You are currently viewing Satu Rumah, Satu Cahaya

Satu Rumah, Satu Cahaya

Satu Rumah, Satu Cahaya

Menyalakan Kemandirian dan Kedaulatan Ekonomi Umat dengan Spirit Pasar Rasulullah ﷺ

Oleh: Sus Seto Antoro, SE., ELT

Direktur Operasional PT Ekonomi Aisyiyah Hasanah Makmur (PT EAHM) PWA Jawa Tengah

Banyumas | Antarkita, Januari 2026

Permasalahan ketergantungan ekonomi umat Islam bukanlah persoalan baru. Ia adalah persoalan klasik yang terus berulang lintas generasi. Dalam kehidupan sehari-hari, hampir seluruh kebutuhan pokok umat—dari kebutuhan dapur, sumur, hingga kasur—masih sangat bergantung pada produk dan ekosistem bisnis yang berada di luar kendali umat Islam sendiri. Ketergantungan ini tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga berimplikasi pada hilangnya kedaulatan, melemahnya posisi tawar umat, dan rapuhnya keberlanjutan ekonomi jama’ah.

Islam sejatinya tidak pernah mengajarkan ketergantungan. Sejak awal, Islam menempatkan kemandirian ekonomi sebagai bagian integral dari kekuatan umat. Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang sangat konkret. Ketika hijrah ke Madinah, langkah pertama beliau bukan hanya mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar serta membangun masjid, tetapi juga mendirikan pasar umat Islam. Ini menunjukkan bahwa ekonomi adalah pilar penting peradaban, sejajar dengan iman dan ukhuwah.

Pasar yang dibangun Rasulullah ﷺ adalah pasar yang bebas dari riba, penimbunan, monopoli, dan kecurangan. Pasar tersebut dibangun di atas nilai keadilan, kejujuran, dan kesetaraan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada.”

(HR. Tirmidzi)

Pasar dalam pandangan Rasulullah ﷺ bukan sekadar tempat jual beli, melainkan instrumen pembebasan umat dari ketergantungan dan penindasan ekonomi. Inilah spirit besar yang hari ini relevan untuk dihidupkan kembali di tengah tantangan ekonomi global dan dominasi kapital besar.

Dalam konteks Muhammadiyah, spirit tersebut sejatinya telah lama diwariskan. Kiai Ahmad Dahlan bukan hanya seorang ulama, tetapi juga saudagar. Muhammadiyah sejak awal berdiri tidak memisahkan dakwah dengan ekonomi. Amal usaha, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, hingga usaha ekonomi adalah bukti bahwa Muhammadiyah memandang kemandirian ekonomi sebagai bagian dari dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Hadirnya Biskuit Cahaya, produk Persyarikatan Muhammadiyah melalui ‘Aisyiyah, adalah kelanjutan dari spirit besar tersebut. Ia bukan sekadar produk konsumsi, melainkan simbol keberanian umat untuk memproduksi, berdiri, dan berdaulat di tengah kompetisi pasar yang sangat ketat. Di tengah dominasi produk-produk raksasa dengan modal besar dan jaringan luas, Biskuit Cahaya hadir membawa nilai, bukan sekadar harga.

Namun sejarah juga mengajarkan satu hal penting: produk umat hanya akan hidup jika umatnya sendiri bersedia menghidupkannya. Loyalitas adalah kunci. Tanpa keberpihakan nyata dari warga Muhammadiyah, produk sebaik apa pun akan sulit bertahan.

Allah SWT menegaskan:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”

(QS. Al-Ma’idah: 2)

Membeli produk Muhammadiyah bukan sekadar transaksi ekonomi, tetapi ibadah sosial, wujud nyata ukhuwah, dan implementasi ayat tersebut. Di sinilah makna bela beli produk Muhammadiyah menemukan relevansinya: membeli bukan karena kasihan, tetapi karena kesadaran ideologis dan tanggung jawab kolektif.

Berangkat dari kesadaran itu, lahirlah gagasan “Satu Rumah, Satu Cahaya”—sebuah langkah strategis yang sederhana, realistis, dan membumi. Gagasan ini dicetuskan oleh Sus Seto Antoro, SE., ELT sebagai Direktur Operasional PT EAHM PWA Jawa Tengah, dengan satu pesan utama: perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara berjama’ah.

Jika setiap keluarga Muhammadiyah berkomitmen menghadirkan minimal satu produk Biskuit Cahaya di rumahnya, maka jutaan kaleng akan terserap pasar secara alami. Tidak perlu strategi pemasaran mahal, tidak perlu perang diskon, tidak perlu mengorbankan nilai. Cukup dengan kesadaran, loyalitas, dan ukhuwah ekonomi.

Inilah cara Rasulullah ﷺ membangun pasar Madinah: membangun kesadaran umat, menguatkan rasa memiliki, dan menumbuhkan keberpihakan internal. Pasar tumbuh bukan karena iklan, tetapi karena kepercayaan dan solidaritas.

“Satu Rumah, Satu Cahaya” bukan sekadar slogan kampanye, melainkan gerakan peradaban. Cahaya itu menyala di meja makan keluarga Muhammadiyah. Cahaya itu menjadi simbol bahwa umat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen. Cahaya itu adalah tanda bahwa ekonomi umat bergerak dari dalam, oleh umat, dan untuk umat.

Ketika Cahaya menyala di setiap rumah, maka sesungguhnya Muhammadiyah sedang membangun pasar umat modern dengan spirit Rasulullah ﷺ—pasar yang berdaulat, berkeadilan, dan bermartabat.

Dari rumah kita bangun pasar.

Dari kebiasaan kecil kita bangun kemandirian.

Dari Cahaya, kita nyalakan masa depan umat.

SiS, Antarkita

Tinggalkan Balasan