APA YANG KAU DAPAT?
Oleh SiS Antarkita
“Apa yang kau dapat?” Pertanyaan klasik.
Pertanyaan yang sederhana, tetapi sering kali menjadi batu sandungan dalam langkah-langkah kebaikan.
Pertanyaan yang terdengar wajar, namun bisa membuat hati menjadi sempit dan niat menjadi goyah.
Pertanyaan itu bisa datang dari siapa saja. Dari teman, dari keluarga, dari lingkungan sekitar.
Namun yang paling berbahaya adalah ketika pertanyaan itu tumbuh dari dalam diri kita sendiri. Saat kita mulai lelah, saat kita merasa tidak dihargai, saat kita merasa pengorbanan kita tidak terlihat, lalu hati berbisik pelan:
“Apa sebenarnya yang aku dapat dari semua ini?”
Padahal, jika kita mau duduk sejenak dan merenung, sepanjang hidup kita hingga hari ini, Alloh SWT telah tanpa henti memberikan kebaikan kepada kita.
Tanpa jeda.
Tanpa syarat.
Tanpa kita meminta terlebih dahulu.
Kita diberi kehidupan saat kita belum mampu berbuat apa-apa. Kita diberi keluarga saat kita belum mengerti arti tanggung jawab. Kita diberi rezeki saat kita belum tahu bagaimana cara mencarinya.
Bahkan ketika kita lalai,
bahkan ketika kita lupa bersyukur,
Alloh SWT tetap memberi.
Setiap pagi kita bangun dengan tubuh yang masih bisa bergerak.
Setiap hari kita bernapas dengan paru-paru yang masih berfungsi.
Setiap saat jantung kita berdetak tanpa pernah kita perintah.
Semua itu adalah nikmat. Semua itu adalah kebaikan. Semua itu adalah rahmat yang sering kali kita anggap biasa.
Alloh SWT memberi sebelum kita meminta.
Alloh SWT memberi meski kita belum pantas.
Alloh SWT memberi meski kita sering lupa berterima kasih.
Namun ketika kita melakukan satu kebaikan kecil, tiba-tiba kita berubah menjadi manusia yang pandai berhitung.
Mulai menimbang untung dan rugi. Mulai membandingkan pengorbanan dan hasil.
Mulai bertanya: “Apa balasannya untukku?”
Seolah-olah kebaikan adalah transaksi. Seolah-olah amal adalah investasi yang harus segera kembali modal. Seolah-olah pengabdian adalah pekerjaan yang harus langsung digaji.
Padahal, Alloh SWT tidak selalu memberikan balasan kebaikan secara langsung dengan bentuk yang sama seperti kebaikan yang kita lakukan.
Kita memberi uang kepada orang lain, tetapi balasannya bisa berupa kesehatan bagi keluarga kita.
Kita membantu seseorang dengan tenaga, tetapi balasannya bisa berupa kemudahan dalam urusan hidup kita.
Kita meluangkan waktu untuk sebuah perjuangan, tetapi balasannya bisa berupa perlindungan dari musibah yang tidak pernah kita ketahui.
Karena sesungguhnya, Alloh SWT selalu memberikan kebaikan dengan cara yang sering kali di luar prasangka kita.
Apa yang menurut kita kecil, bisa menjadi besar di sisi Alloh.
Apa yang menurut kita lambat, sebenarnya tepat dalam rencana Alloh.
Apa yang menurut kita tidak dibalas, sebenarnya sedang disimpan sebagai keberkahan yang lebih besar.
Saudaraku, hidup ini bukan sekadar tentang menerima.
Hidup ini adalah tentang memberi. Dan memberi adalah tanda bahwa hati kita masih hidup.
Orang yang selalu bertanya, “Apa yang aku dapat?” biasanya akan mudah kecewa. Karena ia menunggu balasan dari manusia.
Tetapi orang yang bertanya, “Apa yang bisa aku berikan?” akan menemukan makna dalam setiap langkah hidupnya.
Karena ia berharap balasan dari Alloh SWT.
Dalam perjalanan kehidupan, banyak orang berhenti berbuat baik bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa tidak dihargai. Merasa tidak diakui. Merasa tidak mendapatkan apa-apa.
Padahal kebaikan sejati tidak membutuhkan tepuk tangan. Kebaikan sejati tidak menunggu pujian. Kebaikan sejati tidak bergantung pada penghargaan. Kebaikan sejati lahir dari hati yang ikhlas. Ikhlas bukan berarti tidak berharap.
Ikhlas berarti berharap hanya kepada Alloh SWT. Ikhlas bukan berarti tidak ingin hasil. Ikhlas berarti percaya bahwa hasil adalah hak Alloh SWT. Ikhlas bukan berarti tidak peduli pada balasan. Ikhlas berarti yakin bahwa balasan terbaik datang dari Alloh SWT.
Sering kali, balasan kebaikan tidak datang dalam bentuk yang kita inginkan, tetapi dalam bentuk yang kita butuhkan.
Kita berharap uang, tetapi Alloh memberi kesehatan. Kita berharap jabatan, tetapi Alloh memberi ketenangan. Kita berharap popularitas, tetapi Alloh memberi keselamatan.
Dan kadang, balasan itu bukan berupa tambahan nikmat, tetapi berupa perlindungan dari musibah yang seharusnya menimpa kita.
Namun karena musibah itu tidak terjadi, kita mengira tidak ada balasan. Padahal justru di situlah kasih sayang Alloh SWT bekerja.
Maka jangan pernah lelah berbuat kebaikan. Jangan pernah berhenti menebar manfaat.
Jangan pernah mundur dari jalan kebaikan hanya karena merasa tidak mendapatkan apa-apa.
Karena sejatinya, kebaikan bukan tentang apa yang kita dapat, tetapi tentang siapa yang kita layani dan kepada siapa kita berharap balasan.
Jika yang kita cari adalah ridha Alloh SWT, maka tidak ada kebaikan yang sia-sia. Tidak ada pengorbanan yang terbuang. Tidak ada amal yang hilang. Hari ini mungkin tidak ada yang melihat. Hari ini mungkin tidak ada yang memuji. Hari ini mungkin tidak ada yang mengucapkan terima kasih.
Tetapi yakinlah, Alloh SWT melihat. Alloh SWT mencatat. Alloh SWT membalas.
Cepat atau lambat. Terlihat atau tidak terlihat. Di dunia atau di akhirat.
Karena itu, teruslah melangkah dalam kebaikan. Teruslah memberi manfaat bagi sesama. Teruslah menjaga niat dalam setiap amal.
Jangan pernah berhenti berbuat kebaikan. Dan ikhlaslah berharap semata hanya kepada Alloh SWT. Sebab pada akhirnya, yang paling berharga dalam hidup ini bukanlah seberapa banyak yang kita terima, tetapi seberapa tulus kita memberi dan seberapa ikhlas kita mengabdi.