Antarkita

Prespektif

Prespektif, Ruang Kita

Republik di Negeri Para Raja: Dari Kolonialisme Kerajaan ke Oligarki Pribumi

Republik di Negeri Para Raja: Dari Kolonialisme Kerajaan ke Oligarki Pribumi Negeri Lama, Negara Baru, Indonesia adalah paradoks sejarah. Ia lahir sebagai negara baru, tetapi berdiri di atas negeri yang sangat tua. Sebelum republik, Nusantara telah memiliki sistem kedaulatan melalui kerajaan-kerajaan yang menguasai tanah, laut, dan jalur perdagangan. Negara penjajah—Belanda dan Jepang—datang sebagai kerajaan, menjajah sebagai kerajaan, dan pulang tetap sebagai kerajaan. Namun Indonesia, yang dijajah, justru dipaksa membuktikan kemerdekaannya melalui perjanjian-perjanjian yang merugikan: Linggarjati, Renville, hingga Konferensi Meja Bundar. Bahkan, kemerdekaan harus “dibayar” dengan utang kolonial Belanda—termasuk biaya agresi militer terhadap Indonesia sendiri. Sejak lahir, republik ini telah terikat oleh struktur ekonomi kolonial. Dari Penjajahan Negara ke Penjajahan Modal Pada masa Soekarno, negara berusaha memutus rantai kolonialisme ekonomi. Tambang, tanah, dan sumber daya alam dipandang sebagai alat kedaulatan. Modal asing dibatasi karena dianggap perpanjangan imperialisme. Namun pasca-1965, arah itu berubah total. UU Penanaman Modal Asing 1967 membuka pintu lebar bagi kapital global. Freeport masuk ke Papua dengan kontrak karya jangka panjang. Sejak saat itu, penguasaan sumber daya tidak lagi berbentuk kolonialisme negara, tetapi kolonialisme korporasi. Di titik inilah oligarki tumbuh subur. OLIGARKI SEKTORAL: DETAIL LITERASI 1. Oligarki Sumber Daya Alam, Tambang, dan Energi Kontrak karya tambang (Freeport, Batu Bara, Nikel) Konsesi jangka panjang, Ketergantungan negara pada royalti dan pajak Tambang emas, tembaga, batu bara, dan nikel dikuasai oleh segelintir korporasi besar yang memiliki relasi erat dengan kekuasaan politik. Negara sering kali berperan sebagai pemberi izin, bukan pengendali. Kasus Freeport di Papua adalah simbol paling nyata: tambang terbesar dunia beroperasi sejak 1967, sementara masyarakat sekitar bergulat dengan kemiskinan, konflik sosial, dan kerusakan lingkungan. Pola kolonial tetap sama: sumber daya diambil → keuntungan keluar → rakyat lokal hanya menerima dampak sosial. 2. Oligarki Laut dan Perikanan Kebijakan kuota penangkapan, Konsesi laut, Dominasi kapal besar dan industri Laut yang seharusnya menjadi ruang hidup nelayan kecil berubah menjadi ruang konsesi. Kebijakan kuota dan industrialisasi perikanan membuka jalan bagi pemodal besar, sementara nelayan tradisional tidak memiliki modal, teknologi, dan akses perizinan. nelayan kecil tersingkir, akses ruang tangkap menyempit, laut diperlakukan sebagai aset ekonomi, bukan ruang hidup. Ini menyerupai kolonialisme maritim VOC—hanya tanpa bendera asing. 3. Oligarki Pertanian Kartel benih dan pupuk, Impor pangan, Rantai distribusi dikuasai korporasi Petani Indonesia tidak berdaulat atas: benih (tergantung perusahaan),, pupuk (subsidi dan distribusi dikendalikan), harga (ditentukan pasar dan importir). harga di tingkat petani ditekan, impor digunakan sebagai alat stabilisasi semu, petani selalu kalah dalam struktur pasar. Petani bukan produsen merdeka, tetapi buruh dalam sistem pangan nasional. 4. Oligarki Peternakan Integrator besar : Kontrol pakan, bibit, vaksin, Skala ekonomi yang mematikan peternak kecil Industri unggas dan peternakan dikuasai oleh segelintir perusahaan integrator. Mereka mengendalikan seluruh rantai: bibit → pakan → vaksin → distribusi → harga. Peternak rakyat tidak mampu bersaing, harga ditentukan sepihak, kerugian peternak menjadi keuntungan korporasi. Ini bukan pasar bebas. Ini monopoli terstruktur. 5. Oligarki Industri Rokok Konsentrasi pasar, Relasi bisnis–politik, Kebijakan fiskal yang timpang Industri rokok menyerap jutaan tenaga kerja dan petani tembakau, tetapi kekuasaan ekonomi terkonsentrasi pada segelintir konglomerasi besar. Kebijakan cukai sering kali kompromistis, petani tembakau tidak memiliki posisi tawar, negara gamang antara kesehatan publik dan kepentingan fiskal. Persekongkolan pejabat dan industri rokok menggambarkan bagaimana kebijakan publik dapat dilumpuhkan oleh kekuatan modal. Pribumi sebagai Mandor Sistem Kolonialisme tidak pernah bekerja tanpa elite lokal. Hari ini, elite itu adalah oligarki domestik. Mereka bukan sekadar orang kaya, tetapi: pembentuk kebijakan, pengendali pasar, penentu arah ekonomi. Penjajahan tidak lagi datang dari luar. Ia dijalankan dari dalam, dengan wajah nasional, bahasa pembangunan, dan legitimasi hukum. Penutup: Republik yang Belum Berdaulat Indonesia merdeka secara konstitusional, tetapi belum sepenuhnya berdaulat secara struktural. Dari tambang hingga tembakau, dari laut hingga ladang, pola yang sama terus berulang: kekayaan terkonsentrasi, rakyat terpinggirkan. Pertanyaan akhirnya bukan lagi: apakah Indonesia merdeka? Tetapi: siapa yang menikmati kemerdekaan itu? Selama kekayaan negeri dikuasai oligarki dan rakyat hanya menjadi penonton, maka republik ini masih menjalani babak lanjutan dari penjajahan—bukan oleh bangsa asing, melainkan oleh sistem yang dijalankan tangan pribumi sendiri. Dan di situlah kemerdekaan menunggu untuk disempurnakan. SiS, Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Menulis: Jalan Terbuka Bagi Mereka yang Tak Mewarisi Singgasana

Menulis: Jalan Terbuka Bagi Mereka yang Tak Mewarisi Singgasana “Jika kalian bukan anak Raja, bukan anak Ulama, maka menulislah.” – Imam Ghazali Kalimat singkat dari Imam Ghazali ini menyimpan kekuatan luar biasa. Ia bukan sekadar nasihat, tapi ajakan. Bukan hanya ajakan, tapi jalan keluar—bagi mereka yang lahir tanpa gelar, tanpa warisan kekuasaan, tanpa nama besar di belakangnya. Hari ini, kita hidup di zaman yang penuh tantangan. Kekuasaan masih terlalu sering diwariskan secara turun-temurun. Nama besar masih menjadi tiket masuk ke ruang-ruang penting. Sementara itu, jutaan orang lahir dari keluarga biasa, berjuang di tengah keterbatasan, dan tak punya akses ke panggung utama kehidupan. Tapi sejarah membuktikan, bukan hanya anak raja yang bisa mengubah dunia. Bukan hanya keturunan ulama besar yang bisa menuntun umat. Mereka yang menulis, yang menyuarakan pikirannya dengan jujur, yang menuangkan kegelisahannya dalam kata-kata—merekalah yang kerap kali menciptakan peradaban. Menulis Adalah Tindakan Melawan Keheningan Dalam budaya diam, di tengah arus pasrah dan apatis, menulis adalah bentuk perlawanan. Menulis adalah keberanian untuk bersuara, untuk mengatakan “Aku ada”, untuk melawan lupa, dan mengukir jejak. Kita tidak harus menjadi pemimpin negara untuk menyampaikan gagasan kebangsaan. Tidak harus menjadi orator masyhur untuk menyuarakan kebenaran. Cukup dengan menulis. Karena kata-kata yang lahir dari hati dan pikiran yang jernih akan menemukan jalannya sendiri ke hati banyak orang. Menulis Adalah Warisan Bagi Generasi Anak raja mewariskan tahta. Anak ulama mewariskan nama dan ilmu. Tapi penulis mewariskan gagasan. Tulisan yang baik bisa bertahan jauh lebih lama dari usia penulisnya. Ia bisa menjadi cahaya bagi mereka yang tersesat, bisa menjadi kompas bagi mereka yang mencari arah. Jika kita menulis dengan kesungguhan, maka kita sedang menanam benih-benih perubahan. Mungkin kita tidak akan pernah tahu siapa yang kelak membaca tulisan kita. Tapi seperti mata air yang terus mengalir, tulisan yang ikhlas dan mencerahkan akan terus menemukan pembacanya. Saatnya Kita Bangkit Menulis Saya percaya, di tengah keterbatasan, justru banyak sekali potensi yang bisa diolah menjadi kekuatan. Pengalaman hidup, kegagalan, perjuangan, bahkan luka batin—semua itu bisa menjadi bahan bakar untuk menulis sesuatu yang bermakna. Maka, jika kalian bukan anak raja—tulislah kisah perjuangan dari bawah. Jika kalian bukan anak ulama—tulislah hasil perenungan yang mendalam. Jika kalian bukan siapa-siapa di mata dunia, buktikan bahwa kalian bisa menjadi “seseorang” melalui kata-kata. Mulailah dari hal-hal kecil: catatan harian, opini di media sosial, artikel sederhana, puisi, atau refleksi pribadi. Terus menulis. Terus menyala. Karena selama kalian menulis, kalian tidak pernah benar-benar kalah oleh keadaan. Menulis adalah kekuasaan paling demokratis yang pernah ada. Tak perlu warisan, tak perlu koneksi, tak perlu gelar. Hanya butuh keberanian untuk memulai dan ketulusan untuk berbagi. Suwatno Ibnu Sudihardjo.            Antarkita ,Purwokerto – Januari 2026  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Alumni Unsoed Gelar “Sosialisasi Tamyiz 1”

Alumni Unsoed Gelar “Sosialisasi Tamyiz 1” Ikhtiar Pra-Ramadhan Memperluas Gerakan Belajar Terjemah Al-Qur’an Metode Tamyiz Dalam rangka mengisi rangkaian kegiatan Pra-Ramadhan 1447 H / 2026 M, alumni Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman (FH Unsoed) angkatan 1981, Slamet Hartono, SH., menginisiasi kegiatan “Sosialisasi Tamyiz 1”, yakni kegiatan Belajar Terjemah Al-Qur’an dengan Metode Tamyiz. Kegiatan ini diselenggarakan melalui Panitia Amaliah Ramadhan 1447 H / 2026 M Masjid Agung Baitussalam (MAB) Purwokerto.   Slamet Hartono, SH., yang juga menjabat sebagai Sekretaris Takmir Masjid Agung Baitussalam Purwokerto, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut langsung dari kegiatan Training of Trainer (TOT) Tamyiz 1 yang sebelumnya diselenggarakan oleh Tamyiz Online Pusat di Jakarta selama dua hari. Pada kesempatan tersebut, RTO (Rumah Tamyiz Offline/Online) Purwokerto mengirimkan tiga orang perwakilan untuk mengikuti pelatihan intensif. “Kami merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menularkan ilmu yang sudah diperoleh dari TOT. Karena itu, Sosialisasi Tamyiz 1 ini kami gelar agar metode Tamyiz bisa dipahami dan dipraktikkan secara lebih luas di masyarakat,” ungkap Slamet Hartono, SH., saat bincang-bincang dengan Ir. H. Alief Einstein, M.Hum. dari kafapet-unsoed.com. Kegiatan Sosialisasi Tamyiz 1 dilaksanakan pada Sabtu, 17 Januari 2026, bertempat di Pendopo Sipanji, Kompleks Kantor Bupati Banyumas, dan diikuti oleh 102 peserta. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, namun didominasi oleh pengelola dan anggota RTO-RTO yang berada di wilayah Purwokerto dan sekitarnya. Seluruh RTO tersebut berada di bawah koordinasi RTO Purwokerto yang berpusat di Masjid Agung Baitussalam Purwokerto dan dipimpin oleh Slamet Hartono, SH., yang dikenal sebagai alumni pertama Fakultas Hukum Unsoed.   Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pemaparan dan praktik langsung mengenai tata cara mengajarkan Terjemah Al-Qur’an Metode Tamyiz, sebuah metode pembelajaran yang menekankan optimalisasi fungsi otak kanan. Metode ini dirancang agar proses belajar berlangsung ringan, menyenangkan, dan tidak menimbulkan beban kognitif berlebih. Metode Tamyiz dikenal dengan slogan khas “nggak mikir, nggak ngapal”, di mana peserta cukup menirukan bacaan dengan suara lantang, berirama, dan berulang-ulang. Kaidah-kaidah bahasa Arab yang pada umumnya dianggap sulit, justru dapat dikuasai tanpa terasa karena disampaikan melalui media nyanyian dan pengulangan yang menggembirakan. Ketua Panitia Amaliah Ramadhan 1447 H / 2026 M MAB Purwokerto, Drs. H. Samingan, menjelaskan bahwa pendekatan ini terbukti efektif bagi berbagai kelompok usia. “Kaidah-kaidah yang seharusnya dihafal, dalam Metode Tamyiz justru melekat secara alami. Peserta merasa senang, dan tanpa disadari sudah hafal dengan sendirinya,” ujarnya. Sementara itu, Machfulyono, S.Ag., selaku Ketua Panitia Penyelenggara, menyampaikan bahwa peserta Sosialisasi Tamyiz 1 didominasi oleh RTO-RTO sekitar yang dikoordinir oleh RTO Purwokerto. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang konsolidasi dan penguatan jejaring antar kelompok belajar Tamyiz. Sebelum membuka acara secara resmi, Ketua Takmir Masjid Agung Baitussalam Purwokerto, H. Sudarman, S.Ag., dalam sambutannya menegaskan pentingnya kesungguhan dan kedisiplinan dalam belajar Al-Qur’an. “Belajar Al-Qur’an itu harus dipaksakan dalam arti dilatih untuk disiplin. Apalagi belajar terjemahnya, harus benar-benar bisa istiqamah jika menghendaki hasil yang baik,” tegasnya. Lebih lanjut, H. Sudarman menyampaikan harapannya agar kemanfaatan RTO Purwokerto tidak hanya dirasakan di wilayah kota, tetapi juga mampu menjangkau kabupaten-kabupaten sekitar, seperti Purbalingga, Cilacap, Banjarnegara, bahkan hingga Kebumen. Sebagai informasi, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Sarasehan Tamyiz yang pernah digelar Masjid Agung Baitussalam Purwokerto pada 13 September 2025 di Pendopo Sipanji. Pada kegiatan tersebut, MAB menghadirkan langsung Founder Tamyiz Online Pusat, Ustadzah Luthfiyah, beserta tim. Selain memperkenalkan Metode Tamyiz, pada kesempatan itu juga dibentuk secara resmi RTO Purwokerto. Dalam Sarasehan tersebut ditetapkan susunan pengurus RTO Purwokerto, yakni Ketua Slamet Hartono, SH., Wakil Ketua Drs. HM. Cecep Setiadarma, MM., Sekretaris Machfulyono, S.Ag., Wakil Sekretaris Sudir Mubarok, S.Pd., dan Bendahara Sari Retni Kardiana. Kepengurusan ini kemudian menindaklanjuti program dengan mengikuti TOT Tamyiz 1 di Jakarta selama dua hari. Pada acara Sosialisasi Tamyiz 1, masing-masing RTO diberikan ruang untuk menampilkan kebolehannya dalam menyanyikan lagu-lagu Tamyiz sebagai metode belajar terjemah Al-Qur’an. Suasana kegiatan berlangsung hangat, penuh kekeluargaan, dan sarat semangat kebersamaan. Terlihat pula sejumlah peserta lanjut usia, bahkan ada yang harus berjalan menggunakan tongkat, tetap antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Hal ini menjadi bukti bahwa Metode Tamyiz dapat diterima oleh berbagai kalangan usia tanpa batasan. Saat ini, RTO Purwokerto telah mengoordinir berbagai kelompok belajar Tamyiz di wilayah Purwokerto dan sekitarnya, antara lain RTO Juken, RTO Kalpataru, RTO Purwanegara, RTO Trimurti, serta Sinau Bareng Kanca Tamyiz (SBKT) Ikhwan dan SBKT Akhwat. SBKT sendiri merupakan kelompok belajar terjemah Al-Qur’an Metode Tamyiz yang rutin dilaksanakan di Masjid Agung Baitussalam Purwokerto. Dengan adanya kegiatan Sosialisasi Tamyiz 1 ini, diharapkan terjadi peningkatan signifikan dalam aktivitas pembelajaran terjemah Al-Qur’an menggunakan Metode Tamyiz. Ke depan, tidak menutup kemungkinan akan dibentuk RTO-RTO baru sebagai pusat pembelajaran, sekaligus mendorong masyarakat untuk mengikuti Tamyiz Online secara gratis melalui media WhatsApp. “Harapannya, Metode Tamyiz bisa menjadi jalan yang memudahkan umat untuk belajar, memahami, dan mencintai Al-Qur’an dengan cara yang menyenangkan dan berkelanjutan,” pungkas Slamet Hartono, SH.  

Prespektif, Ruang Kita

Donasi Rakyat, Legitimasi Politik, dan Lahirnya Politisi Sejati

Donasi Rakyat, Legitimasi Politik, dan Lahirnya Politisi Sejati Politisi pada hakikatnya bukan sekadar aktor yang mengejar jabatan, melainkan wakil kepentingan banyak orang. Politik, dalam pengertian paling mendasar, adalah seni memperjuangkan kemaslahatan publik melalui kekuasaan yang sah. Karena itu, relasi antara politisi dan rakyat tidak bisa dibangun di atas transaksional semata, melainkan di atas kepercayaan. Salah satu tanda paling sederhana—namun sangat jujur—bahwa seseorang merasa kepentingannya diperjuangkan oleh seorang politisi adalah kesediaannya memberikan kontribusi finansial. Dalam demokrasi modern, donasi politik adalah bentuk partisipasi warga negara. Ia bukan sekadar angka dalam laporan keuangan kampanye, tetapi ekspresi harapan, dukungan, dan keyakinan. Orang tidak akan mengeluarkan uangnya—betapapun kecil nominalnya—jika ia tidak merasa terwakili. Kita dapat belajar banyak dari pemilihan presiden Amerika Serikat. Data sumber dana kampanye Joe Biden dan Donald Trump memberikan pelajaran penting tentang relasi antara politisi dan publik. Joe Biden memperoleh dana kampanye dari sekitar 11,86 juta pendonor, dengan rata-rata donasi sekitar Rp1,4 juta per orang. Sementara Donald Trump memperoleh dana dari sekitar 6,7 juta pendonor, dengan rata-rata donasi Rp1,8 juta per orang. Perbedaan ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan tingkat kepercayaan rakyat. Kemenangan Biden sejatinya telah tercermin dari fakta ini. Jutaan warga Amerika merasa aspirasi dan kepentingannya lebih diperjuangkan oleh Biden dibandingkan Trump. Maka mereka berbondong-bondong menyumbangkan sebagian rezekinya. Kemampuan menggalang dukungan finansial dari belasan juta orang tentu bukan perkara teknis belaka. Ia adalah hasil dari proses panjang membangun rekam jejak, konsistensi sikap, dan keberpihakan kebijakan. Dari sini kita memperoleh pelajaran penting berikutnya: kekuatan modal pribadi tidak selalu sejalan dengan kekuatan legitimasi publik. Donald Trump, dengan latar belakang pebisnis besar dan sumber daya finansial pribadi yang melimpah, tetap kalah dalam pertarungan menggalang kepercayaan rakyat. Uang pribadi tidak otomatis bertransformasi menjadi dukungan publik. Bahkan, dalam banyak kasus, justru menimbulkan kecurigaan akan adanya kepentingan tersembunyi. Fakta ini mempertegas satu hal mendasar: politisi sejati bukanlah pebisnis yang bermetamorfosis menjadi politisi karena kekuatan pundi-pundi uangnya. Politisi sejati adalah mereka yang sejak muda memilih jalan politik sebagai karier pengabdian. Mereka menapaki dunia politik bukan sebagai perpanjangan tangan bisnis, melainkan sebagai arena perjuangan nilai dan kepentingan publik. Joe Biden adalah contoh politisi karier—bukan figur yang tiba-tiba hadir dari luar sistem politik untuk memanfaatkannya. Sejarah Indonesia pun memberikan pelajaran yang sama. Para pendiri bangsa—Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Sjahrir, dan banyak tokoh pergerakan lainnya—adalah sosok yang sejak muda memilih jalan politik sebagai medan pengabdian. Mereka hidup sederhana, berjuang dengan dukungan rakyat, dan tidak membawa kepentingan bisnis pribadi dalam keputusan politik. Inilah kekuatan utama politisi murni: ketiadaan konflik kepentingan (conflict of interest). Ketika seorang politisi tidak memiliki kepentingan bisnis pribadi, keputusan politiknya menjadi lebih jernih. Kebijakan publik tidak diarahkan untuk melindungi aset, memperluas usaha, atau mengamankan jaringan bisnis, melainkan untuk kepentingan rakyat banyak. Inilah yang membedakan politik sebagai pengabdian dengan politik sebagai investasi. Donasi rakyat, dalam konteks ini, bukan hanya instrumen pembiayaan kampanye, tetapi juga mekanisme kontrol moral. Politisi yang dibiayai oleh jutaan rakyat akan berpikir seribu kali sebelum mengkhianati kepercayaan mereka. Berbeda dengan politisi yang dibiayai oleh segelintir pemodal besar, yang secara struktural lebih rentan disandera kepentingan sempit. Karena itu, masa depan demokrasi yang sehat tidak terletak pada seberapa kaya kandidatnya, melainkan pada seberapa luas dan tulus dukungan rakyat yang berdiri di belakangnya. Politik membutuhkan uang, tetapi yang lebih dibutuhkan adalah legitimasi. Dan legitimasi itu lahir dari kepercayaan publik yang diwujudkan dalam partisipasi nyata—termasuk dalam bentuk donasi. Di titik inilah kita dapat menarik kesimpulan: politik yang dibiayai rakyat melahirkan politisi sejati; politik yang dibiayai modal semata melahirkan oligarki. Pilihan ada di tangan kita, sebagai warga negara dan sebagai pemilik kedaulatan. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Belajar dari Universitas Muhammadiyah Kupang: Ketika Biskuit Cahaya Menemukan Jalan Ekspansi Peradaban

Belajar dari Universitas Muhammadiyah Kupang: Ketika Biskuit Cahaya Menemukan Jalan Ekspansi Peradaban Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK) adalah sebuah paradoks yang meneduhkan. Ia adalah universitas Islam, lahir dari rahim Muhammadiyah, namun justru dipercaya dan dipilih oleh mayoritas mahasiswa non-Muslim. Di tengah dunia yang sering kali menjadikan identitas agama sebagai batas sosial, UMK tampil sebagai bukti bahwa nilai Islam yang dikelola secara berkemajuan mampu menembus sekat-sekat keyakinan. Pertanyaan yang sering muncul pun sederhana namun mendalam: bagaimana mungkin sebuah universitas Islam bisa dihuni oleh mayoritas mahasiswa non-Muslim? Jawabannya tidak terletak pada strategi pemasaran semata, melainkan pada konsistensi nilai, mutu layanan, dan orientasi kemanusiaan yang dijalankan kampus ini selama bertahun-tahun. UMK tidak menjual simbol Islam secara eksklusif. Ia menghadirkan Islam sebagai etos: kejujuran akademik, profesionalisme pengelolaan, keterbukaan ruang dialog, dan pelayanan pendidikan yang menghormati martabat setiap manusia. Islam tidak dipaksakan sebagai identitas formal, tetapi dihidupkan sebagai nilai peradaban. Di titik inilah kepercayaan publik tumbuh—bahkan dari mereka yang berbeda iman. Pelajaran besar dari UMK inilah yang semestinya menginspirasi lahir dan tumbuhnya produk-produk bisnis Muhammadiyah, termasuk Biskuit Cahaya. Biskuit Cahaya adalah ikhtiar mulia. Ia lahir dari semangat kemandirian ekonomi Aisyiyah Jawa Tengah, membawa pesan halal, bergizi, dan berkemajuan. Namun, sebagaimana UMK, produk ini tidak cukup hanya berdiri sebagai “produk internal umat”. Ia harus melangkah lebih jauh: menjadi produk publik yang diterima lintas identitas, lintas kelas sosial, dan lintas budaya. UMK mengajarkan satu prinsip penting: kepercayaan tidak dibangun oleh identitas, tetapi oleh kualitas. Demikian pula Biskuit Cahaya dan produk-produk Muhammadiyah lainnya. Label halal bukan sekadar simbol religius, melainkan jaminan etika produksi, kebersihan proses, kejujuran bahan, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai ini bersifat universal—diterima oleh siapa pun, apa pun agamanya. Jika UMK mampu menjadi rumah belajar bersama bagi mereka yang berbeda keyakinan, maka produk bisnis Muhammadiyah pun harus mampu menjadi rumah manfaat bersama. Biskuit Cahaya idealnya hadir di meja siapa saja: rumah tangga, kantor, sekolah, komunitas, bahkan ruang publik lintas agama. Bukan karena ia produk Muhammadiyah, tetapi karena ia layak dipilih. Selama ini, Muhammadiyah telah menorehkan sejarah panjang di bidang pendidikan dan kesehatan. Sekolah, universitas, rumah sakit, dan klinik Muhammadiyah berdiri hampir di seluruh penjuru negeri. Keberhasilan ini adalah prestasi besar yang diakui publik. Namun, keberhasilan itu juga menghadirkan tantangan baru: apakah Muhammadiyah akan berhenti di sana? Negeri ini masih menyimpan banyak pekerjaan rumah. Ketahanan pangan yang rapuh, ketergantungan impor, lemahnya industri nasional, minimnya pelaku usaha berbasis nilai, hingga ketimpangan ekonomi struktural—semua ini menunggu kehadiran kekuatan sosial yang berintegritas dan berpengalaman. Muhammadiyah, dengan modal jaringan, sumber daya manusia, dan kepercayaan publik, sejatinya memiliki peluang besar untuk mengambil peran lebih luas. Saatnya kader Muhammadiyah melakukan ekspansi pengabdian terhadap negeri. Bukan dengan meninggalkan dakwah, tetapi dengan memperluas maknanya. Ekonomi, bisnis, pertanian, industri, otomotif, peternakan, energi, teknologi—semua adalah ladang dakwah baru yang menuntut profesionalisme, inovasi, dan keberanian mengambil risiko. Di sinilah Biskuit Cahaya menemukan makna strategisnya. Ia bukan sekadar produk makanan, tetapi simbol awal keberanian. Jika satu produk bisa lahir, tumbuh, dan diterima publik, maka produk lain akan menyusul. Dari biskuit, bisa lahir industri pangan. Dari industri pangan, bisa tumbuh ekosistem pertanian. Dari ekosistem pertanian, terbuka lapangan kerja dan kemandirian ekonomi. Biskuit Cahaya diharapkan sukses, bukan hanya dari sisi penjualan, tetapi sebagai stimulus psikologis dan organisatoris. Ia memberi pesan kepada kader Muhammadiyah: bahwa bisnis bukan wilayah yang asing, bahwa ekonomi bukan ruang yang harus ditakuti, dan bahwa nilai Islam bisa hidup subur di dunia usaha. Dari Universitas Muhammadiyah Kupang, kita belajar bahwa keberagaman bisa dirangkul tanpa kehilangan identitas. Dari Biskuit Cahaya, semoga lahir kesadaran bahwa ekonomi adalah medan jihad peradaban yang tak kalah penting dari pendidikan dan kesehatan. Jika pendidikan dan kesehatan telah menjadi jejak sejarah Muhammadiyah, maka ekonomi, industri, dan bisnis semoga menjadi jejak peradaban Muhammadiyah di masa depan—jejak yang menerangi, seperti cahaya, bagi siapa saja yang disentuhnya. Oleh: SiS | Antarki

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Pelatihan Sehari Menjadi DRIVER Jutawan

Pelatihan Sehari Menjadi DRIVER Jutawan Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Penguatan Gerakan Bela Beli Produk Muhammadiyah Banyumas | Antarkita, 17 Januari 2026 Situasi perekonomian nasional dan daerah saat ini menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Daya beli masyarakat yang menurun, terbatasnya lapangan kerja formal, meningkatnya biaya hidup, serta merosotnya omzet usaha kecil dan menengah menjadi realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat bawah, termasuk warga Persyarikatan Muhammadiyah. Di tengah kondisi tersebut, dibutuhkan ikhtiar nyata dan solutif, bukan sekadar keluhan atau wacana. Ekonomi umat harus dibangun dari kesadaran kolektif, kolaborasi, dan keberanian untuk mengambil peran di tengah keterbatasan. Atas dasar itulah, SAMTOUR, biro Umrah dan Haji milik Muhammadiyah Banyumas, berkolaborasi dengan Antarkita.com, menginisiasi kegiatan bertajuk “Pelatihan Sehari Menjadi DRIVER Jutawan”. Sebuah program pemberdayaan ekonomi umat yang dirancang untuk menjawab tantangan zaman dengan pendekatan yang membumi, aplikatif, dan berorientasi jangka panjang. Dari Driver Menjadi Entrepreneur Pelatihan ini lahir dari kesadaran bahwa profesi driver online, meskipun menjadi solusi ekonomi jangka pendek, memiliki keterbatasan struktural. Pekerjaan ini sangat bergantung pada kondisi fisik yang prima, sementara usia terus bertambah dan kesehatan tidak selalu sejalan dengan tuntutan kerja. Oleh karena itu, driver Antarkita tidak boleh berhenti hanya sebagai driver. Mereka harus dipersiapkan untuk naik kelas—menjadi entrepreneur, pelaku usaha yang mampu memanfaatkan relasi, jaringan, dan kepercayaan konsumen sebagai modal sosial untuk mengembangkan usaha. Dalam pelatihan ini, driver diposisikan sebagai subjek pembangunan ekonomi, bukan sekadar objek aplikasi teknologi. Mereka dibekali mindset kewirausahaan, cara membaca peluang, serta pemahaman bahwa setiap pertemuan dengan konsumen adalah pintu relasi yang berpotensi menjadi peluang bisnis. Driver sebagai Duta Ekonomi Umat Salah satu terobosan penting dalam pelatihan ini adalah peneguhan peran driver Antarkita sebagai duta Umrah SAMTOUR. Para driver diarahkan untuk menjadi agen sosialisasi dan promosi layanan Umrah dan Haji milik Muhammadiyah kepada warga Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, dan simpatisan. Ini bukan sekadar strategi pemasaran, tetapi bagian dari gerakan bela beli produk Muhammadiyah—sebuah sikap sadar untuk menguatkan bisnis milik Persyarikatan agar mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri jasa perjalanan ibadah yang semakin ketat. Dengan semangat dari kita, oleh kita, untuk kita, driver Antarkita diharapkan menjadi ujung tombak yang menghubungkan layanan SAMTOUR dengan jamaah potensial, sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi dirinya sendiri. Waktu, Tempat, dan Narasumber Pelatihan Sehari Menjadi DRIVER Jutawan akan diselenggarakan pada: 🗓 Sabtu, 24 Januari 2026 🕘 Pukul 09.00 – 12.00 WIB 📍 Aula Abu Dardiri, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas Adapun narasumber yang akan mengisi kegiatan ini adalah figur-figur yang berpengalaman langsung di dunia usaha dan pengelolaan ekonomi umat, yaitu: H. Ardani, Direktur SAMTOUR Banyumas H. Latif Muchozin, Ketua Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Banyumas sekaligus pengusaha sukses Keduanya akan berbagi pengalaman, strategi, dan inspirasi bagaimana membangun usaha dari bawah, bertahan di tengah krisis, serta menjadikan nilai-nilai Persyarikatan sebagai fondasi bisnis. Peserta dan Harapan Besar Peserta pelatihan ini berasal dari warga dan simpatisan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Banyumas, khususnya para driver Antarkita dan masyarakat yang memiliki minat kuat untuk meningkatkan kapasitas ekonomi dan kewirausahaan. Pelatihan ini diharapkan: Menumbuhkan mindset entrepreneur di kalangan driver dan warga Muhammadiyah. Menguatkan praktik nyata gerakan bela beli produk Muhammadiyah, bukan sekadar slogan. Menjadi stimulus lahirnya kolaborasi ekonomi di sektor-sektor bisnis Muhammadiyah lainnya. Membangun ekosistem ekonomi umat yang mandiri, berdaulat, dan berkeadilan. Kolaborasi antara SAMTOUR dan Antarkita.com ini menjadi bukti bahwa ekonomi umat bisa dibangun dengan cara sederhana, kolaboratif, dan berkelanjutan, selama ada niat, keberanian, dan kebersamaan. Dari driver, tumbuh entrepreneur. Dari relasi, lahir peluang. Dari bela beli, terbangun kemandirian. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

RIMBAS Latih Puluhan Remaja Membuat Konten Sosial Media

RIMBAS Latih Puluhan Remaja Membuat Konten Sosial Media Isi Isra Mi’raj dengan Dakwah Kreatif dan Literasi Digital Banyumas | Antarkita – 16 Januari 2026 Dalam rangka memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H, RIMBAS (Remaja Islam Masjid Agung Baitusalam) Purwokerto menyelenggarakan Pelatihan Konten Kreator Media Sosial pada Jumat, 16 Januari 2026, bertempat di Masjid Agung Baitusalam, Purwokerto. Kegiatan ini menjadi ikhtiar konkret RIMBAS dalam menghadirkan dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman, khususnya di tengah pesatnya arus digital dan media sosial. Pelatihan ini dirancang sebagai ruang pembelajaran sekaligus praktik bagi remaja dan pemuda agar mampu memanfaatkan media sosial secara produktif, kreatif, dan bertanggung jawab. Tidak hanya berorientasi pada keterampilan teknis, kegiatan ini juga menekankan pentingnya nilai, etika, dan pesan positif dalam setiap konten yang diproduksi. Ketua Pembinaan RIMBAS, Bhayu Subrata, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan konten kreator ini merupakan respons atas realitas bahwa generasi muda hari ini hidup dan tumbuh di ruang digital. “Media sosial adalah ruang dakwah dan ruang ekspresi generasi muda. Karena itu, kami ingin membekali adik-adik dengan pengetahuan dan keterampilan dasar agar mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mampu menjadi kreator konten yang membawa pesan kebaikan,” ujarnya. Bhayu menambahkan bahwa metode pelatihan dirancang dominan praktik agar peserta benar-benar mendapatkan pengalaman langsung. “Sekitar 70 persen materi berupa praktik. Target kami sederhana tapi realistis, setelah pelatihan ini peserta sudah mampu membuat konten video berdurasi 60 detik yang layak tayang dan menarik,” tegasnya. Sementara itu, Takmir Masjid Agung Baitusalam Bidang UPZ, H. Tafip Sudono, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program pra-Ramadhan Masjid Agung Baitusalam. Selain pelatihan konten kreator, masjid juga telah menyiapkan kegiatan Tabelampot (Tanam Cabai dalam Pot) dan Seminar Tamyiz sebagai upaya penguatan spiritual sekaligus pemberdayaan jamaah. “Masjid bukan hanya tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat pembinaan umat, termasuk pembinaan generasi muda agar siap menghadapi tantangan zaman,” jelasnya. Pelatihan ini diikuti oleh sekitar 60 peserta, terdiri dari pelajar SMP/MTs, SMA/SMK/MA, serta pemuda berusia 12 hingga 30 tahun yang memiliki minat pada dunia konten digital. Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan, baik dalam sesi diskusi maupun praktik pembuatan konten. Sebagai pemateri utama, RIMBAS menghadirkan Yusuf, konten kreator muda asal Purwokerto yang dikenal aktif memproduksi konten edukatif dan positif di media sosial. Dalam materinya, Yusuf menekankan bahwa konten yang baik tidak hanya soal visual, tetapi juga soal pesan dan kedekatan dengan audiens. “Konten itu tidak boleh egois. Jangan hanya memikirkan apa yang kita mau, tapi juga apa yang dibutuhkan dan dirasakan oleh penonton,” ujarnya. Ia juga mengingatkan pentingnya narasi dan struktur konten. “Mainkan kata dan narasi. Dan ingat, kunci utama ada di hook, yaitu tiga detik pertama di awal video. Kalau tiga detik awal gagal menarik perhatian, konten sebagus apa pun bisa dilewati,” jelas Yusuf yang juga dikenal sebagai marbot masjid dan aktif menggerakkan dakwah kreatif di kalangan anak muda. Selama pelatihan, peserta diajak memahami dasar-dasar pembuatan konten, mulai dari menentukan ide, menyusun narasi, teknik pengambilan gambar sederhana, hingga simulasi pembuatan video singkat. Suasana pelatihan berlangsung interaktif, dengan peserta aktif bertanya dan berdiskusi. Panitia menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan kegiatan perdana, bukan yang terakhir. Ke depan, RIMBAS berencana mengadakan kelas-kelas lanjutan dengan materi yang lebih mendalam, seperti editing video, storytelling digital, hingga pemanfaatan media sosial untuk dakwah dan pemberdayaan sosial. Melalui kegiatan ini, RIMBAS berharap dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran moral dan sosial dalam bermedia. Media sosial diharapkan menjadi ruang penyebaran pesan kebaikan, inspirasi, dan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan semangat Isra Mi’raj, RIMBAS berkomitmen menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan generasi muda yang religius, kreatif, dan relevan dengan tantangan zaman.  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Tasik Manyala, Sinergitas Tukang Las Jadi Lebih Berkelas

Tasik Manyala, Sinergitas Tukang Las Jadi Lebih Berkelas Pemerintah Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mengambil langkah strategis dalam mendorong peningkatan kelas pelaku usaha bengkel las dan juru las lokal. Melalui Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UMKM Indag), Pemkot Tasikmalaya berkolaborasi dengan Komunitas Bengkel Las Indonesia (KBLI) serta Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman (KAUnsoed) Priangan Timur akan menggelar Silaturahmi Pengusaha Bengkel Las dan Juru Las Kota Tasikmalaya dan sekitarnya. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 4 Februari 2026, mulai pukul 09.00 WIB, bertempat di Gedung PPIK, Jalan Letjen Mashudi, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya. Ketua KAUnsoed Priangan Timur, H. Amran Saefullah, SE., MM., yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tasikmalaya, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan ikhtiar membangun ekosistem usaha bengkel las yang lebih profesional, berdaya saing, dan terorganisasi. “Ini bukan sekadar temu kangen, tetapi ruang silaturahmi produktif untuk menyatukan pengusaha bengkel las, juru las, komunitas, dan pemerintah agar potensi besar yang dimiliki Tasik bisa naik kelas,” ujarnya. Menilik potensi wilayah, Tasikmalaya dan daerah sekitarnya seperti Garut, Ciamis, dan Pangandaran sejak lama dikenal memiliki keunggulan skill pengelasan yang diwariskan secara turun-temurun. Hal tersebut disampaikan Ketua Ikatan Alumni FISIP Unsoed Jabodetabek dan Luar Negeri, Drs. Nirwan Lesmana, SP., dalam bincang-bincang bersama Ir. H. Alief Einstein, M.Hum. dari kafapet-unsoed.com. “Tak sedikit yang memulai dari bengkel las kecil di depan rumah, kini telah berkembang menjadi toko besi besar dan usaha yang mapan,” ungkap Nirwan. Kegiatan awal Februari 2026 ini akan semakin semarak dengan Lomba Seni Daur Ulang Besi Bekas, hasil karya bengkel las dan juru las lokal. Karya terbaik akan mendapatkan hadiah menarik yang diserahkan langsung oleh Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, ST., MBA. Menurut Nirwan, yang juga Staf Khusus Bidang Informasi dan Komunikasi Asosiasi Pengelasan Indonesia (API–IWS), lomba ini menjadi ruang ekspresi kreativitas sekaligus bukti bahwa besi bekas dapat bernilai seni dan ekonomi. Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, menegaskan bahwa potensi sumber daya manusia bidang pengelasan di Tasikmalaya sudah sangat baik dan perlu didorong lebih serius. “Pak Viman ingin menggedor hati para pengusaha dan pekerja bengkel las agar berani memasarkan jasa, meningkatkan skill, dan menghasilkan produk unggulan lokal ‘Urang Tasik’,” ujarnya saat jamuan makan siang bersama panitia. Saat meninjau lokasi kegiatan di Gedung PPIK, Kepala Dinas Indag Kota Tasikmalaya, Sofian Zaenal Mutaqien, S.STP., M.Si., menambahkan bahwa pada acara tersebut juga akan dideklarasikan ‘Welder Club Tasik’. “Cukup dengan foto KTP, siapa pun juru las dan pelaku bengkel las bisa bergabung untuk bersilaturahmi dan berbagi pengalaman,” ujar Ramdhan, S.Pt., MT., Kabid Industri, yang turut mendukung penguatan sektor bengkel las. Sementara itu, Pendiri dan Sekretaris Jenderal KBLI, Nirwan, menambahkan bahwa hasil karya peserta lomba akan dipoles dan ditampilkan pada display produk UMKM, sekaligus dijual secara terbuka kepada masyarakat. “Jangan menunggu semuanya sempurna untuk melangkah. Api besar selalu berawal dari percik api kecil yang barokah,” tegas Nirwan dengan penuh semangat. Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal penguatan sinergi, kolaborasi, dan kebangkitan industri bengkel las lokal. Salam Pijar Silaturahmi, Sinergi, dan Kolaborasi.

Prespektif, Ruang Kita

Melampaui Diri: Jalan Sunyi Seorang Pejuang

Melampaui Diri: Jalan Sunyi Seorang Pejuang Seorang pejuang sejati tidak berhenti pada tujuan pribadinya. Ia memang memulai langkah dari kebutuhan dirinya—mencari nafkah, menggapai pendidikan, membangun masa depan. Namun seiring waktu, ia menyadari bahwa perjuangan yang hanya berpusat pada diri sendiri akan cepat lelah dan mudah kehilangan arah. Karena itu, ia melangkah lebih jauh: melampaui kepentingan pribadi menuju nilai, amanah, dan kemaslahatan yang lebih besar. Pada titik inilah perjuangan berubah makna. Ia tidak lagi sekadar tentang menang atau kalah, sukses atau gagal, tetapi tentang apa yang diperjuangkan dan untuk siapa perjuangan itu dijalankan. Seorang pejuang memahami bahwa hidup bukan ruang bebas tanpa tanggung jawab. Setiap kemampuan adalah titipan, setiap kesempatan adalah amanah, dan setiap langkah akan dimintai pertanggungjawaban. Pejuang yang melampaui dirinya tidak menempatkan ambisi sebagai tujuan akhir. Ambisi hanyalah alat untuk bergerak, bukan kompas penentu arah. Kompasnya adalah nilai: kejujuran, keadilan, keberpihakan pada yang lemah, dan kesetiaan pada kebenaran. Karena itu, ia rela menunda kepentingan pribadi demi menjaga amanah, meski pilihan itu sering kali sunyi dan berat. Dalam perjalanan, pejuang semacam ini kerap diuji. Ia mungkin kalah cepat dari mereka yang memilih jalan pintas. Ia bisa tertinggal dari mereka yang berkompromi dengan nilai. Namun ia tetap bertahan, karena yang ia jaga bukan sekadar hasil, melainkan integritas. Ia sadar, kemenangan tanpa nilai adalah kekalahan yang tertunda. Seorang pejuang juga memahami bahwa kemaslahatan tidak selalu lahir dari langkah besar dan gemilang. Sering kali, ia tumbuh dari kesetiaan pada hal-hal kecil: bekerja jujur di tengah sistem yang korup, bersikap adil di tengah budaya yang timpang, dan tetap peduli saat lingkungan memilih acuh. Di sanalah perjuangan menemukan maknanya yang paling murni. Dalam perspektif iman, perjuangan yang melampaui diri adalah bentuk ibadah. Bekerja bukan hanya mencari penghidupan, tetapi menjaga martabat. Belajar bukan sekadar mengejar gelar, tetapi membangun peradaban. Memimpin bukan tentang kuasa, tetapi tentang melayani. Semua diarahkan untuk mewujudkan kemaslahatan bersama, bukan sekadar keuntungan personal. Pejuang semacam ini tidak selalu dikenali. Ia jarang mendapat sorotan, apalagi pujian. Namun keberadaannya terasa. Ia hadir sebagai orang tua yang jujur meski hidup pas-pasan, sebagai guru yang setia mendidik meski fasilitas terbatas, sebagai aktivis yang bergerak tanpa pamrih, dan sebagai warga biasa yang menjaga nilai di tengah arus pragmatisme. Ia tahu, hidup ini sementara. Yang akan tinggal bukan jabatan, bukan harta, bukan popularitas, melainkan jejak nilai dan manfaat yang ditinggalkan. Karena itu, ia tidak silau oleh pujian dan tidak hancur oleh celaan. Ia melangkah dengan tenang, sebab yang ia kejar bukan pengakuan manusia, melainkan ridha Allah dan kebaikan bagi sesama. Pada akhirnya, seorang pejuang adalah mereka yang melampaui dirinya sendiri. Ia hidup bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan yang lebih bermakna. Bukan tentang seberapa tinggi ia naik, tetapi seberapa banyak yang ikut terangkat bersamanya. Bukan tentang apa yang ia kumpulkan, tetapi apa yang ia titipkan sebagai warisan nilai. Di situlah perjuangan menemukan bentuknya yang paling luhur: ketika diri menjadi jalan, nilai menjadi arah, amanah menjadi pegangan, dan kemaslahatan menjadi tujuan.  

Prespektif, Ruang Kita

Mini Ranch Domba di Experimental Farm Fakultas Peternakan Unsoed

Mini Ranch Domba di Experimental Farm Fakultas Peternakan Unsoed Usaha Peternakan Kecil dengan Harapan Besar Ketika isu ketahanan pangan dan kesejahteraan peternak terus mengemuka dalam ruang-ruang kebijakan, solusi sering kali dibayangkan dalam skala besar, berbiaya tinggi, dan sarat teknologi kompleks. Padahal, perubahan justru bisa dimulai dari ruang kecil yang dikelola dengan visi besar. Inilah yang ditunjukkan oleh Mini Ranch Domba di Experimental Farm (ExpFarm) Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Mini Ranch Domba menjadi model peternakan kampus yang sederhana dan membumi, namun menawarkan jawaban nyata atas berbagai persoalan peternakan rakyat—mulai dari kesehatan ternak, efisiensi usaha, kesejahteraan hewan, hingga keberlanjutan lingkungan. Hal tersebut disampaikan Wakil Dekan Fakultas Peternakan Unsoed, Ir. Mochamad Sugiarto, SPt., MM., PhD., IPU., ASEAN Eng., dalam pemaparan yang dipandu Ir. H. Alief Einstein, M.Hum. dari kafapet-unsoed.com, pada Jumat, 16 Januari 2026. Dari Kandang Konvensional ke Mini Ranch Peternakan domba rakyat di Indonesia umumnya dijalankan dalam skala kecil dengan keterbatasan lahan, modal, dan akses teknologi. Kandang yang sempit, minim sirkulasi, serta kurang memberi ruang gerak ternak kerap menimbulkan persoalan kesehatan, stres, dan fluktuasi produktivitas. “Dalam kondisi seperti ini, masalah berulang menjadi sesuatu yang sulit dihindari,” ujar Sugiarto. Sebagai alternatif, Mini Ranch Domba hadir dengan pendekatan kandang semi-intensif yang dilengkapi area umbaran atau exercise area. Ternak tidak hanya dikandangkan, tetapi juga diberi ruang bergerak, beradaptasi dengan lingkungan, dan mengekspresikan perilaku alaminya. Konsep ini memadukan efisiensi kandang dengan prinsip animal welfare yang semakin relevan dalam peternakan modern. Berbeda dengan sistem ekstensif yang membutuhkan lahan luas, mini ranch dirancang adaptif terhadap keterbatasan ruang sehingga realistis diterapkan oleh peternak rakyat. “Inilah kekuatannya—inovasi yang tidak menjauh dari realitas lapangan,” tegas Sugiarto, alumni S3 Community Development, University of the Philippines Los Baños. Mini Ranch sebagai Ruang Belajar Hidup Di ExpFarm Fapet Unsoed, Mini Ranch Domba tidak berdiri sebagai proyek terpisah, melainkan menjadi bagian integral dari ruang belajar peternakan masa depan. Mini ranch diposisikan sebagai ruang hidup tempat pembelajaran, riset, dan inovasi bertemu dalam praktik nyata. Bagi mahasiswa, mini ranch berfungsi sebagai laboratorium lapangan sesungguhnya. Mereka tidak hanya belajar memberi pakan atau membersihkan kandang, tetapi juga memahami manajemen ternak secara menyeluruh—mulai dari pengaturan kepadatan ternak, kebersihan area umbaran, pengamatan perilaku ternak, hingga analisis dampaknya terhadap kesehatan dan performa produksi. “Pembelajaran seperti ini sulit diperoleh jika praktik hanya dilakukan di kandang konvensional,” jelas Sugiarto, dosen ahli Pemberdayaan Masyarakat Fapet Unsoed. Bagi dosen dan peneliti, mini ranch menjadi ruang riset terapan. Kajian tentang pakan hijauan, leguminosa, perilaku hewan, kesehatan ternak, hingga efisiensi usaha dapat diuji langsung di lapangan dan diterjemahkan menjadi rekomendasi teknis yang aplikatif. Manfaat Nyata bagi Ternak dan Peternak Keberadaan mini ranch menunjukkan manfaat yang dapat diamati secara langsung. Dari sisi ternak, kesehatan cenderung lebih baik, tingkat stres menurun, dan perilaku lebih alami. Ternak yang aktif bergerak memiliki adaptasi lingkungan yang lebih baik, yang berdampak pada performa produksi dan daya tahan tubuh. Dari sisi peternak, mini ranch menawarkan model kandang yang mudah ditiru, berbiaya relatif terjangkau, dan fleksibel sesuai kondisi lokal. Lebih dari itu, mini ranch mendorong perubahan cara pandang: beternak bukan sekadar memberi pakan dan menunggu panen, tetapi mengelola sistem yang memperhatikan keseimbangan antara ternak, lingkungan, dan manusia. Sebagai Sekretaris Jenderal Perhimpunan Ilmuwan Sosial Ekonomi Peternakan Indonesia (PERSEPSI), Sugiarto menekankan bahwa mini ranch juga membuka ruang pembelajaran kolektif. “Ketika peternak, mahasiswa, penyuluh, dan akademisi bertemu di satu lokasi, terjadi pertukaran pengetahuan yang setara. Kampus tidak lagi menjadi menara gading, tetapi mitra belajar dan mitra usaha.” Relevansi bagi Kebijakan Publik Dari perspektif kebijakan, Mini Ranch Domba memiliki nilai strategis sebagai demonstration plot pengembangan peternakan rakyat. Banyak program peternakan sulit direplikasi karena terlalu kompleks dan tidak kontekstual. Mini ranch justru menawarkan model yang sederhana, adaptif, dan mudah diterapkan. Bagi pemerintah daerah, model ini relevan untuk program pemberdayaan peternak, penguatan ekonomi perdesaan, hingga regenerasi peternak muda. Mini ranch dapat dikembangkan sebagai basis sekolah lapang, pelatihan vokasi, maupun inkubasi usaha peternakan skala kecil. Lebih luas, mini ranch sejalan dengan agenda ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan, dengan prinsip efisiensi lahan, pemanfaatan hijauan lokal, dan perhatian terhadap kesejahteraan ternak—isu penting di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya. Dari Mini Ranch Menuju Masa Depan Mini Ranch Domba di Experimental Farm Fapet Unsoed bukanlah tujuan akhir, melainkan titik awal perubahan cara pandang tentang pengembangan peternakan rakyat yang sehat, efisien, dan berkelanjutan. Dari ruang kecil di kampus, lahir gagasan besar yang berpotensi direplikasi di desa-desa. Ke depan, mini ranch dapat dikembangkan sebagai bagian dari agro-edutourism, pusat pelatihan peternak, hingga inkubator wirausaha muda di bidang peternakan. Semua berangkat dari prinsip yang sama: inovasi harus membumi, dekat dengan realitas, dan berpihak pada pelaku usaha kecil. “Peternakan masa depan tidak selalu dimulai dari investasi besar. Ia bisa tumbuh dari kandang sederhana yang dikelola dengan ilmu, kepedulian, dan visi jangka panjang,” pungkas Sugiarto. Sementara itu, Tarwono, salah satu pegawai ExpFarm Fapet Unsoed, menambahkan bahwa mini ranch juga berfungsi sebagai sarana edukasi. “Mini ranch sangat efektif untuk pengenalan ternak, terutama saat ada kunjungan anak-anak TK/PAUD dan siswa sekolah. Mereka bisa belajar mengenal ternak secara langsung sejak dini.” Dari Mini Ranch Domba di kampus Unsoed, publik belajar bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil, selama dijalankan secara konsisten dan kolaboratif.

Scroll to Top