Antarkita

Kabarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Ikhtiar Strategis Gerakan Bela Beli Produk Muhammadiyah

Bisnis Kontes: Menghidupkan Kembali Pasar Rasulullah ﷺ sebagai Jalan Kemandirian Ekonomi Umat Ikhtiar Strategis Gerakan Bela Beli Produk Muhammadiyah Ekonomi sebagai Medan Perjuangan Peradaban Sejarah membuktikan bahwa peradaban tidak pernah tegak tanpa fondasi ekonomi yang kuat. Pendidikan, dakwah, sosial, dan politik hanya akan bertahan jika ditopang oleh kemandirian ekonomi. Inilah sebabnya mengapa Rasulullah ﷺ, sejak awal perjuangannya di Madinah, menempatkan pasar sebagai salah satu pilar utama pembangunan umat, sejajar dengan masjid dan ukhuwah. Masjid membangun ruh, ukhuwah membangun solidaritas, dan pasar membangun kemandirian. Tanpa pasar yang berdaulat, umat akan terus berada dalam posisi lemah, bergantung, dan mudah ditekan oleh sistem ekonomi yang tidak berpihak. Latar Belakang: Pasar Madinah dan Literasi Ekonomi Rasulullah ﷺ Saat hijrah ke Madinah, kondisi ekonomi umat Islam sangat memprihatinkan. Pasar-pasar strategis dikuasai kelompok tertentu dengan praktik: Riba yang mencekik, Monopoli distribusi, Penimbunan barang, Manipulasi kualitas dan harga. Rasulullah ﷺ tidak menuntut belas kasihan, tidak pula menunggu perubahan dari pihak yang menguasai pasar. Beliau membangun pasar baru—pasar umat—dan menanamkan literasi ekonomi kepada para sahabat. Beliau mengajarkan bahwa: Pasar harus terbuka dan adil, Kejujuran adalah modal utama, Keuntungan tidak boleh merusak kemaslahatan, Transaksi adalah bagian dari ibadah, Keberpihakan harus diwujudkan dalam pilihan belanja. Dengan cara inilah umat Islam beranjak dari mustadh’afin menjadi pelaku ekonomi yang berdaulat. Cermin Zaman: Kondisi Ekonomi Umat Islam Hari Ini Hari ini, umat Islam—termasuk warga Muhammadiyah—berada pada situasi yang secara struktural mirip: Jumlah besar, tetapi daya tawar kecil, Konsumen setia, namun produsen tercerai-berai, Memiliki produk, tetapi minim ekosistem pasar, Kaya potensi, miskin konsolidasi. Sering kali semangat “bela produk sendiri” berhenti pada slogan. Tanpa sistem, tanpa insentif, tanpa mekanisme pasar yang hidup, keberpihakan mudah kalah oleh kenyamanan dan harga. Inilah problem utama ekonomi umat hari ini: bukan ketiadaan produk, tetapi ketiadaan literasi pasar dan gerakan transaksi yang terorganisir. Bisnis Kontes: Literasi Pasar dalam Format Aksi Nyata Bisnis Kontes dirancang sebagai jembatan antara kesadaran dan tindakan. Ia bukan sekadar lomba omzet, tetapi instrumen literasi pasar yang mendorong perilaku ekonomi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kontes ini membangun beberapa nilai kunci: Transaksi sebagai ukuran keberpihakan, Prestasi ekonomi sebagai motivasi kolektif, Etika bisnis sebagai fondasi, Kolaborasi sebagai strategi, bukan kompetisi destruktif. Pemberian hadiah bukan tujuan akhir, melainkan rangsangan (stimulus) agar ekosistem pasar umat bergerak. Dalam ilmu ekonomi dan perilaku, insentif terbukti efektif mendorong perubahan kebiasaan. Rasulullah ﷺ pun memberikan apresiasi kepada sahabat yang berprestasi dalam muamalah. Biskuit Cahaya: Lokomotif Gerakan, Bukan Sekadar Sponsor Dukungan Biskuit Cahaya menjadikan Bisnis Kontes ini memiliki mesin penggerak yang nyata. Biskuit Cahaya berperan sebagai anchor product—produk jangkar yang mampu menarik sirkulasi pasar. Namun yang lebih penting, Biskuit Cahaya tidak berdiri sendiri. Ia berfungsi sebagai lokomotif yang: Membuka jalur distribusi, Menguatkan kepercayaan pasar, Menarik produk warga Muhammadiyah lain untuk ikut bergerak, Menjadi contoh bahwa produk umat bisa bersaing secara profesional. Penilaian Berbasis Dampak: Mengukur Manfaat Kolektif Keunikan Bisnis Kontes ini terletak pada sistem penilaiannya. Keberhasilan tidak hanya diukur dari keuntungan pribadi, tetapi dari: Seberapa banyak produk warga Muhammadiyah terserap pasar, Seberapa luas jaringan distribusi yang dibangun, Seberapa kuat kolaborasi yang tercipta, Seberapa besar dampak ekonomi bagi komunitas. Dengan pendekatan ini, Bisnis Kontes menjadi alat distribusi keadilan ekonomi, bukan hanya arena adu kuat individu. Win–Win Solution sebagai Prinsip Gerakan Program ini melahirkan manfaat berlapis: Pelaku bisnis memperoleh omzet, hadiah, dan jejaring, Produk warga Muhammadiyah mendapat pasar nyata, Biskuit Cahaya tumbuh sebagai lokomotif ekonomi umat, Persyarikatan memperoleh basis ekonomi yang lebih kuat. Inilah win–win solution sejati, di mana pertumbuhan individu berjalan seiring dengan kemajuan kolektif. Pasar sebagai Amal Jama’i Muhammadiyah Muhammadiyah sejak awal berdiri bukan hanya gerakan dakwah, tetapi gerakan pembebasan sosial dan ekonomi. Bisnis Kontes ini adalah ikhtiar menjadikan pasar sebagai amal jama’i, bukan arena individualisme. Jika masjid mempersatukan jamaah dalam shalat, maka pasar mempersatukan jamaah dalam transaksi. Dan ketika transaksi sudah menjadi budaya, maka kemandirian bukan lagi cita-cita, tetapi kenyataan. Penutup: Dari Kesadaran Menuju Peradaban Bisnis Kontes adalah ikhtiar meneladani Rasulullah ﷺ dalam konteks zaman modern. Ia mengajarkan bahwa membela produk sendiri bukan soal sentimen, tetapi soal sistem, literasi, dan keberanian bertindak. Karena pada akhirnya, umat yang kuat adalah umat yang berdaulat di pasar. Dan pasar yang berdaulat hanya akan lahir dari transaksi yang sadar, terdidik, dan terorganisir. Inilah ruh Bisnis Kontes dalam Gerakan Bela Beli Produk Muhammadiyah. Bukan sekadar lomba, tetapi jalan menuju kemandirian dan martabat ekonomi umat. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

MI Muhammadiyah Karangtalun Kidul Perkuat Literasi Bahasa Inggris Global Bersama Mahasiswa Asing UMP

MI Muhammadiyah Karangtalun Kidul Perkuat Literasi Bahasa Inggris Global Bersama Mahasiswa Asing UMP Purwojati–Banyumas || AntaraKita.com — MI Muhammadiyah Karangtalun Kidul (MAHADIKA) kembali menegaskan komitmennya dalam membangun pendidikan yang adaptif, berwawasan global, dan berkarakter Islam berkemajuan melalui kegiatan edukatif bertajuk “Sharing and Motivation: Learning Beyond Borders”, Selasa (13/1/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB ini menghadirkan dua mahasiswa asing Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) sebagai narasumber inspiratif bagi para siswa.   Dua mahasiswa internasional tersebut yakni Muhammad Abo Alhasan, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris asal Sudan, serta Mamoudou Sangare Toufi, mahasiswa Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris asal Mali. Kehadiran mereka menjadi pengalaman belajar langsung (experiential learning) bagi para siswa dalam mengenal Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional sekaligus jendela peradaban dunia. Kegiatan diawali dengan penyambutan hangat para siswa di halaman sekolah yang mencerminkan budaya ramah dan inklusif MAHADIKA. Acara dilanjutkan dengan pembukaan resmi, sambutan kepala sekolah, serta penampilan pidato Bahasa Inggris dari perwakilan siswa. Suasana kegiatan berlangsung tertib, hangat, dan penuh antusiasme, menciptakan ekosistem belajar yang menyenangkan dan bermakna. Kepala MI Muhammadiyah Karangtalun Kidul, Muhtar Yusuf, S.Pd.I., M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi sekolah dalam menyiapkan generasi yang percaya diri, literat bahasa, dan siap berinteraksi di tingkat global, tanpa kehilangan jati diri keislaman. “Kami ingin anak-anak sejak dini memiliki keberanian bermimpi besar dan percaya diri berkomunikasi dengan dunia luar. Kehadiran mahasiswa asing ini menjadi pengalaman nyata bahwa belajar Bahasa Inggris itu penting, menyenangkan, dan sangat mungkin dikuasai,” ujar Muhtar Yusuf. Ia juga menambahkan bahwa pendidikan di madrasah tidak boleh terkungkung oleh batas ruang kelas semata. “Melalui kegiatan seperti ini, kami menanamkan kepada siswa bahwa belajar tidak mengenal batas geografis. Dunia adalah ruang belajar mereka,” tegasnya. Memasuki sesi inti, kegiatan dilanjutkan dengan sharing session interaktif yang dipandu moderator. Para narasumber berbagi pengalaman belajar Bahasa Inggris di negara non-English speaking serta perjalanan akademik mereka hingga bisa menempuh studi di Indonesia. Mereka menekankan bahwa keberanian mencoba dan konsistensi berlatih adalah kunci utama penguasaan bahasa. Mamoudou Sangare Toufi memotivasi siswa agar tidak takut melakukan kesalahan saat berbicara. “Don’t be shy to speak English. Making mistakes is part of learning,” ujarnya, disambut tepuk tangan para siswa. Sementara itu, Muhammad Abo Alhasan membagikan tips sederhana agar siswa terbiasa menggunakan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. “If you want to be fluent in English, you can speak with your friends or even practice by speaking to yourself in front of the mirror,” tuturnya dengan gaya komunikatif. Materi disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana, penuh contoh konkret, dan disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa sekolah dasar. Para narasumber menegaskan bahwa kepercayaan diri lebih penting daripada kesempurnaan dalam proses belajar bahasa. Antusiasme siswa semakin terlihat pada sesi tanya jawab. Sejumlah siswa dengan percaya diri maju ke depan untuk mengajukan pertanyaan dalam Bahasa Inggris sederhana, yang dijawab dengan ramah dan penuh semangat oleh para mahasiswa asing. Interaksi ini tidak hanya melatih kemampuan bahasa, tetapi juga menumbuhkan keberanian, rasa ingin tahu, dan sikap terbuka terhadap perbedaan budaya. Kegiatan ditutup dengan doa dan foto bersama antara siswa, guru, serta para narasumber. Melalui kegiatan ini, MI Muhammadiyah Karangtalun Kidul berharap mampu menumbuhkan kepercayaan diri, motivasi belajar Bahasa Inggris, serta kesiapan siswa menghadapi tantangan global sejak usia dini, sejalan dengan misi Muhammadiyah dalam mencetak generasi Islam yang berkemajuan, unggul, dan berdaya saing. (Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya)

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Penyerahan Berita Acara Pembentukan PRM Kediri: Peneguhan Amanah Dakwah dan Legalitas Organisasi

Penyerahan Berita Acara Pembentukan PRM Kediri: Peneguhan Amanah Dakwah dan Legalitas Organisasi Karanglewas–Banyumas || AntarKita — Momentum penting dalam sejarah dakwah Muhammadiyah di tingkat akar rumput ditandai dengan penyerahan Berita Acara Pembentukan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kediri oleh Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Karanglewas, Alim Fahmi, ST., S.Kom., kepada Fauzan Romadhon selaku Ketua PRM Kediri terpilih, pada Ahad, 11 Januari 2026, bertempat di Mushola Al-Falah, Dusun Jambon, Desa Kediri, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Penyerahan berita acara ini bukan sekadar prosesi administratif, melainkan peneguhan amanah dakwah kolektif sekaligus legalisasi struktural berdirinya PRM Kediri sebagai bagian resmi dari Persyarikatan Muhammadiyah. Dokumen tersebut menjadi dasar yuridis-organisatoris bagi PRM Kediri untuk menjalankan fungsi kepemimpinan, pembinaan jamaah, kaderisasi, serta pengembangan amal usaha Muhammadiyah di tingkat desa sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Secara simbolik, penyerahan berita acara menandai peralihan estafet dakwah dari fase kultural yang telah dirawat puluhan tahun menuju fase struktural yang lebih tertib, terencana, dan berkelanjutan. Dakwah Muhammadiyah di Desa Kediri sebelumnya tumbuh melalui pengajian kampung, keteladanan para sesepuh, dan pembinaan informal yang istiqamah. Dengan berdirinya PRM Kediri, seluruh potensi dakwah tersebut kini mendapatkan wadah struktural yang sah dan terorganisasi. Prosesi penyerahan berlangsung khidmat dan disaksikan oleh jajaran pleno PCM Karanglewas, unsur Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR), perwakilan ranting sekitar, serta tokoh-tokoh Muhammadiyah setempat. Kehadiran unsur struktural ini menegaskan dukungan penuh Persyarikatan terhadap lahirnya PRM Kediri sebagai ranting ke-15 PCM Karanglewas dan ranting ke-275 di lingkungan PDM Banyumas. Dengan diterimanya berita acara tersebut, Ketua PRM Kediri terpilih bersama jajaran pimpinan ranting memikul tanggung jawab besar untuk menjadikan PRM Kediri sebagai duta Muhammadiyah di tingkat lokal—hadir membina jamaah, memperkuat ukhuwah, mengembangkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, serta berkontribusi nyata dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Penyerahan berita acara ini sekaligus menjadi penghormatan atas kesetiaan para perintis dakwah di Desa Kediri dan amanah sejarah bagi generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan Muhammadiyah dengan kesabaran, keikhlasan, dan istiqamah. Dari Kediri, Muhammadiyah kembali menegaskan bahwa dakwah adalah kerja panjang: ditanam hari ini, dirawat bersama, dan dipetik manfaatnya oleh generasi mendatang. Oleh: Tarqum Aziz,                     JurnalisMu Banyumas Raya  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

PRM Kediri, Cabang Karanglewas: Amanah Dakwah Kolektif yang Ditanam dengan Kesabaran

PRM Kediri, Cabang Karanglewas: Amanah Dakwah Kolektif yang Ditanam dengan Kesabaran Karanglewas, Banyumas || Antara Kita — Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kediri resmi berdiri pada Ahad, 11 Januari 2026, bertempat di Mushola Al-Falah, Dusun Jambon, Desa Kediri, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Momentum ini bukan sekadar pengesahan struktur organisasi, melainkan peneguhan perjalanan panjang dakwah Muhammadiyah di tingkat akar rumput yang dirintis dengan kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan lintas generasi selama lebih dari setengah abad. PRM Kediri tercatat sebagai ranting ke-15 di lingkungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Karanglewas, sekaligus menjadi ranting ke-275 di Kabupaten Banyumas. Kehadirannya memperkuat struktur Persyarikatan Muhammadiyah serta memperluas jangkauan dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat desa. Sebagai struktur terdepan Persyarikatan, ranting merupakan wajah Muhammadiyah yang paling dekat dengan denyut kehidupan jamaah dan umat. Ranting sebagai Basis Dakwah Islam Berkemajuan Ranting Muhammadiyah adalah ruang di mana nilai-nilai Islam berkemajuan diuji dan dihidupkan dalam praktik keseharian. Di tingkat inilah pembinaan keimanan, penguatan ukhuwah, serta pemberdayaan umat dijalankan secara sederhana, konsisten, dan berkelanjutan—tanpa hiruk-pikuk, namun kokoh dalam orientasi dakwah pencerahan. Pembentukan PRM Kediri menjadi simbol bahwa dakwah Muhammadiyah bukan kerja instan, melainkan proses panjang yang membutuhkan kesabaran kolektif. Ia adalah buah dari keteguhan menjaga nilai, meskipun hasilnya baru tampak puluhan tahun kemudian. Jejak Panjang Dakwah dan Keteladanan Para Sesepuh Sejarah dakwah Muhammadiyah di Desa Kediri tidak dapat dilepaskan dari sosok para perintis, di antaranya Bapak Warno, Casim, dan KH. Wahidi. Di usia 96 tahun, KH. Wahidi menjadi living history Muhammadiyah—saksi hidup bahwa dakwah tumbuh dari keikhlasan, kesabaran, dan kesetiaan tanpa pamrih. Sejak kurun 1955–1975, dakwah Muhammadiyah di Desa Kediri dirawat melalui pengajian kampung, pembinaan keagamaan, dan keteladanan para sesepuh, meskipun belum terwadahi dalam struktur formal. Mushola Al-Falah menjadi pusat perawatan ruh dakwah tersebut, ruang kolektif yang menjaga api Muhammadiyah secara kultural hingga akhirnya bersemi secara struktural dengan berdirinya PRM Kediri. Apresiasi dan Amanah Organisasi Wakil Ketua PCM Karanglewas, Badri, S.Pd., menilai berdirinya PRM Kediri merupakan hasil konsolidasi dakwah jangka panjang yang menunjukkan kematangan jamaah dan kesiapan organisatoris. “Ranting adalah fondasi Persyarikatan. Dari rantinglah kaderisasi dan penguatan jamaah bertumbuh secara nyata karena langsung bersentuhan dengan kehidupan umat,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) PDM Banyumas, Yuli Night Budi Permana, S.Pd., menegaskan bahwa berdirinya PRM Kediri merupakan amanah dakwah kolektif yang harus dijaga dan dikembangkan. “PRM Kediri sebagai ranting ke-275 di Banyumas adalah bukti bahwa Muhammadiyah tumbuh dari kesabaran. Tantangannya ke depan adalah memastikan pembinaan jamaah berjalan berkelanjutan serta mengembangkan amal usaha yang relevan dengan kebutuhan umat,” tegasnya. Babak Baru Dakwah Struktural Secara simbolis, Sekretaris PCM Karanglewas, Alim Fahmi, ST., S.Kom., menyerahkan berita acara pembentukan PRM Kediri kepada Fauzan Romadhon sebagai ketua terpilih. Terpilihnya Fauzan Romadhon menandai dimulainya babak baru perjuangan Muhammadiyah di Desa Kediri—dari fase dakwah kultural menuju penguatan dakwah struktural yang lebih tertib, sistematis, dan terarah. Dengan dukungan warga Muhammadiyah setempat, PCM Karanglewas, serta LPCR PDM Banyumas, PRM Kediri diharapkan mampu berjalan tertib secara organisatoris, kokoh secara ideologis, dan adaptif secara sosial. Ranting ini diproyeksikan menjadi duta Persyarikatan di tingkat lokal, menebarkan pencerahan, merawat ukhuwah lintas ormas, serta hadir membela kepentingan umat dalam kehidupan bermasyarakat. Legitimasi dan Dukungan Persyarikatan Proses pembentukan PRM Kediri disaksikan langsung jajaran pleno PCM Karanglewas, di antaranya Drs. H. M. Izhar, Badri, S.Pd., Salam Hidayatullah, S.Pd.I., Juasep Awali, S.Pd.I., M.S.I., serta Alim Fahmi, ST., S.Kom. Turut hadir anggota LPCR PCM Karanglewas Joko Pamungkas dan Tohani, perwakilan PRM Jipang Suwandi, serta jajaran LPCR PDM Banyumas yang dipimpin Yuli Night Budi Permana, S.Pd., bersama Deni Firman Suprayoga, S.Pd., dan Marwoto Tri Priyono, S.Pd. Kehadiran unsur struktural ini menjadi legitimasi organisatoris sekaligus penegasan dukungan penuh Persyarikatan terhadap lahirnya PRM Kediri sebagai bagian dari penguatan Muhammadiyah di tingkat desa. Menanam dengan Setia, Menuai dengan Istiqamah Berdirinya PRM Kediri bukan sekadar pengesahan struktur, melainkan penghormatan atas kesetiaan para perintis dakwah dan amanah sejarah bagi generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan Muhammadiyah secara istiqamah, berkelanjutan, dan membumi. Dari Desa Kediri, Muhammadiyah kembali menegaskan bahwa dakwah adalah kerja panjang: menanam dengan setia, meski hasilnya baru dipetik oleh generasi setelahnya. Sebagaimana teladan KH. Wahidi, di situlah makna sejati perjuangan Muhammadiyah—sunyi, sabar, dan mencerahkan. (Tarqum Aziz – JurnalisMu Banyumas Raya)

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Pengajian Selapanan PCM Patikraja Dipadati Lebih dari 700 Jamaah, Wujud Dakwah Berkemajuan yang Mengintegrasikan Iman, Ilmu, Solidaritas Global, dan Pelayanan Sosial

Banyumas | Antarkita, 11 Januari 2026 Pengajian Selapanan PCM Patikraja Dipadati Lebih dari 700 Jamaah, Wujud Dakwah Berkemajuan yang Mengintegrasikan Iman, Ilmu, Solidaritas Global, dan Pelayanan Sosial Masjid Baiturrahim, Kedungwuluh Lor, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Ahad (11/1/2026), menjadi pusat berkumpulnya ratusan warga dan simpatisan Muhammadiyah dalam kegiatan Pengajian Rutin Selapanan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kedungwuluh Lor bersama Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Patikraja. Kegiatan ini diikuti oleh warga Muhammadiyah se-Cabang Patikraja serta masyarakat sekitar dengan antusiasme yang luar biasa. Sejak pagi hari, jamaah terus berdatangan hingga masjid dan area sekitarnya dipenuhi oleh peserta pengajian. Berdasarkan data panitia, jumlah jamaah yang hadir mencapai lebih dari 700 orang. Tingginya partisipasi jamaah terlihat dari 700 paket snack yang disediakan panitia habis sebelum seluruh jamaah terlayani. Kondisi tersebut tidak mengurangi kekhidmatan acara, justru memberikan dampak positif bagi bazar UKM yang digelar oleh Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) PCA Patikraja. Jamaah yang belum mendapatkan konsumsi kemudian membeli aneka makanan dan minuman dari stand UMKM, sehingga kegiatan dakwah ini sekaligus menjadi sarana pemberdayaan ekonomi warga. Pengajian selapanan kali ini menghadirkan Dr. Darojat, M.Ag, Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PDM Banyumas, sebagai penceramah utama. Dalam tausiyahnya yang mengangkat tema “Hikmah Isra’ Mi’raj”, Dr. Darojat menyampaikan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya peristiwa spiritual yang luar biasa, tetapi juga mengandung pesan mendalam tentang pentingnya shalat sebagai pilar kehidupan, kedisiplinan ibadah, serta tanggung jawab sosial umat Islam dalam membangun peradaban yang berkeadilan dan berkeadaban. Menurutnya, shalat yang benar harus melahirkan kepekaan sosial, kepedulian terhadap sesama, dan semangat menolong kaum dhuafa. Nilai-nilai inilah yang sejalan dengan misi Muhammadiyah dalam mengembangkan dakwah Islam berkemajuan, yang tidak berhenti pada aspek ritual, tetapi juga menyentuh persoalan kemanusiaan dan kesejahteraan sosial. Pengajian ini menjadi semakin istimewa dan bernilai simbolik dengan kehadiran mahasiswa asal Palestina dan Thailand yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) dan mendampingi Dr. Darojat. Kehadiran mahasiswa internasional tersebut menjadi simbol ukhuwah Islamiyah lintas bangsa, sekaligus menegaskan peran Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang memiliki kepedulian global, membuka ruang pendidikan, dan membangun solidaritas kemanusiaan bagi umat Islam dunia. Kegiatan ini juga dihadiri oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Patikraja, antara lain Camat Patikraja yang baru, Kapolsek Patikraja, Danramil Patikraja, Kepala KUA Kecamatan Patikraja, serta Kepala Desa Kedungwuluh Lor. Kehadiran para pimpinan wilayah ini menunjukkan adanya sinergi dan hubungan yang harmonis antara Muhammadiyah dengan pemerintah dan unsur keamanan dalam membangun kehidupan masyarakat yang religius, rukun, dan sejahtera. Sebelum acara inti pengajian dimulai, jamaah disuguhkan berbagai penampilan kreativitas dan edukatif sebagai bagian dari dakwah kultural dan pembinaan generasi. Penampilan tersebut ditampilkan oleh santri TPQ Masjid Baiturrahim Kedungwuluh Lor, TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Kedungwuluh Lor, serta Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Kedungwuluh Lor. Selain itu, paduan suara PRA Kedungwuluh Lor turut menampilkan lantunan lagu-lagu bernuansa Islami yang menambah kekhidmatan dan semarak suasana. Penampilan ini menjadi bukti nyata keseriusan Muhammadiyah dalam melakukan pembinaan karakter dan keagamaan sejak usia dini. Sebagai wujud dakwah bil hal, Pengajian Selapanan ini juga dilengkapi dengan layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang diselenggarakan oleh Klinik Utama Wishnu Husada Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Layanan kesehatan yang diberikan meliputi pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, asam urat, dan kolesterol. Layanan ini disambut antusias oleh jamaah, khususnya kalangan lanjut usia, sebagai bentuk kepedulian Muhammadiyah terhadap kesehatan masyarakat. Melalui kegiatan Pengajian Rutin Selapanan ini, PCM Patikraja menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan dakwah yang mencerahkan, inklusif, dan berdampak nyata, dengan mengintegrasikan aspek keimanan, pendidikan, ekonomi, solidaritas global, serta pelayanan sosial dan kesehatan. Masjid tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan umat dan penguatan ukhuwah. Pengajian selapanan ini diharapkan dapat terus menjadi ruang silaturahmi, pembinaan ideologi, serta penguatan peran Muhammadiyah di tingkat cabang dan ranting, sekaligus memberikan manfaat luas bagi masyarakat Patikraja dan sekitarnya. SiS, Antarkita  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

51 Tahun Menanti, Ranting Muhammadiyah ke-275 Resmi Berdiri: Keteladanan Istiqamah dari Seorang Sesepuh 96 Tahun

Banyumas | Antarkita, 11 Januari 2026 51 Tahun Menanti, Ranting Muhammadiyah ke-275 Resmi Berdiri: Keteladanan Istiqamah dari Seorang Sesepuh 96 Tahun Ahad, 11 Januari 2026, tercatat sebagai hari bersejarah bagi Persyarikatan Muhammadiyah di Kabupaten Banyumas. Setelah perjalanan panjang selama 51 tahun, Ranting Muhammadiyah Kediri yang berlokasi di Gerumbul Jambon, Cabang Karanglewas, akhirnya resmi berdiri dan menjadi Ranting Muhammadiyah ke-275 di bawah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas. Peristiwa ini bukan sekadar penambahan angka ranting, melainkan monumen keteladanan, kesabaran, dan keistiqamahan kader Muhammadiyah. Sosok sentral di balik berdirinya ranting ini adalah Bapak Wahidi, sesepuh Muhammadiyah yang kini berusia 96 tahun. Sejak tahun 1975, beliau telah merintis, menjaga, dan menanamkan cita-cita berdirinya Ranting Muhammadiyah di Kediri dengan penuh keteguhan. Selama lebih dari setengah abad, cita-cita itu dirawat dalam diam, dijaga dalam keterbatasan, dan diperjuangkan tanpa pamrih. Hingga akhirnya, dengan penuh rasa syukur, pada Januari 2026 ikhtiar tersebut terwujud. “Bismillah, Alhamdulillah. Apa yang dirintis sejak 1975, akhirnya berdiri juga di Januari 2026,” sebuah ungkapan sederhana yang sarat makna perjuangan dakwah sepanjang hayat. Ranting: Fondasi Dakwah, Bukan Sekadar Struktur Kisah berdirinya PRM Kediri ini menegaskan kembali pesan penting yang selama ini digaungkan Persyarikatan, sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Dr. Bunyamin, M.Pd.I, bahwa: “Ranting Muhammadiyah itu penting, namun sayangnya masih ada yang genting.” Dalam literasi Muhammadiyah, ranting dan cabang disebut sebagai ujung tombak gerakan dakwah. Ranting adalah titik terdekat dengan umat, tempat nilai-nilai Islam berkemajuan dipraktikkan secara nyata, serta ruang pembinaan kader yang sesungguhnya. Dari rantinglah denyut kehidupan Persyarikatan bermula. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit ranting yang berada dalam kondisi “genting”—yakni ranting yang tidak aktif, tidak bermusyawarah, tidak tertib organisasi, bahkan hanya ada secara administratif. Kondisi inilah yang menjadi perhatian serius Persyarikatan, karena ranting yang lemah akan berdampak langsung pada kekuatan Muhammadiyah secara keseluruhan. Dalam konteks inilah, berdirinya PRM Kediri menjadi antitesis dari “ranting genting”. Ranting Kediri lahir dari proses panjang, kesadaran ideologis, dan semangat dakwah yang hidup. Ia tidak instan, tetapi kokoh. Tidak pragmatis, tetapi berakar. Keteladanan Dakwah Sepanjang Hayat Usia lanjut tidak menjadi penghalang bagi Bapak Wahidi untuk tetap setia pada cita-cita dakwah Muhammadiyah. Justru di usia 96 tahun, beliau memperlihatkan makna sejati istiqamah dan militansi ideologis. Perjuangan beliau menjadi pesan kuat bagi generasi muda Muhammadiyah bahwa: Dakwah tidak mengenal batas usia Perjuangan Persyarikatan adalah maraton, bukan sprint Ranting adalah warisan paling dasar yang harus dijaga dan diperjuangkan Berdirinya PRM Kediri membuktikan bahwa Muhammadiyah tumbuh karena kesabaran, berkembang karena keteladanan, dan bertahan karena keikhlasan kadernya. Inspirasi bagi Seluruh Kader Muhammadiyah PDM Banyumas patut bersyukur memiliki kader-kader yang tidak hanya setia secara struktural, tetapi juga kokoh secara ideologis. Ranting Muhammadiyah ke-275 ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi cabang dan ranting lain untuk: Menguatkan kembali fungsi ranting sebagai pusat dakwah dan kaderisasi Menjadikan musyawarah, program kerja, dan gerakan nyata sebagai ruh organisasi Mencegah ranting jatuh dalam kondisi “genting” dengan menghidupkan amal usaha dan kegiatan persyarikatan Lebih dari sekadar berdirinya sebuah struktur, PRM Kediri adalah simbol hidupnya ideologi Muhammadiyah di akar rumput. Ia menjadi bukti bahwa selama ranting diperjuangkan, Muhammadiyah akan terus hidup dan memberi cahaya bagi umat. Semoga peristiwa ini menjadi inspirasi, tauladan, dan pengingat bagi seluruh kader Muhammadiyah bahwa memperjuangkan ranting adalah memperjuangkan masa depan Persyarikatan. SiS,Antarkita  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Dorongan Keterlibatan Muhammadiyah dalam Pengelolaan Aset Strategis Negara Kian Menguat

Dorongan Keterlibatan Muhammadiyah dalam Pengelolaan Aset Strategis Negara Kian Menguat Banyumas || Antarakita — Wacana keterlibatan organisasi kemasyarakatan (ormas) dalam pengelolaan aset strategis negara kembali mencuat seiring kebijakan pemerintah yang membuka ruang partisipasi luas bagi berbagai elemen bangsa. Sejumlah ormas keagamaan telah membentuk satuan kerja (satker) dan mengambil peran konkret, bahkan ormas non-Islam pun mulai mengelola konsesi pertambangan bernilai triliunan rupiah. Namun demikian, hingga kini Muhammadiyah dinilai masih bersikap sangat berhati-hati dan belum mengambil langkah strategis yang signifikan. Anggota Majelis Ekonomi dan Bisnis Pimpinan Daerah Muhammadiyah (MEBP PDM) Banyumas sekaligus Ketua Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Banyumas, Latif Muchozin, menyampaikan pandangannya secara terbuka sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral terhadap masa depan persyarikatan. Ia menilai bahwa peluang besar semacam ini tidak datang dua kali dan patut dipertimbangkan secara rasional, objektif, serta berbasis kemaslahatan umat. “Jika dilihat dari perspektif manfaat dan mudarat, akan jauh lebih baik bila aset strategis negara dikelola oleh organisasi yang telah teruji amanah, profesional, dan berorientasi pada kepentingan umat serta bangsa, dibanding jatuh ke tangan pihak-pihak yang tidak jelas juntrungannya,” ungkap Latif. Belajar dari Pengalaman Ormas Lain Latif mencontohkan pengalaman salah satu organisasi kemasyarakatan yang memperoleh konsesi pertambangan batubara melalui mekanisme relinquish. Konsesi tersebut memiliki cadangan hampir 750 juta ton berdasarkan data JORC, dengan estimasi nilai ekonomi mencapai 42 miliar dolar AS atau setara Rp680,4 triliun. Nilai tersebut bahkan disebut melampaui total aset Muhammadiyah hampir dua kali lipat. “Bayangkan, hanya dengan selembar kertas dan segurat tanda tangan, aset sebesar itu berpindah pengelolaan. Ini bukan sekadar angka, tapi potensi besar yang bisa menentukan arah kesejahteraan umat,” ujarnya. Selain itu, Latif juga menyinggung adanya ormas lain yang mengelola IUP timah dengan nilai ekonomi yang tidak kalah fantastis, serta ormas non-Islam yang memperoleh konsesi tambang nikel bernilai triliunan rupiah. Ia mengingatkan bahwa pengelolaan sumber daya alam oleh pihak-pihak yang tidak memiliki orientasi kebangsaan dan kemaslahatan umat berpotensi menimbulkan persoalan serius di masa depan. “Jangan sampai aset negara yang strategis justru menjadi sumber kekuatan ekonomi pihak-pihak yang secara ideologis tidak sejalan, bahkan berpotensi merugikan umat Islam sendiri,” tegasnya. Potensi Manfaat bagi Amal Usaha Muhammadiyah Menurut Latif, jika Muhammadiyah mengambil peran dalam pengelolaan aset negara yang produktif dan liquid, dengan tata kelola yang baik, transparan, dan sesuai regulasi, manfaatnya akan sangat besar. Aset tersebut dapat menjadi sumber pembiayaan berkelanjutan bagi penguatan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga dakwah dan sosial kemasyarakatan. “Dengan sumber dana yang kuat, Muhammadiyah bisa meningkatkan kesejahteraan guru, ustadz, dan pegawai AUM, melakukan subsidi silang antar lembaga, serta memperluas jangkauan dakwah. Pada akhirnya, semua konsep besar itu tetap membutuhkan dana untuk diwujudkan di lapangan,” jelasnya. Ia juga menyinggung bahwa meskipun lembaga-lembaga keagamaan non-Islam terlihat tidak terlibat langsung dalam pengelolaan tambang, faktanya banyak dari mereka memiliki jaringan pengusaha dan konglomerat yang secara aktif mengelola sumber daya ekonomi strategis. “Pertanyaannya sederhana, apakah Muhammadiyah akan terus ‘merem’, sementara pihak lain secara sistematis mengonsolidasikan kekuatan ekonominya?” katanya retoris. Relasi Muhammadiyah dan Negara: Fakta yang Tak Bisa Dinafikan Latif menegaskan bahwa selama ini Muhammadiyah juga tidak sepenuhnya berada di luar sistem kebijakan negara. Ribuan guru dan dosen Muhammadiyah menerima Sertifikasi Guru (SerGur) dan Sertifikasi Dosen (SerDos). Sekolah-sekolah Muhammadiyah mengakses dana BOS, DAK, dan DAU, sementara perguruan tinggi Muhammadiyah juga menerima berbagai bentuk dukungan negara melalui mekanisme pengajuan proposal yang sah dan akuntabel. “Semua bantuan itu kita ajukan secara proaktif dan sesuai aturan. Apakah itu kemudian disebut ‘grusa-grusu’ atau ‘clamitan’? Tentu tidak,” ujarnya. Ia memaparkan ilustrasi konkret: jika terdapat sekitar 20.000 guru dan dosen Muhammadiyah yang menerima tunjangan sertifikasi dengan rata-rata Rp3 juta per bulan, maka terdapat aliran dana sekitar Rp60 miliar per bulan atau Rp720 miliar per tahun. Dana tersebut secara nyata membantu keberlangsungan dan mutu pendidikan Muhammadiyah di seluruh Indonesia. “Kalau dulu Muhammadiyah menolak SerGur dan SerDos demi menjaga netralitas, mungkin ceritanya akan sangat berbeda. Faktanya, bantuan negara itu justru dimanfaatkan untuk kemajuan pendidikan umat,” tambahnya. Tambang dan Regulasi: Perspektif Hukum Dalam penjelasannya, Latif juga menguraikan latar belakang kebijakan pertambangan nasional. Sebelum berlakunya UU Minerba Nomor 4 Tahun 2009, bahan galian dibagi menjadi tiga golongan: Golongan A (strategis), Golongan B (logam), dan Golongan C (non-logam). Pengelolaan Golongan A dan B dilakukan melalui skema kontrak karya dan PKP2B. Pasca UU Minerba, skema tersebut dievaluasi. Perusahaan tambang diwajibkan memenuhi RKAB, dan jika gagal, konsesi dapat direlinquish. Pemerintah kemudian berhak menunjuk pihak lain yang dinilai mampu mengelola, termasuk badan usaha atau lembaga yang memiliki kapasitas. “Kebijakan ini sah secara hukum. Tambang yang saya kelola di Kalimantan Timur pun dulunya merupakan hasil relinquish dari PKP2B Nusa Mineral,” ungkapnya. Seruan Reflektif untuk Muhammadiyah Latif menutup pandangannya dengan ajakan reflektif kepada para pemangku kepentingan Muhammadiyah agar melihat persoalan ini secara lebih luas dan strategis, tidak terjebak pada dikotomi sempit antara dakwah dan ekonomi. “Justru di sinilah dibutuhkan organisasi selevel Muhammadiyah yang terbukti mampu mengelola aset besar secara kolektif-kolegial, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, melainkan untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan negara,” pungkasnya. Latif Muchozin                                  Anggota MEBP PDM Banyumas.        Ketua JSM Banyumas

Kabarkita, Ruang Kita

Pembinaan Regional LP2 PP Muhammadiyah: PesantrenMu Jawa Tengah Berbenah Menjawab Zaman

Pembinaan Regional LP2 PP Muhammadiyah: PesantrenMu Jawa Tengah Berbenah Menjawab Zaman Tembarak, Temanggung || Antarkita — Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan Pembinaan Pesantren Muhammadiyah (PesantrenMu) se-Eks Karesidenan Kedu dan Banyumas pada Jumat, 9 Januari 2026, bertempat di Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak (ALMATERA), Kabupaten Temanggung. Kegiatan ini merupakan bagian dari program strategis LP2 PP Muhammadiyah dalam rangka memperkuat mutu pendidikan, tata kelola kelembagaan, serta konsolidasi ideologis Pesantren Muhammadiyah di Jawa Tengah. Sebelumnya, pembinaan serupa telah dilaksanakan di wilayah Pekalongan dan Kudus, dan direncanakan akan ditutup di Klaten. Ketua LP2 PP Muhammadiyah, Dr. KH. Maskuri, M.Ed, dalam arahannya menegaskan bahwa Pesantren Muhammadiyah memiliki peran strategis sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan kaderisasi ulama-intelektual yang mengintegrasikan keilmuan, spiritualitas, dan pengabdian sosial. “Pesantren Muhammadiyah harus terus dibina secara berkelanjutan agar tetap bermutu, profesional, dan kokoh dalam koridor ideologi Muhammadiyah. Pesantren adalah kawah candradimuka lahirnya kader umat dan bangsa,” tegasnya. Sementara itu, Ketua PDM Temanggung, KH. Drs. Makmun Pitoyo, M.Pd, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Pesantren ALMATERA sebagai tuan rumah kegiatan. “Forum pembinaan ini bukan hanya meningkatkan kapasitas kelembagaan pesantren, tetapi juga menjadi momentum strategis untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat sinergi antar Pesantren Muhammadiyah lintas daerah,” ujarnya. Wakil Ketua LP2 PWM Jawa Tengah, KH. Ahmad Mardawis, SE, MBA, menjelaskan bahwa pembinaan regional ini merupakan ikhtiar kolektif Muhammadiyah agar PesantrenMu tumbuh sebagai lembaga pendidikan yang unggul secara akademik, kokoh secara ideologis, dan profesional dalam tata kelola. “Pesantren Muhammadiyah dituntut terus berbenah agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri Al-Islam dan Kemuhammadiyahan,” jelasnya. Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pakar Pesantren Muhammadiyah, KH. Dr. (HC) Habib Chirzin, mengulas tantangan dan peluang Pesantren Muhammadiyah di tengah dinamika pendidikan dan dakwah era modern. Ia menekankan pentingnya inovasi, kemandirian, serta keberanian pesantren dalam merespons perubahan zaman dengan tetap menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi utama. Pandangan dari peserta juga menguatkan pentingnya forum ini. Kyai Aly Syahbana, SE, MM, Mudir Pesantren Muhammadiyah Daarul Ulum Majenang, Cilacap, menilai pembinaan ini sebagai energi baru bagi gerak Pesantren Muhammadiyah. “Forum seperti ini memompa semangat juang para penggerak pesantren. Kami berharap kegiatan semacam ini rutin diselenggarakan sebagai ruang silaturahmi dan berbagi gagasan,” ungkapnya. Senada dengan itu, Kyai Arif Fauzi, Lc., M.Pd, Direktur MBS Zamzam Cilongok Banyumas, menyebut pembinaan regional ini sebagai energi moral bagi PesantrenMu. “Pesantren Muhammadiyah harus terus menjadi kawah candradimuka kader persyarikatan yang unggul dalam ilmu, kokoh dalam adab, dan teguh dalam komitmen perjuangan,” katanya. Pembinaan regional ini diikuti oleh 10 Ketua LP2 PDM serta 64 mudir dan direktur Pesantren Muhammadiyah dari 10 kabupaten/kota di wilayah Kedu dan Banyumas. Melalui kegiatan ini, LP2 PP Muhammadiyah berharap PesantrenMu semakin solid, profesional, dan berdaya saing, sekaligus meneguhkan perannya sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan kaderisasi umat Islam berkemajuan. (Tarqum Aziz – JurnalisMu Banyumas Raya)  

Kabarkita, Ruang Kita

Integrasi Turats dan Ilmu Modern: Jalan PesantrenMu Jawa Tengah Menuju Islam Berkemajuan

Integrasi Turats dan Ilmu Modern: Jalan PesantrenMu Jawa Tengah Menuju Islam Berkemajuan Pembinaan Pesantren Muhammadiyah Teguhkan Tajdid, Kaderisasi, dan Dakwah Pencerahan Tembarak, Temanggung | Antarkita — Pembinaan Pesantren Muhammadiyah (PesantrenMu) yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Kamis–Sabtu (7–10 Januari 2026) di Tembarak, Temanggung, menjadi momentum strategis dalam meneguhkan arah ideologis Pesantren Muhammadiyah di Jawa Tengah. Kegiatan ini bukan sekadar agenda teknis peningkatan mutu pendidikan pesantren, melainkan merupakan ikhtiar ideologis untuk memperkuat peran PesantrenMu sebagai pusat tajdid, kaderisasi, dan dakwah pencerahan di tengah tantangan zaman. Pembinaan regional yang diikuti PesantrenMu se-Karesidenan Pekalongan, Pati, Semarang, Kedu–Banyumas, dan Surakarta tersebut menegaskan komitmen Muhammadiyah untuk menghadirkan pesantren yang tidak hanya unggul secara kelembagaan, tetapi juga kokoh secara ideologis. Mutu pesantren tidak semata diukur dari kemegahan fisik atau kuantitas santri, melainkan dari tata kelola yang amanah, kurikulum integratif, serta pengamalan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam kehidupan sehari-hari. PesantrenMu Jawa Tengah didorong untuk mampu mengintegrasikan turats keislaman dengan ilmu pengetahuan modern, membangun nalar tajdid tanpa tercerabut dari akar tradisi. Tajdid dimaknai bukan sebagai pemutusan dari masa lalu, tetapi sebagai keberanian memperbarui cara berpikir, mendidik, dan mengelola pesantren demi menjawab tantangan masa depan. Ketua LP2 PP Muhammadiyah, Dr. KH. Maskuri, M.Ed, menegaskan bahwa Pesantren Muhammadiyah memiliki peran strategis sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan kaderisasi umat. Ia menekankan pentingnya pembinaan berkelanjutan untuk menjaga mutu dan memastikan PesantrenMu tetap berada dalam koridor ideologi Muhammadiyah. “Pesantren Muhammadiyah harus menjadi laboratorium kader ulama-intelektual yang mampu mengintegrasikan keilmuan, spiritualitas, dan pengabdian sosial,” tegasnya. Sementara itu, Ketua Dewan Pakar Pesantren Muhammadiyah, KH. Dr. (HC) Habib Chirzin, menyoroti pentingnya inovasi dan kemandirian pesantren dalam merespons dinamika pendidikan dan dakwah era modern. Menurutnya, pesantren Muhammadiyah harus adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi utama. Forum diskusi dan dialog antar-mudir pesantren yang berlangsung selama pembinaan menjadi ruang penting untuk berbagi pengalaman, merumuskan problem bersama, serta menentukan arah gerak kolektif PesantrenMu. Hal ini mencerminkan etos persyarikatan Muhammadiyah yang menempatkan musyawarah dan kolaborasi sebagai kekuatan gerakan. Ke depan, PesantrenMu dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks, mulai dari disrupsi teknologi, krisis moral, hingga fragmentasi sosial. Oleh karena itu, pembinaan Pesantren Muhammadiyah dipandang sebagai ikhtiar ideologis jangka panjang, bukan sekadar kegiatan seremonial. Pesantren Muhammadiyah adalah investasi peradaban. Dari sanalah diharapkan lahir kader umat yang mencerahkan, pemimpin bangsa yang berintegritas, serta generasi Islam berkemajuan yang siap memikul amanah sejarah—hari ini, esok, dan di masa depan. Penulis: Tarqum Aziz, S.H.I., M.Pd (Kapotren MBS Bumiayu 2015–2017, Mudir MBS Cilacap 2017–2019, Wakil Mudir MBS Purwokerto 2019–2022)

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Biskuit Cahaya, Ikhtiar Nyata Pemberdayaan Ekonomi Muhammadiyah

Biskuit Cahaya, Ikhtiar Nyata Pemberdayaan Ekonomi Muhammadiyah Muhammadiyah terus membuktikan bahwa dakwah tidak berhenti pada mimbar dan wacana, tetapi diwujudkan dalam kerja nyata yang menyentuh langsung kebutuhan umat. Salah satu ikhtiar strategis tersebut adalah kehadiran Biskuit Cahaya, produk pangan yang diproduksi oleh Muhammadiyah sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian dan pemberdayaan ekonomi umat secara berkelanjutan. Produksi Biskuit Cahaya menegaskan arah baru dakwah Muhammadiyah di bidang ekonomi—yakni dakwah yang produktif, mandiri, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama. Melalui sektor industri pangan, Muhammadiyah tidak hanya menciptakan produk berkualitas, tetapi juga membuka ruang distribusi ekonomi yang adil bagi warga dan jamaahnya. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Tafsir, menyampaikan bahwa kehadiran Biskuit Cahaya merupakan bentuk konkret keterlibatan organisasi dalam penguatan ekonomi umat. Menurutnya, Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika ekonomi nasional, melainkan harus menjadi pelaku yang menghadirkan solusi. “Produksi Biskuit Cahaya oleh Muhammadiyah merupakan bentuk nyata organisasi untuk mendukung ekonomi umat,” ujar Tafsir, sebagaimana dilansir dari laman resmi PWM Jawa Tengah, Sabtu (11/1/2025). Lebih jauh, Tafsir mengajak seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat luas untuk ikut mengambil peran dalam gerakan ekonomi ini dengan membeli dan menggunakan produk persyarikatan. Dukungan tersebut bukan semata urusan konsumsi, tetapi bagian dari tanggung jawab kolektif untuk memperkuat kemandirian ekonomi umat. “Saya mengajak seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat luas untuk membeli Biskuit Cahaya,” tegasnya. Ajakan tersebut sejalan dengan semangat bela dan beli produk Muhammadiyah yang selama ini digaungkan sebagai strategi membangun kekuatan ekonomi internal. Dalam konteks ini, Biskuit Cahaya hadir bukan hanya sebagai produk makanan, tetapi sebagai simbol keberpihakan terhadap ekonomi umat dan usaha milik sendiri. Selain kualitasnya yang baik dan siap bersaing di pasar, Biskuit Cahaya memiliki nilai lebih karena seluruh proses produksinya berada dalam ekosistem usaha Muhammadiyah. Artinya, nilai ekonomi yang dihasilkan tidak mengalir ke luar, tetapi kembali untuk memperkuat amal usaha, program sosial, dan pemberdayaan warga. Hal ini sebagaimana diberitakan oleh era-pos.com, yang menyebutkan bahwa Muhammadiyah memproduksi Biskuit Cahaya sebagai produk unggulan yang disiapkan untuk meramaikan momen Lebaran 2025. Momentum ini dipilih secara strategis, mengingat tingginya kebutuhan pangan dan konsumsi masyarakat saat hari raya, sekaligus membuka peluang pasar yang luas bagi produk Muhammadiyah. Kehadiran Biskuit Cahaya pada momen Lebaran tidak hanya bertujuan meramaikan pasar, tetapi juga menegaskan bahwa Muhammadiyah siap bersaing secara sehat di sektor industri pangan nasional. Lebih dari itu, langkah ini menunjukkan bahwa organisasi keagamaan mampu mengelola usaha modern tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman, kemandirian, dan keberpihakan pada umat. Dengan demikian, Biskuit Cahaya merupakan representasi nyata transformasi dakwah Muhammadiyah di bidang ekonomi. Dari dakwah sosial menuju dakwah ekonomi produktif, dari ketergantungan menuju kemandirian, dari wacana menuju aksi. Setiap keping Biskuit Cahaya menjadi bagian dari perjuangan panjang Muhammadiyah dalam membangun kesejahteraan umat dan bangsa. SiS, Antarkita

Scroll to Top