Antarkita

Prespektif

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Antarkita di Garda Terdepan Gerakan Bela Beli Produk Muhammadiyah

Antarkita di Garda Terdepan Gerakan Bela Beli Produk Muhammadiyah Membangun Kesejahteraan Bersama Melalui Kolaborasi dan Ukhuwah Ekonomi Banyumas,|Antarkita , Januari 2026 Antarkita lahir dari kesadaran bahwa persoalan ekonomi umat tidak cukup dijawab dengan retorika, tetapi membutuhkan ikhtiar nyata dan keberanian berpihak. Di tengah dominasi produk besar dan sistem distribusi yang sering kali tidak adil, Antarkita menegaskan posisinya sebagai garda terdepan gerakan bela beli produk Muhammadiyah. Gerakan bela beli bukan sekadar ajakan konsumsi, tetapi sikap ideologis dan praksis ekonomi. Ia adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa produk milik persyarikatan dan warga Muhammadiyah mendapatkan ruang hidup, ruang tumbuh, dan ruang pasar yang adil di tengah kompetisi yang tidak seimbang. Bela Beli sebagai Implementasi Ukhuwah Ekonomi Muhammadiyah sejak awal berdiri telah menempatkan ekonomi sebagai bagian dari dakwah sosial. KH. Ahmad Dahlan menanamkan bahwa keberagamaan harus berdampak nyata bagi kesejahteraan umat. Dalam konteks itulah, Antarkita memaknai gerakan bela beli sebagai implementasi ukhuwah ekonomi—saling menguatkan, saling menghidupi, dan saling menjaga keberlanjutan usaha sesama warga. Antarkita meyakini bahwa: produk Muhammadiyah harus menjadi tuan rumah di lingkungan sendiri, jaringan Muhammadiyah adalah kekuatan ekonomi besar jika disinergikan, dan kesejahteraan jama’ah tidak akan lahir tanpa keberanian mengalihkan pilihan konsumsi. Kolaborasi Nyata: Antarkita dan Biskuit Cahaya Sebagai langkah konkret, Antarkita membangun kolaborasi strategis dengan Biskuit Cahaya, produk unggulan milik Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah. Biskuit Cahaya bukan sekadar produk pangan, tetapi simbol kemandirian ekonomi perempuan Muhammadiyah yang dikelola secara profesional, amanah, dan berorientasi pada kemaslahatan. Antarkita menyiapkan tim khusus promosi dan pemasaran untuk memastikan Biskuit Cahaya dikenal luas, diterima pasar, dan berkelanjutan secara ekonomi. Dalam tahap awal, Banyumas ditetapkan sebagai pilot project kolaborasi Antarkita dan Biskuit Cahaya. Banyumas dipilih bukan tanpa alasan. Di daerah ini terdapat ekosistem Muhammadiyah yang kuat, jaringan jama’ah yang hidup, serta semangat kolaborasi lintas amal usaha dan komunitas. Pilot project ini diharapkan menjadi model sinergi ekonomi jama’ah yang dapat direplikasi di wilayah lain. Driver Antarkita: Dari Pengemudi Menjadi Duta Bisnis Dengan misi membangun kesejahteraan bersama, Antarkita menempatkan driver sebagai aktor utama dalam gerakan ekonomi ini. Driver tidak diposisikan sekadar sebagai tenaga kerja, tetapi sebagai duta bisnis dan agen perubahan ekonomi jama’ah. Para driver Antarkita dibekali peran ganda: sebagai penyedia layanan transportasi, sekaligus sebagai penghubung produk jama’ah dengan masyarakat luas. Melalui peran ini, driver memiliki kesempatan untuk belajar bisnis, membangun jaringan, dan menambah sumber penghasilan. Antarkita percaya bahwa seorang driver tidak harus seumur hidup menjadi driver. Di dalam ekosistem yang sehat, driver bisa tumbuh menjadi entrepreneur mandiri. Menuju Driver Jutawan Antarkita Konsep driver jutawan yang diusung Antarkita bukan semata tentang kekayaan materi, tetapi tentang kemandirian, keberanian bermimpi, dan peluang berkembang. Dengan dukungan produk seperti Biskuit Cahaya, driver memiliki kesempatan menjadi: reseller, distributor lokal, bahkan pelaku usaha mandiri di lingkungannya sendiri. Ketika driver tumbuh, keluarga ikut sejahtera. Ketika keluarga sejahtera, jama’ah menguat. Inilah rantai nilai yang ingin dibangun oleh Antarkita—ekonomi yang tumbuh dari bawah, dari jama’ah, dan untuk jama’ah. Ekosistem Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Kita Kolaborasi Antarkita dan Biskuit Cahaya adalah cermin dari ekosistem ekonomi yang diidamkan: diproduksi oleh persyarikatan, dipasarkan oleh jaringan jama’ah, dan dikonsumsi oleh warga sendiri. Ekosistem ini bukan untuk menutup diri dari dunia luar, tetapi untuk memastikan bahwa umat memiliki pondasi kemandirian dan kedaulatan ekonomi. Ketika pondasi itu kuat, kolaborasi dengan pihak mana pun dapat dilakukan secara setara dan bermartabat. Penutup: Ikhtiar Kecil, Harapan Besar Antarkita menyadari bahwa langkah ini penuh keterbatasan. Namun sejarah telah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian memulai. Seperti burung pipit dalam kisah Nabi Ibrahim AS, Antarkita memilih membawa setetes air—bukan karena yakin memadamkan api, tetapi karena ingin berada di pihak yang benar. Dengan spirit bela beli, ukhuwah ekonomi, dan kemandirian jama’ah, Antarkita melangkah sebagai ikhtiar kolektif membangun kesejahteraan Muhammadiyah. SiS, Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

NU: Dari Kutukan Tambang ke Swasembada Rokok

NU: Dari Kutukan Tambang ke Swasembada Rokok 731 Triliun Kekayaan Rokok — Seandainya Itu Milik NU dan Jama’ahnya Selama ini wacana keterlibatan organisasi masyarakat keagamaan dalam dunia ekonomi sering kali terjebak pada persoalan yang rentan konflik. Isu tambang yang pernah mencuat dalam dinamika internal PBNU menjadi salah satu contoh betapa sektor ekonomi tertentu dapat memicu ketegangan organisasi hingga berpotensi melahirkan jebakan politik praktis. Sebagaimana dikemukakan sebuah kolom Tempo, keterlibatan ormas besar dalam usaha ekstraktif seperti pertambangan berisiko membawa apa yang disebut “kutukan tambang”: konflik internal, tekanan sosial, dan pengaruh politik yang jauh dari tujuan pemberdayaan umat. Dugaan bahwa konsesi tambang menjadi salah satu pemicu konflik perebutan kepemimpinan di internal PBNU pun sempat menguat di publik. Meskipun Ketua Umum PBNU, Gus Yahya Cholil Staquf, menegaskan bahwa konfliknya jauh lebih kompleks dan tidak semata soal tambang, kenyataan bahwa isu ini muncul kuat menunjukkan bagaimana sektor ekstraktif bisa menjadi ranah kontroversial bahkan di organisasi yang fokusnya sosial-keagamaan. Jika urusan tambang berisiko menjadi kutukan, mengapa bukan memaksimalkan potensi yang sudah ada di depan mata — yang dekat dengan realitas sosial jama’ah NU sendiri? Rokok: Fenomena Sosial, Fakta Ekonomi Industri rokok adalah salah satu bisnis paling besar di Indonesia. Situs Forbes 2025 mencatat pemilik Djarum Group sebagai orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan sekitar Rp 731,3 triliun — mayoritas dari bisnis rokok. Bahkan pabrikan lain, PT Gudang Garam Tbk, mencatat laba lebih dari Rp 1 triliun dalam sembilan bulan pertama 2025, mempertegas posisi industri ini sebagai motor ekonomi yang besar. Statistik-statistik itu memperlihatkan satu kenyataan: ada perputaran uang yang sangat besar di industri rokok — namun sebagian besar kekayaan tersebut dikendalikan oleh pihak di luar jama’ah NU. NU dan Jama’ahnya: Konsumen Terbesar, Namun Bukan Pemilik Nilai Ekonomi Secara sosial, banyak perokok di Indonesia berasal dari masyarakat akar rumput, termasuk jama’ah NU. Sikap NU terhadap rokok pun dikenal lebih fleksibel dan kontekstual dalam kajian fikihnya — tidak langsung mengharamkan rokok, tetapi memandang statusnya berdasarkan konteks efek dan realitas sosialnya. Namun ada ironi besar di sini: Jika konsumennya paling banyak dari kalangan jama’ah NU, mengapa yang mendapatkan keuntungan terbesar justru orang lain? Inilah persoalan struktural yang jarang dibicarakan secara strategis: kekayaan besar dari konsumsi jama’ah tidak kembali untuk kemaslahatan jama’ah itu sendiri. Seandainya potensinya dikelola dengan bijak, uang triliunan rupiah itu — yang kini mengalir ke pihak luar — seharusnya bisa menjadi sumber kekuatan ekonomi umat. Paradoks Petani Tembakau: Ketidakpastian di Hulu Industri Selain persoalan hilir, persoalan di hulu industri rokok juga mengundang keprihatinan. Banyak petani tembakau di daerah merasa takut hasil panennya tidak terbeli oleh pabrik besar, sehingga menimbulkan ketidakpastian ekonomi yang signifikan. Paradoksnya: Industri rokok menghasilkan kekayaan ratusan triliun di hilir, Tetapi petani di hulu menghadapi ketidakpastian pasar yang membuat produksi mereka rentan terhadap dinamika keputusan pabrik besar. Swasembada Rokok: Peluang Kemandirian Ekonomi Umat Melihat seluruh data di atas, muncul sebuah gagasan strategis: Daripada terjebak dalam urusan tambang yang memicu konflik dan potensi jebakan politik praktis, kenapa tidak menggarap potensi yang sudah ada — yaitu swasembada rokok? NU dan jama’ahnya memiliki modal: Basis jama’ah yang luas, Jaringan pesantren dan lembaga ekonomi umat, Sumber daya manusia yang kreatif dan produktif. Dengan semangat itu, NU dan jama’ahnya bisa membangun: Pabrik rokok skala besar, yang mampu bersaing di pasar nasional dan global, serta Pabrik rokok skala kecil, yang menjadi basis pemberdayaan ekonomi desa dan pesantren. Jika dikelola secara profesional dan berkeadilan: NU dan jama’ahnya bukan hanya menjadi konsumen, tetapi pemilik nilai ekonomi industri rokok. Keuntungan industri dapat dialirkan untuk kesejahteraan pesantren, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi jama’ah, dan pembangunan sosial lainnya. NU & Jama’ahnya Bisa Jadi Triliuner dari Rokok Potensi ini bukan sekadar wacana ekonomi; ini adalah strategi ekonomi umat yang realistis. Mengalihkan fokus dari sektor ekstraktif yang rawan konflik kepada industri yang sudah nyata dan dekat dengan jama’ah dapat membuka ruang: NU dan jama’ahnya menjadi organisasi super kaya secara ekonomi, Menjadi pemilik kekuatan industri, bukan hanya pasar konsumsi, Dan kekayaan yang dihasilkan dapat benar-benar dinikmati oleh umat sendiri. Penutup NU: Dari Kutukan Tambang ke Swasembada Rokok bukan sekadar slogan. Ini adalah: ➡️ Refleksi kritis terhadap pengalaman konflik dan jebakan politik dari keterlibatan dalam sektor ekstraktif, ➡️ Pengakuan atas realitas sosial-ekonomi umat, ➡️ Seruan kolektif untuk menggarap potensi yang sudah ada, ➡️ Dan motivasi nyata untuk mendorong kemandirian ekonomi NU dan jama’ahnya. Sebagai sesama Muslim dan bagian dari bangsa yang sedang mencari kemandirian ekonomi, inilah saatnya berpikir besar dan bertindak strategis demi masa depan umat yang lebih berdaulat secara ekonomi. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Peran Muhammadiyah dan Tantangan Program Ketahanan Pangan

Peran Muhammadiyah dan Tantangan Program Ketahanan Pangan Muhammadiyah Diharapkan Menjadi Katalisator Swasembada Pangan Nasional Yogyakarta — Indonesia tengah menghadapi tantangan global yang semakin kompleks akibat dinamika geopolitik internasional. Berbagai konflik bersenjata yang terjadi di sejumlah kawasan dunia, mulai dari perang Israel–Palestina, Israel–Libanon, Rusia–Ukraina, hingga potensi konflik di Laut China Selatan, Taiwan, dan Semenanjung Korea, telah menciptakan ketidakstabilan global yang berdampak luas terhadap keamanan, ekonomi, dan ketersediaan pangan dunia. Hal tersebut disampaikan oleh Syarofin Arba MF, Direktur Center for Study of Regional Development (CESRED), dalam artikelnya berjudul “Peran Muhammadiyah dan Tantangan Program Ketahanan Pangan” yang dimuat di SuaraMuhammadiyah.id. Ia menegaskan bahwa eskalasi konflik global berpotensi memicu krisis multidimensi, termasuk ancaman serius terhadap ketahanan pangan nasional. Menurut Syarofin Arba, ketegangan politik global tidak hanya berdampak pada aspek keamanan, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi dan perdagangan internasional. Melonjaknya harga kebutuhan pokok, tingginya inflasi, membengkaknya utang negara, serta defisit pendapatan di berbagai negara menjadi indikator kelesuan ekonomi global yang patut diwaspadai. “Ketidakstabilan dunia internasional akan berpengaruh langsung pada ketersediaan pangan. Dalam situasi konflik dan ketegangan global, ketergantungan pada impor pangan menjadi risiko besar bagi sebuah negara,” tulisnya. Ancaman Global dan Urgensi Ketahanan Pangan Syarofin Arba mengungkapkan bahwa berbagai negara mulai mengambil langkah antisipatif untuk mengamankan pasokan pangan nasional. Negara-negara Eropa seperti Swedia, Norwegia, Finlandia, dan Denmark bahkan mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi krisis global, terlebih setelah munculnya pernyataan-pernyataan yang dinilai berpotensi memicu eskalasi perang berskala lebih luas. Selain konflik geopolitik, dunia juga dihadapkan pada dampak perubahan iklim seperti fenomena La Nina dan El Nino, pandemi seperti Covid-19, serta gangguan rantai pasok global. Seluruh kondisi tersebut menuntut adanya strategi ketahanan pangan yang terencana, berkelanjutan, dan berbasis kemandirian nasional. Posisi Indonesia dalam Ketahanan Pangan Beberapa tahun lalu, Indonesia tercatat berada di peringkat ke-12 dari 23 negara di kawasan Asia Pasifik berdasarkan Global Food Security Index. Penilaian tersebut mencakup aspek ketersediaan pangan, aksesibilitas, kualitas, dan keamanan pangan. Untuk menekan tingkat kerentanan pangan, diperlukan strategi pembangunan pertanian dan pangan yang komprehensif, meliputi peningkatan kapasitas produksi, diversifikasi pangan, penguatan cadangan pangan nasional, sistem logistik yang efisien, serta pengembangan pertanian modern dan berkelanjutan. Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Gunawan Budiyanto, sebagaimana dikutip dalam artikel tersebut, menegaskan bahwa ketahanan pangan memiliki keterkaitan erat dengan pertanian berkelanjutan. “Ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan merupakan hasil interaksi kebijakan pemerintah yang mencakup dimensi lingkungan, sosial, dan ekonomi,” ujarnya. Komitmen Pemerintah dan Respons Muhammadiyah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah menegaskan komitmennya untuk mewujudkan swasembada dan ketahanan pangan nasional. Komitmen ini diarahkan agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri tanpa bergantung pada pasokan luar negeri yang rawan terganggu oleh ketidakpastian global. Kebijakan tersebut mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, termasuk organisasi kemasyarakatan Islam. Pengurus Pusat Muhammadiyah secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap program ketahanan pangan nasional melalui deklarasi komitmen bersama para pelaku usaha sektor pertanian dan peternakan yang digelar di Bogor pada 20 November lalu. Muhammadiyah juga telah mencanangkan sejumlah program strategis, di antaranya pendirian Toko Muhammadiyah (TokoMu) yang diarahkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pokok dan memperkuat ketahanan pangan warga. Selain itu, Muhammadiyah turut mendorong peningkatan kapasitas dan kesejahteraan petani sebagai pilar utama sistem pangan nasional. Potensi Muhammadiyah dalam Ketahanan Pangan Syarofin Arba menilai Indonesia sejatinya memiliki potensi besar dalam sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk mewujudkan ketahanan pangan. Dalam konteks ini, Muhammadiyah memiliki keunggulan berupa SDM yang kompeten di bidang pertanian, jaringan kelembagaan yang luas, serta konektivitas dengan berbagai pemangku kepentingan. “Program ketahanan pangan berkelanjutan membutuhkan sinergi antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat. Muhammadiyah diharapkan mampu menjadi pendorong dan katalisator terbangunnya sinergitas tersebut,” tegasnya. Ia juga mendorong Muhammadiyah untuk berperan aktif dalam penyusunan grand design dan roadmap swasembada serta ketahanan pangan nasional agar pelaksanaan program berjalan efektif dan terukur. Gerakan Kolektif hingga Akar Rumput Pimpinan Pusat Muhammadiyah diharapkan dapat menggerakkan seluruh struktur organisasi hingga tingkat ranting, melibatkan Perguruan Tinggi Muhammadiyah sesuai bidang keahliannya, serta mengajak warga persyarikatan untuk berkontribusi secara nyata. Sebagai langkah awal, Syarofin Arba mengusulkan pembentukan pilot project ketahanan pangan di sejumlah daerah dengan memanfaatkan jejaring Muhammadiyah. Model yang berhasil dapat direplikasi ke wilayah lain di Indonesia. Pengalaman panjang Muhammadiyah dalam pemberdayaan dan pendampingan masyarakat dinilai menjadi modal penting dalam menggerakkan gerakan pangan berbasis komunitas. Pada akhirnya, ketahanan pangan hanya dapat terwujud melalui kesadaran, partisipasi, dan gerakan kolektif masyarakat. “Jika Muhammadiyah mampu berperan aktif dan sinergis, maka cita-cita ketahanan pangan bukan hal yang sulit diwujudkan. Bahkan, dari program ini akan lahir masyarakat yang makmur dan sejahtera,” pungkasnya. Sumber: Artikel “Peran Muhammadiyah dan Tantangan Program Ketahanan Pangan” SuaraMuhammadiyah.id Penulis: Syarofin Arba MF, Direktur Center for Study of Regional Development (CESRED)  

Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

Cahaya, Biskuit Muhammadiyah Hadir di Banyumas

Cahaya, Biskuit Muhammadiyah Hadir di Banyumas Banyumas | Antarkita – Januari 2026 Upaya penguatan ekonomi umat yang digerakkan oleh perempuan Muhammadiyah terus menunjukkan geliat nyata. Salah satunya melalui kehadiran Biskuit Cahaya, produk unggulan Muhammadiyah yang kini resmi hadir dan menjangkau wilayah Karesidenan Banyumas. Biskuit Cahaya merupakan usaha milik PT. EAHM (Ekonomi ‘Aisyiyah Hasanah Makmur) di bawah naungan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah. Produk ini lahir sebagai ikhtiar membangun kemandirian ekonomi sekaligus menyalurkan nilai dakwah dan kepedulian sosial melalui jalur usaha yang berkelanjutan. Perjalanan Biskuit Cahaya dimulai pada awal tahun 2025 dengan memproduksi Biskuit Cahaya Marie Susu edisi Lebaran 1446 H / 2025 M. Antusiasme masyarakat yang tinggi mendorong pengembangan produk dalam kemasan single pack agar lebih mudah dijangkau. Memasuki tahun 2026, PT. EAHM kembali menghadirkan inovasi dengan meluncurkan Biskuit & Wafer Cahaya Spesial Lebaran 1447 H, yang terdiri dari tiga varian unggulan, yaitu: Assorted Biskuit Cahaya & Wafer Wafer Cahaya rasa Chocolate & Vanila Biskuit Cahaya Marie Susu Spesial dalam kemasan box segi enam Menariknya, Biskuit Cahaya tidak hanya berorientasi pada aspek bisnis semata. Sebagian keuntungan penjualan dialokasikan untuk donasi kemanusiaan, di antaranya untuk Palestina dan penanganan bencana di Sumatera, sehingga setiap pembelian menjadi bagian dari gerakan solidaritas dan kebermanfaatan sosial. Untuk wilayah eks-Karesidenan Banyumas, distribusi dan koordinasi Biskuit Cahaya diampu oleh PIC Area, Rima Yulianti (0852 2750 6848). Operasional Biskuit Cahaya sendiri telah berjalan sejak Januari 2025 dan kini dapat diakses di sejumlah titik layanan resmi berikut: Cilacap Kedai ‘Aisyiyah / Daycare Lansia Jl. Laut No. 17 RT 01 RW 13, Cilacap CP: 0815 4277 1035 Banyumas KSU Syariah ‘Aisyiyah Gedung Balai ‘Aisyiyah Banyumas Jl. Masjid Gg. II No. 1, Purwokerto CP: 0822 2845 8488 Purbalingga Jl. Alun-alun Selatan Komplek Perguruan Muhammadiyah Purbalingga (Kantor Sekretariat PDA) CP: 0812 2635 554 / 0896 8379 0532 Banjarnegara Toko Qta Jl. Jend. Sudirman No. 27, Banjarnegara CP: 0896 6554 7452 Jam operasional menyesuaikan kebijakan masing-masing kabupaten. Layanan ambil langsung di lokasi tersedia, dengan jangkauan distribusi meliputi seluruh wilayah Karesidenan Banyumas. Adapun harga satuan Biskuit Cahaya ditetapkan sebagai berikut: Assorted Biskuit & Wafer: Rp35.000 per kaleng Wafer Cahaya Chocolate & Vanila: Rp33.500 per kaleng Biskuit Cahaya Spesial: Rp32.500 per box (isi 15 sachet) Informasi pembelian grosir dapat dikonsultasikan langsung dengan PIC di masing-masing kabupaten. Lebih dari sekadar produk konsumsi, Biskuit Cahaya digerakkan oleh semangat kolektif. Sebuah motivasi yang terus digaungkan dalam gerakan ini berbunyi: Jika hati sudah bersuara, ego akan kita tanggalkan. Tak banyak tanya, tak banyak alasan. Kaki dan tangan bergerak, niat disatukan untuk berjihad dengan cara sederhana: Satu Rumah, Satu Kaleng Cahaya. Dari rumah masing-masing, cahaya itu dinyalakan. Bersama, Biskuit Cahaya diharapkan menjadi simbol kebangkitan ekonomi umat, solidaritas kemanusiaan, dan dakwah yang membumi.

Prespektif, Ruang Kita

Antarkita: Bukan Sekadar Driver, Melainkan Duta Bisnis dan Jalan Perubahan Hidup

Antarkita: Bukan Sekadar Driver, Melainkan Duta Bisnis dan Jalan Perubahan Hidup Di banyak ruang ekonomi digital hari ini, profesi driver kerap dipersempit maknanya. Driver dianggap sekadar pelaksana teknis—mengantar, menjemput, menyelesaikan order, lalu selesai. Pola ini secara perlahan membentuk keyakinan yang membatasi (limiting beliefs): “Saya hanya driver.” “Peran saya tidak lebih dari ini.” “Saya tidak punya peluang naik kelas.” Keyakinan inilah yang sesungguhnya menjadi penjara tidak kasat mata. Bukan sistem, bukan keadaan, melainkan cara berpikir yang akhirnya membatasi potensi manusia itu sendiri. Antarkita.com hadir untuk membongkar penjara tersebut. Bergabung menjadi driver ojek online Antarkita.com bukan sekadar memilih pekerjaan, tetapi memasuki ekosistem pembinaan manusia dan bisnis. Di Antarkita, driver tidak diposisikan sebagai objek algoritma, melainkan subjek ekonomi—manusia bernilai yang memiliki potensi, jejaring, dan masa depan. Driver Antarkita sebagai Duta Bisnis Antarkita memandang driver sebagai duta bisnis. Mengapa? Karena driver berada di titik paling strategis dalam ekosistem sosial: bertemu banyak orang setiap hari, hadir di berbagai lapisan masyarakat, membangun interaksi yang bersifat personal dan berulang, serta dipercaya oleh customer dalam ruang yang sangat manusiawi. Kepercayaan adalah mata uang paling mahal dalam dunia bisnis. Dan driver memilikinya. Di sinilah layanan transportasi bukan tujuan akhir, melainkan entry point—pintu masuk untuk memahami kebutuhan manusia yang lebih luas. Ketika hubungan terbangun bukan atas dasar transaksi semata, tetapi kepedulian dan empati, maka driver berubah dari sekadar pengantar menjadi sahabat customer. Neuropreneurship: Reset Mindset, Lepaskan Limiting Beliefs Untuk mendukung transformasi ini, Antarkita menggandeng pakar dan praktisi Neuro Linguistic Programming (NLP), Drs. Waidi, MBA, CPC. Melalui pendekatan Neuropreneurship, para driver dibimbing untuk: mengenali pola pikir bawah sadar yang selama ini membatasi, membongkar keyakinan negatif tentang diri dan profesi, mengganti limiting belief dengan empowering belief, serta membangun identitas baru sebagai pelaku bisnis dan agen solusi. Neuropreneurship menegaskan satu hal penting: wirausaha bukan soal kecerdasan IQ atau besar kecilnya modal, tetapi soal mindset, keberanian, konsistensi, dan makna hidup. Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu lama percaya bahwa dirinya tidak pantas berhasil. Ragam Pengembangan Bisnis Driver Antarkita sebagai Duta Bisnis Dengan mindset yang tepat dan pendampingan yang berkelanjutan, driver Antarkita dapat berkembang menjadi duta di berbagai lini bisnis strategis, antara lain: 1. Duta Umrah dan Wisata Religi Banyak masyarakat ingin berangkat umrah, tetapi bingung memilih layanan yang amanah. Driver Antarkita dapat menjadi penghubung: informasi paket umrah terpercaya, edukasi perjalanan religi, hingga pendamping awal calon jamaah. Di sini, driver bukan menjual mimpi, tetapi menyambungkan niat ibadah dengan solusi yang benar. 2. Duta Otomotif Mobil dan Motor Sebagai pengguna dan pengamat langsung dunia transportasi, driver memahami kebutuhan otomotif secara nyata. Mereka dapat menjadi duta: jual beli motor dan mobil, kendaraan baru dan bekas, aksesoris, servis, hingga pembiayaan. Relasi yang dibangun bukan berbasis promosi agresif, melainkan rekomendasi berbasis pengalaman dan kepercayaan. 3. Duta Properti Driver setiap hari menyaksikan realitas hunian masyarakat: rumah, kos, kontrakan, hingga kawasan baru. Dengan ekosistem Antarkita, driver dapat menjadi penghubung: rumah tinggal, kos mahasiswa, tanah kavling, perumahan berbasis komunitas dan nilai. Properti tidak lagi eksklusif, tetapi inklusif dan berbasis kebutuhan riil. 4. Duta Jasa Bangun dan Renovasi Banyak keluarga ingin membangun atau merenovasi rumah, namun tidak tahu harus ke mana. Driver Antarkita bisa menjadi jembatan antara kebutuhan masyarakat dan penyedia jasa bangun yang profesional, jujur, dan bertanggung jawab. 5. Duta Wisata dan Ekonomi Lokal Driver adalah saksi hidup potensi daerah: desa wisata, kuliner UMKM, event lokal, dan kearifan budaya setempat. Dengan peran ini, driver ikut menggerakkan ekonomi lokal dan menjaga keberlanjutan sosial. Bersandar pada Rahmat Allah SWT, Bukan Sekadar Keadaan Semua ikhtiar ini berpijak pada satu keyakinan fundamental: Rahmat Allah SWT lebih besar daripada masalah manusia. Banyak orang berhenti melangkah karena merasa: latar belakangnya tidak mendukung, keadaannya tidak ideal, atau masa lalunya terlalu berat. Padahal Allah sendiri menegaskan bahwa rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Ketika manusia mau berusaha, belajar, dan bertawakal, maka keterbatasan bukan lagi alasan untuk menyerah, melainkan pintu pertumbuhan. Antarkita tidak menjanjikan jalan instan. Yang ditawarkan adalah jalan bertumbuh—jalan yang memanusiakan manusia, membangun ekonomi berbasis nilai, dan menempatkan kerja sebagai bagian dari ibadah. Antarkita: Mengantar Lebih dari Sekadar Penumpang Antarkita bukan sekadar platform. Ia adalah gerakan kesadaran ekonomi. Bersama Antarkita: driver tidak hanya mengantar orang, tetapi mengantar harapan, membuka peluang, membangun kepercayaan, dan menata masa depan bersama. Karena ketika limiting beliefs runtuh, mindset dibenahi, dan rahmat Allah dijadikan sandaran, maka profesi apa pun—termasuk driver—dapat menjadi jalan hidup yang bermartabat, mandiri, dan penuh keberkahan. SiS, Antarkita

Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

LEGON: Budidaya Lele dalam Galon

LEGON: Budidaya Lele dalam Galon Solusi Ketahanan Pangan dan Kepedulian Lingkungan Mewujudkan anak yang sehat dalam masa pertumbuhan membutuhkan pemenuhan gizi yang seimbang, terutama asupan protein yang sesuai dengan kebutuhan usia. Dalam konteks penanganan stunting, ketersediaan makanan bergizi bukan sekadar anjuran, tetapi keharusan yang harus diupayakan secara nyata hingga ke tingkat keluarga. Protein hewani menjadi salah satu komponen penting dalam mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak. Salah satu solusi sederhana, murah, dan mudah diterapkan untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga adalah melalui budidaya ikan lele. Inovasi LEGON (Lele Galon) hadir dengan memanfaatkan galon bekas air minum yang selama ini sering berakhir sebagai limbah. Alih-alih dibuang, galon bekas dapat diolah menjadi media budidaya ikan lele yang praktis, efisien, dan ramah lingkungan. Metode ini tidak membutuhkan lahan luas, cukup memanfaatkan halaman rumah, teras, atau ruang sempit yang tersedia. Budidaya lele menggunakan galon air mineral memiliki sejumlah manfaat yang signifikan. Dari sisi biaya, penggunaan galon bekas menjadikan modal awal sangat terjangkau dibandingkan pembangunan kolam atau penggunaan tangki besar. Galon mudah diperoleh, bahkan dapat dimanfaatkan dari limbah rumah tangga yang tidak terpakai. Selain itu, ukurannya yang relatif kecil membuat galon fleksibel dan mudah dipindahkan, sehingga penataan lokasi budidaya dapat disesuaikan dengan kondisi rumah. Metode LEGON juga cocok diterapkan dalam skala kecil, baik untuk kebutuhan konsumsi keluarga maupun sebagai hobi produktif. Bagi pemula yang ingin belajar budidaya ikan tanpa risiko besar, galon menjadi media yang sederhana dan mudah dikontrol. Kualitas air seperti pH, suhu, dan tingkat oksigen dapat dipantau lebih teliti karena volume air yang terbatas. Pengelolaan pakan dan nutrisi pun menjadi lebih terukur, sehingga pertumbuhan ikan lele dapat berlangsung optimal. Namun demikian, budidaya lele dalam galon juga memiliki tantangan yang perlu diperhatikan. Kapasitas galon yang terbatas membatasi jumlah ikan yang dapat dipelihara. Kepadatan tebar harus diatur dengan baik agar ikan tidak stres dan tetap tumbuh sehat. Selain itu, galon lebih rentan terhadap perubahan suhu dibandingkan kolam besar, sehingga penempatan dan perlindungan dari paparan panas atau hujan ekstrem menjadi hal penting. Pemeliharaan rutin menjadi kunci keberhasilan LEGON. Pergantian air secara berkala, pembersihan galon, serta pemantauan kesehatan ikan harus dilakukan secara konsisten. Ketersediaan nutrisi yang cukup dan seimbang juga wajib diperhatikan, karena pakan yang tidak tepat atau berlebihan dapat menurunkan kualitas air dan menghambat pertumbuhan ikan. Dalam beberapa waktu terakhir, budidaya lele dalam galon menjadi tren dan viral di media sosial. Metode ini menarik perhatian banyak orang karena dinilai praktis, hemat tempat, dan cocok diterapkan di wilayah perkotaan dengan lahan terbatas. Dengan modal galon bekas dan peralatan sederhana, masyarakat dapat memulai budidaya lele sebagai sumber protein keluarga maupun usaha sampingan. Meski terlihat mudah, kegagalan dalam ternak lele di galon sering dialami pemula, terutama akibat air yang cepat bau. Akumulasi sisa pakan dan kotoran dalam volume air yang terbatas menyebabkan peningkatan kadar amonia secara drastis, sehingga menimbulkan aroma tidak sedap dan membahayakan kesehatan ikan. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta menegaskan bahwa pengelolaan limbah organik dan sirkulasi oksigen merupakan kunci keberhasilan ekosistem akuatik skala kecil. Berdasarkan standar operasional prosedur budidaya ikan air tawar yang diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia, terdapat beberapa solusi efektif untuk mengatasi permasalahan air bau pada ternak lele di galon. Penyedotan kotoran dasar wadah atau sistem sipon secara rutin setiap dua hari sekali menjadi langkah utama untuk mencegah penumpukan amonia. Pemberian probiotik secara berkala juga membantu mempercepat penguraian limbah organik dan menekan bakteri patogen penyebab bau. Pengaturan kepadatan tebar ikan sangat dianjurkan, dengan jumlah ideal maksimal 15 ekor bibit per galon. Manajemen pakan harus dilakukan secara terukur, diberikan sedikit demi sedikit dan dihentikan ketika ikan sudah kenyang. Untuk membantu menyerap bau dan zat berbahaya, arang kayu atau batu zeolit dapat ditempatkan di dasar galon sebagai filter alami. Penggantian air secara parsial sekitar 30 persen volume air juga disarankan agar kualitas air tetap stabil dan ikan tidak mengalami stres. Selain itu, pemanfaatan tanaman air seperti kangkung dapat berfungsi sebagai filter biologis alami. Akar tanaman membantu menyerap nitrat dari sisa kotoran ikan sekaligus menjaga kadar oksigen terlarut dalam air. Dengan pengelolaan yang tepat, lingkungan budidaya tetap bersih, ikan tumbuh sehat, dan bau tidak sedap dapat dihindari. LEGON bukan sekadar metode budidaya ikan, tetapi solusi terpadu yang menjawab persoalan gizi, ketahanan pangan keluarga, kepedulian lingkungan, dan peluang ekonomi. Dari galon bekas, lahir sumber protein sehat yang terjangkau, sekaligus peluang usaha yang menjanjikan bila dikelola dengan baik dan berkelanjutan. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Rancang Bangun Masa Depan Wakaf Muhammadiyah:

Rancang Bangun Masa Depan Wakaf Muhammadiyah: Wakaf Berkemajuan untuk Kemaslahatan Umat dan Bangsa** Yogyakarta, 6 Januari 2026 — Muhammadiyah menegaskan komitmennya dalam membangun wakaf berkemajuan yang produktif, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi kesejahteraan umat dan pembangunan bangsa. Komitmen tersebut disampaikan oleh Dr. Amirsyah Tambunan, CWC, Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf (MPW) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam artikel bertajuk “Rancang Bangun Masa Depan Wakaf Muhammadiyah” yang dipublikasikan oleh Suara Muhammadiyah. Menurut Dr. Amirsyah, wakaf tidak boleh berhenti pada aspek penyerahan harta semata, tetapi harus memastikan manfaatnya dirasakan secara nyata dan berkelanjutan. “Wakaf berkemajuan adalah wakaf yang produktif dan berkelanjutan. Jika wakaf belum memberi manfaat, maka seluruh pemangku kepentingan bertanggung jawab untuk mendayagunakannya,” tegasnya. Nazhir Profesional sebagai Pilar Utama Ia menekankan bahwa kunci utama keberhasilan wakaf terletak pada profesionalisme nazhir. Nazhir harus memiliki kompetensi substantif berupa penguasaan ilmu perwakafan serta kompetensi metodologis berupa kemampuan mengelola wakaf dengan skema pembiayaan modern dan teknologi tepat guna. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, nazhir adalah pihak yang menerima, mengelola, dan mengembangkan harta wakaf sesuai peruntukannya. Karena itu, pengelolaan wakaf harus menjamin pokok harta tetap terjaga, sementara manfaatnya terus mengalir sebagai amal jariyah bagi kepentingan ibadah dan kesejahteraan umum. Muhammadiyah, lanjutnya, memilih nazhir kelembagaan sebagai strategi untuk memastikan wakaf dikelola secara transparan, akuntabel, dan berkelanjutan. Peran Strategis LKS-PWU Selain nazhir, Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU) memegang peran penting dalam pendayagunaan wakaf uang. LKS-PWU berfungsi sebagai perpanjangan tangan nazhir dalam menghimpun dan menginvestasikan dana wakaf secara amanah dan sesuai prinsip syariah. MPW PP Muhammadiyah telah menjalin Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan sejumlah bank syariah, di antaranya BTPN Syariah dan Bukopin Syariah, untuk mengembangkan skema cash wakaf linked deposit. Kerja sama ini bertujuan mempercepat penghimpunan dan pemanfaatan wakaf uang secara produktif. Wakaf sebagai Instrumen Pembangunan Artikel tersebut juga menyoroti pentingnya mengubah paradigma wakaf yang selama ini identik dengan tanah masjid, makam, atau lembaga pendidikan. Dalam sejarah peradaban Islam, wakaf telah berperan besar dalam pembiayaan rumah sakit, jalan, jembatan, pasar, dan sistem air bersih, sebagaimana terjadi pada masa kekhalifahan dan era Ottoman. Guru Besar FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mohammad Nur Rianto Al Arif, dalam wawancara dengan CNBC (5/1/2026), menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi wakaf yang sangat besar, baik dari sisi luas tanah wakaf maupun potensi wakaf uang yang mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Namun, potensi tersebut belum tergarap optimal karena pengelolaan yang masih tradisional dan terfragmentasi. Program Nasional WakafMu 2026–2027 Melalui Rapat Koordinasi Nasional MPW PP Muhammadiyah 2025, Muhammadiyah menetapkan Program Nasional WakafMu 2026–2027, yang mencakup: Penguatan kelembagaan dan SDM kenazhiran, termasuk pembentukan Task Force Nasional dan penyusunan Blueprint Sistem Kenazhiran Nasional Muhammadiyah. Pelatihan dan sertifikasi nasional bagi 500 nazhir di 10 wilayah. Pembentukan Forum Nazhir Muhammadiyah Nasional (Fornazirmu). Penerapan sistem digital nasional untuk keuangan, database aset, dan pelaporan wakaf. Pendayagunaan Wakaf Produktif Program prioritas wakaf produktif nasional meliputi empat bidang utama: Pendidikan berbasis wakaf, seperti Pesantren Eco-Saintek dan Pusdiklat Tapak Suci. Ekonomi produktif, termasuk Gedung Filantropi Muhammadiyah dan Desa Wisata Berbasis Wakaf. Green Waqf, seperti Eco-Masjid Muhammadiyah dan Gerakan Wakaf Pohon Nasional. Pertanian wakaf, melalui Integrated Smart Farming dan Greenhouse Smart Farming. Sebagai penguat, Muhammadiyah juga mengembangkan Marketplace Wakaf Nasional (wakaflink.id) sebagai platform digital fundraising, pelaporan, dan transparansi. Landasan Regulasi Wakaf Muhammadiyah Persyarikatan Muhammadiyah telah memberlakukan Pedoman Wakaf Nomor 3 Tahun 2025, yang membuka ruang wakaf dalam berbagai bentuk aset bergerak, termasuk saham, surat berharga, hak kekayaan intelektual, hingga hak sewa dan hak pakai. Regulasi ini menunjukkan bahwa wakaf Muhammadiyah memiliki prospek luas dan adaptif terhadap perkembangan zaman. “Ini adalah gambaran masa depan wakaf Muhammadiyah yang berkemajuan, produktif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat,” pungkas Dr. Amirsyah. Sumber: Artikel “Rancang Bangun Masa Depan Wakaf Muhammadiyah” SuaraMuhammadiyah.id, 6 Januari 2026 Penulis: Dr. Amirsyah Tambunan, CWC  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Semangat Awal Tahun 2026, Ketua PDM Banyumas Ajak Gerakan Bedukmu:

Semangat Awal Tahun 2026, Ketua PDM Banyumas Ajak Gerakan Bedukmu: Bela Beli Produk Muhammadiyah sebagai Ikhtiar Strategis Menguatkan Ekonomi Umat dan Membela Martabat Bangsa Banyumas, Januari 2026 | Antarkita Memasuki awal tahun 2026, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas meneguhkan kembali komitmen penguatan ekonomi umat melalui Gerakan Bedukmu (Bela dan Dukung Usaha Muhammadiyah). Seruan ini disampaikan langsung oleh Ketua PDM Banyumas, Drs. H.M. Djohar, M.Pd., sebagai respons atas situasi ekonomi nasional yang tengah menghadapi tantangan serius, terutama menurunnya daya beli masyarakat. Berbagai kajian ekonomi nasional menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga—yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia—mengalami tekanan akibat meningkatnya biaya hidup, ketidakpastian ekonomi global, serta melemahnya pendapatan riil masyarakat. Kondisi ini berdampak langsung pada sektor usaha rakyat dan UMKM, termasuk usaha-usaha milik warga Muhammadiyah di daerah. Jika tidak direspons secara kolektif, penurunan daya beli berpotensi melemahkan sendi-sendi ekonomi umat dan memperlebar ketimpangan. Dalam konteks inilah Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam berkemajuan, dipanggil untuk tidak hanya hadir dalam dakwah sosial dan pendidikan, tetapi juga mengambil peran strategis dalam membangun ketahanan ekonomi jamaah. Bela Beli sebagai Pembelaan Martabat Bangsa Literasi tentang bela beli produk bangsa dan produk umat telah lama menjadi bagian dari wacana ideologis di lingkungan Persyarikatan. Dalam kajian yang dimuat oleh Suara ‘Aisyiyah, ditegaskan bahwa gerakan Bela Beli Indonesia bukan sekadar pilihan konsumsi, melainkan sikap ideologis dalam membela martabat bangsa. Bela beli dipahami sebagai tindakan sadar membeli produk anak bangsa bukan karena faktor harga atau kualitas semata, melainkan karena keberpihakan pada kemandirian nasional. Bangsa yang besar dan bermartabat adalah bangsa yang menghargai dan menghidupkan karya anak bangsanya sendiri. Ketergantungan berlebihan pada produk luar, tanpa keberpihakan pada produk lokal, hanya akan melanggengkan ketimpangan ekonomi dan ketergantungan struktural. Dalam perspektif ini, aktivitas konsumsi tidak lagi bersifat netral, tetapi memiliki dimensi moral, ideologis, dan kebangsaan. Ekonomi Sirkular Muhammadiyah: Dari Produksi hingga Konsumsi Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, yang secara konsisten mendorong peningkatan jiwa bisnis warga Muhammadiyah dan pembangunan ekonomi sirkular berbasis persyarikatan. Dalam berbagai forum resmi Muhammadiyah, Anwar Abbas menegaskan bahwa umat Islam—termasuk warga Muhammadiyah—tidak cukup hanya didorong untuk berproduksi dan berwirausaha, tetapi juga harus membangun kesadaran kolektif dalam pola konsumsi. Menurutnya, salah satu kelemahan ekonomi umat selama ini adalah terjadinya kebocoran ekonomi: umat berproduksi, tetapi tidak saling membeli; umat berdagang, tetapi konsumennya justru berasal dari luar komunitas. Karena itu, ia mendorong agar warga Muhammadiyah memprioritaskan pembelian produk sesama warga sebagai bagian dari strategi membangun kekuatan ekonomi internal. Ekonomi sirkular Muhammadiyah bukanlah sikap eksklusif, melainkan ikhtiar rasional dan bermartabat agar nilai ekonomi yang dihasilkan umat dapat berputar, tumbuh, dan menguat di lingkungan sendiri sebelum keluar ke pasar yang lebih luas. Gerakan Bedukmu: Ikhtiar Kolektif PDM Banyumas Berangkat dari literasi dan pemikiran tersebut, Ketua PDM Banyumas Drs. H.M. Djohar, M.Pd. mengajak seluruh warga Muhammadiyah di Banyumas untuk menjadikan Gerakan Bedukmu sebagai budaya ekonomi bersama, khususnya di awal tahun 2026. “Di tengah menurunnya daya beli masyarakat, meningkatkan kemampuan ekonomi umat tidak bisa dilakukan secara individual semata. Diperlukan kesadaran kolektif dan keberpihakan yang nyata. Salah satu ikhtiar paling konkret adalah mengutamakan membeli kebutuhan ekonomi dari usaha-usaha milik warga Muhammadiyah,” tegas Djohar. Menurutnya, Bedukmu adalah langkah strategis untuk membangun sirkulasi ekonomi internal Muhammadiyah, mulai dari kebutuhan pangan, perdagangan, jasa, pendidikan, kesehatan, hingga usaha kreatif. Ketika warga Muhammadiyah secara sadar menjadi konsumen bagi usaha sesama warga, maka kekuatan ekonomi jamaah akan tumbuh secara berkelanjutan. Djohar menegaskan bahwa bela beli produk Muhammadiyah merupakan bagian dari bela beli produk Muslim dan produk anak bangsa. “Kita membeli produk Muslim bukan karena lebih baik, bukan karena lebih murah, tetapi karena itu milik anak bangsa. Bela beli adalah sikap jelas pembelaan—membela martabat dan kejayaan bangsa Indonesia,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa bela beli bukan tindakan emosional, tetapi pilihan strategis. Bangsa dan umat yang tidak membela produk dan usahanya sendiri akan selamanya menjadi pasar, bukan pelaku utama ekonomi. Menjadikan Bela Beli sebagai Budaya Persyarikatan Dalam konteks Muhammadiyah, Djohar menegaskan bahwa kekuatan persyarikatan tidak hanya diukur dari besarnya amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial, tetapi juga dari ketahanan ekonomi warganya. Oleh karena itu, Gerakan Bedukmu diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi budaya hidup dalam keseharian warga Muhammadiyah. Ia mengajak seluruh elemen persyarikatan—pimpinan, amal usaha, organisasi otonom, hingga warga di tingkat ranting dan cabang—untuk menjadikan bela beli sebagai bagian dari jihad ekonomi yang bermartabat. “Semangat awal tahun 2026 ini harus menjadi momentum kebangkitan. Jika kita ingin Muhammadiyah kuat dan berdaulat, maka usaha warga Muhammadiyah harus hidup. Dan usaha itu hanya akan hidup jika kita sendiri yang membelanya melalui pilihan belanja kita setiap hari,” pungkasnya. Melalui Gerakan Bedukmu, PDM Banyumas berharap terbangun kesadaran kolektif bahwa keputusan ekonomi sehari-hari adalah bagian dari perjuangan besar membangun kemandirian umat dan menjaga martabat bangsa Indonesia di tengah tantangan zaman. SiS | Antarkita  

ojek online antarkita
Prespektif, Ruang Kita

Kesederhanaan dan Kemudahan sebagai Jalan Kemandirian dan Kedaulatan Ekonomi

Kesederhanaan dan Kemudahan sebagai Jalan Kemandirian dan Kedaulatan Ekonomi Banyumas, Awal 2026 Di tengah lanskap ekonomi digital yang semakin dikuasai oleh platform raksasa dengan modal besar dan teknologi kompleks, Antarkita.com memilih untuk mengambil jalan yang berbeda. Jalan yang sederhana, membumi, dan berpihak pada manusia. Jalan yang meyakini bahwa inti dari ekonomi bukanlah algoritma, melainkan relasi, kepercayaan, dan ukhuwah. Antarkita.com diinisiasi oleh Suwatno Ibnu Sudihardjo sebagai ikhtiar kecil namun bernilai sikap besar: menghadirkan layanan transportasi online yang adil, mudah diakses, dan berangkat dari semangat kemandirian serta kedaulatan ekonomi jama’ah. “Kami sadar, Antarkita.com tidak bisa dibandingkan dengan aplikasi raksasa yang ada hari ini. Tapi kami juga yakin, setiap ikhtiar punya ceruk rezekinya masing-masing. Keunggulan Antarkita.com bukan pada teknologi dan modal uang, melainkan pada modal spirit,” ujar Suwatno. Inspirasi Pasar Rasulullah ﷺ: Ekonomi yang Memanusiakan Spirit Antarkita.com terinspirasi dari pasar yang dibangun Rasulullah ﷺ di Madinah. Ketika hijrah, Rasulullah ﷺ mendapati bahwa pasar dikuasai oleh sistem yang sarat riba, monopoli, dan ketidakadilan. Alih-alih melawan dengan kekerasan, Rasulullah ﷺ memilih membangun pasar alternatif—pasar yang bebas pungutan, bebas riba, dan menjunjung kejujuran. Dalam hadis disebutkan: “Ini adalah pasar kalian. Jangan dipersempit dan jangan dipungut pajak.” (HR. Ibnu Majah) Pasar bagi Rasulullah ﷺ bukan sekadar tempat jual beli, tetapi instrumen kedaulatan umat. Di sanalah martabat manusia dijaga, dan ekonomi ditempatkan sebagai sarana ibadah sosial. Nilai inilah yang coba dihidupkan kembali oleh Antarkita.com dalam konteks kekinian. Bukan untuk menumbangkan sistem besar, tetapi menghadirkan pilihan yang lebih adil dan manusiawi. Teknologi yang Sederhana, Manusia sebagai Subjek Antarkita.com mengedepankan kesederhanaan teknologi dan kemudahan penggunaan. Platform ini dapat diakses langsung melalui website tanpa harus mengunduh aplikasi. Pengguna cukup memiliki: ponsel yang bisa membuka website, dan aplikasi WhatsApp untuk terhubung dengan operator Antarkita. Pendekatan ini dipilih secara sadar. Di tengah masyarakat yang sangat beragam, tidak semua orang memiliki ponsel dengan spesifikasi tinggi atau ruang penyimpanan besar. Antarkita.com ingin memastikan bahwa teknologi tidak menjadi penghalang rezeki. Dengan dukungan operator berbasis WhatsApp, relasi antara penumpang, driver, dan pengelola tetap terasa hangat, komunikatif, dan manusiawi. Tidak ada jarak algoritma yang dingin, tidak ada sistem yang membungkam suara manusia. “Bagi kami, teknologi hanyalah alat. Manusia tetap subjek utama. Hubungan bisnis adalah hubungan sesama manusia,” tegas Suwatno. Tanpa Potongan, Tanpa Menekan: Ekonomi yang Lebih Adil Antarkita.com hadir dengan sistem tanpa potongan atau biaya yang sangat kompetitif. Model ini dirancang agar: penumpang lebih hemat, driver mendapatkan penghasilan yang lebih besar dan layak. Di saat banyak platform menerapkan potongan tinggi dan skema insentif yang sering berubah, Antarkita.com memilih konsistensi dan keadilan. Tidak ada algoritma yang menekan, tidak ada target yang memberatkan, dan tidak ada relasi timpang antara platform dan mitra. Driver bukan sekadar “mitra sistem”, tetapi saudara seperjalanan dalam ekosistem ekonomi yang saling menghidupi. Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Kita Antarkita.com hidup bukan dari iklan besar atau suntikan modal raksasa, melainkan dari partisipasi jama’ah dan kepercayaan komunitas. Platform ini dibangun dengan kesadaran bahwa kemandirian ekonomi tidak lahir dari ketergantungan, tetapi dari keberanian memulai. Antarkita.com mengajak masyarakat—khususnya warga Muhammadiyah dan umat Islam—untuk mulai mengalihkan pilihan: menggunakan jasa transportasi dari ekosistem sendiri, menghidupkan rezeki saudara sendiri, dan membangun perputaran ekonomi yang berdaulat. “Kami ingin membuktikan bahwa ekonomi bisa tumbuh dari bawah, dari jama’ah, dari kesadaran bersama,” tambah Suwatno. Penutup: Ikhtiar Kecil, Sikap Besar Antarkita.com menyadari keterbatasannya. Namun sebagaimana kisah burung pipit yang membawa setetes air saat Nabi Ibrahim AS dibakar, Antarkita.com tidak sedang menghitung besar-kecil hasil, tetapi menentukan keberpihakan. Allah SWT berfirman: “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ar-Ra’d: 26) Tugas manusia adalah berikhtiar dengan cara yang benar, adil, dan bermartabat. Adapun hasil, sepenuhnya milik Allah SWT. Dengan kesederhanaan dan kemudahan sebagai prinsip, Antarkita.com melangkah sebagai ikhtiar ekonomi berbasis nilai, membangun kemandirian, kedaulatan, dan ukhuwah di tengah arus besar ekonomi digital. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Berani Melangkah untuk Memulai Implementasi Sikap Kader Muhammadiyah sebagai Pelopor, Pelangsung, dan Penyempurna Gerakan

Berani Melangkah untuk Memulai Implementasi Sikap Kader Muhammadiyah sebagai Pelopor, Pelangsung, dan Penyempurna Gerakan Banyumas — Ketua Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Banyumas, H. Latif Muchozin, menyampaikan bahwa keberanian untuk memulai langkah di tengah keterbatasan merupakan sikap ideologis kader Muhammadiyah yang berakar kuat pada sejarah perjuangan persyarikatan. Di awal tahun 2026, JSM Banyumas dengan segala keterbatasannya memulai langkah strategis untuk mewujudkan Perumahan Muhammadiyah Banyumas. Langkah ini bukan sekadar program ekonomi, melainkan manifestasi dari semangat kader Muhammadiyah sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan. “Kami menyadari keterbatasan yang kami miliki. Namun sejarah Muhammadiyah mengajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah,” ujar H. Latif Muchozin. Meneladani Perjuangan KH. Ahmad Dahlan Langkah JSM Banyumas tersebut terinspirasi dari perjuangan KH. Ahmad Dahlan dalam merintis Muhammadiyah pada tahun 1912. Muhammadiyah didirikan pada masa Indonesia belum merdeka, ketika bangsa ini bahkan belum memiliki negara, kedaulatan politik, maupun sistem ekonomi yang berpihak kepada umat Islam. Muhammadiyah lahir bukan dari kelimpahan fasilitas, tetapi justru dari ketiadaan fasilitas. Dalam berbagai catatan sejarah, KH. Ahmad Dahlan harus menjual sebagian perabot rumah tangganya untuk menggaji para guru dan menghidupkan pendidikan. Upaya pembaruan yang beliau lakukan juga menghadapi tantangan berat, baik dari kekuatan eksternal kolonial maupun resistensi internal dari masyarakat yang belum siap menerima perubahan. Namun dari keterbatasan itulah lahir gerakan Islam modern yang hingga kini menjadi salah satu pilar utama pembangunan bangsa. “Kalau menunggu segalanya siap, Muhammadiyah tidak akan pernah berdiri,” tegas H. Latif Muchozin. Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah Dalam Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) ditegaskan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan tajdid yang berikhtiar mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Cita-cita ini mencakup seluruh dimensi kehidupan: keimanan, sosial, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Muhammadiyah memandang bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur kehidupan bermasyarakat secara adil dan berkeadaban. Oleh karena itu, membangun kemandirian dan kedaulatan ekonomi umat merupakan bagian integral dari dakwah Muhammadiyah. Kader Muhammadiyah: Pelopor, Pelangsung, dan Penyempurna Dalam kerangka ideologis Muhammadiyah, kader bukanlah sekadar pewaris sejarah, tetapi pelaku sejarah. Kader dituntut menjadi: Pelopor, yang berani memulai langkah baru Pelangsung, yang menjaga kesinambungan gerakan Penyempurna, yang menghadirkan pembaruan sesuai tantangan zaman Keputusan JSM Banyumas untuk memulai program perumahan dan ekosistem ekonomi jama’ah di tengah tantangan ekonomi nasional merupakan implementasi nyata dari prinsip tersebut. Dengan nada berseloroh namun sarat makna, H. Latif Muchozin menyampaikan: “Namanya juga pengusaha, ya tugasnya mengusahakan,” ujarnya. “Kalau segalanya sudah siap, itu namanya pewaris, bukan pengusaha,” tambahnya sambil tersenyum. Ikhtiar Ekonomi Jama’ah di Awal 2026 Selain program perumahan, di awal tahun 2026 JSM Banyumas juga meluncurkan platform Antarkita.com, sebuah ekosistem digital yang terintegrasi antara: layanan ojek online, marketplace UMKM, dan portal berita warga Muhammadiyah. Platform ini diharapkan menjadi stimulus kebangkitan ekonomi UMKM warga Muhammadiyah. Warga Muhammadiyah didorong untuk mulai mengalihkan penggunaan jasa transportasi online ke Antarkita.com—dari kita, oleh kita, dan untuk kita warga Muhammadiyah. Antarkita.com juga berfungsi sebagai marketplace yang menghubungkan pelaku usaha Muhammadiyah dengan warga Muhammadiyah. Diharapkan kebutuhan hidup sehari-hari dapat dipenuhi melalui ekosistem yang berputar di internal jama’ah, sehingga nilai ekonomi tidak keluar dari lingkungan warga Muhammadiyah. Menuju Kemandirian dan Kedaulatan Ekonomi Jama’ah Ekosistem yang dibangun melalui Antarkita.com merupakan wujud ikhtiar untuk mandiri dan berdaulat dalam bisnis dan pemenuhan kebutuhan hidup, dengan menjadikan produk dan usaha warga Muhammadiyah sebagai basis utama. Seluruh program ini dijalankan dengan landasan ukhuwah ekonomi, yakni semangat saling menguatkan, saling membeli, dan saling membela produk serta usaha sesama Muslim. Prinsip bela-beli produk saudara menjadi nilai penting dalam membangun ekonomi jama’ah yang berkeadilan dan berkelanjutan. Portal Berita sebagai Media Jama’ah Portal berita di Antarkita.com difungsikan sebagai media komunikasi, sosialisasi, dan promosi warga Muhammadiyah. Di dalamnya memuat informasi: kegiatan sosial dan kemanusiaan, kajian dan dakwah, program donasi, serta promosi bisnis dan UMKM warga Muhammadiyah. Dengan demikian, Antarkita.com tidak hanya menjadi platform ekonomi, tetapi juga ruang komunikasi dan penguatan jama’ah. Penutup Menutup pernyataannya, H. Latif Muchozin menegaskan bahwa langkah JSM Banyumas masih panjang dan penuh tantangan, baik internal maupun eksternal. Namun tantangan tersebut dipahami sebagai bagian dari proses perjuangan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh KH. Ahmad Dahlan. “Berani melangkah untuk memulai adalah warisan ideologis Muhammadiyah. Dan kami memilih untuk melanjutkan warisan itu,” pungkasnya. SiS, Antarkita    

Scroll to Top