You are currently viewing Bermodalkan Rahmat Allah SWT

Bermodalkan Rahmat Allah SWT

Bermodalkan Rahmat Allah SWT

Ketika Semua Bisa Hilang, Rahmat-Nya Tetap Abadi

Oleh SiS Antarkita

Dalam kehidupan ini, manusia sering merasa kuat karena apa yang ia miliki.

Harta yang banyak.

Relasi yang luas.

Jabatan yang tinggi.

Pengaruh yang besar.

Semua itu sering dijadikan sandaran.

Seolah-olah itulah yang akan menjaga dan menyelamatkan hidupnya.

Padahal kenyataannya, semua itu bisa hilang dalam sekejap.

Hari ini kaya, besok bisa bangkrut.

Hari ini punya banyak teman, besok bisa ditinggalkan.

Hari ini dihormati, besok bisa dilupakan.

Kehidupan terus berubah.

Tidak ada yang benar-benar bisa kita genggam selamanya.

Karena sejatinya, manusia tidak memiliki apa-apa.

Semua yang ada hanyalah titipan dari Allah SWT.

Dan ketika Allah berkehendak, semua titipan itu bisa diambil kembali tanpa bisa ditolak.

Di titik inilah manusia diuji.

Apakah ia akan hancur ketika kehilangan?

Ataukah ia tetap tegak karena memiliki sandaran yang lebih kuat?

Seorang mukmin sejati memahami satu hal penting:

bahwa satu-satunya modal yang tidak pernah habis adalah Rahmat Allah SWT.

Rahmat Allah tidak terbatas.

Rahmat Allah tidak bergantung pada kondisi kita.

Rahmat Allah tidak berkurang meskipun kita sering lalai.

Ketika harta habis, Rahmat Allah tetap ada.

Ketika relasi menjauh, Rahmat Allah tetap dekat.

Ketika jalan terasa buntu, Rahmat Allah selalu membuka jalan.

Karena Rahmat Allah tidak terikat oleh logika manusia.

Ia bisa datang dari arah yang tidak disangka.

Ia bisa hadir di saat yang paling tidak diduga.

Ia bisa mengubah keadaan dalam waktu yang singkat.

Betapa banyak orang yang bangkit dari keterpurukan, bukan karena kekuatannya, tetapi karena Rahmat Allah.

Betapa banyak orang yang menemukan jalan keluar, bukan karena kepintarannya, tetapi karena Rahmat Allah.

Dan betapa banyak orang yang tetap kuat dalam kehilangan, karena ia sadar bahwa yang hilang bukanlah segalanya.

Karena ia masih memiliki Allah.

Di sinilah letak ketenangan seorang mukmin.

Ia tidak terlalu bergantung pada apa yang ia miliki.

Ia tidak terlalu takut kehilangan dunia.

Karena ia tahu, selama Rahmat Allah masih menyertainya, maka harapan itu selalu ada.

Namun Rahmat Allah bukan sesuatu yang membuat manusia menjadi lalai.

Justru Rahmat Allah adalah alasan untuk semakin mendekat.

Memperbanyak istighfar.

Memperbaiki diri.

Meluruskan niat.

Dan terus berharap kepada-Nya.

Karena Rahmat Allah adalah pintu yang selalu terbuka, tetapi hanya dimasuki oleh mereka yang mau kembali.

Maka dalam menjalani hidup ini, jangan pernah merasa habis hanya karena kehilangan sesuatu.

Jangan pernah merasa selesai hanya karena keadaan menjadi sulit.

Karena selama Allah masih memberikan Rahmat-Nya, maka semuanya masih mungkin.

Bangkit kembali.

Memulai lagi.

Melangkah lagi.

Dengan keyakinan bahwa:

kita tidak sedang berjalan sendirian.

Kita berjalan dengan satu modal yang paling kuat, paling besar, dan tidak terbatas:

Rahmat Allah SWT.

Dan dengan Rahmat-Nya, yang mustahil bisa menjadi mungkin.

Yang sulit bisa menjadi mudah.

Yang sempit bisa menjadi lapang.

Maka tetaplah berharap.

Karena selama kita masih bermodalkan Rahmat Allah SWT,

tidak ada alasan untuk menyerah.

SiS Antarkita

Tinggalkan Balasan