Antarkita

Ruang Kita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Gerakan Pelayanan Sosial, Muhammadiyah Banyumas Bangun 17 Posko MudikMu untuk Pemudik Lebaran 2026 

Gerakan Pelayanan Sosial, Muhammadiyah Banyumas Bangun 17 Posko MudikMu untuk Pemudik Lebaran 2026 Banyumas ~ antarkita.com || Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas, KH. Drs. M. Djohar, M.Pd resmi membuka Posko MudikMu Muhammadiyah Banyumas yang digagas oleh Pemuda Muhammadiyah bersama Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) Suryakusuma di halaman Masjid Abu Hasan Tinggarjaya, Jatilawang, Sabtu (14/3/2026).   Dalam sambutannya, Djohar menilai keberadaan posko tersebut merupakan bentuk nyata pelayanan Muhammadiyah kepada masyarakat, khususnya para pemudik yang melintas di jalur selatan Kabupaten Banyumas. “Posko ini adalah bentuk pelayanan Muhammadiyah kepada masyarakat. Kami berharap keberadaan posko ini tidak hanya membantu para pemudik yang sedang melakukan perjalanan jauh, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum yang membutuhkan tempat beristirahat,” ujarnya. Menurut Djohar, meningkatnya arus kendaraan saat musim mudik membuat keberadaan posko pelayanan masyarakat menjadi sangat penting, terutama di jalur-jalur utama yang dilalui pemudik.   Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Banyumas, Subhan Purno Aji, S.IP., M.A, menyampaikan bahwa Posko MudikMu AMAN merupakan bentuk pengabdian Pemuda Muhammadiyah kepada masyarakat. “Posko MudikMu ini adalah wujud nyata kepedulian Pemuda Muhammadiyah dan KOKAM Suryakusuma untuk melayani masyarakat. Kami ingin memastikan para pemudik yang melintas di wilayah Banyumas dapat beristirahat dengan aman dan nyaman,” kata Subhan.   Ia menjelaskan, pada tahun ini Muhammadiyah Banyumas mendirikan 17 titik Posko MudikMu yang tersebar di sejumlah wilayah strategis di Kabupaten Banyumas. Posko-posko tersebut tidak hanya menyediakan tempat istirahat bagi pemudik, tetapi juga memberikan berbagai layanan seperti informasi perjalanan, bantuan darurat, hingga layanan kesehatan sederhana. Adapun 17 titik Posko MudikMu Muhammadiyah Banyumas meliputi wilayah Pekuncen, Ajibarang, Lumbir, Wangon, Jatilawang, Rawalo, Patikraja, Kalibagor, Kemranjen, Sumpiuh, Cilongok, Purwokerto Utara, Purwokerto Barat, Purwokerto Selatan, Sumbang, Kampus 2 UMP Sokaraja, dan Sokaraja. Kehadiran Posko MudikMu Muhammadiyah di wilayah Kabupaten Banyumas juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari BAZNAS Banyumas yang menilai posko tersebut sebagai bentuk pelayanan sosial bagi masyarakat selama arus mudik Lebaran. Perwakilan BAZNAS Banyumas, H. M. Ridwan, M.Pd, menyampaikan apresiasi kepada Pemuda Muhammadiyah dan KOKAM Suryakusuma Banyumas yang telah menginisiasi pendirian Posko MudikMu di berbagai titik di Banyumas. “Posko MudikMu ini merupakan bentuk pelayanan umat yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Kami dari BAZNAS Banyumas tentu memberikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan oleh Pemuda Muhammadiyah dan KOKAM Suryakusuma,” ujar Ridwan. Menurutnya, keberadaan posko tersebut menunjukkan kepedulian organisasi masyarakat dalam membantu para pemudik yang melakukan perjalanan jauh saat musim Lebaran. Selain menyediakan tempat beristirahat, posko juga memberikan rasa aman dan nyaman bagi para pengguna jalan yang melintas di wilayah Banyumas. Ridwan menambahkan, BAZNAS Banyumas mendukung berbagai kegiatan sosial yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi antara lembaga filantropi dan organisasi kemasyarakatan dalam melayani umat. “Kami siap mendukung kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan Muhammadiyah demi kemaslahatan masyarakat luas,” pungkasnya. Dengan hadirnya 17 Posko MudikMu di berbagai titik strategis di Kabupaten Banyumas, Muhammadiyah melalui Pemuda Muhammadiyah dan KOKAM Suryakusuma menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan nyata kepada masyarakat. Kehadiran posko ini diharapkan tidak hanya membantu para pemudik untuk beristirahat dengan aman dan nyaman, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong serta kepedulian sosial dalam melayani umat, khususnya pada momentum mudik Lebaran (Tarqum Aziz – JurnalisMu).

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto Gelar Pekan Dakwah Ramadan,

SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto Gelar Pekan Dakwah Ramadan, Siswa Aktif di Masjid, TPQ, MI dan Masyarakat Kecamatan Karanglewas, Banyumas. Banyumas ~ antarkita.com|| Malam Ramadan di halaman Masjid Baitul Hikmah, Karanglewas Kidul, terasa berbeda. Ratusan warga dan simpatisan Muhammadiyah dari berbagai penjuru Kecamatan Karanglewas berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan untuk menyaksikan penampilan HadrohMu serta pagelaran Wayang 1 Jaman yang sarat pesan dakwah, Sabtu (14/3/2026).   Pagelaran tersebut menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian Pekan Dakwah Ramadan 2026 yang diselenggarakan oleh SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto setelah berlangsung selama sepekan penuh di tengah masyarakat.   Sejak 9 hingga 14 Maret 2026, sebanyak 38 siswa diterjunkan langsung ke tujuh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) di wilayah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Karanglewas, yakni Karanglewas Kidul, Pasir Wetan, Karanggude, Karangkemiri, Margasari, Singasari, dan Damaraja. Mereka tidak sekadar hadir sebagai peserta kegiatan, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Para siswa berdakwah di masjid dan musala, menjadi imam salat tarawih, mengajar di TPQ, serta membantu kegiatan pendidikan di sekolah dasar dan madrasah. Ketua Panitia Pekan Dakwah Ramadan 2026, KH. Sugeng, S.Ag., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran dakwah yang nyata bagi para siswa. “Pekan Dakwah ini bukan hanya kegiatan seremonial. Kami ingin para siswa belajar langsung dari masyarakat. Mereka menjadi imam salat tarawih di 17 masjid dan musala, mengajar di SD, MI, dan TPQ, sekaligus berinteraksi dengan masyarakat,” ujarnya. Tidak hanya dakwah, kegiatan ini juga diwarnai aksi sosial yang menyentuh masyarakat. Panitia menggelar bazar murah serta menyalurkan 130 paket sembako kepada warga di tujuh ranting Muhammadiyah di wilayah Cabang Karanglewas: Karanglewas Kidul, Pasir Wetan, Karanggude, Karangkemiri, Margasari, Singasari, dan Damaraja. Melalui kegiatan tersebut, para siswa ditempa bukan hanya dalam aspek keilmuan, tetapi juga dalam kepedulian sosial dan kepemimpinan. Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Karanglewas, H.Nardjo, S.Pd.I menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya atas keterlibatan para siswa yang telah menghidupkan suasana dakwah di tengah masyarakat. “Kami sangat bersyukur dan bangga. Selama sepekan, kehadiran para siswa telah memberikan warna baru bagi kehidupan dakwah di Karanglewas. Mereka bukan hanya belajar, tetapi juga memberi inspirasi bagi masyarakat,” katanya. Ia menilai kemampuan para siswa dalam mengajar di TPQ, menjadi imam salat, hingga menyampaikan kultum di masjid menunjukkan bahwa proses kaderisasi di lingkungan sekolah berjalan dengan baik. Puncak kegiatan ditandai dengan pengajian akbar bertajuk Wayang 1 Jaman yang dibawakan oleh Ustadz Dalang Imam Suyanto, S.Ag., M.Pd. Melalui seni wayang, pesan-pesan dakwah disampaikan dengan pendekatan budaya yang memadukan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal Jawa. Dalam pagelaran tersebut, kisah-kisah kehidupan dan nilai moral disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan masyarakat, membuat dakwah terasa ringan namun penuh makna. Ki Dalang Imam Suyanto menegaskan bahwa sinergi antara Amal Usaha Muhammadiyah dan pimpinan Muhammadiyah di tingkat cabang maupun ranting merupakan ruang strategis untuk membina generasi muda. “Sinergi antara AUM dan PCM-PRM dan Warga Persyarikatan Muhammadiyah di Kecamatan Karanglewas ini menjadi wadah untuk menyiapkan generasi muda sebagai calon juru dakwah Muhammadiyah, agar nilai-nilai Islam Berkemajuan terus hadir di tengah masyarakat secara menggembirakan, mencerahkan, dan memberdayakan,” ungkap Kepala SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto. Bagi para siswa, Pekan Dakwah Ramadan bukan sekadar program sekolah, melainkan pengalaman hidup yang membentuk karakter. Di tengah masyarakat, mereka belajar tentang kepemimpinan, pengabdian, dan arti dakwah yang sesungguhnya. Malam itu, di bawah cahaya lampu panggung dan lantunan shalawat HadrohMu yang dibawakan oleh siswa SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto, dakwah tidak hanya disampaikan lewat mimbar. Ia hadir melalui budaya, kebersamaan, dan semangat generasi muda yang siap melanjutkan estafet perjuangan Islam Berkemajuan (Tarqum Aziz – JurnalisMu).

Prespektif, Ruang Kita

Di Tengah Paradoks Bangsa, Saatnya Bersujud Kepada Allah

Di Tengah Paradoks Bangsa, Saatnya Bersujud Kepada Allah Oleh SiS Antarkita Bangsa Indonesia sering menghadirkan banyak paradoks yang membuat kita merenung. Negeri ini dikenal sebagai negeri yang sangat kaya. Kekayaan alamnya luar biasa. Tanahnya subur, lautnya luas, hutan tropisnya termasuk yang terbesar di dunia, dan perut buminya menyimpan berbagai sumber daya alam yang bernilai tinggi. Banyak ahli bahkan menyebut Indonesia sebagai negeri yang dianugerahi kekayaan alam yang sangat melimpah. Dari minyak, gas, batubara, nikel, emas, hingga kekayaan laut dan pertanian yang tidak sedikit negara lain iri terhadapnya. Namun di sisi lain, kita juga menyaksikan kenyataan yang tidak mudah dijelaskan oleh logika sederhana. Di tengah kekayaan alam yang begitu luar biasa, kehidupan sebagian rakyat masih diliputi kemiskinan. Banyak keluarga yang harus bekerja keras hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Banyak pedagang kecil yang bertahan dari hari ke hari dengan penghasilan yang tidak menentu. Banyak pekerja yang harus berjuang di tengah ketidakpastian ekonomi. Paradoks ini sering menjadi bahan perenungan banyak orang: bagaimana mungkin negeri yang begitu kaya masih memiliki begitu banyak rakyat yang hidup dalam kesulitan? Di kota-kota besar kita melihat gedung-gedung megah menjulang tinggi, pusat perbelanjaan yang modern, dan berbagai simbol kemajuan ekonomi. Namun di sudut-sudut lain, masih banyak rakyat yang berjuang keras mempertahankan kehidupannya. Seolah negeri ini memiliki kekayaan yang besar, tetapi kesejahteraan belum sepenuhnya mengalir secara adil kepada seluruh rakyatnya. Paradoks berikutnya juga tidak kalah menyentuh hati. Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia. Masjid berdiri hampir di setiap kampung dan kota. Suara adzan berkumandang lima kali sehari mengingatkan manusia untuk kembali kepada Allah. Kegiatan pengajian, majelis taklim, dan berbagai aktivitas keagamaan hidup di tengah masyarakat. Ramadhan datang setiap tahun dengan suasana religius yang begitu kuat. Masjid penuh dengan jamaah. Orang-orang berlomba memperbanyak ibadah, bersedekah, dan membantu sesama. Namun di saat yang sama, kita juga menyaksikan fenomena yang sering menimbulkan kegelisahan. Korupsi masih merajalela. Berbagai kasus korupsi terus muncul dari waktu ke waktu. Banyak pejabat yang seharusnya menjadi penjaga amanah rakyat justru terseret dalam praktik penyalahgunaan kekuasaan. Dana yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan masyarakat sering kali justru diselewengkan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Inilah paradoks yang sering membuat hati bertanya: bangsa dengan umat Islam terbesar di dunia, tetapi korupsi masih menjadi penyakit yang sulit diberantas. Seolah ada jarak antara ajaran agama yang diyakini dengan perilaku yang terjadi dalam kehidupan nyata. Selain itu, kehidupan bangsa ini juga sering diwarnai dengan berbagai bentuk hipokrisi sosial. Banyak orang berbicara tentang moralitas, tetapi dalam praktik kehidupan tidak selalu mudah menjaga integritas. Di ruang publik sering terdengar pidato tentang keadilan, tetapi di lapangan tidak selalu mudah menemukan keadilan itu benar-benar dirasakan oleh semua pihak. Semua ini menunjukkan bahwa persoalan bangsa Indonesia tidak sederhana. Permasalahan yang kita hadapi sangat kompleks dan saling berkaitan. Ia menyangkut persoalan sistem ekonomi, tata kelola kekuasaan, budaya politik, hingga kualitas moral dan spiritual masyarakatnya. Dalam kondisi seperti ini, tidak sedikit orang yang merasa lelah dan pesimis. Seolah-olah perubahan yang diharapkan selalu berjalan sangat lambat. Namun sebagai bangsa yang memiliki keyakinan kepada Allah, kita tidak boleh kehilangan satu hal yang sangat penting: harapan dan keimanan. Karena pada akhirnya manusia hanyalah makhluk yang memiliki keterbatasan. Manusia bisa berusaha sebaik mungkin, tetapi tidak semua hal berada dalam kendalinya. Di sinilah letak pentingnya kesadaran spiritual. Di tengah segala kerumitan persoalan bangsa ini, kita perlu kembali menundukkan hati kepada Allah SWT. Hanya kepada Allah SWT kita memohon ampunan, atas segala kesalahan yang mungkin telah dilakukan—baik oleh kita sebagai individu, oleh masyarakat, maupun oleh para pemimpin yang diberi amanah. Hanya kepada Allah kita memohon hidayah, agar bangsa ini diberikan petunjuk untuk menemukan jalan yang lebih benar, lebih jujur, dan lebih adil dalam menjalani kehidupan berbangsa. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan, karena tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada pertolongan-Nya. Dan hanya kepada Allah kita berharap rahmat-Nya, agar negeri ini tetap diberi keberkahan, kedamaian, dan masa depan yang lebih baik. Momentum bulan Ramadhan 1447 Hijriah menjadi waktu yang sangat tepat untuk melakukan muhasabah bersama. Ramadhan bukan hanya bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga bulan untuk membersihkan hati, memperbaiki niat, dan memperkuat hubungan dengan Allah. Ramadhan mengajarkan manusia untuk kembali kepada nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan, kepedulian sosial, dan ketakwaan. Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi fondasi bagi kehidupan bangsa yang lebih bermartabat. Jika nilai-nilai Ramadhan benar-benar hidup dalam kehidupan sehari-hari, maka korupsi akan semakin dijauhi, keadilan akan lebih dijaga, dan kepedulian terhadap sesama akan semakin tumbuh. Semoga di bulan Ramadhan 1447 Hijriah ini Allah SWT menurunkan ampunan, hidayah, pertolongan, dan rahmat-Nya untuk bangsa Indonesia. Semoga para pemimpin negeri ini diberi kejujuran dan amanah dalam menjalankan tanggung jawabnya. Semoga rakyat diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dan semoga bangsa ini mampu menemukan jalan menuju kehidupan yang lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih diridhai oleh Allah SWT. Karena pada akhirnya, di tengah segala paradoks dan kompleksitas kehidupan bangsa ini, satu harapan yang tidak boleh hilang adalah: kembali bersandar kepada Allah SWT. SiS Antarkita

Hunian Kita, Properti, Ruang Kita

DISKON HINGGA 50%

🔥 CUCI GUDANG FURNITURE BESAR-BESARAN! 🔥 DISKON HINGGA 50%   Saatnya mempercantik rumah dengan meubel berkualitas harga super hemat! Berbagai pilihan furniture murah meriah siap dibawa pulang: 🪑 Kursi Tamu 🛋 Sofa 🍽 Meja Makan 👔 Lemari Pakaian 🪟 Bufet 🪑 Dan berbagai meubel lainnya   Semua dijual dengan harga cuci gudang, diskon hingga 50%! Stok terbatas, siapa cepat dia dapat! 📍 Lokasi: Depan Perumahan Kedung Wringin 📲 WA: 0851-2262-5529 💥 Kesempatan langka! Furniture bagus, harga bersahabat, rumah makin nyaman. Buruan datang sebelum kehabisan!

Prespektif, Ruang Kita

Rahmat Allah Sebagai Tujuan

🌿 Rahmat Allah Sebagai Tujuan Oleh SiS Antarkita Dalam perjalanan hidup manusia, hampir semua orang memiliki tujuan. Ada yang mengejar kekayaan agar hidup lebih nyaman. Ada yang mengejar jabatan agar dihormati. Ada yang membangun usaha agar masa depan keluarga lebih terjamin. Semua itu adalah bagian dari ikhtiar manusia untuk menjalani kehidupan di dunia. Namun bagi seorang mukmin, ada satu tujuan yang jauh lebih tinggi dari semua itu: mengharap rahmat Allah. Karena sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah perjalanan yang sementara. Segala yang kita miliki hari ini suatu saat akan kita tinggalkan. Harta, jabatan, dan kekuasaan tidak akan ikut menemani manusia ketika kembali kepada Allah. Yang tersisa hanyalah amal dan rahmat Allah. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218) Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman tidak menjalani hidup tanpa arah. Mereka memiliki tujuan yang jelas: mendapatkan rahmat Allah. Untuk mencapai tujuan itu, mereka melakukan tiga hal penting. Pertama, beriman kepada Allah. Iman adalah fondasi kehidupan seorang mukmin. Dengan iman, manusia memahami bahwa hidup ini bukan sekadar perjalanan dunia, tetapi juga perjalanan menuju kehidupan akhirat. Kedua, berhijrah. Hijrah tidak selalu berarti berpindah tempat seperti yang dilakukan Rasulullah ﷺ dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Hijrah juga berarti perubahan diri: berpindah dari kebiasaan yang buruk menuju kebiasaan yang lebih baik, dari kehidupan yang jauh dari Allah menuju kehidupan yang lebih dekat kepada-Nya. Hijrah adalah proses memperbaiki diri yang tidak pernah berhenti. Ketiga, berjihad di jalan Allah. Jihad bukan hanya tentang peperangan, tetapi juga tentang kesungguhan dalam memperjuangkan kebaikan dalam kehidupan. Jihad bisa berupa bekerja dengan jujur, menolong sesama, memperjuangkan keadilan, mendidik generasi yang lebih baik, serta menjaga nilai-nilai kebaikan di tengah kehidupan masyarakat. Semua itu dilakukan bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian manusia, tetapi untuk mengharap rahmat Allah. Karena pada akhirnya, manusia tidak akan masuk surga hanya karena amalnya saja. Semua itu tetap membutuhkan rahmat Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada seorang pun di antara kalian yang akan masuk surga karena amalnya.” Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa rahmat Allah adalah kunci keselamatan manusia. Amal saleh adalah usaha manusia, tetapi rahmat Allah adalah anugerah yang menentukan akhir perjalanan hidup. Karena itu orang-orang beriman menjalani hidup dengan keseimbangan: mereka bekerja keras, tetapi tetap rendah hati. mereka berusaha, tetapi tetap banyak berdoa. mereka berjuang, tetapi tetap bersandar kepada Allah. Mereka tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai jalan menuju ridha dan rahmat Allah. Ketika mendapatkan keberhasilan, mereka bersyukur kepada Allah. Ketika menghadapi kesulitan, mereka bersabar dan tetap berharap kepada-Nya. Sebab mereka memahami bahwa kehidupan ini adalah perjalanan menuju rahmat Allah. Dan Allah menutup ayat tersebut dengan dua sifat-Nya yang penuh kasih: Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Ini adalah kabar yang sangat menenangkan hati manusia. Artinya, meskipun manusia penuh dengan kekurangan dan kesalahan, pintu rahmat Allah tetap terbuka. Selama manusia mau kembali kepada Allah, memperbaiki diri, dan terus berharap kepada-Nya, maka rahmat Allah akan selalu menyertai. Pada akhirnya, keberhasilan hidup bukan hanya diukur dari seberapa banyak harta yang kita kumpulkan atau seberapa tinggi kedudukan yang kita raih. Keberhasilan sejati adalah ketika hidup kita mengarah kepada rahmat Allah. Karena jika rahmat Allah telah kita dapatkan, maka semua yang lain akan menjadi ringan dan penuh keberkahan. Dunia mungkin hanya sementara, tetapi rahmat Allah adalah tujuan yang abadi. SiS Antarkita Mengarahkan langkah kehidupan menuju rahmat Allah. 🌿

Prespektif, Ruang Kita

Menjaga Martabat Manusia

🌿 Menjaga Martabat Manusia Oleh SiS Antarkita Di tengah kehidupan sosial yang semakin terbuka oleh teknologi dan media sosial, kita sering menyaksikan sebuah ironi yang memprihatinkan. Kebaikan yang seharusnya lahir dari keikhlasan, kadang berubah menjadi tontonan. Sedekah yang seharusnya menjaga kehormatan manusia, terkadang justru dipertontonkan dengan cara yang tanpa sadar merendahkan orang yang menerima. Padahal dalam ajaran Islam, manusia memiliki martabat yang sangat tinggi. Allah SWT menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang dimuliakan. “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam…” (QS. Al-Isra’: 70) Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan manusia adalah prinsip dasar dalam Islam. Karena itu, setiap bentuk bantuan kepada sesama harus tetap menjaga kemuliaan tersebut. Memberi bantuan bukan sekadar memindahkan harta dari orang yang mampu kepada orang yang membutuhkan. Lebih dari itu, memberi adalah proses memuliakan sesama manusia. Namun dalam praktiknya, sering terjadi sesuatu yang bertentangan dengan nilai ini. Bantuan diberikan sambil direkam, dipublikasikan secara berlebihan, atau disertai narasi yang menggambarkan penerima sebagai pihak yang lemah dan tidak berdaya. Tanpa disadari, cara seperti ini dapat melukai harga diri seseorang. Islam secara tegas mengingatkan agar sedekah tidak disertai dengan sikap yang merendahkan penerima. “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima)…” (QS. Al-Baqarah: 264) Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Sedekah yang disertai dengan pamer, mengungkit pemberian, atau menyakiti hati penerima justru dapat menghapus nilai pahala sedekah itu sendiri. Karena itu, sedekah yang benar harus dilakukan dengan adab, empati, dan kesetaraan. Penerima bantuan diperlakukan sebagai saudara, bukan sebagai objek belas kasihan. Rasulullah ﷺ juga memberikan teladan bagaimana menjaga martabat manusia dalam membantu sesama. Beliau bersabda: “Barangsiapa melepaskan satu kesulitan seorang mukmin dari kesulitan dunia, maka Allah akan melepaskan satu kesulitannya pada hari kiamat.” (HR. Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa membantu sesama bukan hanya tentang memberi, tetapi juga mengangkat kesulitan hidup orang lain dengan penuh kasih sayang. Bahkan dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya menjaga perasaan manusia: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi) Pesan dari hadis ini sangat dalam. Sedekah tidak selalu berupa harta. Bahkan sikap yang lembut dan penuh penghormatan kepada sesama manusia pun bernilai sedekah. Karena itu, dalam membantu orang lain, yang paling penting bukan hanya nilai materi yang diberikan, tetapi cara kita memperlakukan mereka. Jika bantuan diberikan dengan wajah yang ramah, bahasa yang lembut, dan sikap yang menghormati, maka penerima tidak hanya mendapatkan bantuan materi, tetapi juga mendapatkan penguatan mental dan spiritual. Sebaliknya, jika bantuan diberikan dengan cara yang merendahkan, maka yang tertinggal bukan rasa syukur, melainkan luka batin. Dalam Al-Qur’an, Allah bahkan menjelaskan bahwa perkataan yang baik lebih bernilai daripada sedekah yang menyakiti. “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan.” (QS. Al-Baqarah: 263) Ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan sejati bukan hanya pada pemberian, tetapi pada cara memberi. Di sinilah kita memahami bahwa menjaga martabat manusia adalah bagian dari ibadah. Membantu orang lain bukan sekadar tindakan sosial, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap kemuliaan yang telah Allah berikan kepada setiap manusia. Masyarakat yang beradab bukan hanya masyarakat yang gemar bersedekah, tetapi masyarakat yang memiliki kepekaan terhadap harga diri manusia. Peradaban yang besar lahir dari masyarakat yang tidak hanya dermawan, tetapi juga penuh empati dan penghormatan terhadap sesama. Karena sesungguhnya, ukuran kemuliaan sebuah bangsa bukan hanya dilihat dari kekayaan yang dimiliki, tetapi dari cara mereka memperlakukan manusia yang paling lemah di antara mereka. Menjaga martabat manusia berarti menjaga kemanusiaan itu sendiri. Dan ketika kemanusiaan dijaga, di situlah peradaban akan tumbuh dengan penuh keberkahan. SiS Antarkita Menghubungkan kebaikan, menjaga kemanusiaan. ✨

Hunian Kita, Properti

Harga 250 Juta Masih Nego!

🏡✨ Rumah Siap Huni – Harga 250 Juta Masih Nego! Buat yang suka ketenangan hidup di suasana desa, rumah ini cocok untuk keluarga. Lingkungan nyaman, udara segar, siap langsung ditempati.     Spesifikasi: 🏠 Luas tanah 10 ubin (full bangunan) 🛏️ 2 kamar tidur 🛋️ Ruang tamu 👨‍👩‍👧 Ruang keluarga 🍳 Dapur 🚿 2 kamar mandi 🚗 Garasi mobil 📍 Lokasi: Pageraji, Cilongok Harga Rp250 juta masih bisa nego 💥 Minat? Langsung hubungi: 📞 0851-2262-5529  

Prespektif, Ruang Kita

Hanya Kepada Allah SWT

Hanya Kepada Allah SWT Oleh SiS Antarkita Dalam kehidupan ini manusia selalu bergerak, berusaha, dan beramal. Ada yang bekerja keras mencari nafkah, ada yang berjuang dalam kegiatan sosial, ada yang berdakwah, ada yang membangun usaha, ada pula yang mengabdikan dirinya dalam berbagai program yang bertujuan menghadirkan manfaat bagi banyak orang. Semua aktivitas itu pada dasarnya adalah bagian dari amal kehidupan. Namun di balik semua amal tersebut ada satu pertanyaan yang sangat penting untuk selalu kita tanyakan kepada diri sendiri: kepada siapa sebenarnya kita berharap balasan dari semua yang kita lakukan? Sering kali tanpa disadari manusia berharap balasan dari manusia. Berharap dihargai, berharap dipuji, berharap diakui sebagai orang yang berjasa. Bahkan kadang seseorang berharap namanya disebut sebagai orang yang memiliki peran besar dalam sebuah keberhasilan. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, hati menjadi gelisah. Timbul rasa kecewa. Bahkan tidak jarang seseorang merasa tidak dihargai atas apa yang telah ia lakukan. Di situlah sesungguhnya arah niat kita sedang diuji. Jika amal kita terlalu bergantung pada penilaian manusia, maka ketenangan hati kita juga akan sangat bergantung pada manusia. Ketika manusia memuji, kita merasa senang. Ketika manusia tidak menghargai, kita merasa kecewa. Padahal manusia memiliki banyak keterbatasan. Manusia bisa lupa. Manusia bisa tidak mengetahui apa yang kita lakukan. Bahkan manusia bisa salah dalam menilai. Karena itu seorang mukmin diajarkan untuk meluruskan kembali arah harapannya. Ketika berbuat kebaikan, hendaknya kita menanamkan keyakinan dalam hati bahwa balasan sejati hanya datang dari Allah SWT. Manusia boleh saja melihat atau tidak melihat, menghargai atau tidak menghargai, tetapi Allah tidak pernah luput dari mengetahui setiap amal yang dilakukan oleh hamba-Nya. Sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan tidak pernah hilang dari pengetahuan Allah. Kesadaran seperti ini membuat hati menjadi lebih tenang. Kita tidak lagi terlalu sibuk memikirkan apakah orang lain mengetahui apa yang kita lakukan atau tidak. Kita tidak terlalu khawatir apakah nama kita disebut atau tidak. Karena yang paling penting adalah Allah mengetahui niat dan usaha kita. Begitu pula dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Manusia sering merasa kuat karena memiliki kemampuan, pengalaman, atau jaringan pertemanan. Namun pada saat tertentu manusia akan sampai pada titik di mana semua itu terasa terbatas. Ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kecerdasan. Ada masalah yang tidak bisa diatasi hanya dengan kekuatan. Ada keadaan yang membuat manusia benar-benar merasa tidak berdaya. Pada saat itulah seseorang akan menyadari bahwa tempat bersandar yang paling kokoh hanyalah Allah SWT. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Hanya kepada Allah kita meminta petunjuk dan hidayah. Dan hanya kepada Allah kita menggantungkan rahmat dalam setiap langkah kehidupan. Ketika hati benar-benar bersandar kepada Allah, kehidupan terasa lebih ringan. Manusia tetap bekerja keras, tetap berusaha, tetap berjuang, tetapi hatinya tidak lagi terbebani oleh keinginan untuk selalu mendapatkan pengakuan dari manusia. Ia berbuat baik karena memang ingin berbuat baik. Ia membantu karena memang ingin memberi manfaat. Ia bekerja karena ingin menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Tujuan utamanya hanya satu: mencari ridha Allah SWT. Keyakinan seperti ini membuat seseorang tidak mudah goyah oleh pujian dan tidak mudah patah oleh kritik. Ia memahami bahwa hidup ini bukan panggung untuk mencari pengakuan manusia, tetapi perjalanan untuk mendekat kepada Allah. Ketika manusia memahami hal ini, maka ia akan menjalani hidup dengan hati yang lebih ikhlas. Ia tidak lagi terlalu sibuk membuktikan dirinya kepada manusia, tetapi lebih fokus menjaga hubungan dengan Allah. Karena pada akhirnya semua amal akan kembali kepada-Nya. Semua usaha akan dinilai oleh-Nya. Dan semua harapan sejati hanya pantas disandarkan kepada-Nya. Maka dalam setiap langkah kehidupan, tanamkanlah keyakinan dalam hati: Hanya kepada Allah SWT kita berharap balasannya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Hanya kepada Allah kita menyandarkan petunjuk, hidayah, dan rahmat-Nya. Dan ketika hati benar-benar bersandar kepada Allah, manusia akan menemukan ketenangan yang tidak bergantung pada penilaian siapa pun. SiS Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Ketika Kita Semua Tua: Siapa Menjamin Masa Depan Rakyat?

Ketika Kita Semua Tua: Siapa Menjamin Masa Depan Rakyat? Oleh SiS antarkita Ada satu kenyataan hidup yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun. Sejak muda manusia bekerja keras. Bangun pagi, berjuang mencari nafkah, mengumpulkan rezeki demi keluarga. Ada yang bekerja di kantor. Ada yang berdagang di pasar. Ada yang bertani di sawah. Ada yang melaut di laut. Ada yang membuka usaha kecil di rumah. Ada pula yang setiap hari mengantar penumpang sebagai driver online, menembus panas dan hujan demi menyambung hidup. Semua bergerak dalam satu tujuan yang sama: mencari kehidupan yang lebih baik. Namun kehidupan manusia selalu berjalan mengikuti satu siklus yang pasti. Masa muda adalah masa bekerja. Masa dewasa adalah masa berjuang. Dan masa tua adalah masa beristirahat dari kerasnya perjuangan hidup. Karena pada akhirnya kita semua akan sampai pada titik yang sama. Kita semua bekerja. Kita semua akan menjadi tua. Dan kita semua pada akhirnya akan pensiun. Pertanyaannya kemudian menjadi sangat penting: Apakah masa tua rakyat Indonesia akan dijalani dengan tenang dan bermartabat… atau justru dengan kecemasan dan ketidakpastian? Bagi sebagian orang yang bekerja di sektor formal, masa pensiun mungkin sudah dipersiapkan. Mereka memiliki program pensiun, tabungan hari tua, atau jaminan sosial dari tempat kerja. Namun bagi jutaan rakyat Indonesia yang bekerja di sektor informal, realitasnya sering kali berbeda. Petani kecil yang mengolah sawah sepanjang hidupnya. Pedagang kaki lima yang setiap hari membuka lapak di pinggir jalan. Buruh harian yang menggantungkan hidup pada upah harian. Driver online yang setiap hari mengantar masyarakat dari satu tempat ke tempat lain. Mereka bekerja keras. Mereka ikut menggerakkan roda ekonomi bangsa. Mereka menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat. Namun ketika usia mulai bertambah dan tenaga mulai berkurang, sering muncul satu pertanyaan yang menghantui: Jika nanti saya sudah tidak kuat bekerja, bagaimana saya akan hidup? Padahal para pendiri bangsa Indonesia sebenarnya sudah memikirkan persoalan ini sejak awal berdirinya Republik. Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, gagasan tentang jaminan sosial bagi rakyat telah ditegaskan dengan sangat jelas. Dalam Pasal 28H ayat (3) UUD 1945 disebutkan: “Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.” Pasal ini menegaskan bahwa jaminan sosial adalah hak setiap manusia, bukan hanya hak bagi kelompok tertentu saja. Kemudian dalam Pasal 34 ayat (2) UUD 1945 ditegaskan lagi: “Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.” Perhatikan satu frasa yang sangat penting dalam pasal tersebut: “bagi seluruh rakyat.” Artinya, sistem jaminan sosial seharusnya tidak hanya dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat yang bekerja di sektor formal, tetapi harus menjangkau seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali. Semangat ini juga sejalan dengan tujuan negara yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu: melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan kata lain, kesejahteraan rakyat bukan sekadar isu ekonomi. Ia adalah amanah konstitusi. Negara memiliki tanggung jawab untuk membangun sistem yang mampu melindungi rakyatnya, termasuk ketika mereka memasuki masa tua dan tidak lagi berada pada usia produktif. Namun kita juga harus jujur melihat kenyataan. Perjalanan menuju sistem jaminan sosial yang benar-benar menjangkau seluruh rakyat tentu membutuhkan waktu, kebijakan yang tepat, serta kesadaran kolektif dari semua pihak. Sementara waktu terus berjalan. Usia terus bertambah. Dan masa depan tidak pernah menunggu. Karena itulah, selain menunggu sistem yang semakin kuat dari negara, masyarakat juga perlu mulai membangun kesadaran untuk mempersiapkan masa depan sejak sekarang. Kesadaran bahwa masa tua tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada nasib. Kesadaran bahwa masa depan harus dipersiapkan dengan langkah nyata sejak hari ini. Dari kesadaran inilah lahir sebuah ikhtiar sosial yang sederhana namun penting, yaitu Program Pensiun Antarkita (PPA) melalui antarkita.com. Program ini hadir sebagai upaya untuk membantu masyarakat, khususnya para pekerja mandiri dan driver online, agar dapat mulai menyiapkan masa pensiun secara lebih terencana. Karena pekerja mandiri juga berhak memiliki masa depan yang lebih pasti. Driver online juga berhak memiliki masa tua yang lebih tenang. Pedagang kecil juga berhak memiliki masa depan yang lebih bermartabat. Program ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran negara sebagaimana amanah konstitusi, tetapi sebagai ikhtiar bersama untuk membangun kesadaran bahwa masa depan harus dipersiapkan mulai dari sekarang. Karena masa tua yang tenang bukanlah kebetulan. Ia adalah hasil dari keputusan dan langkah yang diambil hari ini. Jangan menunggu sampai tenaga mulai berkurang. Jangan menunggu sampai usia sudah terlalu jauh berjalan. Mulailah memikirkan masa depan sejak sekarang. Mari siapkan masa pensiun yang lebih tenang dan bermartabat. Jika Anda seorang driver online, pekerja mandiri, pedagang, atau siapa saja yang ingin mulai mempersiapkan masa depan dengan lebih baik, Program Pensiun Antarkita bisa menjadi langkah awal yang tepat. Dapatkan informasi lengkapnya dengan menghubungi: 📞 Admin Antarkita 0851-2262-5529 🌐 antarkita.com Karena pada akhirnya… Kita semua bekerja. Kita semua akan menjadi tua. Dan kita semua pada akhirnya akan pensiun. Masa depan yang tenang tidak datang dengan sendirinya. Ia harus dipersiapkan mulai hari ini. — SiS antarkita

Prespektif, Ruang Kita

GEROBAK ZAKAT PRODUKTIF MIE RAKYAT

GEROBAK ZAKAT PRODUKTIF MIE RAKYAT Program Pemberdayaan Ekonomi Mustahik Berbasis UMKM Oleh : Fajar Kurniawan Sawahita Group I. LATAR BELAKANG Zakat tidak hanya berfungsi sebagai bantuan konsumtif, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat. Melalui pengelolaan zakat secara produktif, mustahik dapat didorong untuk memiliki usaha mandiri sehingga secara bertahap mampu meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang semakin menantang, banyak keluarga membutuhkan peluang usaha yang sederhana, murah, dan cepat menghasilkan pendapatan harian. Salah satu peluang usaha yang memiliki potensi besar adalah penjualan mie instan siap saji. Mie instan telah menjadi makanan alternatif masyarakat selain nasi karena: praktis dalam penyajian harga terjangkau disukai berbagai kalangan memiliki pasar yang luas Dengan konsep usaha sederhana menggunakan gerobak jualan, usaha mie instan dapat dijalankan hampir di berbagai lokasi strategis seperti: lingkungan pemukiman sekitar sekolah dan kampus pasar tradisional area perkantoran pinggir jalan kawasan wisata Berdasarkan potensi tersebut, diusulkan program: Gerobak Zakat Produktif Mie Rakyat Program ini merupakan pemberian bantuan usaha berupa gerobak jualan mie instan berbasis produk UMKM kepada masyarakat yang membutuhkan agar dapat memiliki sumber penghasilan mandiri. Program ini sejalan dengan visi BAZNAS dalam pengelolaan zakat produktif yang bertujuan mengangkat mustahik menjadi muzakki. II. TUJUAN PROGRAM Memberikan peluang usaha kepada mustahik. Menciptakan sumber penghasilan harian bagi masyarakat kecil. Mengembangkan model zakat produktif yang berkelanjutan. Menggerakkan ekonomi rakyat melalui usaha mikro. Mendukung pemasaran produk UMKM nasional. III. NAMA PROGRAM Gerobak Zakat Produktif Mie Rakyat Program bantuan usaha berupa gerobak jualan mie instan siap saji berbasis produk UMKM untuk masyarakat berpenghasilan rendah. IV. KONSEP PROGRAM Program ini memberikan paket usaha siap pakai kepada penerima manfaat berupa: gerobak jualan mie peralatan memasak stok awal mie pelatihan usaha sederhana Dengan sistem ini, penerima manfaat dapat langsung memulai usaha tanpa harus menyediakan modal awal. Keunggulan usaha ini: ✔ mudah dijalankan ✔ modal kecil ✔ cepat menghasilkan pendapatan harian ✔ fleksibel tempat usaha ✔ pasar luas V. SASARAN PROGRAM Penerima manfaat program ini adalah: mustahik binaan BAZNAS masyarakat berpenghasilan rendah kepala keluarga yang membutuhkan usaha pedagang kecil yang ingin meningkatkan usaha pemuda yang ingin memulai usaha mikro VI. BENTUK BANTUAN PROGRAM Setiap penerima manfaat akan mendapatkan 1 paket usaha Gerobak Mie Rakyat yang terdiri dari: Gerobak jualan mie Kompor gas dan tabung gas Peralatan memasak Peralatan makan dan saji Spanduk branding usaha Stok awal mie instan UMKM Pelatihan usaha sederhana VII. ESTIMASI BIAYA PER PAKET Komponen Biaya Gerobak jualan Rp2.500.000 Kompor + tabung gas Rp500.000 Peralatan memasak Rp400.000 Peralatan makan Rp400.000 Branding gerobak Rp200.000 Stok awal mie UMKM Rp1.000.000 Total Paket Rp5.000.000 VIII. SIMULASI USAHA Harga jual mie siap saji Rp10.000 / porsi Penjualan rata-rata 30 – 40 porsi per hari Omzet harian Rp300.000 – Rp400.000 Estimasi keuntungan bersih harian Rp100.000 – Rp150.000 Estimasi penghasilan bulanan Rp3.000.000 – Rp4.500.000 Dengan usaha ini, penerima manfaat berpotensi memiliki sumber penghasilan tetap untuk memenuhi kebutuhan keluarga. IX. TARGET PROGRAM Tahap awal program direncanakan untuk: 50 Gerobak Mie Rakyat Total kebutuhan dana: 50 × Rp5.000.000 = Rp250.000.000 X. SUMBER PENDANAAN Program ini diusulkan mendapatkan dukungan melalui: Dana Zakat Produktif BAZNAS Sebagai bentuk pemanfaatan dana zakat untuk pemberdayaan ekonomi umat. XI. RENCANA PELAKSANAAN Tahapan program: Seleksi penerima manfaat Pengadaan gerobak dan peralatan usaha Pelatihan usaha sederhana Distribusi paket usaha Pendampingan usaha Monitoring dan evaluasi program XII. DAMPAK PROGRAM Program ini diharapkan memberikan dampak: membuka peluang usaha bagi masyarakat kecil meningkatkan pendapatan keluarga mustahik menggerakkan ekonomi rakyat memperluas pasar produk UMKM mendorong transformasi mustahik menjadi muzakki XIII. PENUTUP Program Gerobak Zakat Produktif Mie Rakyat merupakan salah satu model pemberdayaan ekonomi yang sederhana namun memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan dukungan BAZNAS, program ini diharapkan mampu: menciptakan usaha mandiri bagi masyarakat meningkatkan kesejahteraan keluarga menghadirkan manfaat zakat yang lebih produktif dan berkelanjutan Semoga program ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam membangun kemandirian ekonomi umat melalui zakat produktif.  

Scroll to Top