Kesempatan

Kesempatan

Oleh SiS Antarkita

Salah satu persoalan yang sering membingungkan manusia adalah hubungan antara ikhtiar dan takdir. Banyak orang yang mempertentangkan keduanya seolah-olah harus memilih salah satu.

Ada yang terlalu menekankan ikhtiar sehingga merasa masa depan sepenuhnya berada di tangannya. Ada pula yang terlalu menekankan takdir sehingga kehilangan semangat untuk berusaha.

Padahal dalam pandangan Islam, ikhtiar dan takdir bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru berjalan beriringan sesuai dengan ketetapan Allah SWT.

Sering muncul pertanyaan:

“Kalau takdir sudah ditentukan Allah SWT, untuk apa kita berikhtiar?”

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi menyimpan persoalan yang sangat mendasar tentang hubungan manusia dengan Tuhannya.

Untuk menjawabnya, mari kita balik dengan sebuah pertanyaan lain.

“Apa yang terjadi jika keberhasilan sepenuhnya ditentukan oleh ikhtiar manusia?”

Jika keberhasilan hanya ditentukan oleh kecerdasan, kerja keras, pengalaman, pendidikan, strategi, dan kemampuan manusia, maka lambat laun manusia akan merasa bahwa dirinya adalah penentu segala sesuatu.

Manusia akan berkata:

“Saya berhasil karena saya pintar.”

“Saya kaya karena saya hebat.”

“Saya sukses karena kemampuan saya.”

“Saya mampu mengatur hidup saya sendiri.”

Pada saat itulah manusia mulai menuhankan dirinya sendiri.

Ia tidak lagi merasa membutuhkan Allah SWT.

Ia tidak lagi merasa perlu berdoa.

Ia tidak lagi merasa perlu bertawakal.

Ia tidak lagi menyadari bahwa dirinya hanyalah makhluk yang lemah.

Karena itu Allah SWT menetapkan bahwa hasil akhir berada dalam kuasa-Nya.

Allah SWT ingin menunjukkan kepada manusia bahwa ada batas yang tidak mampu ditembus oleh kemampuan manusia.

Betapa banyak orang yang sangat cerdas tetapi tidak memperoleh hasil sesuai harapannya.

Betapa banyak orang yang memiliki pendidikan tinggi tetapi hidup sederhana.

Betapa banyak pengusaha yang sangat berpengalaman tetapi mengalami kegagalan.

Sebaliknya, betapa banyak orang yang memperoleh rezeki dari jalan yang tidak pernah mereka bayangkan.

Semua itu terjadi agar manusia memahami bahwa yang menentukan hasil bukanlah ikhtiar semata, melainkan Allah SWT.

Dengan demikian manusia tidak sombong ketika berhasil dan tidak hancur ketika gagal.

Ketika berhasil ia bersyukur.

Ketika gagal ia bersabar.

Ketika memperoleh nikmat ia mengingat Allah SWT.

Ketika menghadapi ujian ia kembali kepada Allah SWT.

Di situlah letak hikmah mengapa Allah SWT memegang kendali hasil akhir kehidupan.

Allah SWT ingin manusia mengenal siapa dirinya dan siapa Tuhannya.

Manusia adalah hamba.

Allah SWT adalah Pengatur segala sesuatu.

Lalu mengapa manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar?

Karena ikhtiar adalah kesempatan yang Allah SWT berikan kepada manusia untuk beramal saleh.

Banyak orang mengira bahwa tujuan ikhtiar adalah hasil.

Padahal bagi seorang mukmin, tujuan utama ikhtiar adalah menjalankan perintah Allah SWT.

Hasil adalah urusan Allah SWT.

Sedangkan usaha adalah kewajiban manusia.

Ketika seorang ayah bangun pagi mencari nafkah untuk keluarganya, ia sedang beribadah.

Ketika seorang ibu merawat anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, ia sedang beribadah.

Ketika seorang pedagang menjaga kejujuran dalam usahanya, ia sedang beribadah.

Ketika seorang petani menanam benih dan merawat tanamannya dengan sabar, ia sedang beribadah.

Ketika seseorang terus berusaha bangkit setelah mengalami kegagalan, ia sedang beribadah.

Karena itu jangan memandang ikhtiar hanya dari hasil yang terlihat.

Lihatlah ikhtiar sebagai kesempatan yang Allah SWT berikan untuk menunjukkan kualitas keimanan kita.

Melalui ikhtiar, Allah SWT memberi kesempatan kepada manusia untuk belajar sabar.

Melalui ikhtiar, Allah SWT memberi kesempatan kepada manusia untuk belajar disiplin.

Melalui ikhtiar, Allah SWT memberi kesempatan kepada manusia untuk belajar jujur.

Melalui ikhtiar, Allah SWT memberi kesempatan kepada manusia untuk belajar istiqamah.

Melalui ikhtiar, Allah SWT memberi kesempatan kepada manusia untuk belajar tawakal.

Bahkan ketika hasil yang diharapkan tidak tercapai, sesungguhnya seorang mukmin tetap mendapatkan keuntungan.

Karena amalnya telah dicatat.

Kesabarannya telah dicatat.

Kejujurannya telah dicatat.

Doanya telah dicatat.

Air matanya telah dicatat.

Kesungguhannya telah dicatat.

Tidak ada satu pun kebaikan yang hilang di sisi Allah SWT.

Inilah yang sering tidak dipahami oleh manusia.

Manusia terlalu fokus pada hasil sehingga lupa melihat nilai ibadah di dalam proses.

Padahal kehidupan dunia bukanlah tempat pembagian hasil semata.

Kehidupan dunia adalah tempat ujian.

Tempat beramal.

Tempat menunjukkan kualitas keimanan.

Tempat membuktikan ketaatan kepada Allah SWT.

Karena itu seorang mukmin tidak pernah merasa rugi ketika berikhtiar dengan cara yang benar.

Jika berhasil, ia bersyukur.

Jika belum berhasil, ia tetap mendapatkan pahala dari ikhtiarnya.

Jika memperoleh keuntungan, ia bersedekah.

Jika mengalami kerugian, ia bersabar.

Dalam semua keadaan, ia tetap memiliki kesempatan untuk mendekat kepada Allah SWT.

Mungkin inilah hikmah terbesar dari kehidupan.

Allah SWT tidak menciptakan manusia semata-mata untuk menikmati hasil, tetapi untuk beribadah kepada-Nya.

Dan salah satu bentuk ibadah yang paling nyata adalah ikhtiar yang dilakukan dengan niat yang benar.

Maka jangan pernah meremehkan usaha yang sedang kita lakukan hari ini.

Jangan pernah merasa sia-sia karena hasil belum sesuai harapan.

Jangan pernah putus asa karena jalan yang ditempuh terasa berat.

Selama ikhtiar itu dilakukan dengan niat yang baik, cara yang halal, hati yang ikhlas, dan tawakal kepada Allah SWT, maka sesungguhnya kita sedang memanfaatkan kesempatan besar yang Allah SWT berikan kepada kita.

Karena hakikatnya, ikhtiar bukanlah sarana untuk memaksa Allah SWT mengikuti keinginan kita.

Ikhtiar adalah kesempatan yang Allah SWT berikan agar kita dapat menunjukkan ketaatan, kesabaran, kejujuran, dan ketawakalan sebagai seorang hamba.

Takdir mengajarkan kita untuk berserah diri kepada Allah SWT. Ikhtiar mengajarkan kita untuk bertanggung jawab sebagai hamba. Dan kesempatan hidup yang Allah SWT berikan adalah ladang amal untuk mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang abadi.

Tinggalkan Balasan