ANTARA CUAN DAN GAGASAN
Oleh SiS Antarkita
Perbedaan adalah keniscayaan. Ia bukan sekadar realitas sosial, tetapi juga sunnatullah dalam kehidupan.
Dari perbedaan itulah lahir keseimbangan. Dari perbedaan itulah tumbuh ekosistem. Dan dari ekosistem itulah peradaban dibangun.
Perbedaan bukanlah ancaman. Perbedaan bukanlah permusuhan. Perbedaan adalah tanda bahwa kehidupan itu dinamis. Perbedaan adalah bukti bahwa manusia masih berpikir.
Justru yang berbahaya bukan perbedaan, tetapi keseragaman yang dipaksakan. Karena keseragaman yang dipaksakan akan melahirkan kepatuhan tanpa kesadaran, dan kesatuan tanpa keikhlasan.
Muhammadiyah sejak awal berdiri di atas fondasi perbedaan. Perbedaan latar belakang. Perbedaan profesi. Perbedaan kemampuan. Perbedaan pilihan strategi.
Namun semuanya disatukan oleh satu hal: gagasan besar tentang kemajuan umat dan kemandirian peradaban.
Hari ini, di era kepemimpinan Prabowo Subianto, kita menyaksikan fenomena yang wajar dalam dinamika demokrasi: perbedaan pilihan politik di kalangan kader Muhammadiyah.
Ada kader yang memilih masuk ke dalam sistem kekuasaan. Menjadi bagian dari pemerintahan. Mengambil peran sebagai pelaksana kebijakan. Berjuang dari dalam untuk menghadirkan perubahan.
Di sisi lain, ada kader yang memilih berada di luar kekuasaan. Menjadi pengkritik. Menjadi pengawas. Menjadi penjaga akal sehat publik. Keduanya bukan lawan. Keduanya bukan musuh. Keduanya adalah bagian dari ekosistem yang sama.
Seperti siang dan malam. Seperti hujan dan kemarau. Seperti akar dan daun.
Berbeda fungsi, tetapi saling melengkapi.
Namun di tengah dinamika itu, muncul satu pertanyaan mendasar yang tidak bisa dihindari:
Apa yang sesungguhnya membedakan sikap mereka? Apakah karena cuan? Ataukah karena gagasan?
Ini bukan pertanyaan retoris. Ini adalah pertanyaan ideologis. Ini adalah pertanyaan moral. Ini adalah pertanyaan tentang integritas.
Karena jika perbedaan sikap didorong oleh cuan, maka politik akan berubah menjadi transaksi. Perjuangan akan berubah menjadi negosiasi. Dan idealisme akan berubah menjadi komoditas.
Tetapi jika perbedaan sikap didorong oleh gagasan, maka politik akan menjadi ruang pengabdian. Perjuangan akan menjadi ladang amal. Dan kekuasaan akan menjadi alat untuk kemaslahatan.
Di sinilah titik uji kader Muhammadiyah hari ini. Apakah kita memilih jalan karena ada peluang ekonomi? Ataukah karena ada keyakinan ideologis?
Apakah kita bergerak karena ada akses kekuasaan? Ataukah karena ada panggilan perjuangan?
Sejarah Muhammadiyah mengajarkan satu hal penting: organisasi ini tidak pernah dibesarkan oleh pemburu keuntungan. Ia dibesarkan oleh pemburu kebermanfaatan.
Para pendiri Muhammadiyah tidak memulai dengan modal besar. Mereka memulai dengan keberanian besar. Mereka tidak mengejar jabatan. Mereka mengejar perubahan.
Mereka tidak menghitung untung-rugi pribadi. Mereka menghitung manfaat bagi umat.
Karena itu, gagasan selalu lebih mahal daripada cuan. Cuan bisa datang dan pergi. Gagasan bisa hidup lintas generasi. Cuan bisa membuat seseorang kaya. Gagasan bisa membuat sebuah bangsa kuat. Cuan bisa membangun gedung. Gagasan bisa membangun peradaban.
Tetapi kita juga tidak boleh naif. Cuan bukan sesuatu yang haram. Cuan bukan sesuatu yang salah.
Justru organisasi dan gerakan membutuhkan sumber daya ekonomi. Tanpa kemandirian ekonomi, gerakan akan mudah dikendalikan.
Tanpa kekuatan finansial, gagasan sering kali hanya menjadi wacana. Karena itu, persoalannya bukan memilih cuan atau gagasan, tetapi menentukan siapa yang memimpin: cuan atau gagasan.
Jika cuan memimpin gagasan, maka arah perjuangan akan mudah berubah.
Tetapi jika gagasan memimpin cuan, maka ekonomi akan menjadi alat perjuangan.
Di sinilah pentingnya kesadaran kolektif kader Muhammadiyah. Bahwa keberadaan kita di ruang politik, ekonomi, dan sosial bukan sekadar untuk mencari posisi, tetapi untuk menjaga arah.
Bukan sekadar untuk mendapatkan manfaat, tetapi untuk menciptakan manfaat.
Hari ini, tantangan kader Muhammadiyah bukan lagi sekadar soal jumlah anggota. Bukan sekadar soal banyaknya amal usaha.
Tetapi soal kualitas orientasi perjuangan. Apakah orientasi kita masih ideologis? Ataukah sudah berubah menjadi pragmatis?
Apakah kita masih berbicara tentang dakwah dan kemajuan? Ataukah lebih sering berbicara tentang proyek dan jabatan?Apakah kita masih memikirkan masa depan umat? Ataukah lebih sibuk memikirkan kepentingan pribadi?
Karena organisasi besar tidak runtuh karena serangan dari luar. Ia runtuh ketika nilai-nilai di dalamnya mulai melemah.
Ketika semangat perjuangan digantikan oleh kepentingan. Ketika loyalitas pada gagasan digantikan oleh loyalitas pada keuntungan.
Maka hari ini, setiap kader Muhammadiyah perlu melakukan muhasabah:
Mengapa saya bergerak? Apakah karena peluang? Ataukah karena panggilan?
Mengapa saya memilih sikap? Apakah karena keuntungan? Ataukah karena keyakinan?
Mengapa saya bertahan dalam perjuangan? Apakah karena fasilitas? Ataukah karena tanggung jawab?
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya berapa banyak cuan yang kita kumpulkan.
Sejarah akan bertanya: Gagasan apa yang kita perjuangkan? Nilai apa yang kita jaga? Warisan apa yang kita tinggalkan?
Dan di titik itulah, kader Muhammadiyah akan diuji bukan oleh jabatan, bukan oleh kekuasaan, bukan oleh kekayaan, tetapi oleh kesetiaan pada gagasan.