Antarkita

Kabarkita

Kabarkita, Ruang Kita

Dari Museum ke Laboratorium Alam, Refleksi Outing Class SMP MUHAMRA di Yogyakarta

Dari Museum ke Laboratorium Alam, Refleksi Outing Class SMP MUHAMRA di Yogyakarta Yogyakarta || AntaraKita.com – Pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Prinsip inilah yang dihidupkan oleh SMP Muhammadiyah Rawalo (MUHAMRA), Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, melalui kegiatan outing class atau pembelajaran luar ruangan ke Yogyakarta pada Sabtu (17/1/2026). Kegiatan yang diikuti siswa kelas VIII dan IX ini mengusung tema “Edutrip Muhamra Goes to Jogja”, sebagai ikhtiar menghadirkan pembelajaran kontekstual yang menyenangkan, bermakna, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Didampingi lima orang pendamping, para siswa mengikuti rangkaian edutrip dengan penuh antusias. Sejak keberangkatan hingga kembali ke Rawalo, kegiatan berlangsung tertib, ceria, dan sarat pengalaman belajar. Outing class ini dirancang tidak sekadar sebagai kunjungan rekreatif, melainkan sebagai ruang belajar alternatif yang mengintegrasikan pengetahuan, pengalaman empiris, kebersamaan, serta kemandirian murid.   Bendahara SMP Muhammadiyah Rawalo, Wahyu Yulirianto, A.P., yang turut mendampingi kegiatan, menjelaskan bahwa edutrip kali ini menyasar tiga destinasi edukatif utama, yakni Merapi Adventure Magelang, Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, dan Taman Pintar Yogyakarta. “Di Merapi Adventure, siswa belajar tentang sejarah erupsi Gunung Merapi, dampak sosial-bencana, serta pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Kegiatan dilanjutkan dengan penelusuran Museum Sisa Hartaku sebagai pengingat nilai ketangguhan dan ketabahan masyarakat lereng Merapi,” jelasnya. Sementara itu, di Museum Dirgantara Mandala, para siswa dikenalkan pada sejarah kedirgantaraan Indonesia, nilai-nilai kebangsaan, keberanian, kedisiplinan, dan pengabdian para tokoh TNI AU. Adapun Taman Pintar Yogyakarta menjadi ruang belajar sains interaktif yang mendorong rasa ingin tahu, berpikir kritis, dan kreativitas siswa melalui pendekatan aplikatif yang menyenangkan. Kepala SMP Muhammadiyah Rawalo, Murtafingah Ekaningrum, S.Pd., menegaskan bahwa outing class dirancang sebagai pembelajaran langsung (experiential learning) untuk melatih motorik, kreativitas, kemandirian, serta membentuk karakter murid agar berakhlak, tangguh, dan berkepribadian. “Melalui kegiatan ini, murid diajak menumbuhkan kebersamaan, kepedulian terhadap lingkungan, wawasan kebencanaan, serta nilai disiplin dan cinta tanah air. Outing class juga menjadi sarana menumbuhkan minat murid terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya bidang dirgantara dan sains,” ujarnya. Senada dengan itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Galih Dewi Anggraeni, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan outing class tidak dilepaskan dari proses pembelajaran terintegrasi. Para murid diberikan tugas berupa pembuatan vlog dan kliping lintas mata pelajaran, meliputi IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Pendidikan Agama Islam (PAI). “Selain edukatif, kegiatan ini juga bersifat rekreatif sehingga mampu mengurangi kejenuhan belajar. Murid belajar bertanggung jawab, bekerja sama, dan mengapresiasi sejarah serta nilai kebangsaan secara langsung,” ungkapnya. Pengalaman belajar di luar kelas ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para siswa. Putri Marfiani, siswi kelas IX A, menilai pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami karena dapat melihat dan mengalami langsung objek pembelajaran di Museum Dirgantara, Lava Tour Merapi, dan Taman Pintar. Hal senada disampaikan Catur Danu, siswa kelas VIII A, yang mengaku belajar terasa lebih menyenangkan karena dapat mencoba berbagai alat sains, bekerja sama dengan teman, serta belajar sambil bermain. Melalui interaksi di ruang publik, para siswa juga belajar bersikap santun, bekerja sama, saling menghargai, serta membangun kepekaan sosial. Sebagai penutup rangkaian kegiatan, rombongan menyempatkan diri mengunjungi kawasan Malioboro untuk menikmati suasana kota dan membeli oleh-oleh. Melalui kegiatan Edutrip Outing Class ini, SMP Muhammadiyah Rawalo berharap para siswa memperoleh pengetahuan, pengalaman berharga, kebersamaan, serta kenangan indah yang membekas. Kegiatan ini menegaskan bahwa belajar dapat dilakukan di mana saja—di museum, alam terbuka, dan ruang publik—sebagai bagian dari upaya menumbuhkan karakter, wawasan, dan kesadaran murid sebagai pembelajar sepanjang hayat. (Tarqum Aziz – JurnalisMu Banyumas Raya)  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Alumni Unsoed Gelar “Sosialisasi Tamyiz 1”

Alumni Unsoed Gelar “Sosialisasi Tamyiz 1” Ikhtiar Pra-Ramadhan Memperluas Gerakan Belajar Terjemah Al-Qur’an Metode Tamyiz Dalam rangka mengisi rangkaian kegiatan Pra-Ramadhan 1447 H / 2026 M, alumni Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman (FH Unsoed) angkatan 1981, Slamet Hartono, SH., menginisiasi kegiatan “Sosialisasi Tamyiz 1”, yakni kegiatan Belajar Terjemah Al-Qur’an dengan Metode Tamyiz. Kegiatan ini diselenggarakan melalui Panitia Amaliah Ramadhan 1447 H / 2026 M Masjid Agung Baitussalam (MAB) Purwokerto.   Slamet Hartono, SH., yang juga menjabat sebagai Sekretaris Takmir Masjid Agung Baitussalam Purwokerto, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut langsung dari kegiatan Training of Trainer (TOT) Tamyiz 1 yang sebelumnya diselenggarakan oleh Tamyiz Online Pusat di Jakarta selama dua hari. Pada kesempatan tersebut, RTO (Rumah Tamyiz Offline/Online) Purwokerto mengirimkan tiga orang perwakilan untuk mengikuti pelatihan intensif. “Kami merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menularkan ilmu yang sudah diperoleh dari TOT. Karena itu, Sosialisasi Tamyiz 1 ini kami gelar agar metode Tamyiz bisa dipahami dan dipraktikkan secara lebih luas di masyarakat,” ungkap Slamet Hartono, SH., saat bincang-bincang dengan Ir. H. Alief Einstein, M.Hum. dari kafapet-unsoed.com. Kegiatan Sosialisasi Tamyiz 1 dilaksanakan pada Sabtu, 17 Januari 2026, bertempat di Pendopo Sipanji, Kompleks Kantor Bupati Banyumas, dan diikuti oleh 102 peserta. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, namun didominasi oleh pengelola dan anggota RTO-RTO yang berada di wilayah Purwokerto dan sekitarnya. Seluruh RTO tersebut berada di bawah koordinasi RTO Purwokerto yang berpusat di Masjid Agung Baitussalam Purwokerto dan dipimpin oleh Slamet Hartono, SH., yang dikenal sebagai alumni pertama Fakultas Hukum Unsoed.   Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pemaparan dan praktik langsung mengenai tata cara mengajarkan Terjemah Al-Qur’an Metode Tamyiz, sebuah metode pembelajaran yang menekankan optimalisasi fungsi otak kanan. Metode ini dirancang agar proses belajar berlangsung ringan, menyenangkan, dan tidak menimbulkan beban kognitif berlebih. Metode Tamyiz dikenal dengan slogan khas “nggak mikir, nggak ngapal”, di mana peserta cukup menirukan bacaan dengan suara lantang, berirama, dan berulang-ulang. Kaidah-kaidah bahasa Arab yang pada umumnya dianggap sulit, justru dapat dikuasai tanpa terasa karena disampaikan melalui media nyanyian dan pengulangan yang menggembirakan. Ketua Panitia Amaliah Ramadhan 1447 H / 2026 M MAB Purwokerto, Drs. H. Samingan, menjelaskan bahwa pendekatan ini terbukti efektif bagi berbagai kelompok usia. “Kaidah-kaidah yang seharusnya dihafal, dalam Metode Tamyiz justru melekat secara alami. Peserta merasa senang, dan tanpa disadari sudah hafal dengan sendirinya,” ujarnya. Sementara itu, Machfulyono, S.Ag., selaku Ketua Panitia Penyelenggara, menyampaikan bahwa peserta Sosialisasi Tamyiz 1 didominasi oleh RTO-RTO sekitar yang dikoordinir oleh RTO Purwokerto. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang konsolidasi dan penguatan jejaring antar kelompok belajar Tamyiz. Sebelum membuka acara secara resmi, Ketua Takmir Masjid Agung Baitussalam Purwokerto, H. Sudarman, S.Ag., dalam sambutannya menegaskan pentingnya kesungguhan dan kedisiplinan dalam belajar Al-Qur’an. “Belajar Al-Qur’an itu harus dipaksakan dalam arti dilatih untuk disiplin. Apalagi belajar terjemahnya, harus benar-benar bisa istiqamah jika menghendaki hasil yang baik,” tegasnya. Lebih lanjut, H. Sudarman menyampaikan harapannya agar kemanfaatan RTO Purwokerto tidak hanya dirasakan di wilayah kota, tetapi juga mampu menjangkau kabupaten-kabupaten sekitar, seperti Purbalingga, Cilacap, Banjarnegara, bahkan hingga Kebumen. Sebagai informasi, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Sarasehan Tamyiz yang pernah digelar Masjid Agung Baitussalam Purwokerto pada 13 September 2025 di Pendopo Sipanji. Pada kegiatan tersebut, MAB menghadirkan langsung Founder Tamyiz Online Pusat, Ustadzah Luthfiyah, beserta tim. Selain memperkenalkan Metode Tamyiz, pada kesempatan itu juga dibentuk secara resmi RTO Purwokerto. Dalam Sarasehan tersebut ditetapkan susunan pengurus RTO Purwokerto, yakni Ketua Slamet Hartono, SH., Wakil Ketua Drs. HM. Cecep Setiadarma, MM., Sekretaris Machfulyono, S.Ag., Wakil Sekretaris Sudir Mubarok, S.Pd., dan Bendahara Sari Retni Kardiana. Kepengurusan ini kemudian menindaklanjuti program dengan mengikuti TOT Tamyiz 1 di Jakarta selama dua hari. Pada acara Sosialisasi Tamyiz 1, masing-masing RTO diberikan ruang untuk menampilkan kebolehannya dalam menyanyikan lagu-lagu Tamyiz sebagai metode belajar terjemah Al-Qur’an. Suasana kegiatan berlangsung hangat, penuh kekeluargaan, dan sarat semangat kebersamaan. Terlihat pula sejumlah peserta lanjut usia, bahkan ada yang harus berjalan menggunakan tongkat, tetap antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Hal ini menjadi bukti bahwa Metode Tamyiz dapat diterima oleh berbagai kalangan usia tanpa batasan. Saat ini, RTO Purwokerto telah mengoordinir berbagai kelompok belajar Tamyiz di wilayah Purwokerto dan sekitarnya, antara lain RTO Juken, RTO Kalpataru, RTO Purwanegara, RTO Trimurti, serta Sinau Bareng Kanca Tamyiz (SBKT) Ikhwan dan SBKT Akhwat. SBKT sendiri merupakan kelompok belajar terjemah Al-Qur’an Metode Tamyiz yang rutin dilaksanakan di Masjid Agung Baitussalam Purwokerto. Dengan adanya kegiatan Sosialisasi Tamyiz 1 ini, diharapkan terjadi peningkatan signifikan dalam aktivitas pembelajaran terjemah Al-Qur’an menggunakan Metode Tamyiz. Ke depan, tidak menutup kemungkinan akan dibentuk RTO-RTO baru sebagai pusat pembelajaran, sekaligus mendorong masyarakat untuk mengikuti Tamyiz Online secara gratis melalui media WhatsApp. “Harapannya, Metode Tamyiz bisa menjadi jalan yang memudahkan umat untuk belajar, memahami, dan mencintai Al-Qur’an dengan cara yang menyenangkan dan berkelanjutan,” pungkas Slamet Hartono, SH.  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Belajar dari Universitas Muhammadiyah Kupang: Ketika Biskuit Cahaya Menemukan Jalan Ekspansi Peradaban

Belajar dari Universitas Muhammadiyah Kupang: Ketika Biskuit Cahaya Menemukan Jalan Ekspansi Peradaban Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK) adalah sebuah paradoks yang meneduhkan. Ia adalah universitas Islam, lahir dari rahim Muhammadiyah, namun justru dipercaya dan dipilih oleh mayoritas mahasiswa non-Muslim. Di tengah dunia yang sering kali menjadikan identitas agama sebagai batas sosial, UMK tampil sebagai bukti bahwa nilai Islam yang dikelola secara berkemajuan mampu menembus sekat-sekat keyakinan. Pertanyaan yang sering muncul pun sederhana namun mendalam: bagaimana mungkin sebuah universitas Islam bisa dihuni oleh mayoritas mahasiswa non-Muslim? Jawabannya tidak terletak pada strategi pemasaran semata, melainkan pada konsistensi nilai, mutu layanan, dan orientasi kemanusiaan yang dijalankan kampus ini selama bertahun-tahun. UMK tidak menjual simbol Islam secara eksklusif. Ia menghadirkan Islam sebagai etos: kejujuran akademik, profesionalisme pengelolaan, keterbukaan ruang dialog, dan pelayanan pendidikan yang menghormati martabat setiap manusia. Islam tidak dipaksakan sebagai identitas formal, tetapi dihidupkan sebagai nilai peradaban. Di titik inilah kepercayaan publik tumbuh—bahkan dari mereka yang berbeda iman. Pelajaran besar dari UMK inilah yang semestinya menginspirasi lahir dan tumbuhnya produk-produk bisnis Muhammadiyah, termasuk Biskuit Cahaya. Biskuit Cahaya adalah ikhtiar mulia. Ia lahir dari semangat kemandirian ekonomi Aisyiyah Jawa Tengah, membawa pesan halal, bergizi, dan berkemajuan. Namun, sebagaimana UMK, produk ini tidak cukup hanya berdiri sebagai “produk internal umat”. Ia harus melangkah lebih jauh: menjadi produk publik yang diterima lintas identitas, lintas kelas sosial, dan lintas budaya. UMK mengajarkan satu prinsip penting: kepercayaan tidak dibangun oleh identitas, tetapi oleh kualitas. Demikian pula Biskuit Cahaya dan produk-produk Muhammadiyah lainnya. Label halal bukan sekadar simbol religius, melainkan jaminan etika produksi, kebersihan proses, kejujuran bahan, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai ini bersifat universal—diterima oleh siapa pun, apa pun agamanya. Jika UMK mampu menjadi rumah belajar bersama bagi mereka yang berbeda keyakinan, maka produk bisnis Muhammadiyah pun harus mampu menjadi rumah manfaat bersama. Biskuit Cahaya idealnya hadir di meja siapa saja: rumah tangga, kantor, sekolah, komunitas, bahkan ruang publik lintas agama. Bukan karena ia produk Muhammadiyah, tetapi karena ia layak dipilih. Selama ini, Muhammadiyah telah menorehkan sejarah panjang di bidang pendidikan dan kesehatan. Sekolah, universitas, rumah sakit, dan klinik Muhammadiyah berdiri hampir di seluruh penjuru negeri. Keberhasilan ini adalah prestasi besar yang diakui publik. Namun, keberhasilan itu juga menghadirkan tantangan baru: apakah Muhammadiyah akan berhenti di sana? Negeri ini masih menyimpan banyak pekerjaan rumah. Ketahanan pangan yang rapuh, ketergantungan impor, lemahnya industri nasional, minimnya pelaku usaha berbasis nilai, hingga ketimpangan ekonomi struktural—semua ini menunggu kehadiran kekuatan sosial yang berintegritas dan berpengalaman. Muhammadiyah, dengan modal jaringan, sumber daya manusia, dan kepercayaan publik, sejatinya memiliki peluang besar untuk mengambil peran lebih luas. Saatnya kader Muhammadiyah melakukan ekspansi pengabdian terhadap negeri. Bukan dengan meninggalkan dakwah, tetapi dengan memperluas maknanya. Ekonomi, bisnis, pertanian, industri, otomotif, peternakan, energi, teknologi—semua adalah ladang dakwah baru yang menuntut profesionalisme, inovasi, dan keberanian mengambil risiko. Di sinilah Biskuit Cahaya menemukan makna strategisnya. Ia bukan sekadar produk makanan, tetapi simbol awal keberanian. Jika satu produk bisa lahir, tumbuh, dan diterima publik, maka produk lain akan menyusul. Dari biskuit, bisa lahir industri pangan. Dari industri pangan, bisa tumbuh ekosistem pertanian. Dari ekosistem pertanian, terbuka lapangan kerja dan kemandirian ekonomi. Biskuit Cahaya diharapkan sukses, bukan hanya dari sisi penjualan, tetapi sebagai stimulus psikologis dan organisatoris. Ia memberi pesan kepada kader Muhammadiyah: bahwa bisnis bukan wilayah yang asing, bahwa ekonomi bukan ruang yang harus ditakuti, dan bahwa nilai Islam bisa hidup subur di dunia usaha. Dari Universitas Muhammadiyah Kupang, kita belajar bahwa keberagaman bisa dirangkul tanpa kehilangan identitas. Dari Biskuit Cahaya, semoga lahir kesadaran bahwa ekonomi adalah medan jihad peradaban yang tak kalah penting dari pendidikan dan kesehatan. Jika pendidikan dan kesehatan telah menjadi jejak sejarah Muhammadiyah, maka ekonomi, industri, dan bisnis semoga menjadi jejak peradaban Muhammadiyah di masa depan—jejak yang menerangi, seperti cahaya, bagi siapa saja yang disentuhnya. Oleh: SiS | Antarki

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Pelatihan Sehari Menjadi DRIVER Jutawan

Pelatihan Sehari Menjadi DRIVER Jutawan Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Penguatan Gerakan Bela Beli Produk Muhammadiyah Banyumas | Antarkita, 17 Januari 2026 Situasi perekonomian nasional dan daerah saat ini menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Daya beli masyarakat yang menurun, terbatasnya lapangan kerja formal, meningkatnya biaya hidup, serta merosotnya omzet usaha kecil dan menengah menjadi realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat bawah, termasuk warga Persyarikatan Muhammadiyah. Di tengah kondisi tersebut, dibutuhkan ikhtiar nyata dan solutif, bukan sekadar keluhan atau wacana. Ekonomi umat harus dibangun dari kesadaran kolektif, kolaborasi, dan keberanian untuk mengambil peran di tengah keterbatasan. Atas dasar itulah, SAMTOUR, biro Umrah dan Haji milik Muhammadiyah Banyumas, berkolaborasi dengan Antarkita.com, menginisiasi kegiatan bertajuk “Pelatihan Sehari Menjadi DRIVER Jutawan”. Sebuah program pemberdayaan ekonomi umat yang dirancang untuk menjawab tantangan zaman dengan pendekatan yang membumi, aplikatif, dan berorientasi jangka panjang. Dari Driver Menjadi Entrepreneur Pelatihan ini lahir dari kesadaran bahwa profesi driver online, meskipun menjadi solusi ekonomi jangka pendek, memiliki keterbatasan struktural. Pekerjaan ini sangat bergantung pada kondisi fisik yang prima, sementara usia terus bertambah dan kesehatan tidak selalu sejalan dengan tuntutan kerja. Oleh karena itu, driver Antarkita tidak boleh berhenti hanya sebagai driver. Mereka harus dipersiapkan untuk naik kelas—menjadi entrepreneur, pelaku usaha yang mampu memanfaatkan relasi, jaringan, dan kepercayaan konsumen sebagai modal sosial untuk mengembangkan usaha. Dalam pelatihan ini, driver diposisikan sebagai subjek pembangunan ekonomi, bukan sekadar objek aplikasi teknologi. Mereka dibekali mindset kewirausahaan, cara membaca peluang, serta pemahaman bahwa setiap pertemuan dengan konsumen adalah pintu relasi yang berpotensi menjadi peluang bisnis. Driver sebagai Duta Ekonomi Umat Salah satu terobosan penting dalam pelatihan ini adalah peneguhan peran driver Antarkita sebagai duta Umrah SAMTOUR. Para driver diarahkan untuk menjadi agen sosialisasi dan promosi layanan Umrah dan Haji milik Muhammadiyah kepada warga Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, dan simpatisan. Ini bukan sekadar strategi pemasaran, tetapi bagian dari gerakan bela beli produk Muhammadiyah—sebuah sikap sadar untuk menguatkan bisnis milik Persyarikatan agar mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri jasa perjalanan ibadah yang semakin ketat. Dengan semangat dari kita, oleh kita, untuk kita, driver Antarkita diharapkan menjadi ujung tombak yang menghubungkan layanan SAMTOUR dengan jamaah potensial, sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi dirinya sendiri. Waktu, Tempat, dan Narasumber Pelatihan Sehari Menjadi DRIVER Jutawan akan diselenggarakan pada: 🗓 Sabtu, 24 Januari 2026 🕘 Pukul 09.00 – 12.00 WIB 📍 Aula Abu Dardiri, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas Adapun narasumber yang akan mengisi kegiatan ini adalah figur-figur yang berpengalaman langsung di dunia usaha dan pengelolaan ekonomi umat, yaitu: H. Ardani, Direktur SAMTOUR Banyumas H. Latif Muchozin, Ketua Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Banyumas sekaligus pengusaha sukses Keduanya akan berbagi pengalaman, strategi, dan inspirasi bagaimana membangun usaha dari bawah, bertahan di tengah krisis, serta menjadikan nilai-nilai Persyarikatan sebagai fondasi bisnis. Peserta dan Harapan Besar Peserta pelatihan ini berasal dari warga dan simpatisan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Banyumas, khususnya para driver Antarkita dan masyarakat yang memiliki minat kuat untuk meningkatkan kapasitas ekonomi dan kewirausahaan. Pelatihan ini diharapkan: Menumbuhkan mindset entrepreneur di kalangan driver dan warga Muhammadiyah. Menguatkan praktik nyata gerakan bela beli produk Muhammadiyah, bukan sekadar slogan. Menjadi stimulus lahirnya kolaborasi ekonomi di sektor-sektor bisnis Muhammadiyah lainnya. Membangun ekosistem ekonomi umat yang mandiri, berdaulat, dan berkeadilan. Kolaborasi antara SAMTOUR dan Antarkita.com ini menjadi bukti bahwa ekonomi umat bisa dibangun dengan cara sederhana, kolaboratif, dan berkelanjutan, selama ada niat, keberanian, dan kebersamaan. Dari driver, tumbuh entrepreneur. Dari relasi, lahir peluang. Dari bela beli, terbangun kemandirian. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

RIMBAS Latih Puluhan Remaja Membuat Konten Sosial Media

RIMBAS Latih Puluhan Remaja Membuat Konten Sosial Media Isi Isra Mi’raj dengan Dakwah Kreatif dan Literasi Digital Banyumas | Antarkita – 16 Januari 2026 Dalam rangka memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H, RIMBAS (Remaja Islam Masjid Agung Baitusalam) Purwokerto menyelenggarakan Pelatihan Konten Kreator Media Sosial pada Jumat, 16 Januari 2026, bertempat di Masjid Agung Baitusalam, Purwokerto. Kegiatan ini menjadi ikhtiar konkret RIMBAS dalam menghadirkan dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman, khususnya di tengah pesatnya arus digital dan media sosial. Pelatihan ini dirancang sebagai ruang pembelajaran sekaligus praktik bagi remaja dan pemuda agar mampu memanfaatkan media sosial secara produktif, kreatif, dan bertanggung jawab. Tidak hanya berorientasi pada keterampilan teknis, kegiatan ini juga menekankan pentingnya nilai, etika, dan pesan positif dalam setiap konten yang diproduksi. Ketua Pembinaan RIMBAS, Bhayu Subrata, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan konten kreator ini merupakan respons atas realitas bahwa generasi muda hari ini hidup dan tumbuh di ruang digital. “Media sosial adalah ruang dakwah dan ruang ekspresi generasi muda. Karena itu, kami ingin membekali adik-adik dengan pengetahuan dan keterampilan dasar agar mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mampu menjadi kreator konten yang membawa pesan kebaikan,” ujarnya. Bhayu menambahkan bahwa metode pelatihan dirancang dominan praktik agar peserta benar-benar mendapatkan pengalaman langsung. “Sekitar 70 persen materi berupa praktik. Target kami sederhana tapi realistis, setelah pelatihan ini peserta sudah mampu membuat konten video berdurasi 60 detik yang layak tayang dan menarik,” tegasnya. Sementara itu, Takmir Masjid Agung Baitusalam Bidang UPZ, H. Tafip Sudono, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program pra-Ramadhan Masjid Agung Baitusalam. Selain pelatihan konten kreator, masjid juga telah menyiapkan kegiatan Tabelampot (Tanam Cabai dalam Pot) dan Seminar Tamyiz sebagai upaya penguatan spiritual sekaligus pemberdayaan jamaah. “Masjid bukan hanya tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat pembinaan umat, termasuk pembinaan generasi muda agar siap menghadapi tantangan zaman,” jelasnya. Pelatihan ini diikuti oleh sekitar 60 peserta, terdiri dari pelajar SMP/MTs, SMA/SMK/MA, serta pemuda berusia 12 hingga 30 tahun yang memiliki minat pada dunia konten digital. Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan, baik dalam sesi diskusi maupun praktik pembuatan konten. Sebagai pemateri utama, RIMBAS menghadirkan Yusuf, konten kreator muda asal Purwokerto yang dikenal aktif memproduksi konten edukatif dan positif di media sosial. Dalam materinya, Yusuf menekankan bahwa konten yang baik tidak hanya soal visual, tetapi juga soal pesan dan kedekatan dengan audiens. “Konten itu tidak boleh egois. Jangan hanya memikirkan apa yang kita mau, tapi juga apa yang dibutuhkan dan dirasakan oleh penonton,” ujarnya. Ia juga mengingatkan pentingnya narasi dan struktur konten. “Mainkan kata dan narasi. Dan ingat, kunci utama ada di hook, yaitu tiga detik pertama di awal video. Kalau tiga detik awal gagal menarik perhatian, konten sebagus apa pun bisa dilewati,” jelas Yusuf yang juga dikenal sebagai marbot masjid dan aktif menggerakkan dakwah kreatif di kalangan anak muda. Selama pelatihan, peserta diajak memahami dasar-dasar pembuatan konten, mulai dari menentukan ide, menyusun narasi, teknik pengambilan gambar sederhana, hingga simulasi pembuatan video singkat. Suasana pelatihan berlangsung interaktif, dengan peserta aktif bertanya dan berdiskusi. Panitia menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan kegiatan perdana, bukan yang terakhir. Ke depan, RIMBAS berencana mengadakan kelas-kelas lanjutan dengan materi yang lebih mendalam, seperti editing video, storytelling digital, hingga pemanfaatan media sosial untuk dakwah dan pemberdayaan sosial. Melalui kegiatan ini, RIMBAS berharap dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran moral dan sosial dalam bermedia. Media sosial diharapkan menjadi ruang penyebaran pesan kebaikan, inspirasi, dan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan semangat Isra Mi’raj, RIMBAS berkomitmen menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan generasi muda yang religius, kreatif, dan relevan dengan tantangan zaman.  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Tasik Manyala, Sinergitas Tukang Las Jadi Lebih Berkelas

Tasik Manyala, Sinergitas Tukang Las Jadi Lebih Berkelas Pemerintah Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mengambil langkah strategis dalam mendorong peningkatan kelas pelaku usaha bengkel las dan juru las lokal. Melalui Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UMKM Indag), Pemkot Tasikmalaya berkolaborasi dengan Komunitas Bengkel Las Indonesia (KBLI) serta Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman (KAUnsoed) Priangan Timur akan menggelar Silaturahmi Pengusaha Bengkel Las dan Juru Las Kota Tasikmalaya dan sekitarnya. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 4 Februari 2026, mulai pukul 09.00 WIB, bertempat di Gedung PPIK, Jalan Letjen Mashudi, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya. Ketua KAUnsoed Priangan Timur, H. Amran Saefullah, SE., MM., yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tasikmalaya, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan ikhtiar membangun ekosistem usaha bengkel las yang lebih profesional, berdaya saing, dan terorganisasi. “Ini bukan sekadar temu kangen, tetapi ruang silaturahmi produktif untuk menyatukan pengusaha bengkel las, juru las, komunitas, dan pemerintah agar potensi besar yang dimiliki Tasik bisa naik kelas,” ujarnya. Menilik potensi wilayah, Tasikmalaya dan daerah sekitarnya seperti Garut, Ciamis, dan Pangandaran sejak lama dikenal memiliki keunggulan skill pengelasan yang diwariskan secara turun-temurun. Hal tersebut disampaikan Ketua Ikatan Alumni FISIP Unsoed Jabodetabek dan Luar Negeri, Drs. Nirwan Lesmana, SP., dalam bincang-bincang bersama Ir. H. Alief Einstein, M.Hum. dari kafapet-unsoed.com. “Tak sedikit yang memulai dari bengkel las kecil di depan rumah, kini telah berkembang menjadi toko besi besar dan usaha yang mapan,” ungkap Nirwan. Kegiatan awal Februari 2026 ini akan semakin semarak dengan Lomba Seni Daur Ulang Besi Bekas, hasil karya bengkel las dan juru las lokal. Karya terbaik akan mendapatkan hadiah menarik yang diserahkan langsung oleh Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, ST., MBA. Menurut Nirwan, yang juga Staf Khusus Bidang Informasi dan Komunikasi Asosiasi Pengelasan Indonesia (API–IWS), lomba ini menjadi ruang ekspresi kreativitas sekaligus bukti bahwa besi bekas dapat bernilai seni dan ekonomi. Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, menegaskan bahwa potensi sumber daya manusia bidang pengelasan di Tasikmalaya sudah sangat baik dan perlu didorong lebih serius. “Pak Viman ingin menggedor hati para pengusaha dan pekerja bengkel las agar berani memasarkan jasa, meningkatkan skill, dan menghasilkan produk unggulan lokal ‘Urang Tasik’,” ujarnya saat jamuan makan siang bersama panitia. Saat meninjau lokasi kegiatan di Gedung PPIK, Kepala Dinas Indag Kota Tasikmalaya, Sofian Zaenal Mutaqien, S.STP., M.Si., menambahkan bahwa pada acara tersebut juga akan dideklarasikan ‘Welder Club Tasik’. “Cukup dengan foto KTP, siapa pun juru las dan pelaku bengkel las bisa bergabung untuk bersilaturahmi dan berbagi pengalaman,” ujar Ramdhan, S.Pt., MT., Kabid Industri, yang turut mendukung penguatan sektor bengkel las. Sementara itu, Pendiri dan Sekretaris Jenderal KBLI, Nirwan, menambahkan bahwa hasil karya peserta lomba akan dipoles dan ditampilkan pada display produk UMKM, sekaligus dijual secara terbuka kepada masyarakat. “Jangan menunggu semuanya sempurna untuk melangkah. Api besar selalu berawal dari percik api kecil yang barokah,” tegas Nirwan dengan penuh semangat. Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal penguatan sinergi, kolaborasi, dan kebangkitan industri bengkel las lokal. Salam Pijar Silaturahmi, Sinergi, dan Kolaborasi.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Satu Rumah, Satu Cahaya

Satu Rumah, Satu Cahaya Menyalakan Kemandirian dan Kedaulatan Ekonomi Umat dengan Spirit Pasar Rasulullah ﷺ Oleh: Sus Seto Antoro, SE., ELT Direktur Operasional PT Ekonomi Aisyiyah Hasanah Makmur (PT EAHM) PWA Jawa Tengah Banyumas | Antarkita, Januari 2026 Permasalahan ketergantungan ekonomi umat Islam bukanlah persoalan baru. Ia adalah persoalan klasik yang terus berulang lintas generasi. Dalam kehidupan sehari-hari, hampir seluruh kebutuhan pokok umat—dari kebutuhan dapur, sumur, hingga kasur—masih sangat bergantung pada produk dan ekosistem bisnis yang berada di luar kendali umat Islam sendiri. Ketergantungan ini tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga berimplikasi pada hilangnya kedaulatan, melemahnya posisi tawar umat, dan rapuhnya keberlanjutan ekonomi jama’ah. Islam sejatinya tidak pernah mengajarkan ketergantungan. Sejak awal, Islam menempatkan kemandirian ekonomi sebagai bagian integral dari kekuatan umat. Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang sangat konkret. Ketika hijrah ke Madinah, langkah pertama beliau bukan hanya mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar serta membangun masjid, tetapi juga mendirikan pasar umat Islam. Ini menunjukkan bahwa ekonomi adalah pilar penting peradaban, sejajar dengan iman dan ukhuwah. Pasar yang dibangun Rasulullah ﷺ adalah pasar yang bebas dari riba, penimbunan, monopoli, dan kecurangan. Pasar tersebut dibangun di atas nilai keadilan, kejujuran, dan kesetaraan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. Tirmidzi) Pasar dalam pandangan Rasulullah ﷺ bukan sekadar tempat jual beli, melainkan instrumen pembebasan umat dari ketergantungan dan penindasan ekonomi. Inilah spirit besar yang hari ini relevan untuk dihidupkan kembali di tengah tantangan ekonomi global dan dominasi kapital besar. Dalam konteks Muhammadiyah, spirit tersebut sejatinya telah lama diwariskan. Kiai Ahmad Dahlan bukan hanya seorang ulama, tetapi juga saudagar. Muhammadiyah sejak awal berdiri tidak memisahkan dakwah dengan ekonomi. Amal usaha, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, hingga usaha ekonomi adalah bukti bahwa Muhammadiyah memandang kemandirian ekonomi sebagai bagian dari dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Hadirnya Biskuit Cahaya, produk Persyarikatan Muhammadiyah melalui ‘Aisyiyah, adalah kelanjutan dari spirit besar tersebut. Ia bukan sekadar produk konsumsi, melainkan simbol keberanian umat untuk memproduksi, berdiri, dan berdaulat di tengah kompetisi pasar yang sangat ketat. Di tengah dominasi produk-produk raksasa dengan modal besar dan jaringan luas, Biskuit Cahaya hadir membawa nilai, bukan sekadar harga. Namun sejarah juga mengajarkan satu hal penting: produk umat hanya akan hidup jika umatnya sendiri bersedia menghidupkannya. Loyalitas adalah kunci. Tanpa keberpihakan nyata dari warga Muhammadiyah, produk sebaik apa pun akan sulit bertahan. Allah SWT menegaskan: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2) Membeli produk Muhammadiyah bukan sekadar transaksi ekonomi, tetapi ibadah sosial, wujud nyata ukhuwah, dan implementasi ayat tersebut. Di sinilah makna bela beli produk Muhammadiyah menemukan relevansinya: membeli bukan karena kasihan, tetapi karena kesadaran ideologis dan tanggung jawab kolektif. Berangkat dari kesadaran itu, lahirlah gagasan “Satu Rumah, Satu Cahaya”—sebuah langkah strategis yang sederhana, realistis, dan membumi. Gagasan ini dicetuskan oleh Sus Seto Antoro, SE., ELT sebagai Direktur Operasional PT EAHM PWA Jawa Tengah, dengan satu pesan utama: perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara berjama’ah. Jika setiap keluarga Muhammadiyah berkomitmen menghadirkan minimal satu produk Biskuit Cahaya di rumahnya, maka jutaan kaleng akan terserap pasar secara alami. Tidak perlu strategi pemasaran mahal, tidak perlu perang diskon, tidak perlu mengorbankan nilai. Cukup dengan kesadaran, loyalitas, dan ukhuwah ekonomi. Inilah cara Rasulullah ﷺ membangun pasar Madinah: membangun kesadaran umat, menguatkan rasa memiliki, dan menumbuhkan keberpihakan internal. Pasar tumbuh bukan karena iklan, tetapi karena kepercayaan dan solidaritas. “Satu Rumah, Satu Cahaya” bukan sekadar slogan kampanye, melainkan gerakan peradaban. Cahaya itu menyala di meja makan keluarga Muhammadiyah. Cahaya itu menjadi simbol bahwa umat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen. Cahaya itu adalah tanda bahwa ekonomi umat bergerak dari dalam, oleh umat, dan untuk umat. Ketika Cahaya menyala di setiap rumah, maka sesungguhnya Muhammadiyah sedang membangun pasar umat modern dengan spirit Rasulullah ﷺ—pasar yang berdaulat, berkeadilan, dan bermartabat. Dari rumah kita bangun pasar. Dari kebiasaan kecil kita bangun kemandirian. Dari Cahaya, kita nyalakan masa depan umat. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Pendidikan yang Memuliakan: Batik Bebas dan Sepatu Bebas sebagai Dakwah Kultural di SMP Muhammadiyah Purwojati

Pendidikan yang Memuliakan: Batik Bebas dan Sepatu Bebas sebagai Dakwah Kultural di SMP Muhammadiyah Purwojati Banyumas || AntaraKita.com — Bagi Muhammadiyah, pendidikan bukan semata proses pengajaran di ruang kelas, melainkan jalan pencerahan yang memuliakan manusia. Spirit inilah yang terus dihidupkan secara konsisten di SMP Muhammadiyah Purwojati melalui kebijakan pemakaian batik bebas dan sepatu bebas setiap hari Rabu bagi seluruh peserta didik. Sebuah kebijakan yang tampak sederhana, namun sarat makna ideologis, kultural, dan pedagogis. Kebijakan tersebut tidak dimaknai sebagai variasi seragam belaka, melainkan sebagai ikhtiar dakwah kultural yang berakar kuat pada gagasan KH. Ahmad Dahlan tentang pendidikan yang membebaskan, memanusiakan, dan menyinergikan iman dengan realitas kehidupan. Sekolah tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi membangun kesadaran, kepekaan sosial, serta menumbuhkan kecintaan pada nilai-nilai kebajikan yang hidup di tengah masyarakat. Sejak awal berdirinya, pendidikan Muhammadiyah tidak diarahkan untuk mencetak kepatuhan administratif semata. KH. Ahmad Dahlan merintis sekolah sebagai ruang pembebasan dari kebodohan, kemiskinan berpikir, dan ketakutan untuk berijtihad. Pendidikan menjadi medium tajdid—pembaruan cara pandang—agar Islam hadir sebagai kekuatan pencerah yang membumi, kontekstual, dan berkemajuan. Karena itu, setiap kebijakan sekolah sejatinya merupakan pernyataan ideologis, bukan sekadar keputusan teknis manajerial. Di SMP Muhammadiyah Purwojati, kebijakan batik bebas menjadi simbol nyata dakwah kultural tersebut. Islam Berkemajuan tidak menafikan budaya, melainkan menyaring, memuliakan, dan mengarahkannya agar sejalan dengan nilai tauhid, akhlak, dan kebangsaan. Batik dipahami bukan sekadar busana, melainkan identitas kultural bangsa yang perlu dirawat dan diinternalisasi sejak dini melalui ruang pendidikan. Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati, Nur Khasbi, S.H.I., M.M., menegaskan bahwa kebijakan batik bebas dan sepatu bebas dirancang sebagai bagian dari pendidikan karakter yang menyenangkan, inklusif, dan menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. “Batik bebas kami maknai sebagai upaya menumbuhkan kesadaran bahwa Islam tidak bertentangan dengan budaya. Justru melalui budaya, nilai-nilai Islam dapat ditanamkan secara halus dan membahagiakan. Ini juga bagian dari pendidikan karakter dan penguatan kepercayaan diri peserta didik,” ujar Nur Khasbi yang juga Sekretaris PCM Baturraden. Dampak kebijakan ini dirasakan langsung oleh para siswa. Mufida Aulia Zahra, siswi kelas VIII, mengaku lebih nyaman dan percaya diri mengikuti pembelajaran setiap hari Rabu. “Kalau pakai batik bebas rasanya lebih santai, tapi tetap sopan. Kami jadi lebih berani tampil, tidak merasa dibeda-bedakan, dan suasana belajar terasa lebih menyenangkan,” tuturnya. Sementara itu, kebijakan sepatu bebas ditempatkan dalam bingkai adab, empati, dan kesetaraan sosial. Spirit kebijakan ini sejalan dengan keteladanan KH. AR Fakhruddin, tokoh besar Muhammadiyah yang menekankan kesederhanaan, kepekaan sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Melalui kebijakan ini, siswa diajak memahami bahwa setiap anak datang dari latar belakang ekonomi dan sosial yang beragam, dan sekolah adalah ruang bersama yang memuliakan semuanya tanpa kecuali. Vicky Gonzales, siswa kelas VII B, mengaku merasa senang dan bahagia dengan kebijakan tersebut. “Sekolah jadi terasa lebih santai dan tidak kaku. Kami bisa mengekspresikan diri, tapi tetap diajarkan rapi, sopan, dan saling menghargai,” ungkapnya. Setiap hari Rabu, suasana SMP Muhammadiyah Purwojati pun menjadi lebih cair dan dialogis. Ragam motif batik yang dikenakan siswa menghiasi ruang-ruang kelas, menciptakan atmosfer pembelajaran yang hangat, inklusif, dan penuh kegembiraan. Di ruang inilah pendidikan berkemajuan menemukan wujud praksisnya: membahagiakan, memerdekakan, sekaligus mendisiplinkan dengan kesadaran nilai. Melalui ikhtiar sederhana namun sarat makna ini, SMP Muhammadiyah Purwojati menegaskan kembali pesan para pendiri Muhammadiyah bahwa pendidikan adalah dakwah paling sunyi, namun paling berpengaruh. Dari ruang kelas yang ramah dan memuliakan manusia inilah, peradaban Islam Berkemajuan ditumbuhkan—pelan, konsisten, dan penuh kesadaran sejarah. (Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya)

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Ikhtiar SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto Menyalakan Pendidikan Berkemajuan di Era Digital

Ikhtiar SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto Menyalakan Pendidikan Berkemajuan di Era Digital Purwokerto–Banyumas || AntaraKita.com — SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto menggelar Workshop Penguatan Kompetensi Guru selama dua hari, Rabu–Kamis (14–15 Januari 2026), bertempat di lingkungan sekolah, Jl. Gerilya Barat Gang II, Tanjung, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas. Kegiatan ini menjadi ikhtiar strategis sekolah dalam menyalakan pendidikan berkemajuan di tengah derasnya akselerasi digital. Workshop yang diikuti seluruh pendidik ini mengusung tema “Digitalisasi Pembelajaran untuk Mewujudkan Proses Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Bermakna, dan Berpusat pada Murid.” Tema tersebut menegaskan komitmen SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus tetap berpijak kokoh pada nilai-nilai Pendidikan Muhammadiyah. Lebih dari sekadar pelatihan teknis, workshop ini menjadi ruang refleksi kolektif bagi para guru Muhammadiyah dalam merespons tantangan pendidikan kontemporer. Digitalisasi pembelajaran diposisikan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai wasilah untuk memerdekakan belajar, menghidupkan interaksi edukatif, serta menumbuhkan makna dalam proses pendidikan. Kepala SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto, Yuni Prihartini, M.Pd., dalam sambutan pengantarnya menegaskan bahwa guru Muhammadiyah dituntut untuk terus bertransformasi tanpa kehilangan ruh dakwah dan semangat tajdid. Menurutnya, peningkatan kompetensi guru merupakan bentuk pengabdian kepada Persyarikatan sekaligus ikhtiar menjaga sekolah Muhammadiyah sebagai benteng nilai dan pusat inovasi. “Digitalisasi pembelajaran adalah upaya menghadirkan proses pendidikan yang lebih bermakna, agar iman, ilmu, dan amal dapat berpadu dalam praksis pendidikan berkemajuan. Inilah misi pendidikan yang diwariskan KH. Ahmad Dahlan,” ujarnya. Workshop ini menghadirkan Didit Ariyanto Arifin, M.Pd., Pengawas Majelis Dikdasmen & PNF PDM Banyumas, sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, Didit menekankan pentingnya literasi digital yang dilandasi kesadaran pedagogis dan nilai kemanusiaan. Ia mengajak para guru memandang teknologi sebagai ruang dialog baru antara pendidik dan murid. “Teknologi akan bermakna ketika digunakan untuk membangun interaksi, kolaborasi, dan pengalaman belajar yang memerdekakan. Tanpa kesadaran nilai, teknologi justru bisa menjauhkan manusia dari hakikat pendidikan,” tuturnya. Suasana workshop berlangsung dinamis dan partisipatif. Para guru tampak antusias mempraktikkan materi dengan perangkat digital masing-masing, berdiskusi, serta saling berbagi praktik baik pembelajaran. Ruang-ruang kelas diatur secara kolaboratif, mencerminkan semangat pembelajaran aktif yang menjadi ruh pendidikan Muhammadiyah. Salah satu peserta, Kurnia Widiasih, S.Pd.I., menilai workshop ini membuka perspektif baru tentang peran guru di era digital. “Kami diingatkan bahwa teknologi dapat membuat kelas lebih hidup dan bermakna selama digunakan dengan niat mendidik dan menanamkan nilai. Digitalisasi bukan tujuan akhir, tetapi sarana dakwah kultural,” ungkap Guru Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab tersebut. Hal senada disampaikan Agus Salim, S.Pd.Si., Guru Matematika. Ia merasakan langsung manfaat digitalisasi dalam menyederhanakan konsep-konsep abstrak agar lebih mudah dipahami siswa. “Pembelajaran menjadi lebih dialogis dan kontekstual. Namun kami juga diingatkan bahwa teknologi hanyalah alat; ruh pendidikan tetap terletak pada kesadaran nilai dan tanggung jawab moral guru,” ujarnya. Workshop ini meneguhkan kembali peran guru Muhammadiyah sebagai agen perubahan di ruang kelas. Tidak hanya menguasai materi dan teknologi, tetapi juga menjaga orientasi pendidikan pada pembentukan karakter, kesadaran ideologis, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dari ruang kelas yang terus bertransformasi, SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto menyalakan ikhtiar pendidikan berkemajuan—mengolah teknologi dengan nurani, merawat ilmu dengan adab, dan menyiapkan generasi yang siap menyinari zamannya. (Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya)

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Pelatihan Sehari Menjadi   DRIVER JUTAWAN**

*Pertama dan Satu-Satunya di Dunia* Pelatihan Sehari Menjadi DRIVER JUTAWAN** Pernahkah Anda berpikir, mengapa di banyak platform driver harus terus berjuang, tetapi hasilnya sering terasa tidak sebanding? Di tempat lain, driver bekerja keras dengan potongan aplikasi, mengejar target harian, dan tetap berada di posisi yang sama. Lalu muncul pertanyaan yang jarang dibahas: apakah sistem seperti ini akan sanggup menopang hidup hingga usia lanjut? Tidak ada seorang pun yang bercita-cita menjadi driver seumur hidup. Kita semua tahu kenyataannya—usia terus bertambah, sementara kesehatan tidak selalu bisa dipaksakan. Jika suatu hari tenaga berkurang, dari mana penghasilan akan bertahan? Inilah titik baliknya. ANTARKITA.com bersama SamTour (Biro Umroh Muhammadiyah Banyumas) hadir membawa pendekatan yang berbeda. Di sini, driver bukan sekadar pelaksana layanan, tetapi gerbang awal untuk berkembang. Setiap perjalanan adalah relasi. Setiap relasi menyimpan peluang. Dan peluang itu bisa diarahkan menjadi jalan menuju kewirausahaan. Melalui Pelatihan Sehari “Menjadi Driver Jutawan”, Anda akan diajak mengubah cara pandang: dari sekadar bekerja di sistem, menjadi membangun masa depan melalui jaringan dan peluang bisnis. Belajar melihat profesi driver sebagai entry point, bukan garis akhir. Sekarang pertanyaannya sederhana namun penting: jika hari ini Anda masih sehat dan aktif, apakah Anda ingin tetap berada di titik yang sama lima atau sepuluh tahun ke depan? 📌 Catat Waktunya & Daftar Segera Kuota tempat duduk terbatas 🎯 GRATIS khusus Driver ANTARKITA.com 🗓 Sabtu, 24 Januari 2026.                        ⏰ Pukul 09.00 – 12.00.                              📍 Aula Abu Dardiri 📞 Pendaftaran:                                          0851-2262-5529 Karena bersama ANTARKITA.com dan SamTour, driver bukan akhir perjuangan—driver adalah pintu menuju kemandirian dan kesejahteraan.

Scroll to Top