Ruang Kosong
Oleh SiS Antarkita
Dua pekan yang lalu saya berkesempatan mengikuti pertemuan di PDM Banyumas dalam agenda rapat rutin pimpinan yang dilaksanakan setiap hari Jumat.
Salah satu materi yang dibahas adalah rencana pembangunan pondok untuk ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa).
Awalnya suasana rapat cukup santai. Bahkan sempat muncul candaan, “Lha wong ngurus orang normal saja susah, kok mau ngurus orang yang kurang normal?” Semua yang hadir tertawa. Memang terdengar lucu, tetapi di balik candaan itu tersimpan sebuah kenyataan bahwa mengurus manusia dalam kondisi apa pun bukanlah perkara mudah.
Namun semakin lama pembahasan berlangsung, suasana berubah menjadi serius. Bahkan terasa haru.
Para penggagas menyampaikan alasan mengapa mereka merasa perlu menghadirkan tempat yang layak bagi ODGJ. Mereka berbicara bukan hanya berdasarkan teori, tetapi berdasarkan kenyataan yang mereka lihat sendiri di lapangan.
Ada begitu banyak ODGJ yang hidup tanpa perhatian yang cukup. Sebagian ditelantarkan keluarga karena keterbatasan ekonomi. Sebagian kehilangan tempat pulang. Sebagian lagi hidup berpindah-pindah tanpa arah dan tanpa pendampingan yang memadai.
Yang membuat hati semakin tersentuh adalah kenyataan bahwa sebagian besar dari mereka adalah saudara-saudara kita sesama Muslim.
Mereka lahir dari keluarga Muslim. Mereka tumbuh di lingkungan Muslim. Mereka mengucapkan kalimat syahadat seperti kita. Namun ketika mereka mengalami gangguan jiwa dan membutuhkan pertolongan, ternyata belum banyak lembaga berbasis Islam yang secara khusus hadir untuk mendampingi mereka.
Akibatnya, tidak sedikit yang akhirnya dirawat di panti atau yayasan yang dikelola oleh pihak non-Muslim. Tentu ini bukan persoalan salah atau benar. Mereka justru patut diapresiasi karena telah menghadirkan pelayanan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.
Tetapi di sisi lain, muncul pertanyaan yang menggugah hati.
Jika mereka mampu menghadirkan pelayanan untuk saudara-saudara kita yang terlantar, mengapa kita yang mengaku memiliki jumlah umat terbesar justru masih sangat terbatas dalam memberikan perhatian kepada kelompok yang paling lemah ini?
Ke mana yayasan-yayasan Islam?
Ke mana lembaga-lembaga sosial Islam?
Ke mana ormas-ormas Islam?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Pertanyaan ini lebih tepat ditujukan kepada diri kita sendiri.
Mungkin selama ini perhatian kita terlalu banyak tersita pada hal-hal yang tampak besar dan megah. Kita sibuk memperdebatkan perbedaan. Kita sibuk membahas siapa yang paling benar. Kita sibuk mengomentari apa yang dilakukan orang lain.
Sementara di sudut-sudut kehidupan, masih ada manusia-manusia yang menunggu uluran tangan.
Masih ada anak yatim yang membutuhkan pendidikan.
Masih ada lansia yang hidup sendirian.
Masih ada keluarga miskin yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok.
Masih ada penyandang disabilitas yang membutuhkan pendampingan.
Masih ada ODGJ yang membutuhkan tempat berlindung dan diperlakukan sebagai manusia yang bermartabat.
Semua itu adalah ruang kosong.
Ruang kosong yang menunggu untuk diisi.
Bukan dengan perdebatan.
Bukan dengan kemarahan.
Bukan dengan saling menyalahkan.
Tetapi dengan karya nyata.
Sering kali kita mengeluhkan keadaan umat. Kita merasa umat tertinggal. Kita merasa umat kurang maju. Kita merasa banyak masalah yang belum terselesaikan.
Padahal mungkin Allah SWT tidak sedang menunggu kita menjadi pengkritik terbaik. Allah SWT sedang menunggu kita menjadi bagian dari solusi.
Tidak semua orang harus menjadi pemimpin organisasi.
Tidak semua orang harus menjadi tokoh besar.
Tidak semua orang harus tampil di depan publik.
Tetapi setiap orang bisa mengisi satu ruang kosong sesuai kemampuan yang dimiliki.
Ada yang mengisi dengan tenaga.
Ada yang mengisi dengan ilmu.
Ada yang mengisi dengan waktu.
Ada yang mengisi dengan jaringan.
Ada yang mengisi dengan doa.
Ada yang mengisi dengan harta.
Yang terpenting adalah jangan sampai kita hanya menjadi penonton yang sibuk mengomentari, sementara ruang kosong itu tetap kosong.
Pertemuan di PDM Banyumas hari itu mengajarkan sebuah pelajaran berharga kepada saya.
Ternyata masih banyak pekerjaan besar yang menunggu untuk dikerjakan.
Ternyata masih banyak ladang amal yang belum tergarap.
Ternyata masih banyak ruang kosong yang membutuhkan kehadiran orang-orang yang mau peduli.
Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah, “Siapa yang salah?”
Tetapi, “Ruang kosong apa yang bisa saya isi hari ini?”
Karena pada akhirnya, ukuran kebermanfaatan hidup bukanlah seberapa banyak kita berdebat, melainkan seberapa banyak ruang kosong kehidupan yang berhasil kita isi dengan manfaat bagi sesama.
Masihkah kita memiliki waktu untuk memperdebatkan sesuatu yang tidak penting, sementara begitu banyak ruang kosong di sekitar kita yang menunggu untuk diisi dengan amal, kepedulian, dan cinta kepada sesama?