Antarkita

2 Februari 2026

Info Wisata, Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Duta Wisata Antarkita

Duta Wisata Antarkita Penggerak Wisata dan Ekonomi UMKM Banyumas Pariwisata Banyumas bukan hanya soal keindahan alam, kekayaan budaya, atau agenda festival. Ia adalah tentang perjalanan manusia, tentang bagaimana seseorang disambut, dilayani, dan dikenalkan pada kehidupan lokal sebuah daerah. Dalam pariwisata modern, pengalaman wisata tidak dimulai di lokasi tujuan, melainkan sejak interaksi pertama terjadi—di jalanan, di kendaraan, di obrolan sederhana sepanjang perjalanan. Di ruang inilah Duta Wisata Antarkita mengambil peran strategis. Duta Wisata Antarkita adalah para driver online yang selama ini berada di jantung mobilitas Banyumas. Mereka hadir setiap hari di ruang publik: menjemput wisatawan dari stasiun, mengantar ke penginapan, menemani perjalanan menuju destinasi, kuliner, dan sentra UMKM. Mereka adalah wajah pertama Banyumas yang ditemui wisatawan—sering kali juga wajah terakhir yang diingat. Dari Mobilitas ke Identitas Selama ini, driver online diposisikan hanya sebagai bagian dari sistem transportasi. Program Duta Wisata Antarkita mengubah paradigma tersebut. Driver tidak lagi dipandang semata sebagai pengantar, tetapi sebagai subjek pembangunan pariwisata dan ekonomi daerah. Dengan pendekatan ini, mobilitas berubah menjadi identitas. Setiap perjalanan menjadi ruang pengenalan Banyumas—tentang alamnya, manusianya, budayanya, dan denyut ekonomi rakyatnya. Driver menjadi duta lokal yang hidup, autentik, dan dipercaya. Penguatan Kapasitas: Fondasi Utama Duta Wisata Antarkita dibangun melalui penguatan kapasitas manusia. Para driver dibekali secara bertahap dan berkelanjutan dengan: Literasi Wisata Banyumas Pengetahuan menyeluruh tentang destinasi alam, budaya, religi, edukasi, desa wisata, dan event daerah. Hospitality dan Etika Pelayanan Sikap ramah, profesional, inklusif, dan berorientasi pada kenyamanan wisatawan. Storytelling Lokal Kemampuan menyampaikan cerita Banyumas secara sederhana, jujur, dan berkesan—tentang kuliner, tradisi, sejarah, dan kearifan lokal. Literasi UMKM dan Ekonomi Lokal Pemahaman tentang peran UMKM sebagai tulang punggung ekonomi daerah, serta bagaimana wisata dapat menggerakkannya. Literasi Digital Dasar Pemanfaatan ulasan digital, peta destinasi, dan media sosial sebagai pendukung promosi wisata yang etis. Dengan bekal ini, driver tidak hanya bekerja lebih profesional, tetapi juga lebih bermakna. Ada peningkatan keterampilan, kepercayaan diri, dan kebanggaan terhadap profesi. Wisata sebagai Mesin Penggerak UMKM Salah satu tujuan utama Duta Wisata Antarkita adalah menjadikan pariwisata sebagai stimulus nyata bagi ekonomi UMKM Banyumas. Selama ini, UMKM sering berada di pinggir arus wisata—produk bagus, tetapi minim akses pasar. Melalui peran driver sebagai duta, wisatawan diarahkan secara alami ke: kuliner khas Banyumas, warung rakyat dan kopi lokal, sentra kerajinan dan oleh-oleh, desa wisata dan ekonomi kreatif berbasis komunitas. Setiap rekomendasi adalah perputaran ekonomi. Setiap kunjungan adalah keberlanjutan usaha rakyat. Wisata tidak lagi terkonsentrasi pada destinasi besar, tetapi menyebar hingga ke akar masyarakat. Peningkatan Penghasilan dan Kesejahteraan Driver Duta Wisata Antarkita dirancang berdampak langsung pada kesejahteraan driver. Layanan yang bernilai tambah menciptakan: kepercayaan wisatawan, loyalitas pelanggan, peluang perjalanan lanjutan, serta potensi kerja sama etis dengan pelaku UMKM dan pengelola wisata. Driver tidak lagi bergantung sepenuhnya pada volume order, tetapi pada kualitas layanan dan jejaring ekonomi yang dibangun bersama. Ini menciptakan pendapatan yang lebih stabil dan bermartabat. Membangun Ekosistem Wisata Inklusif Keunggulan Duta Wisata Antarkita terletak pada pendekatan ekosistem. Program ini menjahit kepentingan berbagai pihak dalam satu visi bersama: driver online sebagai penggerak lapangan, UMKM sebagai tulang punggung ekonomi, pengelola destinasi sebagai penguat daya tarik, komunitas budaya sebagai penjaga identitas, pemerintah daerah sebagai fasilitator kebijakan. Kolaborasi ini melahirkan pariwisata yang inklusif, adil, dan berkelanjutan. Tidak elitis, tidak eksploitatif, dan tidak terputus dari masyarakatnya. Branding Banyumas yang Autentik Citra Banyumas dibangun dari pengalaman nyata, bukan sekadar slogan. Wisatawan akan mengingat Banyumas karena: keramahan orang-orangnya, cerita yang mereka dengar di perjalanan, rasa kuliner lokal, dan interaksi hangat dengan UMKM. Duta Wisata Antarkita menjadikan branding Banyumas hidup, manusiawi, dan autentik—promosi paling kuat yang tumbuh dari interaksi sehari-hari. Wisata Berbasis Manusia dan Nilai Pada akhirnya, Duta Wisata Antarkita adalah tentang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Wisata tidak hanya mengejar angka kunjungan, tetapi kualitas dampak. Tidak hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi pemerataan manfaat. Dari jalanan Banyumas, dari kursi pengemudi, dari percakapan sederhana—lahir gerakan wisata yang menguatkan ekonomi rakyat, meningkatkan martabat kerja, dan membangun kebanggaan daerah. Karena wisata yang berkelanjutan bukan hanya tentang destinasi yang indah, tetapi tentang manusia yang menghidupkannya dengan nilai, hati, dan keberpihakan pada rakyatnya sendiri. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Catatan untuk Negeri: Dari Almarhum Prof. BJ Habibie hingga TKI

Catatan untuk Negeri: Dari Almarhum Prof. BJ Habibie hingga TKI Tentang Integritas, Martabat, dan Anak Bangsa yang Terpaksa Pergi** Beberapa waktu lalu, ruang publik Indonesia kembali berdenyut. Media sosial dan pemberitaan arus utama ramai membicarakan sosok seorang perempuan muda Indonesia, cantik, berjilbab, yang bergabung dengan militer Amerika Serikat. Ia berdiri tegap dalam balutan seragam negara lain, meninggalkan tanah air dengan langkah mantap. Tak lama berselang, publik kembali diingatkan pada Rosita—seorang perempuan Indonesia, eks wartawati, yang telah lebih dahulu bergabung dengan militer Amerika dan meniti karier hingga pangkat perwira menengah. Reaksi pun beragam. Ada rasa bangga, ada kecurigaan, ada pula kecaman. Nasionalisme dipertanyakan, loyalitas diperdebatkan. Namun diskusi itu sering berhenti di permukaan—pada simbol dan emosi—tanpa menyentuh akar persoalan yang lebih dalam: mengapa semakin banyak anak bangsa justru menemukan pengakuan di luar negeri, bukan di rumahnya sendiri? Pada suatu Sabtu sore, penulis berkesempatan bersilaturahmi dengan seorang sahabat lama. Pertemuan itu sederhana, tanpa protokol, tanpa panggung. Namun percakapan kami membuka ruang perenungan yang panjang. Ia kini seorang profesor muda. Bukan di Indonesia, melainkan di Jepang. Di sana, ia mengajar dan membimbing mahasiswa pascasarjana, memimpin riset, dan menjadi bagian dari ekosistem ilmu pengetahuan yang tertib, disiplin, dan menghargai kerja intelektual. Pilihan hidup itu bukan lahir dari ambisi meninggalkan tanah air. Justru sebaliknya. Ia adalah upaya menjaga integritas seorang ilmuwan agar ilmunya tetap bermanfaat, jujur, dan tidak terkooptasi oleh kepentingan non-ilmiah. Di negeri sendiri, ruang itu belum tersedia. Posisi yang semestinya ia duduki belum mendapat tempat. Bukan karena kurang kompeten, melainkan karena sistem belum sepenuhnya berpihak pada merit, rekam jejak, dan kejujuran akademik. Nama beliau sengaja saya samarkan. Bukan untuk dramatisasi, tetapi karena menyangkut keselamatan dan keberlanjutan hidup akademiknya. Sebuah ironi yang menyakitkan: di negeri merdeka, kejujuran dan prestasi kadang justru menjadi sumber kerentanan. Selama ini, biaya riset beliau diperoleh dari luar negeri. Ia memiliki komunikasi langsung dan akses kebijakan dengan Menteri Pendidikan dari negara pemberi donatur. Hasil penelitian yang ia kerjakan bersifat strategis—menyangkut masa depan ilmu, teknologi, dan kebijakan publik. Namun di negeri sendiri, riset tersebut belum mendapat ruang yang layak. Bahkan lebih dari itu, prestasi yang ia capai kerap dianggap mengganggu eksistensi para pejabat di lingkungan institusi tempat ia pernah mengabdi. Keunggulan dipersepsi sebagai ancaman. Integritas dipandang sebagai pembangkangan. Dalam situasi seperti ini, pilihan untuk pergi bukanlah pengkhianatan, melainkan jalan sunyi untuk tetap waras dan bermartabat. Kisah ini membawa ingatan kita pada Almarhum Prof. BJ Habibie. Seorang anak bangsa yang kecemerlangan intelektualnya justru tumbuh dan diakui di Jerman. Di sana, Habibie dihargai bukan karena kedekatan, melainkan karena kapasitas. Ia menjadi ilmuwan kelas dunia, memimpin riset, dan meninggalkan warisan intelektual yang diakui hingga hari ini. Habibie kemudian pulang, membawa mimpi besar tentang Indonesia yang berdaulat dalam teknologi dan industri strategis. Namun sejarah juga mencatat dengan jujur: Habibie adalah pengecualian, bukan pola umum. Tidak semua anak bangsa mendapatkan jalan pulang yang sama. Banyak yang pulang justru menemukan tembok. Banyak yang memilih bertahan di luar negeri demi menjaga akal sehat dan martabat profesionalnya. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan elit intelektual. Jutaan Tenaga Kerja Indonesia mengalami ironi yang serupa. Di luar negeri, mereka dihargai karena disiplin, ketekunan, dan etos kerja. Di dalam negeri, profesi yang sama sering dipandang rendah. Negara bangga pada remitansi yang mereka kirim, tetapi sering lalai dalam melindungi hak, keselamatan, dan masa depan mereka. TKI dipuji sebagai pahlawan devisa, tetapi jarang dihadirkan sebagai subjek pembangunan yang bermartabat. Mereka dirayakan saat mengirim uang, dilupakan saat membutuhkan perlindungan. Dari perempuan Indonesia di militer asing, profesor muda di Jepang, ilmuwan diaspora, hingga TKI—semuanya diikat oleh satu benang merah yang sama: negara belum sepenuhnya adil dalam mengelola manusia Indonesia. Selama kekuasaan diraih dan dipertahankan secara transaksional, selama jabatan lebih ditentukan oleh kedekatan daripada kapasitas, selama integritas justru dianggap mengganggu stabilitas kekuasaan, maka kondisi ini akan terus berulang. Pola ini bukan baru. Ia telah berlangsung sejak Indonesia merdeka, melintasi rezim, berganti jargon, tetapi nyaris tak berubah dalam substansi. Catatan ini bukan tudingan, bukan pula ratapan. Ini adalah cermin. Bahwa nasionalisme tidak selalu diwujudkan dengan tinggal, tetapi dengan menjaga nilai. Bahwa cinta tanah air tidak selalu berarti menetap, tetapi tetap jujur, bekerja keras, dan menjaga martabat—di mana pun berada. Pertanyaan terpenting hari ini bukan lagi, mengapa anak bangsa memilih pergi? Melainkan, kapan negeri ini sungguh-sungguh belajar memberi tempat bagi anak-anak terbaiknya sendiri—tanpa harus menunggu mereka diakui oleh bangsa lain terlebih dahulu? SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

PC IPM Rawalo Teguhkan Kader Pelajar Beriman dan Berkemajuan melalui PKDTM 1 di SMP Muhammadiyah Rawalo

PC IPM Rawalo Teguhkan Kader Pelajar Beriman dan Berkemajuan melalui PKDTM 1 di SMP Muhammadiyah Rawalo Rawalo–Banyumas || AntarKita.com ~ Dalam rangka memperkuat kaderisasi pelajar serta menanamkan jiwa kepemimpinan, keberanian, dan semangat tajdid sejak dini, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PC IPM) Rawalo menggelar Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati I (PKDTM 1). Kegiatan yang diikuti oleh 45 siswa kelas VIII ini dilaksanakan di SMP Muhammadiyah Rawalo (Muhamra) pada Jumat–Ahad, 30 Januari–1 Februari 2026. Kegiatan PKDTM 1 secara resmi dibuka oleh Kepala SMP Muhammadiyah Rawalo, Murtafingah Ekaningrum, S.Pd. Ia menegaskan bahwa Taruna Melati I merupakan agenda kaderisasi wajib bagi seluruh siswa kelas VIII sebagai bagian dari misi pembinaan kader di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan Cabang Rawalo. “Perkaderan Taruna Melati I ini wajib diikuti seluruh siswa sebagai amanah kaderisasi SMP Muhammadiyah Rawalo melalui IPM, untuk menyiapkan kader Muhammadiyah–‘Aisyiyah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan persyarikatan,” tegasnya. Ketua PCM Rawalo, Warsono, S.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa Muhammadiyah merupakan gerakan Islam yang memiliki kekuatan historis, amal usaha yang luas, dan sistem kaderisasi yang berkelanjutan untuk menjaga eksistensi persyarikatan. “Muhammadiyah yang didirikan KH. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 terus berkembang melalui amal usaha pendidikan dan kesehatan. Taruna Melati menjadi salah satu instrumen strategis kaderisasi untuk menjaga kesinambungan dan kemajuan persyarikatan,” ungkapnya. Sementara itu, Ketua PC IPM Rawalo, Farizal Rafiq Irfansyah, menegaskan bahwa PKDTM 1 merupakan bagian dari kaderisasi ideologis IPM yang bertujuan menanamkan nilai kepemimpinan, kedisiplinan, kemandirian, dan kebersamaan sebagai fondasi kader pelajar Muhammadiyah. “PKDTM 1 kami rancang sebagai ruang pembentukan kader pelajar Muhammadiyah yang berjiwa kepemimpinan, disiplin, mandiri, serta memiliki semangat kebersamaan. Harapannya, peserta siap melanjutkan estafet perjuangan IPM di tingkat ranting hingga cabang Rawalo,” tutur alumni SMP Muhammadiyah Rawalo tahun 2022 tersebut. Dari sisi peserta, kegiatan Taruna Melati I dirasakan memberi pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermakna. Nova Azahra, peserta TM 1 kelas VIII Habassyah, mengaku mendapatkan banyak ilmu baru dan kepercayaan diri. “Saya sangat senang mengikuti Taruna Melati I IPM Rawalo. Kegiatannya seru, menambah wawasan, teman baru, dan membuat saya lebih percaya diri serta berani berpendapat,” ujarnya. Hal senada disampaikan Zaky Satya Supriatna, peserta TM 1 kelas VIII A Damaskus. Ia mengaku bangga dapat mengikuti perkaderan IPM dan berinteraksi langsung dengan para Ipmawan dan Ipmawati Cabang Rawalo. “Melalui Taruna Melati I ini, saya merasa bangga bisa menjadi bagian dari IPM. Saya siap meneruskan dan menyebarluaskan nilai-nilai Islam sebagai kader umat dan bangsa,” ungkapnya. SMP Muhammadiyah Rawalo (Muhamra) bersama PC IPM Rawalo meneguhkan komitmen kaderisasi sebagai denyut nadi keberlanjutan persyarikatan melalui Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati I (PKDTM 1). Dari ruang-ruang pendidikan Muhammadiyah, kader pelajar disiapkan bukan sekadar untuk aktif berorganisasi, tetapi untuk tumbuh sebagai generasi beriman, berilmu, berakhlak, dan berani memikul amanah dakwah serta kepemimpinan Muhammadiyah di masa depan (Tarqum Aziz JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Menyiapkan Dai Akar Rumput yang Kuat Spiritual dan Komunikasi: Pembekalan 130 Mubaligh PDM Banyumas

Menyiapkan Dai Akar Rumput yang Kuat Spiritual dan Komunikasi: Pembekalan 130 Mubaligh PDM Banyumas Sokaraja–Banyumas || AntarKita.com ~ Menyongsong Ramadhan 1447 Hijriah, Majelis Tabligh PDM Banyumas meneguhkan manhaj dakwah dan semangat tajdid melalui Pembekalan Mubaligh dan Imam Masjid Muhammadiyah Tahun 2026 yang digelar di Masjid At-Tajdiid Kampus II UMP, Jumat–Sabtu (30–31 Januari 2026). Agenda tersebut diikuti lebih dari 130 peserta yang merupakan perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) se-Kabupaten Banyumas. Sejak awal kegiatan, antusiasme peserta tampak tinggi, mencerminkan semangat penguatan dakwah pencerahan di tingkat akar rumput. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Ketua PDM Banyumas, KH. Amrulloh Sucipto Aji, S.Sos., yang menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan bagian dari manhaj dakwah berkemajuan Muhammadiyah serta mengajak peserta mengikuti pembekalan dengan kesungguhan agar ilmu dapat diinternalisasi dan diwujudkan dalam dakwah yang mencerahkan. “Menuntut ilmu adalah jalan menuju surge sehingga kita harus menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh agar ilmu yang melimpah dapat diserap secara optimal dan berbuah pada dakwah yang mencerahkan umat,” tegasnya. Ketua Majelis Tabligh PDM Banyumas, KH. Sugeng, S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa pembekalan mubaligh dan imam masjid–mushola Muhammadiyah merupakan program berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi, menyelaraskan dakwah Ramadhan dengan manhaj Persyarikatan, serta memperkuat dakwah berkemajuan dan jejaring mubaligh hingga tingkat cabang dan ranting. “Kegiatan ini merupakan ikhtiar Majelis Tabligh PDM Banyumas agar kompetensi mubaligh dan imam masjid terus terasah, dakwah semakin menyejukkan, serta selaras dengan manhaj Persyarikatan sehingga dakwah Muhammadiyah diharapkan mampu menjadi oase yang menenangkan sekaligus penggerak perubahan sosial yang positif,” ujarnya. Pembekalan ini dirancang sebagai proses penguatan kapasitas mubaligh secara menyeluruh melalui materi komprehensif yang mencakup manhaj dakwah Muhammadiyah (KH. Drs. M. Djohar AS, M.Pd), Tahsin Al-Qur’an dan penguatan kualitas ibadah (KH. Amrulloh Sucipto Aji, S.Sos), etika dan kompetensi mubaligh (KH. Mintaraga Eman Surya, Lc., M.A), teknik khutbah dan ceramah efektif (KH. Assoc. Prof. Dr. Ibnu Hasan, M.S.I.), serta penyusunan materi dakwah tematik yang kontekstual dengan kebutuhan dan realitas sosial masyarakat (KH. Dr. Asep Daud Kosasih, M.Ag.). Manfaat kegiatan ini dirasakan langsung oleh peserta. Rojikin, utusan PRM Karanggintung, Cabang Sumbang, mengaku pembekalan tersebut memberikan dampak signifikan bagi dirinya. “Sesi tahsin sangat membantu memperbaiki kualitas bacaan saya sebagai imam. Apalagi saya juga mendapat amanah mengisi khutbah Jumat. Pembekalan ini membuat saya lebih percaya diri dan siap menjalankan tugas di tengah jamaah,” ujarnya. Ungkapan senada disampaikan oleh Wakil Ketua PCM Kembaran yang membidangi Tabligh dan pemberdayaan masjid-mushola, H. Fathul Munjdi, S.Ag., menegaskan bahwa mubaligh dan imam masjid Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan dakwah yang mencerahkan, menggembirakan, serta memberi keteladanan bagi jamaah. “Mubaligh harus mampu menyampaikan dakwah yang mencerahkan dan menggembirakan, sementara imam masjid dituntut fasih dalam bacaan serta menjadi role model dalam ucapan dan tindakan, agar dakwah benar-benar dirasakan sebagai kebutuhan spiritual yang menenangkan dan menguatkan,” ujarnya. Melalui pembekalan ini, Majelis Tabligh PDM Banyumas berharap lahir mubaligh dan imam masjid yang memiliki kekuatan spiritual, kecakapan komunikasi, serta kesiapan menghadapi tantangan dakwah kontemporer (Tarqum Aziz JurnalisMu Banyumas Raya).

Scroll to Top