You are currently viewing Relawan Kekuasaan:  Sumber Kerusakan Bangsa dan Negara

Relawan Kekuasaan: Sumber Kerusakan Bangsa dan Negara

  1. Relawan Kekuasaan:

Sumber Kerusakan Bangsa dan Negara

Kerusakan Bangsa dan Negara bukan sekadar akibat dari penguasa yang korup. Ia adalah hasil dari sebuah rantai panjang pembusukan, dan di dalam rantai itu, relawan kekuasaan memegang peran kunci. Tanpa mereka, kerusakan tidak akan pernah mencapai skala yang sistemik dan berulang.

Penguasa korup dilahirkan oleh para relawan kekuasaan.

Mereka tidak muncul karena kebetulan, apalagi karena takdir. Mereka diproduksi oleh barisan relawan yang bersedia menutup mata, menutup mulut, dan menutup akal sehat demi keuntungan sesaat. Relawan kekuasaan adalah rahim politik tempat penguasa korup tumbuh dan dibesarkan.

Relawan kekuasaan ada karena ada permintaan.

Permintaan untuk dibela tanpa syarat.

Permintaan untuk dibenarkan meski salah.

Permintaan untuk dimenangkan meski merusak bangsa.

Relawan kekuasaan adalah pelayan kepentingan, bukan penjaga nilai.

Dalam praktiknya, relawan kekuasaan menjadikan pemimpin politik seperti Tuhan yang disembah.

Pemimpin tidak boleh keliru. Kebijakan tidak boleh dipertanyakan. Kritik dianggap dosa besar. Dalam pemujaan semacam ini, pemimpin kehilangan kontrol, dan relawan kehilangan kemanusiaan. Negara tidak lagi dijalankan dengan konstitusi, melainkan dengan kultus individu.

Lebih busuk lagi, relawan kekuasaan berdagang di atas kepentingan Bangsa dan Negara.

Segala sesuatu dijadikan komoditas:

— suara rakyat ditukar bansos

— kebijakan ditukar proyek

— hukum ditukar jabatan

— masa depan bangsa ditukar konsesi tambang

— kedaulatan negara ditukar kursi menteri dan komisaris

Relawan kekuasaan tidak bicara tentang keadilan, mereka bicara tentang jatah.

Tidak peduli rakyat dirugikan, lingkungan dihancurkan, atau negara dipermalukan—asal aliran keuntungan tetap lancar.

Harus diakui secara jujur dan keras:

Penguasa korup tidak akan pernah bisa berkuasa tanpa adanya relawan kekuasaan.

Merekalah yang membangun citra palsu, menggiring opini, membungkam kritik, dan menyerang siapa pun yang berani membuka borok kekuasaan. Mereka bukan korban sistem, mereka adalah arsitek sistem busuk itu sendiri.

Karena itu, jangan pernah hanya menyalahkan penguasa korup.

Penguasa korup dilahirkan oleh relawan kekuasaan, dipilih oleh relawan kekuasaan, diangkat oleh relawan kekuasaan, dan dipertahankan oleh relawan kekuasaan. Kekuasaan yang busuk tidak mungkin bertahan tanpa barisan pembelanya.

Relawan kekuasaan tidak pernah berpikir tentang bangsa dan negara.

Yang mereka pikirkan hanya perut sendiri.

Orientasinya jelas dan sempit:

bansos, parkir, proyek, tambang, menteri, komisaris.

Itulah kosakata perjuangan mereka.

Nasionalisme hanya slogan kosong.

Moral hanya hiasan pidato.

Ironinya semakin telanjang ketika bencana datang.

Relawan kekuasaan tidak pernah hadir di lokasi bencana.

Mereka tidak tampak saat rakyat kehilangan rumah, nyawa, dan masa depan. Mereka tidak sibuk menggalang bantuan, tidak peduli pada penderitaan. Namun mereka selalu sigap, selalu beringas, ketika muncul kritik terhadap tuannya. Energi mereka habis untuk membela penguasa, bukan menolong rakyat.

Di sinilah letak kebejatan relawan kekuasaan:

mereka lebih setia pada kekuasaan daripada pada kemanusiaan.

Maka kesimpulannya tidak bisa ditawar:

Relawan kekuasaan adalah sumber kerusakan Bangsa dan Negara.

Mereka merusak nilai, menghancurkan etika publik, membunuh nalar kolektif, dan menormalisasi kejahatan kekuasaan. Selama relawan kekuasaan terus diberi ruang, selama pemujaan lebih dihargai daripada kebenaran, selama transaksi lebih penting daripada kepentingan nasional, maka bangsa ini akan terus melahirkan penguasa korup—dengan wajah baru, tapi dengan kerusakan yang sama.

Sejarah kelak tidak hanya mencatat nama para penguasa.

Sejarah juga akan mencatat siapa saja yang dengan sadar memilih menjadi relawan kekuasaan dan ikut menghancurkan bangsa ini.

Suwatno Ibnu Sudihardjo

Antarkita

Tinggalkan Balasan