Antarkita

Kabarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Antarkita di Garda Terdepan Gerakan Bela Beli Produk Muhammadiyah

Antarkita di Garda Terdepan Gerakan Bela Beli Produk Muhammadiyah Membangun Kesejahteraan Bersama Melalui Kolaborasi dan Ukhuwah Ekonomi Banyumas,|Antarkita , Januari 2026 Antarkita lahir dari kesadaran bahwa persoalan ekonomi umat tidak cukup dijawab dengan retorika, tetapi membutuhkan ikhtiar nyata dan keberanian berpihak. Di tengah dominasi produk besar dan sistem distribusi yang sering kali tidak adil, Antarkita menegaskan posisinya sebagai garda terdepan gerakan bela beli produk Muhammadiyah. Gerakan bela beli bukan sekadar ajakan konsumsi, tetapi sikap ideologis dan praksis ekonomi. Ia adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa produk milik persyarikatan dan warga Muhammadiyah mendapatkan ruang hidup, ruang tumbuh, dan ruang pasar yang adil di tengah kompetisi yang tidak seimbang. Bela Beli sebagai Implementasi Ukhuwah Ekonomi Muhammadiyah sejak awal berdiri telah menempatkan ekonomi sebagai bagian dari dakwah sosial. KH. Ahmad Dahlan menanamkan bahwa keberagamaan harus berdampak nyata bagi kesejahteraan umat. Dalam konteks itulah, Antarkita memaknai gerakan bela beli sebagai implementasi ukhuwah ekonomi—saling menguatkan, saling menghidupi, dan saling menjaga keberlanjutan usaha sesama warga. Antarkita meyakini bahwa: produk Muhammadiyah harus menjadi tuan rumah di lingkungan sendiri, jaringan Muhammadiyah adalah kekuatan ekonomi besar jika disinergikan, dan kesejahteraan jama’ah tidak akan lahir tanpa keberanian mengalihkan pilihan konsumsi. Kolaborasi Nyata: Antarkita dan Biskuit Cahaya Sebagai langkah konkret, Antarkita membangun kolaborasi strategis dengan Biskuit Cahaya, produk unggulan milik Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah. Biskuit Cahaya bukan sekadar produk pangan, tetapi simbol kemandirian ekonomi perempuan Muhammadiyah yang dikelola secara profesional, amanah, dan berorientasi pada kemaslahatan. Antarkita menyiapkan tim khusus promosi dan pemasaran untuk memastikan Biskuit Cahaya dikenal luas, diterima pasar, dan berkelanjutan secara ekonomi. Dalam tahap awal, Banyumas ditetapkan sebagai pilot project kolaborasi Antarkita dan Biskuit Cahaya. Banyumas dipilih bukan tanpa alasan. Di daerah ini terdapat ekosistem Muhammadiyah yang kuat, jaringan jama’ah yang hidup, serta semangat kolaborasi lintas amal usaha dan komunitas. Pilot project ini diharapkan menjadi model sinergi ekonomi jama’ah yang dapat direplikasi di wilayah lain. Driver Antarkita: Dari Pengemudi Menjadi Duta Bisnis Dengan misi membangun kesejahteraan bersama, Antarkita menempatkan driver sebagai aktor utama dalam gerakan ekonomi ini. Driver tidak diposisikan sekadar sebagai tenaga kerja, tetapi sebagai duta bisnis dan agen perubahan ekonomi jama’ah. Para driver Antarkita dibekali peran ganda: sebagai penyedia layanan transportasi, sekaligus sebagai penghubung produk jama’ah dengan masyarakat luas. Melalui peran ini, driver memiliki kesempatan untuk belajar bisnis, membangun jaringan, dan menambah sumber penghasilan. Antarkita percaya bahwa seorang driver tidak harus seumur hidup menjadi driver. Di dalam ekosistem yang sehat, driver bisa tumbuh menjadi entrepreneur mandiri. Menuju Driver Jutawan Antarkita Konsep driver jutawan yang diusung Antarkita bukan semata tentang kekayaan materi, tetapi tentang kemandirian, keberanian bermimpi, dan peluang berkembang. Dengan dukungan produk seperti Biskuit Cahaya, driver memiliki kesempatan menjadi: reseller, distributor lokal, bahkan pelaku usaha mandiri di lingkungannya sendiri. Ketika driver tumbuh, keluarga ikut sejahtera. Ketika keluarga sejahtera, jama’ah menguat. Inilah rantai nilai yang ingin dibangun oleh Antarkita—ekonomi yang tumbuh dari bawah, dari jama’ah, dan untuk jama’ah. Ekosistem Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Kita Kolaborasi Antarkita dan Biskuit Cahaya adalah cermin dari ekosistem ekonomi yang diidamkan: diproduksi oleh persyarikatan, dipasarkan oleh jaringan jama’ah, dan dikonsumsi oleh warga sendiri. Ekosistem ini bukan untuk menutup diri dari dunia luar, tetapi untuk memastikan bahwa umat memiliki pondasi kemandirian dan kedaulatan ekonomi. Ketika pondasi itu kuat, kolaborasi dengan pihak mana pun dapat dilakukan secara setara dan bermartabat. Penutup: Ikhtiar Kecil, Harapan Besar Antarkita menyadari bahwa langkah ini penuh keterbatasan. Namun sejarah telah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian memulai. Seperti burung pipit dalam kisah Nabi Ibrahim AS, Antarkita memilih membawa setetes air—bukan karena yakin memadamkan api, tetapi karena ingin berada di pihak yang benar. Dengan spirit bela beli, ukhuwah ekonomi, dan kemandirian jama’ah, Antarkita melangkah sebagai ikhtiar kolektif membangun kesejahteraan Muhammadiyah. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Peran Muhammadiyah dan Tantangan Program Ketahanan Pangan

Peran Muhammadiyah dan Tantangan Program Ketahanan Pangan Muhammadiyah Diharapkan Menjadi Katalisator Swasembada Pangan Nasional Yogyakarta — Indonesia tengah menghadapi tantangan global yang semakin kompleks akibat dinamika geopolitik internasional. Berbagai konflik bersenjata yang terjadi di sejumlah kawasan dunia, mulai dari perang Israel–Palestina, Israel–Libanon, Rusia–Ukraina, hingga potensi konflik di Laut China Selatan, Taiwan, dan Semenanjung Korea, telah menciptakan ketidakstabilan global yang berdampak luas terhadap keamanan, ekonomi, dan ketersediaan pangan dunia. Hal tersebut disampaikan oleh Syarofin Arba MF, Direktur Center for Study of Regional Development (CESRED), dalam artikelnya berjudul “Peran Muhammadiyah dan Tantangan Program Ketahanan Pangan” yang dimuat di SuaraMuhammadiyah.id. Ia menegaskan bahwa eskalasi konflik global berpotensi memicu krisis multidimensi, termasuk ancaman serius terhadap ketahanan pangan nasional. Menurut Syarofin Arba, ketegangan politik global tidak hanya berdampak pada aspek keamanan, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi dan perdagangan internasional. Melonjaknya harga kebutuhan pokok, tingginya inflasi, membengkaknya utang negara, serta defisit pendapatan di berbagai negara menjadi indikator kelesuan ekonomi global yang patut diwaspadai. “Ketidakstabilan dunia internasional akan berpengaruh langsung pada ketersediaan pangan. Dalam situasi konflik dan ketegangan global, ketergantungan pada impor pangan menjadi risiko besar bagi sebuah negara,” tulisnya. Ancaman Global dan Urgensi Ketahanan Pangan Syarofin Arba mengungkapkan bahwa berbagai negara mulai mengambil langkah antisipatif untuk mengamankan pasokan pangan nasional. Negara-negara Eropa seperti Swedia, Norwegia, Finlandia, dan Denmark bahkan mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi krisis global, terlebih setelah munculnya pernyataan-pernyataan yang dinilai berpotensi memicu eskalasi perang berskala lebih luas. Selain konflik geopolitik, dunia juga dihadapkan pada dampak perubahan iklim seperti fenomena La Nina dan El Nino, pandemi seperti Covid-19, serta gangguan rantai pasok global. Seluruh kondisi tersebut menuntut adanya strategi ketahanan pangan yang terencana, berkelanjutan, dan berbasis kemandirian nasional. Posisi Indonesia dalam Ketahanan Pangan Beberapa tahun lalu, Indonesia tercatat berada di peringkat ke-12 dari 23 negara di kawasan Asia Pasifik berdasarkan Global Food Security Index. Penilaian tersebut mencakup aspek ketersediaan pangan, aksesibilitas, kualitas, dan keamanan pangan. Untuk menekan tingkat kerentanan pangan, diperlukan strategi pembangunan pertanian dan pangan yang komprehensif, meliputi peningkatan kapasitas produksi, diversifikasi pangan, penguatan cadangan pangan nasional, sistem logistik yang efisien, serta pengembangan pertanian modern dan berkelanjutan. Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Gunawan Budiyanto, sebagaimana dikutip dalam artikel tersebut, menegaskan bahwa ketahanan pangan memiliki keterkaitan erat dengan pertanian berkelanjutan. “Ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan merupakan hasil interaksi kebijakan pemerintah yang mencakup dimensi lingkungan, sosial, dan ekonomi,” ujarnya. Komitmen Pemerintah dan Respons Muhammadiyah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah menegaskan komitmennya untuk mewujudkan swasembada dan ketahanan pangan nasional. Komitmen ini diarahkan agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri tanpa bergantung pada pasokan luar negeri yang rawan terganggu oleh ketidakpastian global. Kebijakan tersebut mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, termasuk organisasi kemasyarakatan Islam. Pengurus Pusat Muhammadiyah secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap program ketahanan pangan nasional melalui deklarasi komitmen bersama para pelaku usaha sektor pertanian dan peternakan yang digelar di Bogor pada 20 November lalu. Muhammadiyah juga telah mencanangkan sejumlah program strategis, di antaranya pendirian Toko Muhammadiyah (TokoMu) yang diarahkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pokok dan memperkuat ketahanan pangan warga. Selain itu, Muhammadiyah turut mendorong peningkatan kapasitas dan kesejahteraan petani sebagai pilar utama sistem pangan nasional. Potensi Muhammadiyah dalam Ketahanan Pangan Syarofin Arba menilai Indonesia sejatinya memiliki potensi besar dalam sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk mewujudkan ketahanan pangan. Dalam konteks ini, Muhammadiyah memiliki keunggulan berupa SDM yang kompeten di bidang pertanian, jaringan kelembagaan yang luas, serta konektivitas dengan berbagai pemangku kepentingan. “Program ketahanan pangan berkelanjutan membutuhkan sinergi antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat. Muhammadiyah diharapkan mampu menjadi pendorong dan katalisator terbangunnya sinergitas tersebut,” tegasnya. Ia juga mendorong Muhammadiyah untuk berperan aktif dalam penyusunan grand design dan roadmap swasembada serta ketahanan pangan nasional agar pelaksanaan program berjalan efektif dan terukur. Gerakan Kolektif hingga Akar Rumput Pimpinan Pusat Muhammadiyah diharapkan dapat menggerakkan seluruh struktur organisasi hingga tingkat ranting, melibatkan Perguruan Tinggi Muhammadiyah sesuai bidang keahliannya, serta mengajak warga persyarikatan untuk berkontribusi secara nyata. Sebagai langkah awal, Syarofin Arba mengusulkan pembentukan pilot project ketahanan pangan di sejumlah daerah dengan memanfaatkan jejaring Muhammadiyah. Model yang berhasil dapat direplikasi ke wilayah lain di Indonesia. Pengalaman panjang Muhammadiyah dalam pemberdayaan dan pendampingan masyarakat dinilai menjadi modal penting dalam menggerakkan gerakan pangan berbasis komunitas. Pada akhirnya, ketahanan pangan hanya dapat terwujud melalui kesadaran, partisipasi, dan gerakan kolektif masyarakat. “Jika Muhammadiyah mampu berperan aktif dan sinergis, maka cita-cita ketahanan pangan bukan hal yang sulit diwujudkan. Bahkan, dari program ini akan lahir masyarakat yang makmur dan sejahtera,” pungkasnya. Sumber: Artikel “Peran Muhammadiyah dan Tantangan Program Ketahanan Pangan” SuaraMuhammadiyah.id Penulis: Syarofin Arba MF, Direktur Center for Study of Regional Development (CESRED)  

Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

Cahaya, Biskuit Muhammadiyah Hadir di Banyumas

Cahaya, Biskuit Muhammadiyah Hadir di Banyumas Banyumas | Antarkita – Januari 2026 Upaya penguatan ekonomi umat yang digerakkan oleh perempuan Muhammadiyah terus menunjukkan geliat nyata. Salah satunya melalui kehadiran Biskuit Cahaya, produk unggulan Muhammadiyah yang kini resmi hadir dan menjangkau wilayah Karesidenan Banyumas. Biskuit Cahaya merupakan usaha milik PT. EAHM (Ekonomi ‘Aisyiyah Hasanah Makmur) di bawah naungan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah. Produk ini lahir sebagai ikhtiar membangun kemandirian ekonomi sekaligus menyalurkan nilai dakwah dan kepedulian sosial melalui jalur usaha yang berkelanjutan. Perjalanan Biskuit Cahaya dimulai pada awal tahun 2025 dengan memproduksi Biskuit Cahaya Marie Susu edisi Lebaran 1446 H / 2025 M. Antusiasme masyarakat yang tinggi mendorong pengembangan produk dalam kemasan single pack agar lebih mudah dijangkau. Memasuki tahun 2026, PT. EAHM kembali menghadirkan inovasi dengan meluncurkan Biskuit & Wafer Cahaya Spesial Lebaran 1447 H, yang terdiri dari tiga varian unggulan, yaitu: Assorted Biskuit Cahaya & Wafer Wafer Cahaya rasa Chocolate & Vanila Biskuit Cahaya Marie Susu Spesial dalam kemasan box segi enam Menariknya, Biskuit Cahaya tidak hanya berorientasi pada aspek bisnis semata. Sebagian keuntungan penjualan dialokasikan untuk donasi kemanusiaan, di antaranya untuk Palestina dan penanganan bencana di Sumatera, sehingga setiap pembelian menjadi bagian dari gerakan solidaritas dan kebermanfaatan sosial. Untuk wilayah eks-Karesidenan Banyumas, distribusi dan koordinasi Biskuit Cahaya diampu oleh PIC Area, Rima Yulianti (0852 2750 6848). Operasional Biskuit Cahaya sendiri telah berjalan sejak Januari 2025 dan kini dapat diakses di sejumlah titik layanan resmi berikut: Cilacap Kedai ‘Aisyiyah / Daycare Lansia Jl. Laut No. 17 RT 01 RW 13, Cilacap CP: 0815 4277 1035 Banyumas KSU Syariah ‘Aisyiyah Gedung Balai ‘Aisyiyah Banyumas Jl. Masjid Gg. II No. 1, Purwokerto CP: 0822 2845 8488 Purbalingga Jl. Alun-alun Selatan Komplek Perguruan Muhammadiyah Purbalingga (Kantor Sekretariat PDA) CP: 0812 2635 554 / 0896 8379 0532 Banjarnegara Toko Qta Jl. Jend. Sudirman No. 27, Banjarnegara CP: 0896 6554 7452 Jam operasional menyesuaikan kebijakan masing-masing kabupaten. Layanan ambil langsung di lokasi tersedia, dengan jangkauan distribusi meliputi seluruh wilayah Karesidenan Banyumas. Adapun harga satuan Biskuit Cahaya ditetapkan sebagai berikut: Assorted Biskuit & Wafer: Rp35.000 per kaleng Wafer Cahaya Chocolate & Vanila: Rp33.500 per kaleng Biskuit Cahaya Spesial: Rp32.500 per box (isi 15 sachet) Informasi pembelian grosir dapat dikonsultasikan langsung dengan PIC di masing-masing kabupaten. Lebih dari sekadar produk konsumsi, Biskuit Cahaya digerakkan oleh semangat kolektif. Sebuah motivasi yang terus digaungkan dalam gerakan ini berbunyi: Jika hati sudah bersuara, ego akan kita tanggalkan. Tak banyak tanya, tak banyak alasan. Kaki dan tangan bergerak, niat disatukan untuk berjihad dengan cara sederhana: Satu Rumah, Satu Kaleng Cahaya. Dari rumah masing-masing, cahaya itu dinyalakan. Bersama, Biskuit Cahaya diharapkan menjadi simbol kebangkitan ekonomi umat, solidaritas kemanusiaan, dan dakwah yang membumi.

Kabarkita, Ruang Kita

Evaluasi Kinerja Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Purwojati Berlangsung Khidmat dan Penuh Makna

Evaluasi Kinerja Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Purwojati Berlangsung Khidmat dan Penuh Makna Purwojati, Banyumas — Evaluasi Kinerja Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Purwojati berlangsung khidmat dan penuh makna pada Rabu, 7 Januari 2025, bertempat di lingkungan sekolah. Kegiatan ini menjadi momentum refleksi dan penguatan mutu kepemimpinan sekolah dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan yang berkelanjutan. Kedatangan tim asesor dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, yakni Dra. Wiwi Parluki, M.Pd. dan Dr. H. Bahrodin, M.M.Pd., disambut hangat dengan tari Saman yang dipersembahkan para siswi SMP Muhammadiyah Purwojati di halaman sekolah. Sambutan tersebut mencerminkan semangat kebersamaan, pelestarian budaya, serta penguatan karakter peserta didik. Kegiatan diawali dengan seremonial pembukaan berupa salam pembuka, doa bersama, dan pengantar dari pembawa acara. Dalam pengantarnya ditegaskan bahwa evaluasi kinerja kepala sekolah bukan sekadar agenda administratif, melainkan sarana refleksi dan pembinaan demi peningkatan mutu kepemimpinan dan tata kelola sekolah. Komitmen Berbenah dan Digitalisasi Sekolah Dalam sambutannya, Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati, Nur Khasbi, S.H.I., M.M., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Purwojati, Ketua Komite Sekolah Bapak H. Siswanto, serta tim asesor dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas atas pendampingan yang diberikan. “Evaluasi ini kami maknai sebagai cermin untuk melihat sejauh mana ikhtiar kami dalam memajukan sekolah. Kami terbuka terhadap masukan dan siap berbenah demi peningkatan mutu pendidikan di SMP Muhammadiyah Purwojati,” ujar Nur Khasbi. Ia juga memaparkan laporan singkat kinerja sekolah yang mencakup pelaksanaan program kerja, peningkatan mutu pembelajaran dan kedisiplinan, penguatan karakter peserta didik, serta pengelolaan sarana prasarana dan administrasi sekolah. Lebih lanjut, Nur Khasbi menegaskan arah pengembangan sekolah ke depan. “Ke depan, seluruh program sekolah akan terintegrasi dengan Rapor Pendidikan Sekolah dan sistem data berbasis ruang digital. Kami ingin tata kelola sekolah semakin transparan, terukur, dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” tambahnya. Evaluasi sebagai Instrumen Pembinaan Sambutan kedua disampaikan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Purwojati, Agus Yunianto, S.Pd. Ia menekankan bahwa evaluasi kinerja kepala sekolah harus dipahami sebagai bagian dari proses pembinaan berkelanjutan. “Evaluasi ini bukan untuk mencari kekurangan semata, tetapi sebagai instrumen pembinaan agar kepala sekolah dan seluruh warga sekolah terus bertumbuh dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan,” ungkapnya. Ia juga mengapresiasi kinerja kepala sekolah beserta seluruh warga SMP Muhammadiyah Purwojati. “Kepala sekolah adalah pemimpin, manajer, sekaligus teladan. Kami berharap SMP Muhammadiyah Purwojati terus menjaga identitas persyarikatan dan mampu menjawab tantangan pendidikan modern tanpa meninggalkan akhlak mulia,” tegasnya. Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Purwojati menegaskan komitmen persyarikatan untuk terus mendampingi dan mendukung peningkatan mutu sekolah secara berkesinambungan. Bagian dari Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Sambutan berikutnya disampaikan oleh Pengawas dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa evaluasi kinerja kepala sekolah merupakan bagian dari sistem penjaminan mutu pendidikan. “Evaluasi kinerja kepala sekolah bertujuan memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan berjalan sesuai standar nasional serta mendorong peningkatan kualitas guru dan hasil belajar peserta didik,” jelasnya. Beliau juga mengapresiasi sinergi yang terbangun antara sekolah, persyarikatan, dan berbagai pemangku kepentingan. “Kami melihat adanya kerja sama yang baik antara SMP Muhammadiyah Purwojati dengan berbagai pihak. Hal ini perlu terus diperkuat melalui inovasi pembelajaran, tata kelola yang baik, dan layanan pendidikan yang prima,” tambahnya. Pengawas Dinas Pendidikan berharap hasil evaluasi ini dapat menjadi bahan perbaikan berkelanjutan bagi sekolah serta berkontribusi positif bagi peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Banyumas. Menuju Sekolah Unggul dan Berdaya Saing Melalui kegiatan evaluasi kinerja ini, diharapkan terbangun budaya refleksi dan peningkatan berkelanjutan yang berdampak pada profesionalisme kepala sekolah, penguatan tata kelola sekolah, serta terwujudnya SMP Muhammadiyah Purwojati sebagai sekolah yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing. SiS | Antarkita

Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

LEGON: Budidaya Lele dalam Galon

LEGON: Budidaya Lele dalam Galon Solusi Ketahanan Pangan dan Kepedulian Lingkungan Mewujudkan anak yang sehat dalam masa pertumbuhan membutuhkan pemenuhan gizi yang seimbang, terutama asupan protein yang sesuai dengan kebutuhan usia. Dalam konteks penanganan stunting, ketersediaan makanan bergizi bukan sekadar anjuran, tetapi keharusan yang harus diupayakan secara nyata hingga ke tingkat keluarga. Protein hewani menjadi salah satu komponen penting dalam mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak. Salah satu solusi sederhana, murah, dan mudah diterapkan untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga adalah melalui budidaya ikan lele. Inovasi LEGON (Lele Galon) hadir dengan memanfaatkan galon bekas air minum yang selama ini sering berakhir sebagai limbah. Alih-alih dibuang, galon bekas dapat diolah menjadi media budidaya ikan lele yang praktis, efisien, dan ramah lingkungan. Metode ini tidak membutuhkan lahan luas, cukup memanfaatkan halaman rumah, teras, atau ruang sempit yang tersedia. Budidaya lele menggunakan galon air mineral memiliki sejumlah manfaat yang signifikan. Dari sisi biaya, penggunaan galon bekas menjadikan modal awal sangat terjangkau dibandingkan pembangunan kolam atau penggunaan tangki besar. Galon mudah diperoleh, bahkan dapat dimanfaatkan dari limbah rumah tangga yang tidak terpakai. Selain itu, ukurannya yang relatif kecil membuat galon fleksibel dan mudah dipindahkan, sehingga penataan lokasi budidaya dapat disesuaikan dengan kondisi rumah. Metode LEGON juga cocok diterapkan dalam skala kecil, baik untuk kebutuhan konsumsi keluarga maupun sebagai hobi produktif. Bagi pemula yang ingin belajar budidaya ikan tanpa risiko besar, galon menjadi media yang sederhana dan mudah dikontrol. Kualitas air seperti pH, suhu, dan tingkat oksigen dapat dipantau lebih teliti karena volume air yang terbatas. Pengelolaan pakan dan nutrisi pun menjadi lebih terukur, sehingga pertumbuhan ikan lele dapat berlangsung optimal. Namun demikian, budidaya lele dalam galon juga memiliki tantangan yang perlu diperhatikan. Kapasitas galon yang terbatas membatasi jumlah ikan yang dapat dipelihara. Kepadatan tebar harus diatur dengan baik agar ikan tidak stres dan tetap tumbuh sehat. Selain itu, galon lebih rentan terhadap perubahan suhu dibandingkan kolam besar, sehingga penempatan dan perlindungan dari paparan panas atau hujan ekstrem menjadi hal penting. Pemeliharaan rutin menjadi kunci keberhasilan LEGON. Pergantian air secara berkala, pembersihan galon, serta pemantauan kesehatan ikan harus dilakukan secara konsisten. Ketersediaan nutrisi yang cukup dan seimbang juga wajib diperhatikan, karena pakan yang tidak tepat atau berlebihan dapat menurunkan kualitas air dan menghambat pertumbuhan ikan. Dalam beberapa waktu terakhir, budidaya lele dalam galon menjadi tren dan viral di media sosial. Metode ini menarik perhatian banyak orang karena dinilai praktis, hemat tempat, dan cocok diterapkan di wilayah perkotaan dengan lahan terbatas. Dengan modal galon bekas dan peralatan sederhana, masyarakat dapat memulai budidaya lele sebagai sumber protein keluarga maupun usaha sampingan. Meski terlihat mudah, kegagalan dalam ternak lele di galon sering dialami pemula, terutama akibat air yang cepat bau. Akumulasi sisa pakan dan kotoran dalam volume air yang terbatas menyebabkan peningkatan kadar amonia secara drastis, sehingga menimbulkan aroma tidak sedap dan membahayakan kesehatan ikan. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta menegaskan bahwa pengelolaan limbah organik dan sirkulasi oksigen merupakan kunci keberhasilan ekosistem akuatik skala kecil. Berdasarkan standar operasional prosedur budidaya ikan air tawar yang diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia, terdapat beberapa solusi efektif untuk mengatasi permasalahan air bau pada ternak lele di galon. Penyedotan kotoran dasar wadah atau sistem sipon secara rutin setiap dua hari sekali menjadi langkah utama untuk mencegah penumpukan amonia. Pemberian probiotik secara berkala juga membantu mempercepat penguraian limbah organik dan menekan bakteri patogen penyebab bau. Pengaturan kepadatan tebar ikan sangat dianjurkan, dengan jumlah ideal maksimal 15 ekor bibit per galon. Manajemen pakan harus dilakukan secara terukur, diberikan sedikit demi sedikit dan dihentikan ketika ikan sudah kenyang. Untuk membantu menyerap bau dan zat berbahaya, arang kayu atau batu zeolit dapat ditempatkan di dasar galon sebagai filter alami. Penggantian air secara parsial sekitar 30 persen volume air juga disarankan agar kualitas air tetap stabil dan ikan tidak mengalami stres. Selain itu, pemanfaatan tanaman air seperti kangkung dapat berfungsi sebagai filter biologis alami. Akar tanaman membantu menyerap nitrat dari sisa kotoran ikan sekaligus menjaga kadar oksigen terlarut dalam air. Dengan pengelolaan yang tepat, lingkungan budidaya tetap bersih, ikan tumbuh sehat, dan bau tidak sedap dapat dihindari. LEGON bukan sekadar metode budidaya ikan, tetapi solusi terpadu yang menjawab persoalan gizi, ketahanan pangan keluarga, kepedulian lingkungan, dan peluang ekonomi. Dari galon bekas, lahir sumber protein sehat yang terjangkau, sekaligus peluang usaha yang menjanjikan bila dikelola dengan baik dan berkelanjutan. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Rancang Bangun Masa Depan Wakaf Muhammadiyah:

Rancang Bangun Masa Depan Wakaf Muhammadiyah: Wakaf Berkemajuan untuk Kemaslahatan Umat dan Bangsa** Yogyakarta, 6 Januari 2026 — Muhammadiyah menegaskan komitmennya dalam membangun wakaf berkemajuan yang produktif, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi kesejahteraan umat dan pembangunan bangsa. Komitmen tersebut disampaikan oleh Dr. Amirsyah Tambunan, CWC, Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf (MPW) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam artikel bertajuk “Rancang Bangun Masa Depan Wakaf Muhammadiyah” yang dipublikasikan oleh Suara Muhammadiyah. Menurut Dr. Amirsyah, wakaf tidak boleh berhenti pada aspek penyerahan harta semata, tetapi harus memastikan manfaatnya dirasakan secara nyata dan berkelanjutan. “Wakaf berkemajuan adalah wakaf yang produktif dan berkelanjutan. Jika wakaf belum memberi manfaat, maka seluruh pemangku kepentingan bertanggung jawab untuk mendayagunakannya,” tegasnya. Nazhir Profesional sebagai Pilar Utama Ia menekankan bahwa kunci utama keberhasilan wakaf terletak pada profesionalisme nazhir. Nazhir harus memiliki kompetensi substantif berupa penguasaan ilmu perwakafan serta kompetensi metodologis berupa kemampuan mengelola wakaf dengan skema pembiayaan modern dan teknologi tepat guna. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, nazhir adalah pihak yang menerima, mengelola, dan mengembangkan harta wakaf sesuai peruntukannya. Karena itu, pengelolaan wakaf harus menjamin pokok harta tetap terjaga, sementara manfaatnya terus mengalir sebagai amal jariyah bagi kepentingan ibadah dan kesejahteraan umum. Muhammadiyah, lanjutnya, memilih nazhir kelembagaan sebagai strategi untuk memastikan wakaf dikelola secara transparan, akuntabel, dan berkelanjutan. Peran Strategis LKS-PWU Selain nazhir, Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU) memegang peran penting dalam pendayagunaan wakaf uang. LKS-PWU berfungsi sebagai perpanjangan tangan nazhir dalam menghimpun dan menginvestasikan dana wakaf secara amanah dan sesuai prinsip syariah. MPW PP Muhammadiyah telah menjalin Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan sejumlah bank syariah, di antaranya BTPN Syariah dan Bukopin Syariah, untuk mengembangkan skema cash wakaf linked deposit. Kerja sama ini bertujuan mempercepat penghimpunan dan pemanfaatan wakaf uang secara produktif. Wakaf sebagai Instrumen Pembangunan Artikel tersebut juga menyoroti pentingnya mengubah paradigma wakaf yang selama ini identik dengan tanah masjid, makam, atau lembaga pendidikan. Dalam sejarah peradaban Islam, wakaf telah berperan besar dalam pembiayaan rumah sakit, jalan, jembatan, pasar, dan sistem air bersih, sebagaimana terjadi pada masa kekhalifahan dan era Ottoman. Guru Besar FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mohammad Nur Rianto Al Arif, dalam wawancara dengan CNBC (5/1/2026), menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi wakaf yang sangat besar, baik dari sisi luas tanah wakaf maupun potensi wakaf uang yang mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Namun, potensi tersebut belum tergarap optimal karena pengelolaan yang masih tradisional dan terfragmentasi. Program Nasional WakafMu 2026–2027 Melalui Rapat Koordinasi Nasional MPW PP Muhammadiyah 2025, Muhammadiyah menetapkan Program Nasional WakafMu 2026–2027, yang mencakup: Penguatan kelembagaan dan SDM kenazhiran, termasuk pembentukan Task Force Nasional dan penyusunan Blueprint Sistem Kenazhiran Nasional Muhammadiyah. Pelatihan dan sertifikasi nasional bagi 500 nazhir di 10 wilayah. Pembentukan Forum Nazhir Muhammadiyah Nasional (Fornazirmu). Penerapan sistem digital nasional untuk keuangan, database aset, dan pelaporan wakaf. Pendayagunaan Wakaf Produktif Program prioritas wakaf produktif nasional meliputi empat bidang utama: Pendidikan berbasis wakaf, seperti Pesantren Eco-Saintek dan Pusdiklat Tapak Suci. Ekonomi produktif, termasuk Gedung Filantropi Muhammadiyah dan Desa Wisata Berbasis Wakaf. Green Waqf, seperti Eco-Masjid Muhammadiyah dan Gerakan Wakaf Pohon Nasional. Pertanian wakaf, melalui Integrated Smart Farming dan Greenhouse Smart Farming. Sebagai penguat, Muhammadiyah juga mengembangkan Marketplace Wakaf Nasional (wakaflink.id) sebagai platform digital fundraising, pelaporan, dan transparansi. Landasan Regulasi Wakaf Muhammadiyah Persyarikatan Muhammadiyah telah memberlakukan Pedoman Wakaf Nomor 3 Tahun 2025, yang membuka ruang wakaf dalam berbagai bentuk aset bergerak, termasuk saham, surat berharga, hak kekayaan intelektual, hingga hak sewa dan hak pakai. Regulasi ini menunjukkan bahwa wakaf Muhammadiyah memiliki prospek luas dan adaptif terhadap perkembangan zaman. “Ini adalah gambaran masa depan wakaf Muhammadiyah yang berkemajuan, produktif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat,” pungkas Dr. Amirsyah. Sumber: Artikel “Rancang Bangun Masa Depan Wakaf Muhammadiyah” SuaraMuhammadiyah.id, 6 Januari 2026 Penulis: Dr. Amirsyah Tambunan, CWC  

Kabarkita, Ruang Kita

MUHAMMADIYAH JATENG GELAR BIMTEK SIM SATUMU

MUHAMMADIYAH JATENG GELAR BIMTEK SIM SATUMU Percepat Transformasi Digital Persyarikatan** Surakarta, 6 Januari 2026 — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) SIM SatuMu, sebuah upaya strategis mempercepat transformasi digital organisasi. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Meeting Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini dilaksanakan pada Minggu, 4 Januari 2026, dan dihadiri oleh para peserta dari berbagai Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Tengah serta pengurus Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR). SIM SatuMu merupakan platform digital berbasis website terpadu yang menjadi bagian dari Direktori Organisasi Muhammadiyah (DOM) — sistem satu data yang mengintegrasikan berbagai layanan organisasi, mulai dari pencatatan data keanggotaan, iuran, hingga layanan administratif lainnya untuk memperkokoh tata kelola persyarikatan secara modern dan efisien. Acara dibuka dengan sambutan dari Prof. Anam Sutopo, S.Pd., M.Hum., Pimpinan UMS, yang menyampaikan dukungan penuh institusi pendidikan ini terhadap program transformasi digital Muhammadiyah melalui platform SatuMu. Menurutnya, UMS sebagai salah satu Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) memiliki komitmen kuat dalam mendukung kegiatan persyarikatan yang inovatif dan berkelanjutan. Ketua PWM Jawa Tengah, Dr. KH. Tafsir, M.Ag., bersama Wakil Ketua PWM, Drs. H. Wahyudi, M.Pd., hadir dan memberikan arahan strategis dalam pembukaan kegiatan. Dalam sambutannya, Ketua PWM menegaskan pentingnya digitalisasi organisasi berdasarkan keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Kota Surakarta, serta peran SatuMu dalam menjawab tantangan pengelolaan organisasi yang terus berkembang tanpa kehilangan karakter dan nilai-nilai Muhammadiyah. Kegiatan diisi dengan sesi edukatif, termasuk pemaparan tentang sistem DOM sebagai ruang kolaboratif yang memungkinkan pengelolaan unsur dan entitas organisasi secara menyeluruh di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. Kegiatan ini juga menghadirkan mitra strategis dari dunia perbankan. Herry Hykmanto, Direktur Bank Danamon Syariah dan Sustainability Finance, menyatakan kesiapan institusinya mendukung sistem keuangan Muhammadiyah berbasis digital. Ia menambahkan bahwa Bank Danamon Syariah menyediakan layanan berbasis teknologi dengan akses mudah tanpa biaya tambahan, serta didukung oleh community officer yang siap membantu peserta bila mengalami kesulitan teknis. Untuk memperkuat pemahaman mengenai ecosystem layanan digital, kegiatan dibekali oleh keynote speech dari Ketua Majelis Pustaka dan Informasi, Prof. Dr. Muchlas, M.T., yang menjelaskan sembilan pilar transformasi digital Muhammadiyah. Pilar-pilar tersebut meliputi: Identitas digital, Digitalisasi proses bisnis organisasi, Keamanan siber, Keterbukaan dan kemudahan akses, Partisipasi warga persyarikatan dan masyarakat luas, Keberlanjutan, Inklusivitas, Dashboard dinamis berbasis data real-time, Pengambilan keputusan berbasis data dan kecerdasan buatan (AI) Prof. Muchlas menekankan bahwa transformasi digital tidak hanya sekadar adopsi teknologi, tetapi juga perubahan budaya organisasi yang adaptif dan responsif terhadap dinamika zaman. Selain sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan praktek langsung penginputan data DOM, simulasi alur kerja pendaftaran E-KTAM, dan sesi pembinaan lanjutan bersama mitra Bank Danamon Syariah. Rangkaian kegiatan ini dimaksudkan untuk memastikan implementasi SatuMu dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh elemen persyarikatan. (Dikutip dari suaramuhammadiyah.id)

Kabarkita, Ruang Kita

Telah Hadir Layanan LaundryMu: Ikhtiar Kemandirian dari Panti Asuhan Muhammadiyah Putri

Telah Hadir Layanan LaundryMu: Ikhtiar Kemandirian dari Panti Asuhan Muhammadiyah Putri Sebagai bagian dari ikhtiar membangun kemandirian ekonomi dan keberlanjutan layanan sosial, Panti Asuhan Muhammadiyah Putri Tanjung Banyumas menghadirkan sebuah unit usaha baru bertajuk LaundryMu. Layanan laundry ini tidak hanya hadir sebagai solusi kebutuhan masyarakat, tetapi juga sebagai wujud nyata pemberdayaan amal usaha berbasis nilai-nilai Islam dan gerakan filantropi. Lahirnya LaundryMu berawal dari langkah kecil namun penuh harapan. Bu Hartini, yang mewakili Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) PDA Banyumas sekaligus pengurus Panti Asuhan Muhammadiyah Putri Tanjung, mengikuti Pelatihan Laundry yang diselenggarakan oleh BAZNAS. Pelatihan ini menjadi pintu masuk pengetahuan, keterampilan, sekaligus inspirasi untuk mengembangkan unit usaha produktif di lingkungan panti asuhan. Sebagai tindak lanjut dari pelatihan tersebut, pengurus mengisi dan mengajukan proposal bantuan melalui sistem BAZNAS. Alhamdulillah, ikhtiar tersebut membuahkan hasil. BAZNAS memberikan dukungan modal usaha yang cukup lengkap, mulai dari branding dan penataan ruangan, mesin cuci, mesin pengering, setrika uap, hingga perlengkapan operasional seperti deterjen. Bantuan ini menjadi fondasi penting bagi lahirnya LaundryMu sebagai unit usaha yang profesional dan berdaya saing. Setelah bantuan diterima, pengurus membentuk tim pengelola LaundryMu dan melakukan musyawarah terkait lokasi operasional. Dengan pertimbangan akses, visibilitas, dan kemudahan layanan, lokasi Panti Asuhan Muhammadiyah Putri dinilai kurang ruangan .Oleh karena itu, diputuskan bahwa operasional LaundryMu berlokasi di Panti Asuhan Muhammadiyah Putra, sementara kepemilikan dan pengelolaan usaha tetap berada di bawah Panti Asuhan Muhammadiyah Putri. LaundryMu mulai beroperasi pada bulan November 2025, beralamat di Panti Asuhan Muhammadiyah Putra, Jl. Dr. Angka No. 41, Purwokerto. Mengusung tagline “Bersih, Suci, Wangi”, LaundryMu menerapkan konsep laundry syariah. Proses pencucian dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan kesucian: menggunakan dua tabung terpisah, pakaian dipilah sesuai jenisnya, dibilas terlebih dahulu dengan air sebelum diberi deterjen, lalu diproses hingga bersih dan wangi. Prinsip ini menjadi nilai lebih yang membedakan LaundryMu dari layanan laundry pada umumnya. LaundryMu melayani area Purwokerto dan sekitarnya, dengan tarif yang terjangkau, mulai dari Rp4.000 per kilogram. Kehadiran LaundryMu diharapkan tidak hanya membantu kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjadi sumber pemasukan berkelanjutan bagi panti asuhan, sekaligus sarana pendidikan kemandirian dan etos kerja bagi lingkungan panti. Untuk pemesanan dan informasi layanan, masyarakat dapat menghubungi 0814 6672 5728. LaundryMu adalah bukti bahwa kolaborasi antara lembaga sosial, filantropi, dan semangat kemandirian dapat melahirkan solusi nyata—bersih prosesnya, suci nilainya, dan wangi manfaatnya bagi sesama.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Semangat Awal Tahun 2026, Ketua PDM Banyumas Ajak Gerakan Bedukmu:

Semangat Awal Tahun 2026, Ketua PDM Banyumas Ajak Gerakan Bedukmu: Bela Beli Produk Muhammadiyah sebagai Ikhtiar Strategis Menguatkan Ekonomi Umat dan Membela Martabat Bangsa Banyumas, Januari 2026 | Antarkita Memasuki awal tahun 2026, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas meneguhkan kembali komitmen penguatan ekonomi umat melalui Gerakan Bedukmu (Bela dan Dukung Usaha Muhammadiyah). Seruan ini disampaikan langsung oleh Ketua PDM Banyumas, Drs. H.M. Djohar, M.Pd., sebagai respons atas situasi ekonomi nasional yang tengah menghadapi tantangan serius, terutama menurunnya daya beli masyarakat. Berbagai kajian ekonomi nasional menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga—yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia—mengalami tekanan akibat meningkatnya biaya hidup, ketidakpastian ekonomi global, serta melemahnya pendapatan riil masyarakat. Kondisi ini berdampak langsung pada sektor usaha rakyat dan UMKM, termasuk usaha-usaha milik warga Muhammadiyah di daerah. Jika tidak direspons secara kolektif, penurunan daya beli berpotensi melemahkan sendi-sendi ekonomi umat dan memperlebar ketimpangan. Dalam konteks inilah Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam berkemajuan, dipanggil untuk tidak hanya hadir dalam dakwah sosial dan pendidikan, tetapi juga mengambil peran strategis dalam membangun ketahanan ekonomi jamaah. Bela Beli sebagai Pembelaan Martabat Bangsa Literasi tentang bela beli produk bangsa dan produk umat telah lama menjadi bagian dari wacana ideologis di lingkungan Persyarikatan. Dalam kajian yang dimuat oleh Suara ‘Aisyiyah, ditegaskan bahwa gerakan Bela Beli Indonesia bukan sekadar pilihan konsumsi, melainkan sikap ideologis dalam membela martabat bangsa. Bela beli dipahami sebagai tindakan sadar membeli produk anak bangsa bukan karena faktor harga atau kualitas semata, melainkan karena keberpihakan pada kemandirian nasional. Bangsa yang besar dan bermartabat adalah bangsa yang menghargai dan menghidupkan karya anak bangsanya sendiri. Ketergantungan berlebihan pada produk luar, tanpa keberpihakan pada produk lokal, hanya akan melanggengkan ketimpangan ekonomi dan ketergantungan struktural. Dalam perspektif ini, aktivitas konsumsi tidak lagi bersifat netral, tetapi memiliki dimensi moral, ideologis, dan kebangsaan. Ekonomi Sirkular Muhammadiyah: Dari Produksi hingga Konsumsi Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, yang secara konsisten mendorong peningkatan jiwa bisnis warga Muhammadiyah dan pembangunan ekonomi sirkular berbasis persyarikatan. Dalam berbagai forum resmi Muhammadiyah, Anwar Abbas menegaskan bahwa umat Islam—termasuk warga Muhammadiyah—tidak cukup hanya didorong untuk berproduksi dan berwirausaha, tetapi juga harus membangun kesadaran kolektif dalam pola konsumsi. Menurutnya, salah satu kelemahan ekonomi umat selama ini adalah terjadinya kebocoran ekonomi: umat berproduksi, tetapi tidak saling membeli; umat berdagang, tetapi konsumennya justru berasal dari luar komunitas. Karena itu, ia mendorong agar warga Muhammadiyah memprioritaskan pembelian produk sesama warga sebagai bagian dari strategi membangun kekuatan ekonomi internal. Ekonomi sirkular Muhammadiyah bukanlah sikap eksklusif, melainkan ikhtiar rasional dan bermartabat agar nilai ekonomi yang dihasilkan umat dapat berputar, tumbuh, dan menguat di lingkungan sendiri sebelum keluar ke pasar yang lebih luas. Gerakan Bedukmu: Ikhtiar Kolektif PDM Banyumas Berangkat dari literasi dan pemikiran tersebut, Ketua PDM Banyumas Drs. H.M. Djohar, M.Pd. mengajak seluruh warga Muhammadiyah di Banyumas untuk menjadikan Gerakan Bedukmu sebagai budaya ekonomi bersama, khususnya di awal tahun 2026. “Di tengah menurunnya daya beli masyarakat, meningkatkan kemampuan ekonomi umat tidak bisa dilakukan secara individual semata. Diperlukan kesadaran kolektif dan keberpihakan yang nyata. Salah satu ikhtiar paling konkret adalah mengutamakan membeli kebutuhan ekonomi dari usaha-usaha milik warga Muhammadiyah,” tegas Djohar. Menurutnya, Bedukmu adalah langkah strategis untuk membangun sirkulasi ekonomi internal Muhammadiyah, mulai dari kebutuhan pangan, perdagangan, jasa, pendidikan, kesehatan, hingga usaha kreatif. Ketika warga Muhammadiyah secara sadar menjadi konsumen bagi usaha sesama warga, maka kekuatan ekonomi jamaah akan tumbuh secara berkelanjutan. Djohar menegaskan bahwa bela beli produk Muhammadiyah merupakan bagian dari bela beli produk Muslim dan produk anak bangsa. “Kita membeli produk Muslim bukan karena lebih baik, bukan karena lebih murah, tetapi karena itu milik anak bangsa. Bela beli adalah sikap jelas pembelaan—membela martabat dan kejayaan bangsa Indonesia,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa bela beli bukan tindakan emosional, tetapi pilihan strategis. Bangsa dan umat yang tidak membela produk dan usahanya sendiri akan selamanya menjadi pasar, bukan pelaku utama ekonomi. Menjadikan Bela Beli sebagai Budaya Persyarikatan Dalam konteks Muhammadiyah, Djohar menegaskan bahwa kekuatan persyarikatan tidak hanya diukur dari besarnya amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial, tetapi juga dari ketahanan ekonomi warganya. Oleh karena itu, Gerakan Bedukmu diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi budaya hidup dalam keseharian warga Muhammadiyah. Ia mengajak seluruh elemen persyarikatan—pimpinan, amal usaha, organisasi otonom, hingga warga di tingkat ranting dan cabang—untuk menjadikan bela beli sebagai bagian dari jihad ekonomi yang bermartabat. “Semangat awal tahun 2026 ini harus menjadi momentum kebangkitan. Jika kita ingin Muhammadiyah kuat dan berdaulat, maka usaha warga Muhammadiyah harus hidup. Dan usaha itu hanya akan hidup jika kita sendiri yang membelanya melalui pilihan belanja kita setiap hari,” pungkasnya. Melalui Gerakan Bedukmu, PDM Banyumas berharap terbangun kesadaran kolektif bahwa keputusan ekonomi sehari-hari adalah bagian dari perjuangan besar membangun kemandirian umat dan menjaga martabat bangsa Indonesia di tengah tantangan zaman. SiS | Antarkita  

Kabarkita, Ruang Kita

Menjaga Api Kolaborasi Sekolah: MKKS Sub Rayon 4 Banyumas Menyongsong Estafet Kepemimpinan Baru

Menjaga Api Kolaborasi Sekolah: MKKS Sub Rayon 4 Banyumas Menyongsong Estafet Kepemimpinan Baru Wangon, Banyumas | Antarkita — Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Sub Rayon 4 Kabupaten Banyumas kembali menggelar rapat rutin pada Selasa, 6 Januari 2026, bertempat di SMP Negeri 1 Wangon. Sejak pagi, aula sekolah tuan rumah dipenuhi suasana akrab dan hangat yang mempertemukan 25 kepala SMP negeri dan swasta dalam semangat kebersamaan, kolaborasi, dan solidaritas yang telah lama terbangun di lingkungan Sub Rayon 4. Rapat rutin ini membahas sejumlah agenda strategis, antara lain sosialisasi pelaksanaan Try Out TKA ke-2, pembagian buku edukasi anti narkoba, serta agenda lepas sambut kepala sekolah. Namun demikian, perhatian utama forum tertuju pada dua momentum penting: purna tugas Tri Murniati, S.Pd., Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati, serta mutasi Nur Indri Astuti, S.Pd., Gr. dari SMP IT Sriwijaya. Kedua momen tersebut menghadirkan nuansa haru sekaligus penghormatan atas pengabdian panjang yang telah dicurahkan di dunia pendidikan. Mewakili para kepala sekolah Sub Rayon 4, Drs. Eko Waluyo, Kepala SMP Boarding School Queen Bumi Al-Falah Jatilawang, menyampaikan apresiasi dan terima kasih mendalam kepada Tri Murniati, S.Pd. Ia menyebut sosok Bu Tri sebagai figur keibuan yang penuh keteladanan, dengan ketekunan, kesabaran, dan semangat pengabdian yang menginspirasi banyak pihak. Di bawah kepemimpinannya, SMP Muhammadiyah Purwojati—meski berada di antara dua SMP negeri—mampu menorehkan berbagai prestasi dari tingkat kabupaten hingga provinsi, termasuk meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional. Capaian tersebut dinilai layak menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah lain di Sub Rayon 4. Ketua MKKS Sub Rayon 4, Soenarko, S.Pd., yang juga Kepala SMP Negeri 1 Wangon, menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan menjadikan SMPN 1 Wangon sebagai tuan rumah kegiatan. Dalam kesempatan tersebut, ia mengumumkan bahwa pelaksanaan Try Out TKA ke-2 mengalami penjadwalan ulang dan akan digelar pada 23 Januari 2026 dengan sistem berbasis kertas. Ia juga mengenang kebersamaan bersama Tri Murniati dan Nur Indri Astuti selama aktif di MKKS yang selalu diwarnai kekompakan, kepedulian, serta suasana kekeluargaan, bahkan dalam hal-hal kecil yang menumbuhkan rasa nyaman dalam setiap kegiatan. Pada kesempatan yang sama, Soenarko, S.Pd. juga menyampaikan ucapan selamat datang kepada Nur Khasbi, S.H.I., M.M., Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati, dan Juni Satriono, S.T., Kepala SMP IT Sriwijaya, sebagai anggota baru MKKS Sub Rayon 4. Dalam sambutan perpisahannya, Tri Murniati, S.Pd. menyampaikan rasa terima kasih yang tulus atas kebersamaan yang telah terjalin erat selama ini. Ia menggambarkan MKKS SMP Sub Rayon 4 sebagai ruang yang guyub, santai, namun tetap serius, produktif, dan penuh kegembiraan. Meski purna tugas menandai berakhirnya peran formal sebagai kepala sekolah, ia berharap silaturahmi tetap terjaga dan nilai-nilai kebersamaan terus hidup di antara para kepala sekolah. Estafet kepemimpinan pun berlanjut. Nur Khasbi, S.H.I., M.M., Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati periode 2025–2029, menyatakan komitmennya untuk melanjutkan perjuangan dan prestasi yang telah dirintis pendahulunya. Ia menegaskan kesiapan sekolahnya untuk melakukan pengimbasan sebagai Sekolah Adiwiyata Nasional, sekaligus menjadikan capaian tersebut sebagai tanggung jawab bersama untuk dipertahankan dan ditingkatkan melalui kolaborasi lintas sekolah. Rapat rutin MKKS ini kembali menegaskan peran Sub Rayon 4 sebagai ruang sinergi dan pembelajaran bersama antar pimpinan sekolah. Lebih dari sekadar forum koordinasi, MKKS SMP Sub Rayon 4 menjadi simpul penguat nilai-nilai kepemimpinan, keteladanan, dan keberlanjutan mutu pendidikan. Dari Wangon, semangat itu diteguhkan: bahwa pengabdian boleh berakhir, tetapi jejak inspirasi dan api kolaborasi akan terus menyala, menggerakkan pendidikan Banyumas menuju arah yang lebih berkualitas, berkeadaban, bermartabat, dan berkelanjutan. (Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya)

Scroll to Top