Antarkita

Prespektif

Prespektif, Ruang Kita

Tantangan Muhammadiyah Abad ke Dua

Tantangan Muhammadiyah Abad ke Dua Oleh: SiS Antarkita Memasuki abad kedua, Persyarikatan Muhammadiyah berdiri di atas fondasi sejarah yang sangat kuat. Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah telah menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya berupa ceramah, tetapi juga kerja nyata. Pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial telah menjadi identitas gerakan ini. Sejak didirikan oleh Ahmad Dahlan pada tahun 1912, Muhammadiyah membawa semangat tajdid—pembaruan. Pembaruan dalam cara berpikir, pembaruan dalam cara beragama, dan pembaruan dalam cara melayani masyarakat. Semangat inilah yang menjadikan Muhammadiyah mampu bertahan dan berkembang melintasi zaman. Satu abad pertama adalah abad membangun fondasi peradaban. Masjid dan mushola berdiri di banyak kampung. Sekolah dan perguruan tinggi berkembang di berbagai daerah. Rumah sakit dan klinik hadir melayani masyarakat. Hari ini kita begitu mudah menemukan masjid dan mushola di tiap desa bahkan hingga tingkat RW. Hari ini kita begitu mudah menemukan sekolah di tiap desa. Hari ini kita begitu mudah menemukan fasilitas kesehatan di tiap kecamatan. Semua itu adalah bukti nyata keberhasilan gerakan Muhammadiyah dalam membangun amal usaha yang bermanfaat bagi umat dan bangsa. Namun sejarah juga mengajarkan bahwa setiap zaman menghadirkan tantangan baru. Jika pada abad pertama tantangan utama adalah kebodohan, keterbelakangan, dan keterbatasan layanan sosial, maka pada abad kedua tantangan terbesar adalah kemandirian ekonomi, ketahanan keluarga, dan relevansi gerakan terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat. Hari ini masyarakat menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat. Lapangan kerja tidak selalu tersedia. Usaha kecil menghadapi persaingan yang ketat. Biaya hidup meningkat, sementara penghasilan tidak selalu bertambah. Akibatnya, banyak keluarga bekerja keras tetapi tetap merasa tidak aman secara ekonomi. Banyak anak muda memiliki pendidikan, tetapi kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak. Banyak pelaku usaha memiliki semangat, tetapi kesulitan meningkatkan omset penjualan. Inilah realitas sosial yang harus dihadapi Muhammadiyah pada abad kedua. Dalam berbagai pandangan pemikir Muhammadiyah, termasuk Prof. Abdul Munir Mulkhan, ditegaskan bahwa Muhammadiyah harus bekerja untuk kemanusiaan. Dakwah tidak boleh berhenti pada simbol dan wacana, tetapi harus menghadirkan solusi nyata bagi kehidupan masyarakat. Beliau juga menekankan pentingnya dakwah kultural—yakni dakwah yang dekat dengan realitas sosial, memahami kebutuhan masyarakat, dan mampu menjawab persoalan zaman. Artinya, gerakan dakwah harus semakin membumi. Tidak hanya kuat di mimbar, tetapi juga hadir di pasar. Tidak hanya aktif di ruang rapat, tetapi juga terasa di rumah-rumah rakyat. Muhammadiyah sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk menjawab tantangan ini. Jaringan organisasi tersebar dari pusat hingga ranting. Kader memiliki kompetensi di berbagai bidang. Amal usaha telah menjadi kekuatan sosial yang diakui masyarakat. Kepercayaan publik terhadap Muhammadiyah sangat tinggi. Potensi besar ini adalah modal sosial yang luar biasa. Namun potensi tidak otomatis menjadi kekuatan. Potensi baru menjadi kekuatan ketika digerakkan. Potensi baru menjadi manfaat ketika diwujudkan. Di sinilah tantangan Muhammadiyah abad kedua menjadi sangat jelas: bagaimana mengubah kekuatan sosial menjadi kekuatan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Abad kedua menuntut Muhammadiyah untuk melahirkan lebih banyak: Saudagar dan wirausaha yang mandiri Program pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan Lapangan kerja bagi generasi muda Sistem wakaf yang produktif Gerakan sosial yang langsung menyentuh kehidupan rakyat Karena masyarakat hari ini tidak hanya membutuhkan layanan sosial, tetapi juga peluang hidup yang lebih baik. Tantangan berikutnya adalah menjaga relevansi gerakan. Organisasi yang besar harus tetap dekat dengan masyarakat. Struktur yang kuat harus tetap responsif terhadap kebutuhan rakyat. Program yang banyak harus tetap berdampak nyata. Jika tidak, ada risiko munculnya jarak antara organisasi dan masyarakat—jarak antara visi besar dan kebutuhan sehari-hari rakyat. Padahal sejak awal, Muhammadiyah didirikan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Gerakan ini lahir dari kegelisahan sosial, bukan dari kenyamanan organisasi. Memasuki abad kedua, Muhammadiyah tidak hanya dituntut untuk menjaga warisan masa lalu, tetapi juga untuk menciptakan masa depan. Bukan hanya mempertahankan keberhasilan, tetapi juga menghadirkan inovasi. Tantangan Muhammadiyah abad kedua adalah tantangan transformasi: dari amal sosial menuju pemberdayaan ekonomi, dari pelayanan menuju kemandirian, dari organisasi besar menuju gerakan yang semakin membumi. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah gerakan bukan hanya pada jumlah gedung yang berdiri, tetapi pada jumlah keluarga yang bisa hidup layak. Bukan hanya pada banyaknya program, tetapi pada banyaknya masalah yang bisa diselesaikan. Sejarah telah membuktikan bahwa Muhammadiyah selalu mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Dari masa kolonial hingga era digital, Muhammadiyah tetap menjadi kekuatan sosial yang relevan. Kini, tantangan abad kedua menunggu jawaban baru. Jawaban yang lahir dari keberanian berpikir. Jawaban yang lahir dari kesadaran kolektif. Jawaban yang lahir dari inisiatif untuk bertindak. Karena masa depan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh struktur organisasi, tetapi oleh keberanian warganya untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Inilah tantangan Muhammadiyah abad ke dua.

Prespektif

MEMBANGUN EKOSISTEM

MEMBANGUN EKOSISTEM: JALAN PERCEPATAN PENGENTASAN KEMISKINAN Oleh SiS Antarkita 🌱🚀 Kemiskinan bukan sekadar kekurangan penghasilan. Kemiskinan adalah kondisi ketika seseorang tidak terhubung dengan sistem ekonomi—tidak punya akses pekerjaan, keterampilan, pasar, modal, dan teknologi. Karena itu, solusi pengentasan kemiskinan yang efektif bukan hanya memberi bantuan, tetapi membangun ekosistem yang membuat masyarakat bisa bekerja, berusaha, dan berkembang secara berkelanjutan. 🌏 Pelajaran Sejarah: Ketika Ekosistem Dibangun, Ekonomi Bergerak Bangsa Indonesia pernah memasuki era industrialisasi teknologi tinggi pada masa kepemimpinan tokoh visioner Bacharuddin Jusuf Habibie. Melalui pengembangan pesawat nasional N-250 Gatotkaca, Indonesia membangun lebih dari sekadar produk. Yang dibangun adalah ekosistem industri—rantai ekonomi dari hulu sampai hilir. Di balik satu proyek teknologi, lahir: Industri komponen dan material, Tenaga teknisi dan insinyur, Lembaga pendidikan dan pelatihan, Perusahaan logistik dan transportasi, Usaha kecil pendukung di sekitar industri Artinya: Satu industri besar dapat menggerakkan ribuan pekerjaan dan ratusan usaha kecil. Inilah kekuatan ekosistem. 🔗 Apa Itu Ekosistem Pengentasan Kemiskinan Ekosistem pengentasan kemiskinan adalah jaringan usaha yang saling terhubung sehingga masyarakat memiliki kesempatan bekerja dan berusaha secara berkelanjutan, bukan sementara. Ekosistem ini minimal memiliki enam unsur utama: Produk atau Jasa – sesuatu yang dijual Pelaku Usaha – orang yang bekerja atau berbisnis Pasar – pembeli atau pengguna Teknologi – alat untuk meningkatkan produktivitas Pendampingan – pelatihan dan pembinaan Pembiayaan – dukungan modal Jika satu unsur hilang, sistem menjadi lemah. Jika semua unsur terhubung, ekonomi menjadi kuat. ⚙️ Mengapa Ekosistem Menjadi Jalan Percepatan Karena ekosistem menciptakan efek domino ekonomi. Satu kegiatan ekonomi dapat memicu banyak kegiatan lain. Contoh sederhana: Satu pabrik mie akan menciptakan: Petani bahan baku Pabrik pengolahan Distributor Pedagang warung Pengemudi transportasi Teknisi mesin Pemasar digital Penyedia kemasan Artinya: Satu usaha → banyak pekerjaan → pendapatan menyebar ke banyak keluarga. Inilah mekanisme percepatan pengentasan kemiskinan. 🏭 Pilar-Pilar Ekosistem Ekonomi Rakyat Untuk membangun ekosistem yang kuat, diperlukan beberapa pilar utama: 1️⃣ Industri Inti (Core Business) Ini adalah mesin utama ekonomi. Contoh: Produksi pangan Industri pengolahan hasil pertanian Transportasi dan logistik Industri kreatif Jasa layanan masyarakat 2️⃣ Rantai Usaha (Supply Chain) Semua pelaku yang terlibat dalam proses produksi dan distribusi. Contoh: Pemasok bahan baku Distributor Pedagang Jasa pengiriman Servis dan perawatan 3️⃣ Sistem Pendukung (Support System) Yang menjaga keberlanjutan usaha. Contoh: Pelatihan keterampilan Teknologi produksi Akses pasar digital Pendanaan usaha Pendampingan manajemen 📈 Dampak Nyata Ekosistem terhadap Pengentasan Kemiskinan Jika ekosistem berjalan, dampaknya bukan teori, tetapi nyata: Pengangguran menurun Pendapatan meningkat Usaha kecil tumbuh Ekonomi lokal bergerak Ketergantungan pada bantuan berkurang Karena itu, banyak negara menggunakan pendekatan ekosistem ekonomi untuk mengatasi kemiskinan jangka panjang. 🌱 Model Praktis Ekosistem di Tingkat Desa atau Komunitas Ekosistem tidak harus besar. Ia bisa dimulai dari satu produk sederhana yang dibutuhkan masyarakat setiap hari. Contoh Model Ekosistem: Pangan Rakyat Industri inti: Produksi mie atau makanan siap saji Usaha turunan: Booth atau gerobak penjualan Warung dan kios Distribusi bahan baku Jasa transportasi Pendukung: Pelatihan kewirausahaan Teknologi produksi Platform pemasaran Komunitas usaha Hasilnya: Banyak orang bisa bekerja Pendapatan berputar di masyarakat Ekonomi lokal menjadi hidup 🚀 Strategi Membangun Ekosistem Secara Bertahap Tahap 1 — Mulai dari Kebutuhan Dasar Fokus pada sektor yang selalu dibutuhkan masyarakat. Contoh: Pangan Transportasi Perdagangan Perumahan Energi Tahap 2 — Bangun Usaha Inti Pilih usaha yang bisa menjadi pusat kegiatan ekonomi. Tahap 3 — Libatkan Banyak Pelaku Semakin banyak orang terlibat, semakin besar dampaknya. Tahap 4 — Gunakan Teknologi Untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Tahap 5 — Perkuat Jaringan Bangun kemitraan dan komunitas usaha. 🔥 Prinsip Penting Pengentasan kemiskinan bukan soal bantuan. Pengentasan kemiskinan adalah soal menciptakan pekerjaan dan usaha yang berkelanjutan. Bantuan itu penting. Tetapi ekosistem jauh lebih penting. Karena: Bantuan → habis Ekosistem → menghasilkan ✊ Penutup Inspiratif Sejarah telah membuktikan, ketika sebuah bangsa berani membangun ekosistem—seperti pada era Bacharuddin Jusuf Habibie dengan proyek N-250 Gatotkaca— yang lahir bukan hanya produk, tetapi pekerjaan, keterampilan, dan harapan. Ekosistem adalah fondasi ekonomi. Ekosistem adalah mesin pertumbuhan. Ekosistem adalah jalan percepatan pengentasan kemiskinan.

Prespektif

BANSOS BERTEMU DANA ABADI Oleh SiS Antarkita Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang penuh empati. Ketika ada bencana, rakyat bergerak. Ketika ada kemiskinan, bantuan mengalir. Ketika ada kesulitan, solidaritas tumbuh tanpa diminta. Itulah kekuatan sosial bangsa ini. Itulah modal kemanusiaan yang sangat berharga. Melalui program bantuan sosial atau bansos, negara hadir untuk memastikan rakyat tidak jatuh terlalu dalam ke jurang kemiskinan. Lembaga seperti Kementerian Sosial Republik Indonesia menjalankan berbagai program untuk menjaga daya tahan masyarakat, terutama saat krisis ekonomi, pandemi, atau kenaikan harga kebutuhan pokok. Bansos adalah jaring pengaman, Bansos adalah penolong saat darurat, Bansos adalah bentuk nyata kehadiran negara. Namun kita juga harus berani melihat kenyataan yang lebih dalam. Bansos menyelesaikan masalah hari ini, Tetapi belum tentu menyelesaikan masalah esok hari. Realitas yang Tidak Bisa Diabaikan Selama bertahun-tahun, bantuan sosial telah membantu jutaan keluarga bertahan hidup. Namun di sisi lain, kita juga melihat fenomena yang berulang: Bantuan datang, Bantuan habis, Kebutuhan muncul kembali, Ketergantungan terus berlanjut, Bukan karena masyarakat malas., Bukan karena programnya salah., Tetapi karena sistemnya belum lengkap. Kita memiliki jaring pengaman, tetapi belum memiliki mesin penggerak kemandirian. Di sinilah pentingnya perubahan cara berpikir. Bukan mengganti bansos, Bukan menghentikan bantuan sosial.Tetapi menyambungkannya dengan sistem keberlanjutan. Ketika Bansos Bertemu Dana Abadi Bayangkan sebuah pendekatan baru dalam kebijakan sosial. Bansos tetap berjalan untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat. Namun pada saat yang sama, dibangun dana abadi (endowment fund) yang tidak boleh habis, tetapi dikelola secara profesional dan produktif. Dana abadi ini bisa berasal dari: sebagian dana sosial dana zakat, infak, dan sedekah dana CSR perusahaan dana wakaf masyarakat donasi filantropi kontribusi komunitas Dana tersebut tidak dibagikan langsung. Dana tersebut dikembangkan. Hasil pengembangannya digunakan untuk membiayai program sosial secara terus-menerus. Dengan cara ini, bantuan tidak lagi bersifat sementara. Bantuan berubah menjadi sistem yang berkelanjutan. Bansos menjaga kehidupan hari ini. Dana abadi membangun kehidupan hari esok. Belajar dari Sejarah: Wakaf Sebagai Dana Abadi Konsep dana abadi sebenarnya sudah dikenal sejak lama dalam tradisi umat. Salah satu contoh penting adalah wakaf yang dilakukan oleh Tamim bin Aus ad-Dari. Beliau tidak hanya memberi bantuan. Beliau membangun aset. Aset itu dijaga, dikelola, dan manfaatnya dirasakan hingga lintas generasi. Prinsipnya sederhana: Aset tetap. Manfaat mengalir. Kebaikan berkelanjutan. Inilah yang dalam dunia modern disebut endowment fund — dana yang tidak habis, tetapi terus bekerja. Dari Program Sosial ke Sistem Sosial Selama ini, banyak program sosial berjalan sendiri-sendiri. Bansos berjalan. Donasi berjalan. Zakat berjalan. CSR berjalan. Namun jarang disatukan dalam satu sistem keberlanjutan. Padahal jika program-program itu disambungkan, dampaknya bisa jauh lebih besar. Inilah yang disebut cross program. Bukan menambah program baru, tetapi menghubungkan program yang sudah ada. Contoh Nyata Cross Program Bansos dan Dana Abadi Misalnya dalam sebuah desa atau komunitas: Tahap 1 — Bantuan Sosial Masyarakat menerima bantuan untuk kebutuhan dasar: sembako bantuan tunai subsidi pendidikan bantuan kesehatan Tahap 2 — Pembangunan Dana Abadi Pada saat yang sama, dibangun dana abadi komunitas dari: donasi masyarakat CSR perusahaan wakaf produktif hasil usaha bersama Tahap 3 — Pemberdayaan Ekonomi Dana abadi digunakan untuk: modal usaha mikro pelatihan keterampilan pembelian alat produksi pengembangan usaha komunitas Tahap 4 — Keberlanjutan Hasil usaha kembali masuk ke dana abadi, sehingga program terus berjalan tanpa bergantung pada bantuan baru. Inilah siklus keberlanjutan. Bukan bantuan sekali pakai, tetapi sistem yang terus hidup. Mengatasi Kemiskinan Jangka Pendek Secara Berkelanjutan Kemiskinan memang membutuhkan solusi cepat. Orang lapar tidak bisa menunggu program jangka panjang. Anak sekolah tidak bisa menunda biaya pendidikan. Pasien sakit tidak bisa menunggu investasi masa depan. Karena itu, bansos tetap diperlukan. Namun pada saat yang sama, kita harus membangun sistem agar kebutuhan itu tidak terus berulang. Inilah makna: mengatasi kemiskinan jangka pendek secara berkelanjutan. Menolong hari ini. Membangun kekuatan untuk besok. Memberi bantuan. Sekaligus menciptakan kemandirian. Momentum Perubahan Paradigma Bangsa ini tidak kekurangan dana sosial. Bangsa ini tidak kekurangan orang baik. Bangsa ini juga tidak kekurangan program. Yang masih kita butuhkan adalah: pergeseran paradigma. Dari: bantuan ke pemberdayaan konsumsi ke produktivitas ketergantungan ke kemandirian program jangka pendek ke sistem jangka panjang Penutup: Saatnya Bansos Naik Kelas Bansos tetap penting. Bansos tetap dibutuhkan. Bansos tetap harus ada. Namun bansos perlu naik kelas. Dari sekadar bantuan, menjadi jembatan menuju kemandirian. Dari sekadar pengeluaran, menjadi investasi sosial. Dari sekadar program, menjadi sistem. Karena masa depan pengentasan kemiskinan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak bantuan yang diberikan, tetapi oleh seberapa lama manfaatnya bisa bertahan. Dan di situlah harapan besar itu dimulai: ketika bansos bertemu dana abadi.

Prespektif, Ruang Kita

Dari Baturraden, Banyumas untuk Umat: Meneguhkan Takwa di Tengah Tantangan Global

Dari Baturraden, Banyumas untuk Umat: Meneguhkan Takwa di Tengah Tantangan Global Banyumas || AntarKita.com – Dari lereng sejuk Gunung Slamet, tepatnya di kawasan Baturraden, gema takbir Idulfitri mengalun lembut, berpadu dengan rintik gerimis yang menyentuh pagi, Jumat (20/3/2026). Di Aula Balai Desa Rempoah, ratusan jamaah berkumpul dalam satu saf spiritual, menunaikan Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Baturraden.   Meski semula direncanakan berlangsung di ruang terbuka Lapangan Akrab, hujan yang turun memaksa pelaksanaan dipindahkan ke dalam ruangan. Namun, cuaca tak mampu meredam semangat. Justru, di tengah keterbatasan itu, tampak keteguhan jamaah dalam merawat nilai-nilai kebersamaan dan keberislaman yang berkemajuan. Bagi Muhammadiyah Cabang Baturraden, ini bukan sekadar agenda tahunan. Untuk ketiga kalinya digelar di lokasi tersebut, Salat Id menjadi bagian dari denyut dakwah akar rumput untuk menguatkan eksistensi gerakan sekaligus meneguhkan peran sosial-keagamaan di tengah masyarakat. Dipimpin oleh Yahya An Nuhair Al-Hafidz, salat berlangsung khusyuk, menghadirkan keheningan yang sarat makna. Khutbah Idulfitri disampaikan oleh Assoc. Prof. Dr. Faozan Amar, S.Ag., M.M., Wakil Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah yang mengangkat tema “Idul Fitri dan Taqwa: Mewujudkan Islam Berkemajuan di Tengah Gejolak Global.” Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa ketakwaan pasca-Ramadan tidak boleh berhenti sebagai ritual personal. “Spirit ketakwaan tidak boleh berhenti di atas sajadah; ia harus bertransformasi menjadi energi penggerak untuk menjawab tantangan zaman. Dakwah Muhammadiyah harus hadir melalui penguatan pilar pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial,” tegas dosen FEB UHAMKA Jakarta tersebut. Ia juga mengingatkan pesan Al-Qur’an tentang perubahan nasib suatu kaum yang bergantung pada ikhtiar mereka sendiri, sebagaimana terkandung dalam QS Ar-Ra’d ayat 11. Seruan itu diperluas menjadi ajakan untuk membangun kemandirian umat sekaligus merawat solidaritas kemanusiaan global, termasuk dengan mendoakan kemerdekaan Palestina. “Perubahan tidak akan datang tanpa kesungguhan usaha. Karena itu, mari kita rawat ketakwaan dengan kerja nyata, sekaligus meneguhkan solidaritas kemanusiaan dengan mendoakan kemerdekaan Palestina,” ungkap Mantan Ketua PC IMM Banyumas. Di sisi lain, Sekretaris PCM Baturraden, Nur Khasbi, S.H.I., M.M, menyampaikan permohonan maaf atas perubahan lokasi akibat cuaca, seraya menegaskan komitmen persyarikatan dalam menghadirkan dakwah yang menggembirakan dan mencerahkan. “Kami memohon maaf atas perubahan lokasi karena faktor cuaca. Terima kasih atas kehadiran jamaah yang tetap memadati lokasi dengan penuh kekhidmatan,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi sinergi lintas pihak, termasuk aparat keamanan, pihak Linmas Desa Rempoah dan KOKAM Suryakusuma Marda Banyuams yang turut menyukseskan kegiatan tersebut, sembari menyampaikan permohonan maaf atas segala keterbatasan dalam penyelenggaraan. “Kami haturkan terima kasih tulus kepada seluruh pihak yang telah mendukung syiar ini. Kami juga memohon maaf apabila dalam penyelenggaraan masih terdapat kekurangan. Ikhtiar kami adalah memberikan pelayanan terbaik bagi umat,” imbuh Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati. Apresiasi serupa disampaikan Wakil Ketua PCM Baturraden, Bambang Riyanto. Ia mengungkapkan perkembangan pembangunan Masjid Assalam yang terus berjalan dengan semangat gotong royong umat. “Hingga saat ini dana yang terhimpun mencapai sekitar Rp.586 juta dari total kebutuhan tahap pertama sebesar Rp.1,017 miliar. Progres pembangunan telah mencapai sekitar 80 persen sejak dimulai pada 15 September 2025,” jelasnya. Ia menegaskan komitmen transparansi dalam pengelolaan dana umat, sekaligus mengajak jamaah untuk terus berpartisipasi dalam gerakan filantropi melalui Lazismu Baturraden sebagai instrumen kemandirian umat. Pelaksanaan ibadah pun berjalan tertib dan lancar. Hal ini tidak lepas dari kolaborasi yang mengakar antara aparat keamanan dan elemen masyarakat. Puluhan personel dari Koramil Baturraden dan Polsek Baturraden bersinergi dengan puluhan personel KOKAM Suryakusuma Marda Banyumas serta anggota Linmas Desa Rempoah. Mereka bahu-membahu mengatur arus jamaah, menjaga keamanan, dan memastikan seluruh rangkaian ibadah berlangsung dengan nyaman dan kondusif. Rangkaian ibadah ditutup dengan tradisi musafahah dengan saling bersalaman antarjamaah. Hangatnya genggaman tangan, senyum yang merekah, dan doa yang saling dipanjatkan menjadi penanda bahwa Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum mempererat persaudaraan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan sarapan bersama di kediaman Ketua PCM Baturraden, Arif El-Hakim Dari Baturraden, pesan itu menggema: kemandirian umat bukan sekadar wacana, melainkan ikhtiar bersama yang dijaga oleh dakwah, oleh solidaritas, dan oleh sinergi nyata di tengah kehidupan (Tarqum Aziz-JurnalisMu Banyumas Raya).

Prespektif, Ruang Kita

35 Titik Salat Idulfitri 1447 H pada 15 Desa

35 Titik Salat Idulfitri 1447 H pada 15 Desa, Muhammadiyah Cabang Bumiayu Perkuat Ukhuwah dan Dakwah Bumiayu-Brebes, || AntarKita.com ~ Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bumiayu, Kabupaten Brebes, menggelar pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah di 35 titik yang tersebar di seluruh wilayah Kecamatan Bumiayu, Jumat (20/3/2026). Kegiatan ini melibatkan 25 Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) sebagai upaya memberikan kemudahan akses ibadah bagi masyarakat. Pelaksanaan Idulfitri tersebut merujuk pada Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/3/2025 tentang penetapan hasil hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah 1447 H. Berdasarkan perhitungan hisab dengan konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), 1 Syawal 1447 H ditetapkan jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026. Ketua Majelis Tabligh dan Pemberdayaan Masjid-Musala PCM Bumiayu, Drs. Muhammad Khanafi, menyampaikan bahwa puluhan titik salat tersebut tersebar di 15 desa dengan jumlah terbanyak berada di Desa Adisana sebanyak enam lokasi. “Idulfitri merupakan momentum istimewa bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa Ramadan selama satu bulan penuh. Selain sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT, Idulfitri juga menjadi waktu untuk mempererat silaturahmi, saling memaafkan, serta memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat,” ujarnya. Sementara itu, Ketua PCM Bumiayu, Drs. H. Sukmono, menjelaskan bahwa penyediaan 35 titik pelaksanaan salat bertujuan untuk memastikan jamaah dapat beribadah dengan nyaman dan tertib, sekaligus memperkuat dakwah di tingkat ranting. “Selain memastikan kelancaran ibadah dan penguatan dakwah Pimpinan Ranting Muhammadiyah, kami juga mengusung gerakan salat bersih dari sampah dan penguatan jalinan ukhuwah sesame warga persyarikatan,” ungkapnya. Di sisi lain, Wakil Ketua PCM Bumiayu yang membidang Majelis Pustaka dan Informasi (MPI), Dr. Emmie Fatkhunnajah, S.T., M.B.A., menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan siaran langsung dari seluruh lokasi pelaksanaan guna memperluas jangkauan informasi kepada masyarakat. “Dengan banyaknya lokasi yang disediakan, masyarakat dapat memilih titik terdekat serta datang lebih awal untuk menghindari kepadatan. Jamaah juga diharapkan menjaga ketertiban dan kebersihan selama pelaksanaan ibadah hingga selesai,” tuturnya. Momentum Idulfitri ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga memperkuat ukhuwah Islamiyah serta menumbuhkan kepedulian sosial dan lingkungan di tengah masyarakat Bumiayu. Adapun 35 lokasi pelaksanaan salat tersebar di berbagai titik strategis di Kecamatan Bumiayu, meliputi halaman masjid, sekolah, lapangan, hingga fasilitas umum lainnya yang dikelola oleh masing-masing PRM. 1. PRM Dukuturi & PRM Karangtuang – Halaman SMP Muhammadiyah Bumiayu – Ust. Drs. Muhammad Khanafi 2. PRM Kaligadung – Halaman Masjid Ash-Shidiq – Rico Januar Maulan 3. PRM Kaligadung – Halaman Masjid Baitul Hasanah Penggarutan – Ichwan Sodli & Firman Ardiansyah 4. PRM Kaligadung – Halaman Masjid An-Nur Penggarutan – Ustadz Mas’ud, S.Ag., S.Pd 5. PRM Kaligadung – Halaman SDN Penggarutan 02 – Ustadz Wildan Hasballah, S.Kom 6. PRM Penggarutan – Halaman Klinik Pratama PRM Penggarutan – Ir. Emmie F. Mubarok & Chaisar Huda Citadi 7. PRM Talok – Lapangan PJKA Talok, Dukuhturi – Amin Taufik, M.Pd & Yatim Mulyoto 8. PRM Adisana – Halaman Masjid Baitul Atiq Adisana – Ustadz M. Faqih Maftuh, S.Ag 9. PRM Dukuhkweni – Halaman Masjid Baitul Arqom – KH. Irfan Faridi 10. PRM Baruamba – Halaman Masjid At-Taqwa – Ustadz Nur Ikhsan Utomo, S.Pd 11. PRM Blere – Halaman SDN Adisana 04 – Irfan, S.Pd 12. PRM Karangpucung – Halaman Masjid Daarussalam – Muslim & M. Galih Aditya 13. PRM Baru Untung – Halaman TK ABA Baru Untung – Tahmid 14. PRM Langkap – Halaman TK ABA Langkap – Ustadz Kusnan, S.Pd.I 15. PRM Langkap – Halaman Musala Al-I’tikaf Suren – Ustadz Faiz Hanani, S.Pd., M.M. 16. PRM Langkap – Halaman Rice Mill Langkap – Ustadz R. Ari Ismawan, S.E. 17. PRM Langkap – Halaman SMPN 3 Bumiayu – Ustadz Syafiqul Anam, S.Kom 18. PRM Menggala – Halaman Rice Mill H. Makmuri Darto Menggala – Sudarjo & Marani 19. PRM Kalierang – Halaman Rice Mill Kalierang – Ustadz Sutriyono, S.Ag 20. PRM Kalierang – Halaman Masjid Raya Muhammadiyah H. Arman Thaifuri – Muhammad Firmanuddin, M.Pd 21. PRM Kalierang – Halaman SMPN 1 Bumiayu – Drs. Masruri 22. PRM Shapire Regency – Halaman Masjid Al-Qof Laren – Ustadz Muhammad Taufik, S.Pd.I 23. PRM Jatisawit – Lapangan Muncang – Diaz Nabil Zulfany 24. PRM Jatisawit – Halaman Parkir RSUMSA Bumiayu – Ustadz Muhammad Andri Pramudya Irawan, S.Pd.I 25. PRM Jatisawit – Lapangan Tegong – H. Nurul Anwar, M.Pd 26. PRM Negaradaha – Lapangan Negaradaha – Muhammad Fajar Novala, M.Pd 27. PRM Pruwatan – Lapangan Pruwatan – Wasito Kasnan & Ustadz Zakil Hadis, M.Pd 28. PRM Bumiayu – Halaman Masjid Al-Marzuqi Sawangan – H. Hasan Ibrahim 29. PRM Bumiayu – Halaman Musala Nurulloh Karangturi – Ustadz H. Abdul Aziz, M.Pd 30. PRM Kalilangkap – Halaman Masjid Nurul Ittihad Pacinan – KH. Masturo Sidiq & Abdul Khanan, S.E. 31. PRM Laren – Halaman Masjid Al-Mujahidin Laren – Nabil Makarim, S.I.P 32. PRM Kaliwadas – Halaman BPP Lambao Kaliwadas – Ustadz Dr. Emmie Fatkhunnajah, S.T., M.B.A 33. PRM Kalisumur – Halaman Masjid Al-Amin Kalisumur – Ustadz M. Kuseri 34. PRM Kalinusu – Halaman Masjid Al-Amin Kalinusu – Arbain Rizal Laudza & Sigit Utomo 35. PRM Pamijen – Halaman Rice Mill H. Hb. Lukman – Ustadz Soeharsono, S.P Pelaksanaan Salat Idulfitri di berbagai titik tersebut diharapkan berjalan lancar, aman, dan khusyuk, sekaligus menjadi cerminan nilai keislaman yang selaras dengan kepedulian terhadap lingkungan dan kebersamaan sosial (Tarqum Aziz-JurnalisMu MPI PCM Bumiayu).

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Salat Id di Baturraden Dipindah ke Aula, Jamaah Tetap Membludak

Salat Id di Baturraden Dipindah ke Aula, Jamaah Tetap Membludak BATURRADEN — Hujan gerimis yang turun sejak pagi tidak menyurutkan semangat ratusan warga untuk menunaikan Salat Idul Fitri 1447 Hijriyah di Desa Rempoah, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (20/3/2026). Pelaksanaan salat yang semula direncanakan berlangsung di lapangan terbuka terpaksa dipindahkan ke dalam Aula Desa Rempoah. Perubahan lokasi yang dilakukan dalam waktu singkat itu tidak mengurangi antusiasme jamaah. Sejak pagi, warga telah berdatangan, hingga akhirnya memenuhi ruangan aula sampai ke bagian teras. Di tengah udara sejuk kawasan kaki Gunung Slamet, gema takbir berkumandang, berpadu dengan rintik hujan yang turun perlahan. Suasana tersebut justru menghadirkan nuansa spiritual yang lebih mendalam, di mana kebersamaan terasa semakin kuat di antara para jamaah. Dengan tertib, jamaah menyusun saf di dalam ruang yang terbatas. Sebagian bahkan rela berada di area luar aula, demi tetap dapat mengikuti rangkaian ibadah. Kondisi ini mencerminkan tingginya kesadaran dan semangat masyarakat dalam menjalankan ibadah, meskipun dihadapkan pada keterbatasan. Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Baturraden, Nur Khasbi, menyampaikan bahwa perubahan lokasi akibat cuaca merupakan bagian dari dinamika pelaksanaan, namun tidak mengurangi makna ibadah itu sendiri. “Justru dalam kondisi seperti ini, kita bisa melihat betapa kuatnya semangat kebersamaan dan ukhuwah. Jamaah tetap hadir dengan penuh kesadaran untuk beribadah. Ini menjadi potret nyata keteguhan umat,” ujarnya. Salat Idul Fitri dipimpin oleh Ustadz Yahya An Nuhair Al Hafidz sebagai imam, dengan bacaan yang tartil dan khusyuk. Sementara khutbah disampaikan oleh Assoc. Prof. Dr. Faozan Amar, S.Ag., MM, Wakil Ketua MPKAS PP Muhammadiyah. Dalam khutbahnya, khatib menekankan pentingnya menjaga kerukunan, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta mengimplementasikan nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari. Jamaah diajak untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum memperbaiki diri, memperkuat hubungan sosial, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama. “Idul Fitri bukan sekadar kembali kepada fitrah secara pribadi, tetapi juga momentum untuk membangun kehidupan sosial yang lebih harmonis dan berkeadaban,” demikian salah satu pesan yang disampaikan dalam khutbah. Selain sebagai ibadah, momentum Idul Fitri juga dimanfaatkan untuk memperkuat kepedulian sosial. Jamaah tampak antusias menyalurkan infak sebagai bentuk kontribusi dalam mendukung kegiatan dakwah dan pemberdayaan umat. Panitia pelaksana dinilai sigap dalam mengantisipasi perubahan situasi. Pengalihan lokasi, penataan ruang, serta pengaturan jamaah dilakukan dengan cepat dan terkoordinasi, sehingga pelaksanaan ibadah tetap berjalan tertib dan lancar. Salah seorang jamaah, Sugeng (55), warga setempat, mengaku tidak mempermasalahkan perubahan lokasi. Baginya, yang terpenting adalah tetap bisa melaksanakan ibadah bersama. “Tidak masalah di dalam aula, yang penting bisa tetap salat berjamaah. Justru terasa lebih dekat dan hangat,” ujarnya. Suasana sederhana di dalam aula, dengan jamaah yang saling berdampingan, memperlihatkan esensi Idul Fitri yang sesungguhnya: kebersamaan, kesederhanaan, dan keikhlasan. Rintik hujan yang terus turun di luar seolah menjadi latar yang menambah kekhusyukan ibadah. Pelaksanaan Salat Idul Fitri di Baturraden ini menjadi gambaran kuat bahwa semangat beribadah masyarakat tidak mudah surut oleh kondisi. Dalam keterbatasan, justru terbangun solidaritas dan kebersamaan yang semakin erat. Momentum ini diharapkan dapat menjadi penguat nilai-nilai keimanan dan sosial, serta terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya pada hari raya, tetapi juga dalam aktivitas masyarakat ke depan.  

Prespektif, Ruang Kita

Menguatkan Cabang dan Ranting

Menguatkan Cabang dan Ranting, Menghidupkan Peradaban Umat dari Akar Rumput Banyumas, 1 Syawal 1447 H – Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas menegaskan kembali bahwa kekuatan utama Muhammadiyah tidak semata berada pada struktur pusat, wilayah, atau daerah, melainkan bertumpu pada Cabang dan Ranting sebagai basis gerakan dakwah yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Cabang dan Ranting Muhammadiyah selama ini telah menjadi jantung gerakan dakwah yang hidup di tengah masyarakat. Aktivitas keislaman yang berlangsung di masjid-masjid kampung, mushalla sederhana, pengajian rutin, hingga pembinaan di rumah-rumah jama’ah merupakan bentuk nyata dari keberlanjutan dakwah Muhammadiyah yang mengakar dan membumi. “Di sanalah Islam hidup, di sanalah dakwah tumbuh, dan di sanalah peradaban dimulai,” demikian penegasan LPCR PDM Banyumas dalam pernyataan resminya. Cabang dan Ranting sebagai Pusat Revolusi Spiritual LPCR PDM Banyumas memandang bahwa Cabang dan Ranting tidak hanya berfungsi sebagai struktur administratif organisasi, tetapi harus bertransformasi menjadi pusat revolusi spiritual masyarakat. Dalam konteks tersebut, masjid sebagai pusat aktivitas umat harus kembali dioptimalkan perannya, tidak hanya sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai: Pusat ilmu dan pendidikan keagamaan, yang mencerdaskan umat dan memperkuat pemahaman Islam yang berkemajuan. Pusat dakwah dan pembinaan umat, yang menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pusat kepedulian sosial, yang menjadi solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Pusat pembinaan generasi muda, yang melahirkan kader-kader unggul, berakhlak, dan berdaya saing. Masjid harus kembali menjadi jantung peradaban umat, tempat berdenyutnya kehidupan spiritual, sosial, dan intelektual masyarakat. Penguatan Ekosistem Dakwah di Akar Rumput LPCR PDM Banyumas menekankan pentingnya membangun ekosistem dakwah yang hidup dan berkelanjutan di tingkat Cabang dan Ranting. Hal ini dapat diwujudkan melalui: Penguatan pengajian rutin yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi berdampak pada peningkatan kualitas iman dan pemahaman jama’ah. Pemberdayaan jama’ah melalui kegiatan sosial dan ekonomi yang berbasis masjid. Penguatan ukhuwah Islamiyah melalui silaturahmi yang intens dan berkesinambungan. Pengembangan kaderisasi yang sistematis untuk menjamin keberlanjutan gerakan Muhammadiyah. Dakwah harus hadir sebagai solusi nyata bagi masyarakat, bukan sekadar wacana. Apresiasi untuk Penggerak Ranting LPCR PDM Banyumas memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para penggerak Cabang dan Ranting yang selama ini berjuang dengan penuh keikhlasan. Mereka mungkin tidak tampil di ruang-ruang besar, tidak mendapatkan sorotan publik, namun peran mereka sangat strategis dalam menjaga keberlangsungan dakwah Muhammadiyah di akar rumput. “Kerja-kerja sunyi para penggerak ranting adalah fondasi kokoh bagi berdirinya peradaban umat,” tegas LPCR PDM Banyumas. Momentum Idul Fitri 1447 H sebagai Titik Penguatan Momentum Idul Fitri 1447 H dimaknai sebagai titik refleksi dan penguatan komitmen untuk kembali menghidupkan peran Cabang dan Ranting dalam membangun kehidupan umat yang berkemajuan. LPCR PDM Banyumas mengajak seluruh elemen Muhammadiyah untuk: Menghidupkan kembali masjid sebagai pusat aktivitas umat. Menguatkan pengajian sebagai sarana peningkatan kualitas iman. Menggerakkan dakwah yang membumi dan solutif. Menjadikan Cabang dan Ranting sebagai basis pembangunan peradaban Islam. Penutup Dengan penguatan Cabang dan Ranting yang berkelanjutan, Muhammadiyah diharapkan mampu terus menjadi kekuatan strategis dalam membangun masyarakat yang beriman, berilmu, berakhlak, dan berdaya. Dari ranting yang hidup, akan lahir cabang yang kuat. Dari cabang yang kuat, akan terbentuk gerakan yang kokoh. Dan dari gerakan yang kokoh, akan terbangun peradaban umat yang berkemajuan. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Walillaahil Hamd.  

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Sehat Sejahtera di Ujung Usia

Sehat Sejahtera di Ujung Usia Menjaga Semangat, Menata Akhir Perjalanan dengan Penuh Kesadaran Oleh SiS Antarkita Ada satu fase kehidupan yang sering kali datang tanpa persiapan yang matang: ujung usia. Saat tenaga tidak lagi sekuat dulu. Saat langkah mulai melambat. Saat pikiran mulai lebih banyak merenung daripada berlari mengejar. Di fase ini, banyak orang mulai kehilangan semangat. Motivasi untuk sukses perlahan memudar. Impian diperkecil, bahkan ditinggalkan. Seolah-olah hidup sudah sampai di titik akhir, dan tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan. Padahal justru di sinilah letak ujian sebenarnya. Apakah kita akan menyerah pada keadaan, atau justru menata ulang arah hidup dengan lebih bijak dan bermakna? Karena bagaimanapun juga… sehat dan sejahtera di ujung usia jauh lebih baik dibandingkan kondisi apapun. Namun sehat dan sejahtera tidak datang begitu saja. Ia adalah hasil dari pilihan-pilihan yang kita ambil sepanjang hidup. Sehat, bukan hanya tentang fisik yang kuat. Tetapi juga tentang hati yang tenang, pikiran yang jernih, dan jiwa yang tidak gelisah. Sejahtera, bukan sekadar banyaknya harta. Tetapi tentang kecukupan, rasa cukup, dan hidup yang tidak dibebani oleh kegelisahan dunia. Banyak orang di usia muda mengejar sukses dengan penuh ambisi, tetapi lupa menyiapkan masa tua yang bermartabat. Mereka bekerja tanpa menjaga kesehatan. Mereka mengumpulkan harta tanpa mengatur keseimbangan hidup. Mereka mengejar dunia tanpa mempersiapkan bekal akhirat. Akibatnya, ketika usia mulai menua, yang datang bukan ketenangan… tetapi kelelahan. Bukan rasa cukup… tetapi kekhawatiran. Di sinilah pentingnya kesadaran baru. Bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai sesuatu, tetapi tentang bagaimana kita mengakhiri perjalanan dengan baik. Masih ada waktu. Untuk memperbaiki pola hidup. Untuk mulai menjaga kesehatan dengan lebih serius. Untuk mengatur keuangan agar tidak menjadi beban di masa depan. Untuk memperkuat hubungan dengan keluarga dan lingkungan. Dan yang paling penting… Untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena pada akhirnya, ketenangan di ujung usia bukan ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, tetapi oleh seberapa dekat kita dengan Allah. Harta bisa membantu, tetapi tidak menjamin ketenangan. Relasi bisa menguatkan, tetapi tidak selalu menemani sampai akhir. Namun ketika hati sudah bersandar kepada Allah, ada ketenangan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. Di usia yang semakin matang, seharusnya yang bertambah bukan hanya angka usia, tetapi juga kedewasaan dalam memandang hidup. Ambisi boleh tetap ada, tetapi harus lebih terarah. Usaha tetap dijalankan, tetapi tidak melupakan kesehatan. Keinginan tetap ada, tetapi dibatasi dengan kebijaksanaan. Karena hidup bukan lagi soal mengejar sebanyak-banyaknya, tetapi tentang menyaring mana yang benar-benar penting. Tetap produktif, tetapi tidak memaksakan diri. Tetap berusaha, tetapi tidak melupakan istirahat. Tetap mencari rezeki, tetapi tidak melupakan keberkahan. Dan yang paling penting… Menyiapkan diri untuk perjalanan yang sesungguhnya. Karena ujung usia bukanlah akhir dari segalanya, tetapi justru gerbang menuju kehidupan berikutnya. Maka jangan pernah merasa terlambat. Selama nafas masih ada, selama tubuh masih bisa digerakkan, selama hati masih bisa merasakan… Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki. Untuk hidup lebih sehat. Untuk hidup lebih seimbang. Untuk hidup lebih dekat dengan Allah. Menuju satu harapan yang sederhana namun mulia: menjalani ujung usia dalam keadaan sehat, sejahtera, tenang, dan penuh keberkahan. Karena pada akhirnya, hidup bukan dinilai dari seberapa tinggi kita pernah naik, tetapi dari bagaimana kita menutup perjalanan dengan baik. Dan sebaik-baiknya penutup adalah ketika kita kembali kepada Allah dalam keadaan tenang, cukup, dan diridhai-Nya. SiS Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Lebaran Istimewa

Lebaran Istimewa 1 Syawal 1447 H Oleh SiS Antarkita Lebaran kali ini terasa berbeda. Ada yang lebih dalam, lebih sunyi, tapi juga lebih bermakna. Setengah abad usia bukan sekadar angka. Ia adalah perjalanan panjang—penuh cerita, penuh luka, penuh pelajaran. Di titik ini, saya mulai melihat hidup dengan cara yang berbeda. Dulu mungkin kegagalan terasa menyakitkan. Terasa seperti akhir dari segalanya. Terasa seperti tanda bahwa jalan yang ditempuh salah. Namun hari ini, di momen 1 Syawal 1447 H, saya mulai memahami: mungkin itu semua adalah bagian dari proses. Proses untuk menguatkan. Proses untuk menyadarkan. Proses untuk mendekatkan kepada Allah SWT. Maka dalam hati terucap satu harapan sederhana, tapi dalam maknanya: “Semoga ini jatah kegagalan terakhir.” Bukan berarti tidak ingin diuji. Tetapi berharap bahwa setiap kegagalan yang telah dilalui cukup menjadi bekal, cukup menjadi pelajaran, cukup menjadi pengingat. Bahwa hidup tidak bisa hanya mengandalkan diri sendiri. Bahwa ada Allah yang harus selalu dilibatkan dalam setiap langkah. Lebaran bukan hanya tentang baju baru. Bukan hanya tentang hidangan yang berlimpah. Tetapi tentang hati yang diperbarui. Tentang jiwa yang kembali bersih. Tentang tekad yang kembali diluruskan. Di usia ini, saya mulai menyadari… Bahwa hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai. Tetapi tentang seberapa benar arah yang kita tempuh. Bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki. Tetapi tentang seberapa dekat kita kepada Allah. Banyak insight yang Allah hadirkan dalam perjalanan ini. Tentang kesabaran. Tentang keikhlasan. Tentang arti kehilangan. Dan tentang pentingnya bersandar hanya kepada-Nya. Semua itu menjadi energi baru. Energi untuk menjalani hidup dengan lebih tenang. Energi untuk melangkah dengan lebih sadar. Energi untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Lebaran kali ini bukan sekadar perayaan. Tetapi menjadi titik refleksi. Bahwa perjalanan masih ada. Bahwa kesempatan masih terbuka. Bahwa rahmat Allah masih sangat luas. Dan selama nafas masih diberikan, masih ada waktu untuk memperbaiki diri, masih ada waktu untuk mendekat kepada-Nya. Semoga Lebaran ini benar-benar menjadi awal yang baru. Awal untuk hidup yang lebih bermakna. Awal untuk langkah yang lebih terarah. Dan awal untuk hati yang lebih dekat dengan Allah SWT. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. SiS Antarkita

Prespektif

Hak Prerogatif Allah SWT

Hak Prerogatif Allah SWT Memahami Kehidupan melalui Diagram Kuadran Oleh SiS Antarkita Manusia sering mencoba memahami kehidupan dengan logika dan ukuran-ukuran dunia. Ada yang mengatakan pendidikan adalah kunci utama kesuksesan. Ada yang meyakini bahwa gelar akademik menentukan masa depan. Ada pula yang beranggapan bahwa siapa yang lebih pintar, dialah yang akan lebih berhasil. Namun ketika kita melihat kehidupan dengan jujur, realitas sering kali berbicara berbeda. Di sinilah kita bisa mencoba memahami kehidupan melalui sebuah gambaran sederhana: diagram kuadran kehidupan. Misalnya dalam hal pendidikan. Ada orang yang hanya lulusan SD, tetapi mampu menjadi sukses. Usahanya berkembang, rezekinya luas, pengaruhnya besar. Namun ada juga orang yang sama-sama lulusan SD, tetapi hidupnya biasa saja. Di sisi lain, kita melihat orang yang berpendidikan tinggi, lulusan sarjana bahkan lebih, tetapi kehidupannya biasa-biasa saja. Namun tidak sedikit pula lulusan sarjana yang berhasil, sukses dalam karier maupun usahanya. Jika kita susun dalam sebuah kuadran, maka akan terlihat bahwa: Lulusan rendah bisa sukses. Lulusan rendah bisa biasa saja. Lulusan tinggi bisa sukses. Lulusan tinggi juga bisa biasa saja. Artinya apa? Tidak ada satu faktor tunggal yang bisa menjamin hasil kehidupan manusia. Pendidikan penting, tetapi bukan penentu mutlak. Kerja keras penting, tetapi bukan satu-satunya faktor. Relasi penting, tetapi bukan jaminan akhir. Semua itu adalah ikhtiar manusia. Namun hasil akhirnya tetap berada dalam satu kekuasaan yang tidak bisa diganggu gugat: hak prerogatif Allah SWT. Allah-lah yang menentukan siapa yang diberi keluasan rezeki. Allah-lah yang menentukan siapa yang diangkat derajatnya. Allah-lah yang menentukan jalan hidup setiap hamba-Nya. Dalam pandangan iman, tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Setiap hasil adalah bagian dari ketetapan Allah yang penuh hikmah. Allah Maha Adil. Allah Maha Mengetahui. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ketika Allah memberikan kesuksesan kepada seseorang, itu bukan semata-mata karena kehebatannya, tetapi karena Rahmat Allah SWT. Dan ketika seseorang belum mendapatkan apa yang ia harapkan, itu bukan berarti Allah tidak adil, tetapi bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik, atau sedang menguji kesabaran dan keikhlasannya. Memahami hal ini akan membawa manusia pada dua sikap penting: Pertama, tidak sombong ketika berhasil. Karena ia sadar bahwa keberhasilan bukan murni hasil dirinya. Kedua, tidak putus asa ketika gagal. Karena ia yakin bahwa Allah masih memiliki rencana yang terbaik. Diagram kuadran kehidupan ini bukan untuk membuat manusia pasrah tanpa usaha. Justru sebaliknya. Manusia tetap harus berikhtiar dengan maksimal. Belajar, bekerja, berusaha, dan memperbaiki diri. Namun dalam waktu yang sama, manusia harus menyadari bahwa hasil akhirnya bukan sepenuhnya miliknya. Di situlah letak keindahan iman. Manusia bergerak dengan usaha. Tetapi hatinya bersandar kepada Allah. Karena pada akhirnya, kehidupan ini bukan hanya tentang sebab dan akibat, tetapi tentang kehendak Allah yang bekerja di atas semuanya. Maka siapapun kita… Apapun latar belakang kita… Setinggi apapun pendidikan kita… Serendah apapun kondisi kita… Semua tetap berada dalam satu ketetapan: Allah SWT memiliki hak prerogatif penuh atas kehidupan hamba-Nya. Dan ketika manusia mampu memahami ini, ia akan hidup dengan lebih tenang, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Allah SWT. SiS Antarkita

Scroll to Top