You are currently viewing Dua Tokoh Besar Kotagede Yogyakarta

Dua Tokoh Besar Kotagede Yogyakarta

Dua Tokoh Besar Kotagede Yogyakarta

Ulama, Intelektual, dan Arsitek Kesadaran Umat–Bangsa

Kotagede Yogyakarta adalah ruang sejarah yang unik. Ia bukan hanya pusat awal Kesultanan Mataram Islam, tetapi juga rahim peradaban tempat ulama, saudagar, dan intelektual Islam membentuk kesadaran keumatan sekaligus kebangsaan. Dari Kotagede, Islam tidak hadir sebagai simbol kekuasaan semata, melainkan sebagai gerakan nilai, pendidikan, dan pembebasan sosial.

Dalam lanskap sejarah itulah muncul dua tokoh besar yang jejaknya saling terhubung lintas generasi: KH Masyhudi bin KH Mukmin dan KH Abdul Kahar Mudzakkir. Keduanya merepresentasikan kesinambungan peran ulama: dari penguatan umat di akar rumput hingga perumusan masa depan bangsa.

KH Masyhudi bin KH Mukmin

Ulama Kotagede dan Arsitek Kesadaran Organisasi Umat

KH Masyhudi bin KH Mukmin dikenal sebagai ulama Kotagede yang hidup pada masa transisi penting: peralihan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern di bawah tekanan kolonialisme Belanda. Pada masa ini, umat Islam menghadapi tiga persoalan besar:

Keterbelakangan pendidikan,

Fragmentasi sosial umat,

Dominasi politik dan ekonomi kolonial.

Dalam situasi tersebut, KH Masyhudi mendirikan Syarikatul Mubtadi, sebuah organisasi keislaman yang berorientasi pada pembinaan umat pemula (mubtadi), baik dalam pemahaman agama maupun kesadaran sosial. Organisasi ini tidak berdiri di ruang hampa, melainkan menjadi bagian dari arus besar kebangkitan Islam awal abad ke-20, sejajar dengan lahirnya Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan organisasi Islam lainnya.

Syarikatul Mubtadi memiliki karakter penting:

Menjadikan Islam sebagai kekuatan pembebasan, bukan sekadar ritual.

Menanamkan kesadaran berorganisasi sebagai alat perjuangan umat.

Menguatkan pendidikan keagamaan berbasis masyarakat.

KH Masyhudi memahami bahwa umat Islam tidak akan bangkit hanya dengan kesalehan individual. Umat harus disadarkan, dihimpun, dan dididik secara kolektif. Pemikiran inilah yang menjadikan Kotagede sebagai salah satu simpul penting gerakan Islam modern di Yogyakarta.

Lebih dari itu, KH Masyhudi mewariskan etos keilmuan dan keberanian berpikir kepada lingkungan keluarganya. Warisan inilah yang kelak menjelma dalam sosok keponakannya, KH Abdul Kahar Mudzakkir.

KH Abdul Kahar Mudzakkir

Ulama Negarawan dan Bapak Intelektualisme Islam Indonesia

KH Abdul Kahar Mudzakkir lahir dari tradisi ulama Kotagede yang kuat. Ia tumbuh dalam lingkungan yang memadukan agama, kesadaran sosial, dan tanggung jawab sejarah. Tidak mengherankan bila kemudian ia tampil sebagai salah satu tokoh Islam paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern.

1. Peran dalam Pendidikan Tinggi Islam

KH Abdul Kahar Mudzakkir adalah pendiri dan Rektor pertama Universitas Islam Indonesia (UII)—perguruan tinggi Islam pertama di Indonesia yang berdiri pada masa revolusi. Pendirian UII bukan sekadar proyek pendidikan, melainkan strategi peradaban.

UII didirikan dengan visi:

Menjadikan ilmu pengetahuan modern selaras dengan nilai Islam.

Melahirkan intelektual Muslim yang mampu memimpin bangsa.

Menegaskan bahwa Islam kompatibel dengan kemajuan, rasionalitas, dan negara modern.

Dalam konteks ini, KH Abdul Kahar Mudzakkir melanjutkan spirit pamannya: Islam harus hadir sebagai kekuatan pencerahan dan pembebasan, bukan terpinggirkan dari arus modernitas.

2. Peran dalam BPUPKI dan PPKI

Peran KH Abdul Kahar Mudzakkir mencapai puncak signifikansi nasional ketika ia menjadi anggota BPUPKI dan PPKI. Ia termasuk tokoh Islam yang aktif memperjuangkan posisi Islam dalam dasar negara.

Pada 22 Juni 1945, ia terlibat langsung dalam perumusan Piagam Jakarta, sebuah dokumen historis yang menjadi embrio Pembukaan UUD 1945. Dalam forum tersebut, KH Abdul Kahar Mudzakkir bersama tokoh-tokoh Islam lainnya berusaha memastikan bahwa:

Nilai-nilai Islam diakui secara konstitusional.

Negara Indonesia tidak tercerabut dari identitas religius mayoritas rakyatnya.

Persatuan bangsa tetap menjadi prioritas utama.

Sikapnya mencerminkan kebijaksanaan ulama negarawan: teguh pada prinsip, namun lapang dalam kompromi demi keutuhan bangsa.

Kotagede sebagai Mata Rantai Sejarah

Dari Ulama Kampung ke Arsitek Bangsa

Jika ditarik benang merah, maka jelas terlihat bahwa:

KH Masyhudi bin KH Mukmin membangun kesadaran umat dari bawah melalui organisasi dan pendidikan.

KH Abdul Kahar Mudzakkir membawa kesadaran itu ke tingkat nasional melalui pendidikan tinggi dan konstitusi negara.

Kotagede bukan hanya tempat lahir mereka secara biologis, tetapi ruang pembentukan kesadaran sejarah. Dari Kotagede, lahir ulama yang tidak hanya bicara soal akhirat, tetapi juga masa depan bangsa.

Relevansi untuk Zaman Kini

Warisan dua tokoh besar Kotagede ini sangat relevan hari ini:

Ketika umat kembali menghadapi fragmentasi sosial dan ekonomi,

Saat pendidikan sering kehilangan nilai moral dan visi kebangsaan,

Dan ketika Islam kembali diuji perannya dalam ruang publik.

Jejak KH Masyhudi dan KH Abdul Kahar Mudzakkir mengajarkan bahwa Islam yang hidup adalah Islam yang mengorganisasi, mencerahkan, dan memimpin peradaban.

Di sinilah narasi ini menemukan relevansinya dengan gerakan kontemporer: membangun umat melalui jejaring, pendidikan, dan kolaborasi nilai.

SiS, Antarkita

DUA TOKOH BESAR KOTAGEDE ● Yang di depan mikrofon, adalah KH Masyhudi bin KH Mukmin, pendiri organisasi Syarikatul Mubtadi dan perintis berdirinya Muhammadiyah di Kotagede tahun 1918. Tinggal di Nyamplungan jalan Kemasan Kotagede. Sekolah Angka Loro Moehammadijah pertama berdiri dan diselenggarakan di bangunan rumah milik beliau jalan Mondorakan Kotagede. Menjadi embriyo berdirinya Volkschool Moehammadijah Bodon dan Kleco. ●● Yang di belakangnya adalah KH Abdul Kahar Mudzakkir, keponakan dari Kyai Masyhudi. Tinggal di Selokraman Kotagede. Lulusan Sekolah Tinggi Islam Mesir, Anggota BPUPKI/PPKI, salah satu dari sembilan perumus Piagam Jakarta 22 Juni 1945 yang kemudian, dengan perubahan tertentu menjadi Pembukaan UUD 1945, Pendiri dan Rektor Pertama UII, Anggota Rabithah Alam Islamy dan juga PAHLAWAN NASIONAL RI. Keduanya putera terbaik yang dilahirkan dari Kotagede. Al Fatihah dan doa terbaik untuk kedua almarhum. Semoga memberikan inspirasi bagi generasi penerus. fototahun1971

 

Literasi dan Rujukan Akademik :

Risalah Sidang BPUPKI dan PPKI (1945), Sekretariat Negara RI.

Tim Penulis UII, Sejarah dan Dinamika Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Ahmad Syafii Maarif, Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara, LP3ES.

Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942, LP3ES.

M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Serambi.

Arsip sejarah ulama Kotagede Yogyakarta dan kajian Islam Jawa.

 

Tinggalkan Balasan