You are currently viewing Belajar dari MIT: Universitas Kaya yang Tetap Menggalang Donasi

Belajar dari MIT: Universitas Kaya yang Tetap Menggalang Donasi

Belajar dari MIT: Universitas Kaya yang Tetap Menggalang Donasi

Jika MIT Bisa Surplus Tanpa Uang Kuliah, Bagaimana dengan Muhammadiyah?

Massachusetts Institute of Technology (MIT) sering dipersepsikan sebagai universitas superelit, mahal, dan hanya bisa diakses oleh segelintir orang.

Persepsi ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga menyesatkan jika dilihat dari cara MIT membiayai dirinya sendiri. Di balik reputasinya sebagai kampus teknologi terbaik dunia, MIT justru menyimpan pelajaran sangat penting tentang bagaimana pendidikan seharusnya dibiayai: tidak transaksional, tidak bergantung pada mahasiswa, dan tetap berjiwa sosial.

Fakta yang jarang disadari publik adalah ini:

seandainya seluruh mahasiswa MIT tidak membayar uang kuliah, keuangan MIT tetap berada dalam kondisi surplus.
Pernyataan ini bukan retorika. Ia bisa diverifikasi secara akuntansi.

Struktur Keuangan MIT: Angka yang Berbicara
Dalam laporan keuangan MIT tahun 2024, total pendapatan institusi mencapai sekitar USD 5,07 miliar. Dari jumlah tersebut, pendapatan dari tuition fee hanya sekitar USD 428 juta, atau kurang lebih 8% dari total pendapatan. Artinya, 92% pendapatan MIT berasal dari sumber non-SPP.

Sumber terbesar pendapatan MIT justru berasal dari:
Hasil investasi dana abadi (endowment fund)
Kontrak riset dan hibah penelitian
Donasi filantropi dari alumni dan masyarakat

Dana abadi MIT sendiri bernilai sekitar USD 31–32 miliar, yang dikelola secara profesional oleh MIT Investment Management Company (MITIMCO). Hasil investasinya pada tahun 2024 mencapai sekitar USD 1,48 miliar. Angka ini lebih dari tiga kali lipat pendapatan uang kuliah mahasiswa.

Di sinilah letak pelajaran kuncinya:
MIT tidak hidup dari mahasiswa. Mahasiswa hidup dari MIT.

Mengapa MIT yang Sudah Kaya Tetap Menggalang Donasi?
Pertanyaan ini sering muncul, dan justru di sinilah kedewasaan institusi terlihat.
MIT memahami bahwa endowment fund bukan tabungan yang boleh dihabiskan, melainkan mesin keuangan jangka panjang. Prinsipnya sederhana: pokok dana harus dijaga, hasilnya yang dipakai. Maka, agar mesin ini terus membesar, donasi harus terus mengalir.

Ada tiga alasan mendasar mengapa MIT tetap agresif menggalang donasi meski sangat kaya:

Pertama, keberlanjutan lintas generasi.
MIT tidak hanya memikirkan mahasiswa hari ini, tetapi mahasiswa 30, 50, bahkan 100 tahun ke depan. Setiap donasi hari ini adalah jaminan akademik bagi generasi masa depan.

Kedua, menjaga karakter sosial institusi.
Donasi adalah indikator kepercayaan publik. Selama masyarakat masih mau menyumbang, itu berarti MIT masih dipandang sebagai institusi sosial, bukan korporasi bisnis. Begitu donasi berhenti, itu pertanda bahaya: institusi mulai dipersepsikan sebagai entitas komersial.

Ketiga, memperluas akses dan kualitas sekaligus.

Dengan endowment yang kuat, MIT bisa:
memberi beasiswa luas,
menarik profesor terbaik dunia,
membiayai riset mahal tanpa membebani mahasiswa.

MIT Tidak Berbisnis, Tapi Berinvestasi
Hal penting lain yang sering luput adalah:
MIT memperoleh pendapatan non-SPP bukan dari berbisnis, melainkan dari berinvestasi.

Ini perbedaan yang sangat mendasar.
MIT tidak membuka pabrik, tidak membuka retail, tidak bersaing di pasar produk. MIT mendirikan investing company, bukan operating company. Artinya, MIT menempatkan dananya sebagai pemilik modal minoritas di perusahaan-perusahaan berkualitas, lalu menikmati hasil pertumbuhan ekonomi tersebut tanpa kehilangan karakter sosialnya sebagai lembaga pendidikan.
Inilah yang membuat MIT:
tetap akademik,
tetap bermoral,
dan tetap fokus pada pendidikan dan riset.

Lalu, Bagaimana dengan Muhammadiyah?
Muhammadiyah memiliki aset yang luar biasa besar:
ribuan sekolah,
ratusan perguruan tinggi,
rumah sakit,
amal usaha di berbagai sektor.

Namun, pertanyaan krusialnya adalah:
berapa persen lembaga pendidikan Muhammadiyah yang benar-benar hidup dari dana abadi?

Realitasnya, sebagian besar sekolah dan kampus Muhammadiyah masih sangat bergantung pada SPP dan UKT. Artinya, relasi antara lembaga dan peserta didik masih bersifat transaksional. Murid membayar, layanan diberikan. Ketika murid tidak mampu membayar, institusi terguncang.

Padahal, dalam khazanah Islam, Muhammadiyah memiliki instrumen yang setara bahkan lebih mulia dari endowment fund, yaitu wakaf.
Wakaf: Endowment Fund dalam Bahasa Iman

Apa yang disebut endowment fund di MIT, dalam Islam disebut wakaf produktif. Prinsipnya sama:
pokok dijaga,
hasil dimanfaatkan,
manfaatnya berkelanjutan.

Masalahnya bukan pada konsep, tetapi pada manajemen dan tata kelola. Wakaf sering berhenti sebagai:
tanah kosong,
bangunan pasif,
aset mati.

Padahal, jika dikelola seperti MIT mengelola endowment-nya, wakaf bisa menjadi:
penopang utama pendidikan,
sumber beasiswa abadi,
penjamin kesejahteraan guru dan dosen,
bahkan pensiun tenaga pendidik.

Pelajaran Kunci dari MIT untuk Muhammadiyah

Ada tiga pelajaran strategis:
Pertama, pisahkan pendidikan dari transaksi.
Semakin tinggi ketergantungan pada SPP, semakin rendah martabat sosial institusi pendidikan.
Kedua, bangun dana abadi sebagai tulang punggung.
Bukan sekadar proyek tambahan, tetapi sebagai core strategy.
Ketiga, galang wakaf karena misi, bukan karena krisis.

MIT menggalang donasi bukan karena kekurangan, tetapi karena visi jangka panjang. Muhammadiyah seharusnya demikian.

Penutup: Pertanyaan yang Harus Dijawab
MIT memberi kita cermin yang jujur:
universitas terbaik dunia justru hidup dari filantropi, bukan dari mahasiswa.

Pertanyaannya kini kembali ke kita:
Apakah lembaga pendidikan Muhammadiyah ingin tetap terjebak dalam pendidikan transaksional?
Ataukah berani melompat menuju pendidikan berbasis dana abadi dan wakaf produktif?

Jika MIT yang sekuler saja menjadikan endowment sebagai pilar utama,
mengapa institusi Islam justru ragu menjadikan wakaf sebagai fondasi?

Belajar dari MIT bukan berarti meniru Barat.
Belajar dari MIT adalah mengembalikan pendidikan pada hakikatnya: amal jariyah yang berkelanjutan.

SiS, Antarkita.

Tinggalkan Balasan