You are currently viewing Menulis: Jalan Terbuka Bagi Mereka yang Tak Mewarisi Singgasana

Menulis: Jalan Terbuka Bagi Mereka yang Tak Mewarisi Singgasana

Menulis: Jalan Terbuka Bagi Mereka yang Tak Mewarisi Singgasana

“Jika kalian bukan anak Raja, bukan anak Ulama, maka menulislah.” – Imam Ghazali

Kalimat singkat dari Imam Ghazali ini menyimpan kekuatan luar biasa. Ia bukan sekadar nasihat, tapi ajakan. Bukan hanya ajakan, tapi jalan keluar—bagi mereka yang lahir tanpa gelar, tanpa warisan kekuasaan, tanpa nama besar di belakangnya.

Hari ini, kita hidup di zaman yang penuh tantangan. Kekuasaan masih terlalu sering diwariskan secara turun-temurun. Nama besar masih menjadi tiket masuk ke ruang-ruang penting. Sementara itu, jutaan orang lahir dari keluarga biasa, berjuang di tengah keterbatasan, dan tak punya akses ke panggung utama kehidupan.

Tapi sejarah membuktikan, bukan hanya anak raja yang bisa mengubah dunia. Bukan hanya keturunan ulama besar yang bisa menuntun umat. Mereka yang menulis, yang menyuarakan pikirannya dengan jujur, yang menuangkan kegelisahannya dalam kata-kata—merekalah yang kerap kali menciptakan peradaban.

Menulis Adalah Tindakan Melawan Keheningan

Dalam budaya diam, di tengah arus pasrah dan apatis, menulis adalah bentuk perlawanan. Menulis adalah keberanian untuk bersuara, untuk mengatakan “Aku ada”, untuk melawan lupa, dan mengukir jejak.

Kita tidak harus menjadi pemimpin negara untuk menyampaikan gagasan kebangsaan. Tidak harus menjadi orator masyhur untuk menyuarakan kebenaran. Cukup dengan menulis. Karena kata-kata yang lahir dari hati dan pikiran yang jernih akan menemukan jalannya sendiri ke hati banyak orang.

Menulis Adalah Warisan Bagi Generasi

Anak raja mewariskan tahta. Anak ulama mewariskan nama dan ilmu. Tapi penulis mewariskan gagasan. Tulisan yang baik bisa bertahan jauh lebih lama dari usia penulisnya. Ia bisa menjadi cahaya bagi mereka yang tersesat, bisa menjadi kompas bagi mereka yang mencari arah.

Jika kita menulis dengan kesungguhan, maka kita sedang menanam benih-benih perubahan. Mungkin kita tidak akan pernah tahu siapa yang kelak membaca tulisan kita. Tapi seperti mata air yang terus mengalir, tulisan yang ikhlas dan mencerahkan akan terus menemukan pembacanya.

Saatnya Kita Bangkit Menulis

Saya percaya, di tengah keterbatasan, justru banyak sekali potensi yang bisa diolah menjadi kekuatan. Pengalaman hidup, kegagalan, perjuangan, bahkan luka batin—semua itu bisa menjadi bahan bakar untuk menulis sesuatu yang bermakna.

Maka, jika kalian bukan anak raja—tulislah kisah perjuangan dari bawah. Jika kalian bukan anak ulama—tulislah hasil perenungan yang mendalam. Jika kalian bukan siapa-siapa di mata dunia, buktikan bahwa kalian bisa menjadi “seseorang” melalui kata-kata.

Mulailah dari hal-hal kecil: catatan harian, opini di media sosial, artikel sederhana, puisi, atau refleksi pribadi. Terus menulis. Terus menyala. Karena selama kalian menulis, kalian tidak pernah benar-benar kalah oleh keadaan.

Menulis adalah kekuasaan paling demokratis yang pernah ada. Tak perlu warisan, tak perlu koneksi, tak perlu gelar. Hanya butuh keberanian untuk memulai dan ketulusan untuk berbagi.

Suwatno Ibnu Sudihardjo.            Antarkita ,Purwokerto – Januari 2026

 

Tinggalkan Balasan