*Bingungku Impianmu*
Hehehe…
Judul ini saya ambil dari kalimat pertama yang hampir selalu keluar dari mulut Kang Slamet Sudarso setiap kali ada teman-teman datang ke rumahnya untuk konsultasi bisnis.
“Saya kok malah bingung, ya…”
Kalimat itu diucapkan tanpa dibuat-buat. Bukan basa-basi. Bukan juga kalimat rendah hati yang disengaja. Kang Slamet benar-benar bingung, karena apa yang ia jalani hari ini—yang bagi banyak orang disebut sukses—justru tidak pernah ia rencanakan sebagai sebuah impian besar.
Banyak orang hanya melihat Kang Slamet hari ini.
Untuk ukuran hidup di desa, tampilan Kang Slamet memang sudah menjadi standar orang sukses. Rumahnya besar, berdiri tepat di pinggir jalan raya. Halamannya luas, cukup menampung sekitar sepuluh mobil. Ada ruang pertemuan yang layak—bahkan lebih pantas disebut ruang rapat—seperti rumah pejabat atau pengusaha besar.
Padahal Kang Slamet tinggal di desa pinggiran Purwokerto, masuk wilayah Kecamatan Sumbang.
Rumah yang megah di pinggir jalan, dengan “tongkrongan” mobil Innova Reborn, wajar jika membuat siapa pun yang lewat bertanya-tanya:
“Ini rumah siapa?”
Namun rumah Kang Slamet punya ciri khas yang berbeda. Kalau rumah pejabat umumnya tertutup rapat—entah karena alasan keamanan atau takut ketahuan korupsi hehehe—rumah Kang Slamet justru selalu terbuka. Pintu tidak banyak aturan. Siapa pun yang datang dipersilakan masuk. Langsung menuju ruang pertemuan. Tidak ada sekat status. Tidak ada jarak sosial.
Sore itu, obrolan kami kembali mengalir ke satu tema yang sama: kebingungan Kang Slamet.
Ia mengaku tidak pernah merasa dirinya seorang pebisnis. Dalam bayangannya, pebisnis itu adalah orang yang bermodal besar, punya kantor, punya tempat usaha, punya pabrik atau tempat produksi, serta memiliki karyawan.
Sementara semua itu—menurut versi Kang Slamet—tidak ia miliki.
Ia tidak punya kantor. Tidak punya pabrik. Tidak punya tempat usaha permanen. Tidak punya karyawan tetap. Bahkan, dalam banyak aktivitasnya, hampir tidak bermodal duit.
Itulah yang membuatnya bingung.
Yang lebih membingungkan lagi, justru orang-orang yang datang kepadanya adalah mereka yang punya modal, punya produk, punya jaringan, dan punya usaha. Mereka datang untuk bertanya, meminta pandangan, bahkan minta ditemani berpikir.
“Lha saya ini kan nggak punya apa-apa,” kata Kang Slamet suatu kali.
Saya pun menimpali sambil tersenyum,
“Justru itu, Kang. Yang Kang jalani ini adalah impian banyak orang: bisnis tanpa modal duit.”
Banyak orang bermimpi punya usaha yang tetap jalan tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Tanpa stres produksi. Tanpa pusing operasional. Tanpa beban karyawan. Dan anehnya, semua itu dijalani Kang Slamet dengan santai, apa adanya, tanpa label “pengusaha”.
Masalahnya, kebanyakan orang hanya melihat hasil akhir, bukan proses panjang di belakangnya.
Sedikit yang tahu bagaimana Kang Slamet dulu.
Dulu, Kang Slamet pernah hidup sangat susah. Saking susahnya, ia pernah punya prinsip hidup yang terdengar lucu tapi menyedihkan: bangga jadi orang miskin. Hehehe.
Bukan karena miskinnya membahagiakan, tapi karena saat itu tidak ada pilihan lain selain berdamai dengan keadaan.
Di usia 40-an tahun, ia pernah merasa hidupnya sudah selesai. Saat itu, ia melihat teman-teman sebayanya sudah mapan secara ekonomi dan keluarga. Sementara dirinya masih bujangan, miskin, dan berjualan sayur kangkung. Hehehe.
Ada satu cerita yang selalu membuat kami tertawa getir. Ia pernah bercerita tentang rumahnya yang bocor. Aneh tapi nyata: ketika atapnya ditarik ke atas, bocor. Ditarik ke bawah, bocor juga. Mau diapakan pun tetap bocor. Hehehe.
Cerita sederhana itu sebetulnya menyimpan pesan mendalam tentang hidup yang serba kekurangan, tetapi tetap dijalani tanpa mengeluh berlebihan.
Namun waktu berjalan.
Hari ini usia Kang Slamet sudah 50-an tahun. Wajahnya tenang. Tutur katanya sederhana. Sikapnya bersahaja. Kalau dilihat sekilas, ia lebih mirip pejabat baik hati—yang penting tidak sombong. Hehehe.
Satu hal yang menurut saya menjadi kekuatan terbesar Kang Slamet adalah prinsip hidupnya. Prinsip yang kadang justru berseberangan dengan keinginan klien bisnisnya sendiri. Tidak jarang ia menolak cara-cara yang menurutnya tidak benar, meskipun itu berpotensi mendatangkan keuntungan lebih besar.
Kadang ia sendiri mengaku khawatir:
“Jangan-jangan nanti kliennya menjauh.”
Namun di saat yang sama, ia memegang satu keyakinan yang tidak pernah goyah:
rezeki sepenuhnya datang dari Allah SWT.
Keyakinan inilah yang justru membuat banyak orang semakin segan. Bukan karena takut, tetapi karena hormat. Klien tidak melihat Kang Slamet sebagai orang yang mengejar keuntungan semata, melainkan sebagai pribadi yang memegang nilai dan integritas.
Di titik inilah saya memahami makna judul tulisan ini:
Bingungku impianmu.
Apa yang membuat Kang Slamet bingung, justru menjadi impian banyak orang. Hidup yang mengalir, rezeki yang datang tanpa dikejar berlebihan, rumah yang selalu terbuka, relasi yang dibangun dengan kepercayaan, dan usaha yang berjalan tanpa harus bermodal duit besar.
Kisah ini belum selesai.
Masih banyak cerita tentang Kang Slamet yang layak dibagikan.
Sudah dulu ya… nanti kita lanjutkan lagi.
Kalau kepanjangan, takut bosan. Hehehe.
Oh iya, kalau mau datang ke rumah Kang Slamet juga boleh kok.
Bareng penulis juga boleh.
Suwatnoibnusudihardjo
Antarkita