Hidayah Adalah Hati
Oleh SiS Antarkita
Allah SWT berfirman:
QS. At-Taghabun: 11
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. At-Taghabun: 11)
Hidayah Berawal dari Hati
Banyak orang memahami hidayah hanya sebatas bertambahnya ilmu, bertambahnya ibadah, atau berubahnya penampilan. Padahal Al-Qur’an menunjukkan bahwa tempat pertama turunnya hidayah adalah hati.
Allah tidak berfirman, “Dia memberi petunjuk kepada lisannya,” atau “kepada pikirannya,” tetapi Allah berfirman:
“…yahdi qalbah…”
“…Dia memberi petunjuk kepada hatinya.”
Artinya, ketika hati telah mendapatkan hidayah, maka pikiran menjadi jernih, lisan menjadi santun, perilaku menjadi baik, dan seluruh anggota badan mengikuti arah hati. Sebaliknya, apabila hati jauh dari hidayah, maka ilmu dapat disalahgunakan, kekuasaan menjadi kesombongan, dan harta menjadi sumber kerusakan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”
(Hadis sahih riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim).
Musibah Adalah Jalan Menuju Hidayah
Ayat ini diawali dengan penjelasan bahwa tidak ada musibah yang terjadi kecuali dengan izin Allah. Ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak pernah berjalan di luar ilmu, kehendak, dan takdir Allah SWT.
Musibah bukan selalu tanda murka Allah. Tidak sedikit musibah justru menjadi pintu datangnya hidayah. Ketika manusia kehilangan sesuatu yang dicintainya, saat usaha gagal, ketika sakit, atau saat dikhianati, ia mulai menyadari betapa lemahnya dirinya di hadapan Allah.
Orang yang beriman tidak hanya bertanya, “Mengapa ini terjadi?” tetapi juga bertanya, “Apa yang Allah ingin ajarkan kepadaku melalui peristiwa ini?”
Di situlah hidayah bekerja di dalam hati.
Tanda Hati yang Mendapat Hidayah
Hati yang diberi hidayah oleh Allah memiliki beberapa ciri:
Meyakini bahwa semua ketentuan Allah mengandung hikmah, meskipun belum mampu memahaminya.
Menerima takdir dengan lapang dada tanpa kehilangan semangat untuk berikhtiar.
Tetap bersabar ketika diuji dan tetap bersyukur ketika diberi nikmat.
Tidak mudah menyalahkan Allah, keadaan, maupun orang lain.
Semakin dekat kepada Allah melalui doa, dzikir, istighfar, dan amal saleh.
Menjadikan setiap ujian sebagai sarana memperbaiki diri.
Hati Adalah Pemimpin, Anggota Badan Adalah Pengikut
Para ulama menjelaskan bahwa Allah membimbing hati kepada keadaan, ucapan, dan perbuatan terbaik. Hal ini menunjukkan bahwa hati merupakan pemimpin bagi seluruh anggota tubuh.
Apabila hati dipenuhi iman, maka mata akan melihat yang baik, telinga akan mendengar yang baik, lisan akan berkata yang baik, tangan akan berbuat kebaikan, dan kaki akan melangkah menuju jalan yang diridhai Allah.
Karena itu, perubahan sejati bukan dimulai dari penampilan, melainkan dari hati yang mendapatkan cahaya hidayah.
Menjemput Hidayah Hati
Hidayah adalah karunia Allah, tetapi Allah juga memerintahkan manusia untuk menjemputnya dengan ikhtiar, antara lain:
Memperkuat keimanan kepada Allah.
Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an.
Memperbanyak dzikir kepada Allah.
Memohon hidayah dalam setiap salat, terutama melalui doa: “Ihdinaṣ-ṣirāṭal mustaqīm.”
Berkumpul dengan orang-orang saleh.
Bersabar dalam musibah dan bersyukur dalam nikmat.
Membersihkan hati dari kesombongan, dengki, riya’, dan kebencian.
Penutup
Hidayah bukan sekadar mengetahui mana yang benar, tetapi diberi kemampuan untuk menerima, mencintai, dan mengamalkan kebenaran dengan hati yang ikhlas.
Ilmu dapat dipelajari, kekayaan dapat dicari, jabatan dapat diraih, tetapi hidayah adalah anugerah Allah yang ditanamkan ke dalam hati orang-orang yang beriman.
Semoga Allah SWT menjadikan hati kita hati yang hidup, hati yang lembut, hati yang selalu menerima kebenaran, serta hati yang ridha terhadap setiap ketetapan-Nya.
“Ya Allah, berilah hidayah kepada hati kami, teguhkan iman kami, lapangkan dada kami, dan wafatkan kami dalam keadaan husnul khatimah.” Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.