpindah ke institusi lain,
amal usaha pendidikan kehilangan ruh dakwahnya.
Sebaliknya, jika Muhammadiyah berani melakukan lompatan struktural:
guru menjadi profesi bermartabat,
kualitas pendidikan melonjak,
kepercayaan publik meningkat,
wakaf menjadi solusi nyata, bukan slogan.
Ini bukan soal meniru Barat. Ini soal mengambil hikmah. Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan, hikmah adalah milik orang beriman, di mana pun ia menemukannya.
Penutup: Dari Keikhlasan Menuju Keadilan
Keikhlasan guru Muhammadiyah tidak perlu diragukan. Yang perlu dibenahi adalah sistem agar keikhlasan itu tidak terus-menerus dieksploitasi.
Sudah saatnya pendidikan Muhammadiyah keluar dari jebakan transaksional dan masuk ke fase peradaban wakaf. Bukan sekadar membangun gedung, tetapi membangun sistem. Bukan sekadar bertahan, tetapi menyiapkan masa depan.
Jika MIT yang sekuler bisa membiayai pendidikannya lintas abad dengan dana abadi,
Muhammadiyah seharusnya bisa melakukannya dengan wakaf—dan bahkan lebih bermakna.
Di situlah solusi itu berada.
Bukan di retorika.
Bukan di seminar.
Tetapi di keberanian mengubah desain sistem.
SiS, Antarkita.