Tantangan Muhammadiyah Abad ke Dua
Oleh: SiS Antarkita
Memasuki abad kedua, Persyarikatan Muhammadiyah berdiri di atas fondasi sejarah yang sangat kuat. Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah telah menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya berupa ceramah, tetapi juga kerja nyata. Pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial telah menjadi identitas gerakan ini.
Sejak didirikan oleh Ahmad Dahlan pada tahun 1912, Muhammadiyah membawa semangat tajdid—pembaruan. Pembaruan dalam cara berpikir, pembaruan dalam cara beragama, dan pembaruan dalam cara melayani masyarakat. Semangat inilah yang menjadikan Muhammadiyah mampu bertahan dan berkembang melintasi zaman.
Satu abad pertama adalah abad membangun fondasi peradaban.
Masjid dan mushola berdiri di banyak kampung.
Sekolah dan perguruan tinggi berkembang di berbagai daerah.
Rumah sakit dan klinik hadir melayani masyarakat.
Hari ini kita begitu mudah menemukan masjid dan mushola di tiap desa bahkan hingga tingkat RW.
Hari ini kita begitu mudah menemukan sekolah di tiap desa.
Hari ini kita begitu mudah menemukan fasilitas kesehatan di tiap kecamatan.
Semua itu adalah bukti nyata keberhasilan gerakan Muhammadiyah dalam membangun amal usaha yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.
Namun sejarah juga mengajarkan bahwa setiap zaman menghadirkan tantangan baru.
Jika pada abad pertama tantangan utama adalah kebodohan, keterbelakangan, dan keterbatasan layanan sosial, maka pada abad kedua tantangan terbesar adalah kemandirian ekonomi, ketahanan keluarga, dan relevansi gerakan terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.
Hari ini masyarakat menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.
Lapangan kerja tidak selalu tersedia.
Usaha kecil menghadapi persaingan yang ketat.
Biaya hidup meningkat, sementara penghasilan tidak selalu bertambah.
Akibatnya, banyak keluarga bekerja keras tetapi tetap merasa tidak aman secara ekonomi. Banyak anak muda memiliki pendidikan, tetapi kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak. Banyak pelaku usaha memiliki semangat, tetapi kesulitan meningkatkan omset penjualan.
Inilah realitas sosial yang harus dihadapi Muhammadiyah pada abad kedua.
Dalam berbagai pandangan pemikir Muhammadiyah, termasuk Prof. Abdul Munir Mulkhan, ditegaskan bahwa Muhammadiyah harus bekerja untuk kemanusiaan. Dakwah tidak boleh berhenti pada simbol dan wacana, tetapi harus menghadirkan solusi nyata bagi kehidupan masyarakat. Beliau juga menekankan pentingnya dakwah kultural—yakni dakwah yang dekat dengan realitas sosial, memahami kebutuhan masyarakat, dan mampu menjawab persoalan zaman.
Artinya, gerakan dakwah harus semakin membumi.
Tidak hanya kuat di mimbar, tetapi juga hadir di pasar.
Tidak hanya aktif di ruang rapat, tetapi juga terasa di rumah-rumah rakyat.
Muhammadiyah sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk menjawab tantangan ini.
Jaringan organisasi tersebar dari pusat hingga ranting.
Kader memiliki kompetensi di berbagai bidang.
Amal usaha telah menjadi kekuatan sosial yang diakui masyarakat.
Kepercayaan publik terhadap Muhammadiyah sangat tinggi.
Potensi besar ini adalah modal sosial yang luar biasa.
Namun potensi tidak otomatis menjadi kekuatan.
Potensi baru menjadi kekuatan ketika digerakkan.
Potensi baru menjadi manfaat ketika diwujudkan.
Di sinilah tantangan Muhammadiyah abad kedua menjadi sangat jelas:
bagaimana mengubah kekuatan sosial menjadi kekuatan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
Abad kedua menuntut Muhammadiyah untuk melahirkan lebih banyak:
Saudagar dan wirausaha yang mandiri
Program pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan
Lapangan kerja bagi generasi muda
Sistem wakaf yang produktif
Gerakan sosial yang langsung menyentuh kehidupan rakyat
Karena masyarakat hari ini tidak hanya membutuhkan layanan sosial, tetapi juga peluang hidup yang lebih baik.
Tantangan berikutnya adalah menjaga relevansi gerakan.
Organisasi yang besar harus tetap dekat dengan masyarakat.
Struktur yang kuat harus tetap responsif terhadap kebutuhan rakyat.
Program yang banyak harus tetap berdampak nyata.
Jika tidak, ada risiko munculnya jarak antara organisasi dan masyarakat—jarak antara visi besar dan kebutuhan sehari-hari rakyat.
Padahal sejak awal, Muhammadiyah didirikan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Gerakan ini lahir dari kegelisahan sosial, bukan dari kenyamanan organisasi.
Memasuki abad kedua, Muhammadiyah tidak hanya dituntut untuk menjaga warisan masa lalu, tetapi juga untuk menciptakan masa depan. Bukan hanya mempertahankan keberhasilan, tetapi juga menghadirkan inovasi.
Tantangan Muhammadiyah abad kedua adalah tantangan transformasi:
dari amal sosial menuju pemberdayaan ekonomi,
dari pelayanan menuju kemandirian,
dari organisasi besar menuju gerakan yang semakin membumi.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah gerakan bukan hanya pada jumlah gedung yang berdiri, tetapi pada jumlah keluarga yang bisa hidup layak. Bukan hanya pada banyaknya program, tetapi pada banyaknya masalah yang bisa diselesaikan.
Sejarah telah membuktikan bahwa Muhammadiyah selalu mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Dari masa kolonial hingga era digital, Muhammadiyah tetap menjadi kekuatan sosial yang relevan.
Kini, tantangan abad kedua menunggu jawaban baru.
Jawaban yang lahir dari keberanian berpikir.
Jawaban yang lahir dari kesadaran kolektif.
Jawaban yang lahir dari inisiatif untuk bertindak.
Karena masa depan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh struktur organisasi,
tetapi oleh keberanian warganya untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Inilah tantangan Muhammadiyah abad ke dua.