Antarkita

23 Februari 2026

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

BP2RM CENTER (Pusat Badan Pekerja Pengembangan Ranting Muhammadiyah)

๐ŸŒฟ BP2RM CENTER (Pusat Badan Pekerja Pengembangan Ranting Muhammadiyah) Gerakan Sunyi, Dampaknya Nyata Oleh : Casroni Raska (inisiator BP2RM) Di era disrupsi digital, krisis ekonomi pasca pandemi, dan perubahan sosial yang cepat, pertanyaan mendasarnya adalah: Masihkah ranting menjadi pusat denyut gerakan? Ataukah ia hanya papan nama tanpa daya dorong? Muhammadiyah sejak didirikan oleh Ahmad Dahlan tidak dibangun dari pusat kekuasaan, tetapi dari basis umat. Dari surau kecil, dari pengajian sederhana, dari kader yang militan. Maka jika hari ini kita ingin Muhammadiyah kuat di abad kedua, jawabannya bukan sekadar program besar di pusat. Jawabannya ada di ranting. Di sinilah hadir BP2RM Centerโ€”kumpulan volunteer yang menyebut dirinya Sahabat Ranting-Mu. Mereka bukan struktur formal yang kaku. Mereka adalah gerakan kepedulian. Mereka bergerak, menghubungkan, dan menguatkan. ๐ŸŽฏ VISI BESAR: RANTING BERDAULAT BP2RM Center bekerja dengan paradigma: Ranting harus berdaulat secara kader, berdaulat secara sistem, dan berdaulat secara ekonomi. Karena ranting yang hanya hidup dari proposal akan mudah rapuh. Ranting yang hanya bergantung pada tokoh akan mudah stagnan. Ranting yang tidak menyiapkan kader akan pelan-pelan hilang. ๐Ÿ”ฅ DUA FOKUS GERAKAN STRATEGIS 1๏ธโƒฃ MELAHIRKAN KADER DAN ANGGOTA SEBANYAK-BANYAKNYA Tanpa kader, tidak ada masa depan. Rasulullah ๏ทบ bersabda: โ€œSebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.โ€ (HR. Ahmad) Manfaat itu lahir dari kader yang tercerahkan dan terorganisir. BP2RM mendorong: โœ” Sistem Kaderisasi Berjenjang Identifikasi potensi lokal. Pendampingan ideologis dan manajerial. Pelibatan aktif generasi muda. โœ” Rekrutmen Terencana Pendekatan berbasis komunitas. Optimalisasi pengajian sebagai ruang rekrutmen. Integrasi dakwah digital. โœ” Penguatan Militansi dan Spirit Internalisasi manhaj tarjih. Pembinaan karakter. Kesadaran bahwa ranting adalah amanah peradaban. Karena ranting tanpa kader ibarat masjid tanpa jamaah. 2๏ธโƒฃ MEMBANGUN AUM WAKAF PRODUKTIF MILIK RANTING Inilah pembeda gerakan ini. Selama ini, wakaf sering berhenti pada fungsi statis: tanah masjid, bangunan, makam. Padahal dalam sejarah peradaban Islam, wakaf menjadi instrumen ekonomi produktif. Allah berfirman: โ€œPerumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulirโ€ฆโ€ (QS. Al-Baqarah: 261) Wakaf produktif berarti: Aset menghasilkan. Cashflow berkelanjutan. Keuntungan kembali untuk dakwah. ๐Ÿ’ก Contoh Skema: Minimarket ranting. Klinik sederhana. Pertanian kolektif. Properti sewa. Unit usaha digital. Keuntungan dari AUM wakaf produktif: Membiayai kaderisasi. Menguatkan operasional ranting. Memberi beasiswa. Membantu dhuafa jamaah. Dari wakaf lahir kemandirian. Dari kemandirian lahir martabat. ๐Ÿงช PROTOTIPE NYATA: PRM LONGKEYANG Sebagai model percontohan, gerakan ini diuji dan dikembangkan di: PRM Longkeyang Di Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, ranting ini menjadi laboratorium pengembangan: Penguatan struktur kaderisasi. Konsolidasi jamaah. Inisiasi pengembangan wakaf produktif. Kolaborasi lintas elemen. Model ini bukan sekadar teori. Ia adalah praktik. Ia adalah prototype yang bisa direplikasi. ๐Ÿค GERAKAN VOLUNTEER: SAHABAT RANTING-MU BP2RM Center terdiri dari: Aktivis ranting. Saudagar Muhammadiyah. Profesional. Akademisi. Relawan digital. Simpatisan gerakan. Mereka bergerak dengan prinsip: โœ” Kolaboratif โœ” Non-ego sektoral โœ” Berbasis data dan kebutuhan nyata โœ” Fokus solusi, bukan sekadar wacana Karena membangun ranting bukan proyek individu. Ia adalah kerja kolektif. ๐ŸŒ MENGAPA GERAKAN INI MENDESAK? Beberapa realitas yang kita hadapi: Banyak ranting minim kader aktif. AUM belum menyentuh level ekonomi produktif. Ketergantungan pada figur tertentu. Tantangan generasi muda yang makin pragmatis. Jika ini dibiarkan, ranting akan stagnan. Namun jika diintervensi dengan sistem kader + ekonomi produktif, ranting akan melompat. ๐Ÿ“ˆ ROADMAP PENGEMBANGAN RANTING BP2RM Center menawarkan tahapan: Tahap 1 โ€“ Konsolidasi Internal Audit kader dan aset. Tahap 2 โ€“ Penguatan SDM Pelatihan manajemen, kaderisasi, dan ekonomi. Tahap 3 โ€“ Inisiasi Wakaf Produktif Skema sederhana namun berkelanjutan. Tahap 4 โ€“ Digitalisasi Ranting Database anggota, sistem komunikasi, dan branding. Tahap 5 โ€“ Replikasi Model Dari satu ranting menjadi gerakan sistemik. โœŠ PESAN IDEOLOGIS Muhammadiyah bukan hanya organisasi. Ia adalah gerakan tajdid. Jika ranting kuat: Dakwah hidup. Kader tumbuh. Ekonomi bergerak. Umat berdaya. BP2RM Center hadir bukan untuk mengambil peran struktural. Tetapi untuk menguatkan peran yang sudah ada. ๐ŸŒŸ PENUTUP Sahabat Ranting-Mu percaya: Ranting yang kuat tidak lahir dari bantuan. Ia lahir dari kesadaran kolektif. Ranting yang besar tidak lahir dari proposal. Ia lahir dari kader dan wakaf produktif. Ranting yang berdaya tidak lahir dari mimpi. Ia lahir dari kerja sistematis. Pertanyaannya sekarang: Apakah ranting kita siap menjadi pusat kebangkitan?

Uncategorized

๐ŸŒฟ URIP AJA MUNG MANGAN TURU ๐ŸŒฟ*

*๐ŸŒฟ URIP AJA MUNG MANGAN TURU ๐ŸŒฟ* Dening : mBah Parji 220226 Urip iku aja nganti mung kebak mangan lan turu. Saben ndina mung ngenteni wektu mangan, bar kuwi turu maneh, esuke tangi mung mbaleni pakulinan sing padha. Yen urip mung kaya ngono, apa bedane karo wong sing ora nduwe tujuan lan ora nduwe gegayuhan? Eman banget, akeh wong padha sambat kekurangan wektu. Rumangsa wektu iku kurang kanggo nyambut gawe, kurang kanggo ngupaya masa depan, kurang kanggo nindakake kabecikan. Nanging ing sisih liyane, ana uga wong sing uripe entek mung kanggo mangan lan turu. Wektune akeh, nanging ora digunakake kanggo ngupaya urip sing luwih becik. Kamangka kebutuhan urip iku akeh sing kudu digoleki. Sandhang, pangan, papan, lan kabutuhan liyane ora bakal teka dhewe tanpa usaha. Lha terus yen sing aweh mangan saben dinane wis ora ana, banjur arep mangan apa wong kuwi mau? Pitakon iki kudune dadi pangeling supaya saben wong sadar yen urip ora bisa gumantung marang liyan saklawase. Iki nuduhake yen wong kuwi durung nduwe pangerten menawa urip iku nduwe tanggung jawab dhewe-dhewe. Saben wong kudu usaha, kudu nyambut gawe, kudu ngupaya piye carane yen wis dewasa bisa nguripi awake dhewe. Urip iku ora mung njaluk lan nampa, nanging uga kudu gelem makarya lan tanggung jawab marang uripe dhewe. Aja nganti dadi wong sing mung njagakake liyan, nanging ora gelem obah kanggo masa depane. Jane ya ora tega ndeleng wong sing nduwe sipat kaya mangkono. Urip tanpa usaha, tanpa tanggung jawab, lan tanpa semangat ngupaya kabecikan. Kahanan iki kerep kedadeyan dudu tanpa sebab. Bisa uga amarga biyen wong tuwane kurang nggatekake pendidikan lan panggulawentah tumrap anake. Anak ora diwulang mandiri, ora dibiasakake tanggung jawab, mula nalika diwasa dadi wong sing gumantung marang liyan. Mula iki dadi pepeling kanggo kita kabeh, luwih-luwih sing duwe anak. Anak kudu digulawentah kanthi becik, diwulang kerja keras, diwenehi tuladha tanggung jawab, lan dibiasakake urip mandiri. Supaya ing tembe mburine, uripe anak ora mung kebak mangan lan turu saben dinane, nanging dadi wong sing migunani, nduwe tujuan, lan bisa nguripi awake dhewe uga menehi manfaat kanggo wong liya. Urip iku cekak, wektu ora bakal mbaleni. Mula gunakna saben detik kanthi makna. Obaha awakmu, ngupayaa masa depanmu, lan dadia wong sing tanggung jawab marang uripmu dhewe. Aja nganti urip mung kari crita: mangan, turu, lan tanpa guna. Elinga, urip iku kanggo diupayakake, dudu mung kanggo dinikmati tanpa tanggung jawab.

Uncategorized

Jantung Rumah Adalah Ayah dan Ibu โ€” Perspektif Islami

*๐ŸŒฟ Jantung Rumah Adalah Ayah dan Ibu โ€” Perspektif Islami ๐ŸŒฟ* Oleh: espeje 1309/PT 220226 Dalam pandangan Islam, keluarga bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ladang amal, tempat bertumbuhnya iman, dan madrasah pertama bagi anak-anak. Di dalam rumah itulah nilai kehidupan ditanamkan, akhlak dibentuk, dan masa depan generasi ditentukan. Dan di pusat semua itu, Allah menempatkan ayah dan ibu sebagai penentu arah kehidupan keluarga. Rumah ibarat sebuah tubuh, dan orang tua adalah jantungnya. Jantung yang sehat mengalirkan darah yang bersih, memberi kehidupan, kekuatan, dan keseimbangan bagi seluruh tubuh. Begitu pula ayah dan ibu yang hatinya hidup dengan iman, akhlaknya terjaga, dan cintanya tulus karena Allah, akan mengalirkan kebaikan kepada seluruh anggota keluarga. Dari merekalah mengalir ketenangan, kasih sayang, dan keberkahan. Sebaliknya, jika jantung melemah, seluruh tubuh merasakan dampaknya. Jika orang tua jauh dari nilai iman dan keteladanan, rumah kehilangan arah, dan anak-anak tumbuh tanpa pegangan yang kuat. Karena itulah kualitas keluarga sangat bergantung pada kualitas ayah dan ibu. Allah SWT menegaskan tanggung jawab besar orang tua dalam firman-Nya: > “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” > (QS. At-Tahrim: 6) Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga keluarga bukan hanya urusan dunia, tetapi juga tanggung jawab akhirat. Orang tua bertugas menuntun, mendidik, dan membimbing keluarga menuju keselamatan dan kebaikan. Rasulullah ๏ทบ juga mengingatkan besarnya amanah tersebut. Beliau bersabda: > “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” > (HR. Bukhari dan Muslim) Sabda Nabi Muhammad ini menegaskan bahwa ayah dan ibu adalah pemimpin dalam rumah tangga. Kepemimpinan itu bukan hanya dalam memenuhi kebutuhan lahir, tetapi juga membimbing iman, akhlak, dan kehidupan anak-anak. Ayah adalah tiang kekuatan keluarga. Dari keteguhan dan tanggung jawabnya, anak belajar tentang perjuangan, kejujuran, dan ketegasan dalam kebenaran. Ayah menanamkan rasa aman dan arah hidup bagi keluarganya. Ibu adalah sumber kasih sayang dan kelembutan. Dari didikannya, anak mengenal cinta, kesabaran, dan keikhlasan. Pelukan ibu menjadi sekolah pertama tentang ketenteraman jiwa dan kehangatan iman. Ketika ayah dan ibu berjalan bersama dalam kebaikan, rumah menjadi taman yang penuh keberkahan. Allah menggambarkan keindahan hubungan keluarga dalam firman-Nya: > “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup agar kamu memperoleh ketenangan darinya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” > (QS. Ar-Rum: 21) Dari ketenangan dan kasih sayang itulah lahir keluarga yang harmonis. Anak-anak tumbuh dengan jiwa yang sehat, akhlak yang mulia, dan hati yang dekat dengan Allah. Dari rumah yang baik akan lahir generasi yang membawa kebaikan bagi masyarakat. Sekolah, lingkungan, dan pergaulan hanyalah tempat lanjutan pembelajaran. Namun fondasi utamanya tetap di rumah. Jika jantung keluarga sehat, maka seluruh kehidupan keluarga akan berjalan dengan baik. Tetapi jika jantung itu lemah, pengaruh luar mudah menggoyahkan. Maka menjadi ayah dan ibu adalah amanah yang agung. Ia menuntut kesabaran dalam mendidik, kebijaksanaan dalam bersikap, dan ketulusan dalam mencintai karena Allah. Setiap kata adalah doa, setiap sikap adalah pelajaran, dan setiap perbuatan menjadi warisan bagi anak-anak. Marilah kita merenung. Jika kita adalah jantung bagi keluarga kita, maka hidupkanlah hati dengan iman, kuatkan dengan ibadah, dan hiasi dengan akhlak mulia. Biarkan kebaikan mengalir dari diri kita kepada pasangan dan anak-anak, hingga rumah menjadi sumber ketenangan dan keberkahan. Semoga dengan memahami amanah ini, kita mampu membangun keluarga yang berkualitas, sehat, dan harmonis โ€” keluarga yang dipenuhi rahmat Allah, diliputi kasih sayang, dan menjadi jalan keselamatan di dunia serta akhirat. ๐ŸŒฟ

Uncategorized

MAKAN BERGIZI GRATIS DAN UJIAN KEJUJURAN BANGSA

MAKAN BERGIZI GRATIS DAN UJIAN KEJUJURAN BANGSA Oleh: Abudin Robbani* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya adalah ikhtiar negara menyiapkan masa depan bangsa. Ia tidak sekadar program sosial, melainkan investasi peradaban: memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing. Namun di balik tujuan mulia itu, MBG juga menjadi ujian kejujuran kolektif, terutama bagi para pengelolanya. Belakangan, muncul kegelisahan publik: *praktik pengurangan porsi, penurunan kualitas gizi, hingga penyiasatan harga demi mengambil keuntungan.* Jika benar terjadi, ini bukan sekadar pelanggaran teknis, tetapi pengkhianatan amanah yang berdampak panjangโ€”baik secara moral, sosial, maupun spiritual. *Amanah Publik yang Tidak Ringan* Dalam perspektif Islam, dana publik adalah amanah suci. Al-Qurโ€™an menegaskan: *ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฃู’ูƒูู„ููˆุง ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูŽูƒูู…ู’ ุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ู’ ุจูุงู„ู’ุจูŽุงุทูู„ู* โ€œDan janganlah kamu memakan harta sesama kamu dengan jalan yang batil.โ€ (QS. Al-Baqarah: 188) Menyiasati anggaran MBGโ€”dengan dalih efisiensi atau operasionalโ€”pada hakikatnya adalah memakan harta negara dan hak anak-anak secara batil. Lebih dari itu, *praktik ini masuk dalam kategori tathfรฎf (kecurangan)* yang secara keras dikecam Al-Qurโ€™an: *ูˆูŽูŠู’ู„ูŒ ู„ู‘ูู„ู’ู…ูุทูŽูู‘ููููŠู†ูŽ* โ€œCelakalah orang-orang yang curang.โ€ (QS. Al-Muthaffifin: 1) Jika dulu kecurangan berbentuk timbangan, hari ini ia bermetamorfosis menjadi pengurangan gizi, porsi, dan kualitas. *Antara Ghulul dan Penipuan Sistemik* Rasulullah ๏ทบ memberikan peringatan keras kepada para pengelola urusan publik: *ู…ูŽู†ู’ ุงุณู’ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ู’ู†ูŽุงู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽู…ูŽู„ู ููŽุฑูŽุฒูŽู‚ู’ู†ูŽุงู‡ู ุฑูุฒู’ู‚ู‹ุง ููŽู…ูŽุง ุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽู‡ููˆูŽ ุบูู„ููˆู„ูŒ* โ€œSiapa yang kami tugaskan dalam suatu pekerjaan dan telah kami beri gaji, maka apa yang ia ambil setelah itu adalah ghulul (korupsi).โ€ (HR. Abu Dawud) Ghulul bukan sekadar korupsi uang besar. Selisih kecil yang diambil secara sengaja dari dana publik tetaplah ghulul. Apalagi jika dampaknya langsung mengenai kebutuhan dasar anak-anak. Nabi ๏ทบ juga menegaskan prinsip etika publik yang tak lekang oleh zaman: *ู…ูŽู†ู’ ุบูŽุดู‘ูŽู†ูŽุง ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู…ูู†ู‘ูŽุง* โ€œBarang siapa menipu kami, maka ia bukan dari golongan kami.โ€ (HR. Muslim) Menurunkan mutu makanan sambil melaporkan anggaran seolah sesuai standar adalah penipuan sistemik. *Perspektif Ulama: Dosa Besar dan Bahaya Sosial* Imam An-Nawawi menegaskan bahwa ghulul adalah dosa besar karena berkaitan dengan hak umum kaum Muslimin. Ibnu Taimiyah bahkan menyebut pengelola yang menyalahgunakan harta rakyat sebagai pengkhianat amanah yang wajib dihentikan demi kemaslahatan publik. Sementara Imam Al-Ghazali mengingatkan: โ€œHarta haram meski sedikit akan merusak agama, akhlak, dan masyarakat.โ€ (Ihyaโ€™ Ulumiddin) Dampak MBG yang dikelola secara curang tidak berhenti pada angka laporan keuangan. Ia menjalar menjadi: Anak-anak kurang gizi Prestasi belajar menurun Ketimpangan sosial makin tajam Hilangnya kepercayaan publik pada negara *Jalan Lurus: Transparansi atau Mundur* Islam tidak menutup mata terhadap realitas kenaikan harga bahan pangan atau tekanan operasional. Namun kaidah fiqh menegaskan: *ุงู„ุถู‘ูŽุฑูŽุฑู ู„ูŽุง ูŠูุฒูŽุงู„ู ุจูุงู„ุถู‘ูŽุฑูŽุฑู* โ€œMudarat tidak boleh dihilangkan dengan mudarat yang lain.โ€ Jika anggaran tidak mencukupi, jalan syarโ€™i dan konstitusionalnya adalah: Transparansi kepada pemberi amanah Evaluasi dan renegosiasi anggaran Atau mundur secara terhormat dari pengelolaan Bukan dengan mengorbankan hak anak-anak.   *Penutup: MBG sebagai Cermin Bangsa* Makan Bergizi Gratis bukan hanya soal makanan, tetapi soal moral. Di meja makan anak-anak itu, sesungguhnya sedang diuji: apakah bangsa ini mampu jujur ketika diberi amanah, atau justru tergelincir saat kekuasaan kecil berada di tangan. Kejujuran para pengelola MBG hari ini akan menentukan kualitas generasi Indonesia esok hari. Sebab bangsa besar tidak hanya dibangun oleh program besar, tetapi oleh integritas orang-orang kecil yang memegang amanah besar. **Founder* *UMMUL QURO INSTITUTE* *Bekasi, 3 Februari 2026*

Scroll to Top