KAUM PAGANISME DI ERA DIGITAL: UTOPIS DAN KEBODOHAN MODERN

📌 KAUM PAGANISME DI ERA DIGITAL: UTOPIS DAN KEBODOHAN MODERN

Oleh SiS antarkita

Di era digital, kita menghadapi fenomena baru yang mirip dengan kaum paganisme di masa lampau: individu atau kelompok yang menyembah figur, ide, atau kekuasaan tanpa peduli benar atau salah, mengaku bekerja mandiri tanpa pamrih, dan membela penguasa secara membabi buta. Fenomena ini adalah utopis dan kebodohan, sama seperti manusia penyembah berhala di zaman dulu.

Sejarah menunjukkan, penyembahan buta terhadap berhala tidak pernah membawa kebaikan. Tidak ada yang benar-benar bebas dari kerusakan moral, sosial, atau politik ketika figur dipuja di atas nilai. Di era digital, “berhala” bisa berupa penguasa, tokoh publik, bahkan algoritma atau platform sosial media yang dikultuskan. Orang-orang yang mengikutinya secara membabi buta menempatkan figur di atas hukum, nilai, dan kebenaran—dan mengklaim ini dilakukan tanpa pamrih.

1. Utopisnya Klaim Mandiri Tanpa Pamrih

Mengaku bekerja sepenuhnya mandiri, tanpa mengharapkan imbalan atau pengaruh, terdengar mulia. Namun dalam kenyataan, hal ini jarang terjadi. Psikologi manusia menunjukkan bahwa setiap tindakan selalu dipengaruhi oleh motivasi, baik sadar maupun tidak (Deci & Ryan, 1985, Self-Determination Theory). Bahkan mereka yang terlihat altruistik sering memiliki kepentingan tersembunyi—apakah ingin dihargai, diakui, atau menjaga posisi sosial.

Oleh karena itu, klaim bekerja mandiri sepenuhnya, sambil membela penguasa tanpa melihat salah atau benar, adalah sesuatu yang utopis.

2. Membabi Buta Tanpa Kritis = Modern Paganism

Orang yang membela penguasa secara membabi buta mengabaikan fakta, nilai, dan regulasi. Ia menempatkan figur di atas hukum, di atas rakyat, dan di atas moralitas. Fenomena ini sejalan dengan konsep “authoritarian followership” (Kelman, 1958), yaitu mengikuti otoritas secara buta tanpa analisis kritis.

Dampaknya:

Kesalahan pemimpin tidak pernah dikoreksi.

Kebijakan merugikan rakyat tetap diterapkan.

Moral kepemimpinan dan legitimasi otoritas perlahan runtuh.

Seperti kaum paganisme, figur dipuja tanpa batas, sementara nilai dan kebenaran dikesampingkan.

3. Kerusakan Moral dan Sosial

Kaum digital yang utopis ini menimbulkan risiko besar:

Bagi pemimpin: kehilangan arah, menjadi buta terhadap realitas, dan rentan jatuh akibat pujian tanpa koreksi.

Bagi negara: keputusan keliru diterapkan tanpa hambatan, akuntabilitas hilang, dan struktur pemerintahan melemah.

Bagi rakyat: mereka menjadi korban loyalitas buta, menderita akibat kebijakan yang tidak diuji kebenarannya.

Literatur politik dan psikologi sosial menunjukkan bahwa sistem yang dikelilingi oleh yes-men atau pengikut yang membabi buta selalu rapuh dan mudah runtuh (Janis, 1982, Groupthink).

4. Modern Paganism dan Utopisme

Mengklaim bekerja mandiri sambil membela penguasa tanpa peduli benar atau salah adalah utopis karena mengabaikan realitas sosial, psikologis, dan politik. Ini adalah bentuk kebodohan modern: menyembah figur, bukan prinsip; memuja penguasa, bukan nilai; mengikuti algoritma, bukan nurani.

Seperti penyembah berhala di masa lampau, kaum paganisme digital menempatkan diri mereka dalam lingkaran ilusi yang merugikan semua pihak—pemimpin, rakyat, dan bangsa.

5. Kesimpulan

Kaum paganisme di era digital adalah simbol kebodohan modern:

Membabi buta: mengabaikan benar dan salah.

Utopis: mengklaim mandiri dan tanpa pamrih, padahal manusia selalu terikat motivasi.

Merugikan: menghancurkan moral pemimpin dan kesejahteraan rakyat.

Loyalitas sejati bukan tentang menyembah figur, tapi mengawal nilai, hukum, dan kepentingan rakyat. Sejarah manusia membuktikan satu hal:

Yang menyelamatkan pemimpin dan bangsa bukan sanjungan, tapi kebenaran. Yang menghancurkan pemimpin bukan musuh luar, tapi pengikut yang membabi buta.

Pertanyaannya sederhana:

Apakah kita ingin menjadi bagian dari kaum paganisme digital yang utopis dan membabi buta,

atau menjadi pendukung kritis yang menjaga nilai, moral, dan masa depan bangsa?

 

Tinggalkan Balasan