Antarkita

Prespektif

Coach Waidi, Prespektif

RAHMAT YANG MEMBENTUK: IMAN, UJIAN, DAN EKSISTENSI MANUSIA

RAHMAT YANG MEMBENTUK: IMAN, UJIAN, DAN EKSISTENSI MANUSIA Waidi Akbar, MBA. CPC Salah satu kritik yang kerap muncul dalam diskusi lintas iman—khususnya antara Islam dan Kristen—adalah pertanyaan tentang relasi antara kasih Tuhan dan realitas ujian hidup. Dalam sebagian wacana populer, Tuhan yang menguji dipersepsikan sebagai Tuhan yang kurang penuh kasih. Kasih direduksi menjadi kenyamanan, ketenangan, dan penghapusan penderitaan. Jika manusia menderita, maka Tuhan dianggap absen atau gagal menjalankan kasih-Nya. Namun, jika ditelaah lebih dalam—baik secara teologis maupun filosofis—pandangan semacam ini justru mereduksi dua hal sekaligus: makna kasih ilahi dan kedalaman eksistensi manusia. Filsafat eksistensial berangkat dari kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang hidup dalam keterbatasan, kecemasan, dan ketidakpastian. Hidup bukan ruang steril yang bebas dari konflik, melainkan medan pilihan, risiko, dan tanggung jawab. Karena itu, pertanyaan filosofis yang lebih jujur bukanlah “mengapa manusia menderita?”, melainkan “bagaimana manusia memaknai penderitaan itu?” Di titik inilah konsep rahmat yang membentuk menjadi relevan. Rahmat tidak selalu hadir sebagai penghapusan kesulitan, tetapi sebagai daya transformatif yang memungkinkan manusia bertumbuh melalui kesulitan. Rahmat bukan anestesi eksistensial yang mematikan rasa sakit, melainkan energi pembentuk karakter, kesadaran, dan kedewasaan spiritual. Tanpa ujian, rahmat kehilangan fungsi pembentuknya; tanpa rahmat, ujian berubah menjadi kehancuran. Søren Kierkegaard, tokoh utama eksistensialisme religius, menolak iman yang direduksi menjadi sekadar kenyamanan psikologis. Baginya, iman justru hadir di tengah kecemasan dan paradoks hidup. Iman adalah leap of faith—sebuah lompatan eksistensial yang tidak menghapus ketegangan hidup, tetapi mengajarkan manusia untuk hidup secara otentik di dalamnya. Tanpa kecemasan, iman kehilangan kedalaman; tanpa risiko, iman berubah menjadi kebiasaan kosong. Dalam kerangka ini, rahmat yang membentuk bukan penghalang eksistensi, melainkan syarat bagi iman yang hidup. Martin Heidegger, meski tidak berbicara dalam bahasa teologi, memberikan kontribusi penting melalui konsep Geworfenheit—keterlemparan manusia ke dunia. Manusia tidak memilih lahir di mana, kapan, dan dalam kondisi apa. Namun justru dari keterlemparan itulah muncul panggilan untuk hidup secara otentik. Hidup yang otentik bukan hidup yang paling nyaman, melainkan hidup yang sadar akan keterbatasan dan berani bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya. Jika diterjemahkan secara teologis, ujian bukanlah penyangkalan kasih Tuhan, melainkan cara Tuhan memanggil manusia untuk menyadari eksistensinya secara penuh. Bahkan Jean-Paul Sartre, eksistensialis sekuler yang menolak konsep Tuhan, mengakui bahwa kebebasan manusia adalah beban yang berat. “Manusia dikutuk untuk bebas,” katanya. Kebebasan berarti tidak ada jalan pintas moral; setiap pilihan menciptakan diri. Dalam konteks ini, rahmat yang membentuk dapat dipahami sebagai orientasi etis yang mencegah kebebasan jatuh ke dalam nihilisme atau hedonisme. Tanpa orientasi nilai, kebebasan berubah menjadi pelarian; dengan rahmat, kebebasan menjadi amanah. Dalam perspektif Islam, gagasan ini menemukan resonansi yang kuat. Al-Qur’an tidak menjanjikan kehidupan tanpa ujian, tetapi menjanjikan makna, arah, dan pertolongan di dalam ujian. Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk diuji—bukan untuk disiksa, melainkan untuk ditumbuhkan. Ujian menjadi medium pendidikan ilahi, tempat iman diuji keasliannya, bukan sekadar diucapkan, tetapi dihidupi. Dengan demikian, rahmat dan ujian bukanlah dua hal yang bertentangan. Ujian adalah wadah, rahmat adalah isinya. Ujian membentuk struktur eksistensi manusia, rahmat memberi daya untuk menjalaninya. Kasih Tuhan tidak diukur dari seberapa sedikit penderitaan yang dialami manusia, melainkan dari seberapa besar kemampuan manusia untuk bertumbuh, bertahan, dan menemukan makna di tengah penderitaan. Iman yang matang bukan iman yang menuntut hidup bebas masalah, melainkan iman yang sanggup berkata: “Di dalam ujian ini pun, Tuhan tetap hadir.” Di sanalah rahmat yang membentuk bekerja—diam, dalam, dan transformatif—menjadikan manusia bukan sekadar selamat, tetapi bermakna.  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Ketua PWM Jawa Tengah Dukung Penuh Pembangunan Perumahan Muhammadiyah Banyumas

Ketua PWM Jawa Tengah Dukung Penuh Pembangunan Perumahan Muhammadiyah Banyumas Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. KH. Tafsir, M.Ag., menyatakan dukungan penuh terhadap langkah strategis Muhammadiyah Banyumas dalam membangun Perumahan Muhammadiyah Banyumas. Dukungan ini menjadi penegasan bahwa pengembangan hunian berbasis persyarikatan merupakan bagian penting dari ikhtiar Muhammadiyah dalam membangun kemandirian umat, memperkuat ekonomi jamaah, serta menyiapkan ruang dakwah yang berkelanjutan. Dukungan tersebut diwujudkan melalui kegiatan peninjauan langsung lokasi lahan yang akan dikembangkan, yang berlokasi di Purwokerto Selatan. Dalam kunjungan tersebut, Ketua PWM Jawa Tengah didampingi oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas, Muhammad Djohar AS, beserta jajaran terkait. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan lahan serta kesesuaian rencana pembangunan dengan visi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berkemajuan. Purwokerto Selatan dipilih karena memiliki tingkat pertumbuhan hunian yang tinggi dan menjadi salah satu kawasan pengembangan permukiman paling prospektif di Banyumas. Di sekitar lokasi yang direncanakan, telah berdiri berbagai kawasan perumahan, yang menunjukkan tingginya kebutuhan hunian serta potensi pengembangan kawasan yang berkelanjutan. Dalam kesempatan tersebut, Latif Muchozin, selaku Ketua JSM Banyumas, mendampingi rombongan dan memaparkan berbagai aspek teknis perencanaan pembangunan. Penjelasan meliputi potensi lahan, konsep pengembangan perumahan, tahapan pembangunan, serta prinsip perencanaan yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan, kenyamanan hunian, dan nilai-nilai keislaman. Menanggapi pemaparan tersebut, Dr. KH. Tafsir, M.Ag. menyampaikan apresiasi dan dukungan yang kuat terhadap inisiatif Muhammadiyah Banyumas. “Pembangunan Perumahan Muhammadiyah ini adalah langkah strategis dan visioner. Muhammadiyah tidak cukup hanya berdakwah melalui mimbar, tetapi juga harus hadir menjawab kebutuhan riil umat, salah satunya kebutuhan hunian yang layak dan berkemajuan,” ujar Kyai Tafsir. Menurut beliau, pembangunan perumahan ini tidak hanya berorientasi pada penyediaan rumah, tetapi juga membawa dampak luas bagi penguatan ekonomi umat dan masyarakat sekitar. “Proyek ini akan menggerakkan banyak sektor ekonomi. Tenaga kerja terserap, usaha penyedia bahan bangunan bergerak, dan UMKM di sekitar lokasi ikut hidup. Inilah dakwah bil hal, dakwah melalui kerja nyata yang manfaatnya bisa langsung dirasakan,” lanjutnya. Kyai Tafsir juga menekankan bahwa program ini selaras dengan misi Muhammadiyah dalam menciptakan lapangan kerja dan membangun kemandirian ekonomi jamaah. “Muhammadiyah harus terus menjadi bagian dari solusi. Ketika kita membangun perumahan, sesungguhnya kita sedang membangun kehidupan, membangun ekonomi, dan membangun peradaban umat,” tegasnya. Lebih lanjut, Kyai Tafsir menilai bahwa Perumahan Muhammadiyah Banyumas memiliki nilai strategis sebagai basis pembinaan warga persyarikatan. “Perumahan Muhammadiyah bukan sekadar kumpulan rumah. Ini adalah ruang pembinaan, ruang dakwah, dan ruang penguatan ukhuwah. Dengan lingkungan yang sejalan nilai-nilainya, pembinaan keislaman dan kemuhammadiyahan akan jauh lebih efektif,” ungkapnya. Sebagai kota tujuan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, Purwokerto dinilai sangat strategis untuk pengembangan perumahan jangka panjang. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menuntut ketersediaan hunian baru yang terencana dan berkualitas. Oleh karena itu, proyek ini diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan internal warga Muhammadiyah Banyumas, yang jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu. Dengan dukungan penuh dari PWM Jawa Tengah, PDM Banyumas, serta seluruh elemen persyarikatan, diharapkan pembangunan Perumahan Muhammadiyah Banyumas dapat berjalan lancar, berkembang secara berkelanjutan, dan menjadi model pengembangan perumahan Muhammadiyah yang dapat direplikasi di daerah lain. SiS, Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Spirit Antarkita.com

Spirit Antarkita.com Membangun Kemandirian dan Kedaulatan Ekosistem Bisnis Jama’ah Muhammadiyah Dalam setiap zaman, umat selalu dihadapkan pada pilihan: menjadi penonton atau menjadi pelaku sejarah. Antarkita.com lahir dari kesadaran bahwa kemandirian ekonomi tidak mungkin tumbuh jika umat terus menggantungkan hidupnya pada sistem yang dibangun dan dikendalikan oleh pihak lain. Spirit Antarkita.com adalah spirit berdiri di atas kaki sendiri, membangun ekosistem bisnis yang berpihak, sederhana, dan berakar pada kekuatan jama’ah Muhammadiyah. Setiap Produk Ada Pembelinya Dalam realitas ekonomi, sering kali kita terjebak pada perasaan kalah sebelum bertanding. Merasa kecil di hadapan raksasa, merasa tidak layak bersaing, merasa pasar sudah habis dibagi. Padahal Islam mengajarkan perspektif yang jauh lebih menenangkan: “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ar-Ra’d: 26) Ayat ini menegaskan satu prinsip penting: rezeki tidak diperebutkan, tetapi ditunaikan melalui ikhtiar. Setiap produk ada pembelinya, setiap usaha ada jalannya, dan setiap ikhtiar memiliki ceruknya masing-masing. Tugas manusia bukan menakar milik orang lain, tetapi mengelola amanah yang ada di tangannya. Antarkita.com: UMKM dengan Kesadaran Nilai Antarkita.com dengan sadar menempatkan diri sebagai UMKM, bukan aplikasi raksasa. Ia tidak membandingkan dirinya dengan platform global yang dibangun oleh modal besar, teknologi kompleks, dan kepentingan akumulasi keuntungan tanpa batas. Antarkita.com memilih jalan lain: Teknologi yang sederhana, agar mudah dipahami dan digunakan. Sistem yang ringan, agar tidak membebani pelaku usaha kecil. Manusia sebagai subjek, bukan sekadar data dan algoritma. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari) Hadis ini menjadi fondasi bahwa kemuliaan ekonomi bukan terletak pada skala besar atau kecilnya usaha, tetapi pada kejujuran, kemandirian, dan keberkahan kerja. Hidup dari Semangat Jama’ah, Bukan Sekadar Teknologi Antarkita.com hidup bukan karena kecanggihan teknologi, tetapi karena ruh kebersamaan jama’ah Muhammadiyah. Ia bertumbuh dari silaturahmi, kepercayaan, dan kesadaran kolektif bahwa ekonomi umat harus dibangun bersama, bukan diserahkan sepenuhnya kepada sistem luar. Inilah makna kedaulatan ekosistem bisnis jama’ah: Produksi oleh jama’ah Distribusi oleh jama’ah Konsumsi oleh jama’ah Keuntungan berputar di jama’ah Bukan untuk menutup diri dari dunia luar, tetapi untuk memastikan bahwa umat tidak terus berada di posisi paling lemah dalam struktur ekonomi. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa rezeki yang halal dan diperoleh dengan cara yang benar akan melahirkan thuma’ninah—ketenangan jiwa. Antarkita.com memilih jalan keberkahan, meski perlahan, dibanding pertumbuhan cepat tanpa nilai. Rezeki Sudah Dibagi, Tugas Kita Berikhtiar Keyakinan dasar Antarkita.com sederhana namun kokoh: Allah SWT telah membagi rezeki masing-masing hamba-Nya. Tidak ada yang tertukar, tidak ada yang tertinggal. “Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6) Karena itu, Antarkita.com tidak lahir dengan rasa takut kalah, tetapi dengan keberanian untuk berpihak. Berpihak pada usaha kecil, pada jama’ah, pada ikhtiar yang mungkin sunyi namun jujur. Penutup Antarkita.com adalah ikhtiar kecil dengan kesadaran besar. Ia bukan tentang siapa yang paling cepat, bukan tentang siapa yang paling canggih, melainkan tentang siapa yang paling konsisten menjaga nilai. Selama jama’ah mau bergerak bersama, selama ikhtiar terus dijalankan, dan selama keyakinan kepada Allah tetap menjadi fondasi, maka kemandirian dan kedaulatan ekonomi jama’ah bukan mimpi— melainkan proses yang sedang dan terus kita jalani. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Membangun Ekonomi Jama’ah dengan Spirit Kemandirian, Kedaulatan, dan Ukhuwah

Membangun Ekonomi Jama’ah dengan Spirit Kemandirian, Kedaulatan, dan Ukhuwah Meneladani Rasulullah ﷺ dalam Membangun Pasar Madinah Banyumas — Ketua Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Banyumas, H. Latif Muchozin, menegaskan bahwa penguatan ekonomi jama’ah merupakan agenda strategis dan mendesak dalam menghadapi realitas ekonomi nasional dan global yang semakin tidak berpihak kepada usaha kecil dan umat. Menurutnya, di tengah dominasi modal besar, korporasi raksasa, dan sistem ekonomi yang kian terpusat, umat Islam—termasuk warga Muhammadiyah—tidak boleh terus berada pada posisi sebagai pasar dan konsumen semata. Diperlukan ikhtiar sadar, terencana, dan berjama’ah untuk membangun kemandirian ekonomi. “Membangun ekonomi jama’ah harus dimulai dari niat yang lurus: mandiri dan tidak bergantung sepenuhnya pada ekonomi luar. Bukan untuk menutup diri, tetapi agar jama’ah memiliki daya tawar, kemandirian, dan martabat,” ujar H. Latif Muchozin. Ekonomi Jama’ah: Pilar Kemandirian Umat H. Latif Muchozin menjelaskan bahwa ekonomi jama’ah bukan sekadar aktivitas bisnis, melainkan bagian dari strategi besar membangun kekuatan umat. Tanpa fondasi ekonomi yang kuat, dakwah, pendidikan, kesehatan, dan amal usaha Muhammadiyah akan selalu berada dalam kondisi rentan. Ia menekankan bahwa kemandirian ekonomi jama’ah harus dibangun secara bertahap dan realistis, dimulai dari penguatan pelaku usaha internal, jejaring saudagar, serta kesadaran kolektif untuk saling menopang. “Kemandirian tidak lahir dari menunggu bantuan, tetapi dari keberanian memulai dengan apa yang kita miliki,” tegasnya. Berdaulat dengan Produk dan Bisnis Jama’ah Lebih lanjut, Ketua JSM Banyumas menegaskan bahwa kedaulatan ekonomi hanya dapat terwujud apabila jama’ah berani berpihak pada produk dan bisnis milik jama’ah sendiri. Tanpa keberpihakan tersebut, usaha-usaha jama’ah akan sulit berkembang di tengah persaingan yang tidak seimbang. “Jika produk jama’ah tidak kita gunakan, jika bisnis jama’ah tidak kita dukung, maka kedaulatan ekonomi hanya akan menjadi slogan,” katanya. Menurutnya, kedaulatan ekonomi jama’ah bukan tentang menyingkirkan pihak lain, tetapi memastikan bahwa nilai tambah ekonomi berputar di lingkungan jama’ah dan memberi manfaat yang luas bagi umat. Meneladani Rasulullah ﷺ dalam Membangun Pasar Madinah Dalam konteks sejarah Islam, H. Latif Muchozin mengingatkan bahwa apa yang dilakukan JSM Banyumas hari ini memiliki preseden yang sangat kuat dalam sirah Nabawiyah. Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, struktur ekonomi kota tersebut dikuasai oleh pasar Bani Qainuqa’ yang sarat dengan praktik riba, monopoli, dan ketidakadilan. Kaum Muslimin, meskipun jumlahnya terus bertambah, tidak memiliki kedaulatan ekonomi dan hanya menjadi bagian pinggiran dari sistem yang ada. Rasulullah ﷺ tidak memilih jalan konfrontasi atau perebutan paksa, tetapi membangun sistem ekonomi alternatif. Beliau mendirikan pasar sendiri bagi kaum Muslimin—pasar yang bebas riba, tanpa pungutan yang menindas, dan menjunjung tinggi kejujuran. Dalam sebuah hadis diriwayatkan: “Ini adalah pasar kalian. Jangan dipersempit dan jangan dipungut pajak.” (HR. Ibnu Mājah) Pasar Madinah yang dibangun Rasulullah ﷺ menjadi simbol kemandirian dan kedaulatan ekonomi umat, sekaligus ruang pembelajaran etika bisnis Islam yang berkeadilan. Ukhuwah Para Sahabat sebagai Jiwa Ekonomi Islam Keberhasilan pasar Madinah, menurut H. Latif Muchozin, tidak hanya ditentukan oleh sistem dan aturan, tetapi oleh ukhuwah para sahabat. Mereka berdagang dengan kejujuran, saling percaya, dan saling menjaga. Persaingan tidak berubah menjadi permusuhan, dan keuntungan tidak menghilangkan kepedulian. “Ekonomi jama’ah harus dibangun di atas ukhuwah. Tanpa ukhuwah, ekonomi akan melahirkan konflik. Dengan ukhuwah, ekonomi menjadi sarana kemaslahatan,” jelasnya. Ia mengutip sabda Rasulullah ﷺ: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad) Hadis ini, menurutnya, menjadi prinsip dasar bahwa aktivitas ekonomi jama’ah harus memberi manfaat seluas-luasnya, bukan hanya kepada pelaku usaha, tetapi juga kepada masyarakat sekitar. Ikhtiar JSM Banyumas: Kecil, Bertahap, dan Berjama’ah Menutup pernyataannya, H. Latif Muchozin menegaskan bahwa JSM Banyumas menyadari sepenuhnya keterbatasan yang dimiliki. Namun keterbatasan tersebut justru menjadi alasan untuk terus bergerak, bukan berhenti. “Kami tidak menunggu sempurna untuk memulai. Kami bergerak dengan segala keterbatasan, karena sejarah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu diawali oleh langkah-langkah kecil yang konsisten,” pungkasnya. Ia berharap ikhtiar JSM Banyumas dapat menjadi stimulus lahirnya program-program ekonomi jama’ah lainnya, serta memperkuat sinergi antar pelaku usaha Muhammadiyah di Banyumas. Tentang JSM Banyumas Jaringan Saudagar Muhammadiyah Banyumas merupakan wadah silaturahmi, kolaborasi, dan penguatan ekonomi para pelaku usaha Muhammadiyah di wilayah Banyumas, dengan tujuan membangun kemandirian dan kedaulatan ekonomi jama’ah secara berkelanjutan.  

Hunian Kita, Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Kebutuhan Hunian dalam Genggaman Anda

Kebutuhan Hunian dalam Genggaman Anda Hunian adalah kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup sebuah keluarga. Dari rumah yang layak, lahir rasa aman, ketenangan batin, serta ruang tumbuh bagi generasi penerus. Namun pada kenyataannya, tidak semua keluarga memiliki kemudahan untuk mendapatkan hunian yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Harga tanah yang terus meningkat, keterbatasan akses pembiayaan, serta minimnya pilihan hunian yang berpihak kepada masyarakat menjadi tantangan nyata yang dihadapi hari ini. Menyadari kondisi tersebut, Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Banyumas memulai sebuah ikhtiar bersama untuk menghadirkan solusi hunian yang adil, realistis, dan membumi. Sebagai langkah awal untuk mewujudkan mimpi membangun Perumahan Muhammadiyah, JSM Banyumas melakukan survei kebutuhan perumahan Muhammadiyah secara online. Langkah Awal yang Berangkat dari Mendengar Kami meyakini bahwa pembangunan perumahan tidak boleh dimulai dari asumsi, apalagi sekadar mengikuti logika pasar properti. Rumah yang baik bukan yang paling mahal, melainkan yang paling sesuai dengan kebutuhan penghuninya. Karena itu, langkah pertama yang kami ambil adalah mendengar langsung suara warga Muhammadiyah Banyumas. Melalui survei online ini, JSM Banyumas menghimpun data kebutuhan hunian warga: kondisi tempat tinggal saat ini, kebutuhan ruang keluarga, harapan terhadap lingkungan hunian, hingga kemampuan ekonomi yang realistis. Data ini menjadi fondasi utama agar perencanaan perumahan Muhammadiyah benar-benar berpijak pada realitas jamaah, bukan sekadar konsep di atas kertas. Layanan Hunian untuk Warga Muhammadiyah Banyumas Khusus untuk warga Muhammadiyah Banyumas, JSM Banyumas menghadirkan layanan kebutuhan hunian rumah yang dapat diakses dengan mudah. Layanan ini dirancang untuk memudahkan warga dalam menyampaikan kebutuhan hunian secara terbuka, transparan, dan partisipatif. Seluruh proses pendataan dan pemesanan kebutuhan hunian dilakukan secara online, sehingga dapat dijangkau oleh warga di berbagai wilayah Banyumas. Cukup melalui genggaman tangan, warga dapat berpartisipasi dalam proses awal perencanaan perumahan Muhammadiyah. Pendekatan ini tidak hanya memudahkan secara teknis, tetapi juga membuka ruang partisipasi seluas-luasnya. Setiap isian survei adalah suara, dan setiap suara adalah arah bagi langkah JSM Banyumas ke depan. Mewujudkan Hunian Impian yang Sesuai Kebutuhan dan Kemampuan Survei kebutuhan rumah ini menjadi kunci untuk mewujudkan hunian impian yang sesuai kebutuhan dan kemampuan. JSM Banyumas ingin memastikan bahwa perumahan Muhammadiyah kelak bukan hunian yang memberatkan keluarga dengan cicilan panjang, melainkan hunian yang menenangkan dan menguatkan kehidupan. Hunian yang direncanakan tidak hanya memperhatikan aspek fisik bangunan, tetapi juga lingkungan sosial dan nilai-nilai keislaman. Diharapkan, perumahan Muhammadiyah menjadi ruang hidup yang sehat, tertib, religius, serta mendorong tumbuhnya kebersamaan dan kemandirian ekonomi jamaah. Survei sebagai Fondasi Mimpi Besar Survei ini bukan tujuan akhir, melainkan langkah awal untuk mewujudkan mimpi besar JSM Banyumas. Dari data yang terkumpul, JSM Banyumas akan menyusun perencanaan yang matang, menentukan skema pembangunan yang adil, serta merancang model pembiayaan yang sesuai dengan kemampuan warga. Kami percaya, mimpi besar harus dirawat dengan langkah kecil yang terukur. Dan survei ini adalah langkah kecil pertama yang menentukan arah perjalanan panjang tersebut. Ajakan Berpartisipasi Kami mengajak seluruh warga Muhammadiyah Banyumas untuk turut ambil bagian dalam ikhtiar ini. Silakan isi formulir survei kebutuhan hunian agar kami dapat memahami kebutuhan Anda secara lebih utuh dan bersama-sama mewujudkan rumah impian yang layak, terjangkau, dan penuh keberkahan. Dari kebutuhan yang terdata dengan jujur, lahir perencanaan yang adil. Dari kebersamaan jamaah, terwujud hunian yang menenteramkan. SiS, Antarkita

Hunian Kita, Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Mimpi JSM Banyumas 2026: Membangun Perumahan Muhammadiyah

Mimpi JSM Banyumas 2026: Membangun Perumahan Muhammadiyah Sabtu sore, 3 Januari 2026, menjadi salah satu simpul waktu yang penting bagi Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Banyumas. Dalam suasana awal tahun yang masih basah oleh harapan dan doa, lahirlah satu mimpi bersama: membangun Perumahan Muhammadiyah. Bukan sekadar proyek fisik, melainkan ikhtiar ideologis, sosial, dan keumatan. Mimpi ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia berakar pada realitas sosial yang kian mendesak: krisis hunian yang semakin menghimpit masyarakat urban dan suburban. Seperti yang sejak lama disadari Friedrich Engels dalam The Housing Question (1872), krisis hunian adalah persoalan struktural yang selalu menjadi “hak istimewa” kaum tertindas—mereka yang bekerja keras, tetapi kian tersingkir dari akses tempat tinggal yang layak. Engels menyebutnya sebagai secondary evil, kejahatan turunan dari sistem ekonomi yang timpang. Lebih dari satu abad berselang, hantu krisis hunian itu kembali menggentayangi Indonesia. Urbanisasi yang masif, harga tanah dan rumah yang terus melonjak, serta ketergantungan pada skema pembiayaan jangka panjang membuat hunian layak semakin jauh dari jangkauan masyarakat kelas menengah ke bawah. Padahal, hunian bukan sekadar bangunan, melainkan hak dasar manusia, sebagaimana ditegaskan dalam UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, Agenda 21 PBB, serta Tujuan ke-11 Sustainable Development Goals. Di titik inilah mimpi JSM Banyumas menemukan relevansinya. Muhammadiyah, sejak kelahirannya pada 1912, adalah gerakan Islam yang tumbuh dan berakar di ruang urban. Sejarah mencatat bagaimana Kiai Ahmad Dahlan dan para pendiri Muhammadiyah tidak hanya berdakwah di mimbar, tetapi juga menjawab kebutuhan konkret masyarakat kota: pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Impian Kiai Sudja’ pada 1920 tentang rumah miskin, rumah yatim, dan rumah sakit—yang kala itu dianggap terlalu muluk—akhirnya terbukti menjadi tonggak besar amal usaha Muhammadiyah. Kini, seabad kemudian, mimpi itu menuntut rekontekstualisasi. Membangun Perumahan Muhammadiyah bukan sekadar menyediakan tempat berteduh, tetapi menghadirkan hunian sementara yang bermartabat, terjangkau, dan terintegrasi dengan nilai-nilai Islam berkemajuan. Hunian yang memberi ruang bagi keluarga muda, pekerja kecil, alumni panti asuhan, pensiunan pegawai persyarikatan, kaum difabel, hingga mereka yang selama ini terpinggirkan dari akses kepemilikan rumah. Sebagaimana ditegaskan dalam berbagai kajian (Belinda Yuen, 2007; Hilman Latief, 2016), hunian yang layak berkorelasi langsung dengan kualitas sumber daya manusia, ketahanan keluarga, dan stabilitas sosial. Ketika akses hunian tertutup, lahirlah kawasan kumuh, kemiskinan struktural, krisis moral, bahkan keterasingan manusia dari nilai-nilai keimanan. Karena itu, menyediakan hunian sejatinya adalah amal dunia sekaligus investasi akhirat. Perumahan Muhammadiyah yang dimimpikan JSM Banyumas bukan hanya soal tembok dan atap, tetapi tentang membangun ekosistem kehidupan: ada masjid sebagai pusat spiritual, ada ruang pendidikan dan literasi, ada denyut ekonomi jamaah, dan ada kehidupan sosial yang saling menguatkan. Di sanalah dakwah tidak berhenti pada ceramah, tetapi hadir dalam keseharian—dalam kerja, dalam keluarga, dalam kebersamaan. Mimpi ini juga sejalan dengan Manhaj Gerakan Muhammadiyah dan Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua: mengambil prakarsa, bersikap proaktif, dan menghadirkan solusi nyata atas persoalan umat dan bangsa. Ketika negara belum sepenuhnya mampu menjangkau semua lapisan, maka gerakan masyarakat—termasuk JSM—perlu tampil sebagai bagian dari solusi. Karena itu, mimpi Perumahan Muhammadiyah yang lahir pada Sabtu sore awal Januari 2026 ini kami maknai sebagai spirit awal tahun, sebuah stimulus bagi lahirnya program-program lanjutan JSM Banyumas. Mimpi yang mengajak kami untuk tidak berhenti pada wacana, tetapi melangkah pada perencanaan, konsolidasi, dan ikhtiar nyata. Sejarah Muhammadiyah telah membuktikan: banyak mimpi besar yang awalnya ditertawakan, justru kelak menjadi amal usaha yang menopang jutaan kehidupan. Maka, mimpi JSM Banyumas ini pun kami rawat dengan keyakinan yang sama—bahwa selama ia berpijak pada nilai, kebutuhan umat, dan kerja berjamaah, ia bukan mimpi kosong, melainkan cikal bakal perubahan. Wallahu a’lam. SiS, Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Ceruk Pasar, Rezeki, dan Keteguhan Ikhtiar, Pelajaran Sunyi dari Pedagang Baju Keliling

Ceruk Pasar, Rezeki, dan Keteguhan Ikhtiar, Pelajaran Sunyi dari Pedagang Baju Keliling Dalam dunia ekonomi modern, ada satu kebenaran mendasar yang sering terabaikan oleh hiruk-pikuk digitalisasi: tidak ada produk yang benar-benar kehilangan pasar, yang ada hanyalah pasar yang belum kita pahami sepenuhnya. Prinsip inilah yang dalam ilmu pemasaran dikenal sebagai ceruk pasar (niche market)—sebuah ruang kecil, spesifik, namun nyata. Philip Kotler dan Kevin Lane Keller dalam Marketing Management menjelaskan bahwa ceruk pasar adalah segmen pelanggan yang memiliki kebutuhan unik, yang sering kali tidak menarik bagi pemain besar karena skalanya kecil, tetapi justru sangat bernilai bagi pelaku yang fokus dan konsisten. Ceruk pasar tidak menuntut dominasi, melainkan ketepatan. Era Digital dan Ilusi Keseragaman Pasar Di era digital, hampir semua produk dapat ditemukan di pasar online. Pakaian, makanan, jasa, bahkan kebutuhan yang sangat personal sekalipun kini tersedia dalam satu layar. Platform e-commerce menciptakan ilusi bahwa pasar telah seragam, efisien, dan sepenuhnya terjangkau oleh teknologi. Namun kenyataan sosial berkata lain. Di sela-sela algoritma, logistik, dan pembayaran digital, kita masih menemukan pedagang keliling—salah satunya pedagang pakaian keliling—yang berjalan perlahan dari kampung ke kampung, dari pintu ke pintu. Keberadaan mereka bukan sisa masa lalu, melainkan respon alami atas kebutuhan pasar yang tidak homogen. Sosiolog ekonomi Mark Granovetter menyebut bahwa keputusan ekonomi sering kali dipengaruhi oleh relasi sosial dan kepercayaan, bukan semata harga atau efisiensi. Pedagang keliling hidup di ruang relasi itu—ruang yang tidak bisa digantikan oleh aplikasi. Mengapa Mereka Tetap Bertahan? Ada beberapa alasan mendasar mengapa pedagang baju keliling tetap eksis, bahkan di tengah gempuran pasar online. Pertama, keterbatasan adaptasi teknologi. Tidak semua orang memiliki akses, literasi digital, atau modal untuk masuk ke pasar online. Namun keterbatasan ini tidak otomatis mematikan daya juang. Sebaliknya, ia melahirkan strategi alternatif: mengandalkan kehadiran fisik dan interaksi langsung. Kedua, keyakinan akan adanya pembeli yang membutuhkan sistem layanan mereka. Masih banyak konsumen yang: Tidak memiliki akses internet stabil Tidak percaya pada transaksi online Ingin melihat dan mencoba barang secara langsung Merasa nyaman berinteraksi dengan manusia, bukan layar Di sinilah pedagang keliling menemukan ceruknya. Mereka bukan sekadar menjual pakaian, tetapi menghadirkan layanan personal yang tidak disediakan pasar digital. Ketiga, biaya sosial yang rendah bagi konsumen. Tidak ada ongkir, tidak ada risiko barang tidak sesuai, tidak ada proses pengembalian. Semua selesai di tempat. Dalam teori perilaku konsumen, ini disebut sebagai reduction of perceived risk—pengurangan rasa risiko dalam keputusan membeli. Rezeki: Antara Ikhtiar dan Keyakinan Namun ada satu fondasi yang jauh lebih kuat dari sekadar logika pasar: keyakinan bahwa rezeki telah diatur oleh Allah SWT. Dalam Islam, rezeki bukan hanya hasil kerja keras, tetapi juga ketetapan Ilahi yang dibuka melalui usaha. Al-Qur’an menegaskan: “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ar-Ra’d: 26) Ayat ini tidak mengajarkan fatalisme, tetapi ketenangan batin. Bahwa manusia wajib berusaha, namun tidak boleh terjebak pada kecemasan berlebihan terhadap hasil. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari) Pedagang baju keliling memahami ini dengan cara yang sangat membumi. Mereka berjalan, menawarkan, menerima penolakan, dan tetap tersenyum. Bagi mereka, satu pembeli hari ini sudah cukup untuk menguatkan keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah membagi rezeki. Ceruk Pasar dan Keikhlasan Dalam perspektif ekonomi Islam, ceruk pasar tidak hanya soal peluang, tetapi juga keberkahan. Rezeki yang baik bukan hanya banyaknya angka, tetapi ketenangan yang menyertainya. Imam Al-Ghazali menyebut bahwa rezeki yang halal dan diperoleh dengan cara yang jujur akan melahirkan thuma’ninah—ketenteraman jiwa. Inilah yang sering kita lihat pada pedagang kecil: hidup sederhana, tetapi tidak kehilangan harapan. Pasar boleh berubah. Teknologi boleh melesat. Namun nilai ikhtiar, kejujuran, dan keyakinan tetap menjadi fondasi yang tak tergantikan. Penutup: Menghormati Ikhtiar yang Sunyi Pedagang baju keliling mengajarkan kita satu hal penting: bahwa tidak semua perjuangan harus viral, tidak semua bisnis harus digital, dan tidak semua rezeki harus besar untuk menjadi cukup. Selama masih ada langkah yang digerakkan oleh harapan, selama masih ada keyakinan bahwa Allah Maha Adil dalam membagi rezeki, maka ceruk pasar akan selalu ada—sekecil apa pun ia tampak. Semangat terus, Pak Pedagang Baju Keliling. Langkah sunyimu adalah pelajaran besar tentang makna ikhtiar dan percaya. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Harga Cabai Mahal, (Takmir MAB Gelar Pelatihan Tabelampot)

Harga Cabai Mahal, (Takmir MAB Gelar Pelatihan Tabelampot) Salah satu cara untuk menjaga kebugaran dan tetap bahagia bagi masyarakat yang sudah memasuki periode lansia adalah melakukan aktivitas yang ringan rutin dan menyenangkan. Satu di antaranya adalah menanam dan merawat tanaman sayuran dalam pot. Takmir Masjid Agung Baitussalam (MAB), Purwokerto pada hari Sabtu 03 Januari 2026 mulai pukul 08.00 sampai dengan 11.00 kembali menyelenggarakan kegiatan pelatihan tanam cabai di dalam pot (Tabelampot). Acara dimulai dengan cek kesehatan seluruh peserta. Kegiatan pelatihan tersebut adalah yang pertama untuk tahun 2026. Tahun sebelumnya, akhir 2025 Takmir MAB sudah melaksanakan pelatihan Tabelampot dengan pesertanya adalah jamaah putra. Khusus pelatihan kali ini di awal 2026 pesertanya adalah jamaah putri MAB yang tergabung dalam Forum Silaturahim Lansia Bahagia. Jumlah peserta sekitar 160 orang, di antaranya Tri Utami Sutarmo (88 tahun) adalah peserta paling senior dan Linda (36 tahun) peserta termuda. Setiap peserta mendapatkan 10 (sepuluh) bibit cabai dan 10 kantong polibag, ungkap Profesor dari Unsoed Prof.Ir. Totok Agung, DH.,MP.,PhD. saat bincang-bincang dengan Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com pada hari Sabtu 03 Januari 2026. Harga cabe pada bulan Desember 2025 antara 85.000 rupiah sampai 120.000 rupiah. Mahalnya harga cabe; sehingga perlu di gelar pelatihan Tabelampot di MAB yang dimulai pukul 09.00, dibuka oleh Ketua Panitia H. Mahfulyono. Dalam sambutannya Ketua Takmir H. Sudarman, SAg. menjelaskan perlunya manusia belajar komunikasi. Yaitu komunikasi damai dengan Allah, dengan diri sendiri, damai dengan manusia, dan damai dengan alam. Jika kita damai dengan alam, maka alam akan damai dengan kita. Hari ini kita belajar berdamai dengan tanah, pupuk, dan tanaman cabai. Peserta menurut Prof.Totok Agumg (alumni S3 dari Kyushu University, Fukuoka Jepang) sangat antusias dengan kegiatan ini. Para peserta mendengarkan paparan dengan seksama dan mencatat materi yang disampaikan. Materi disampaikan oleh tiga narasumber yaitu Prof Totok Agung, Dr. Etik Wukir Tini, dan Nindy Seviradari, SP., MSc. Ke tiganya adalah dosen Fakultas Pertanian Unsoed. Setelah materi diberikan, kemudian diadakan diskusi yang sangat dinamis. Kegiatan dilanjutkan dengan praktik tanam cabai di dalam pot atau polibag. Tahapannya adalah penyiapan media tanam yang terdiri dari tanah yang sudah gembur, dicampur pupuk kandang atau kompos yang sudah jadi dan sekam padi dengan perbandingan masing – masing sepertiga bagian. Bibit disiapkan dimulai dengan pembukaan plastik atau kantong bibit secara perlahan agar tidak merusak akar bibit. Tanah dan bibit tanaman dipindahkan ke dalam lubang sedalam 5 cm pada media tanam dalam pot. Tanah di sekitar bibit muda dipadatkan kemudian segera diberi air secukupnya. Kegiatan selanjutnya adalah pemeliharaan tanaman, mulai dari pemupukan dan pengendalian hama penyakit. Diperkirakan buah cabai mulai dipanen pada umur tanaman sekitar 62 hari. Tanaman yang sehat dan pertumbuhan baik dapat dipanen beberapa kali sampai 10 kali.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Spirit Awal Tahun 2026 Jaringan Saudagar Muhammadiyah Banyumas: Dari Pertemuan Sederhana Menuju Kerja Nyata

Spirit Awal Tahun 2026 Jaringan Saudagar Muhammadiyah Banyumas: Dari Pertemuan Sederhana Menuju Kerja Nyata Awal tahun 2026 menjadi ruang jeda yang bermakna bagi Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Banyumas. Setelah sekian kali rencana pertemuan tertunda oleh kesibukan masing-masing, Allah SWT akhirnya memudahkan kami untuk bertemu. Bukan dalam forum resmi, bukan pula dalam rapat besar, tetapi dalam suasana yang sederhana dan apa adanya—sebuah suasana yang justru mencerminkan watak gerakan ini. Pada Sabtu, 3 Januari 2026, seusai salat Ashar, di bawah langit Purwokerto yang diguyur hujan rintik-rintik, saya bersama Ustadz Latief Muchozin dan Ustadz Sugiyono bertemu mewakili teman-teman JSM Banyumas yang berhalangan hadir. Hujan seakan menjadi penanda: awal yang tenang, sejuk, dan penuh harapan. Kami memilih sebuah warung sate yang cukup legendaris di Purwokerto, tepat di seberang SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 2 Purwokerto. Tempat yang akrab bagi warga kota ini tidak dipilih karena kemewahan, melainkan karena kesederhanaannya. Di sanalah, di ruang yang jauh dari formalitas, obrolan menjadi lebih jujur dan niat bisa disampaikan tanpa sekat. Sebagai sesama pelaku usaha, pertemuan singkat tersebut kami niatkan sebagai titik awal menata langkah di tahun 2026. Kami menyadari betul bahwa tantangan ekonomi ke depan tidak semakin ringan. Daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, tekanan sistem ekonomi yang kian terkonsentrasi pada pemodal besar, serta ketidakpastian arah kebijakan politik membuat pelaku usaha kecil dan menengah harus bekerja lebih keras hanya untuk bertahan. Dalam kondisi seperti itu, JSM Banyumas tidak boleh terjebak pada wacana besar tanpa tindak lanjut. Tahun 2026 harus menjadi tahun di mana gagasan diturunkan menjadi kerja yang lebih nyata, lebih terukur, dan lebih dirasakan manfaatnya oleh sesama pelaku usaha. Merawat Ruh Gerakan Obrolan yang mengalir di sela kepulan asap sate dan suara hujan membawa kami pada satu kesimpulan bersama: ruh gerakan JSM Banyumas harus terus dirawat. Ruh itu tidak lahir dari struktur semata, melainkan dari kesadaran dan komitmen personal para anggotanya. Dari pertemuan sederhana itu, kami menegaskan kembali lima kunci yang harus selalu dijaga oleh para pelaku usaha yang menggawangi Jaringan Saudagar Muhammadiyah Banyumas. Pertama, komunikasi. Tanpa komunikasi yang terbuka dan jujur, jejaring akan rapuh. Kesalahpahaman mudah tumbuh, dan niat baik bisa terhambat hanya karena pesan yang tidak tersampaikan dengan baik. Kedua, silaturahmi. Silaturahmi bukan sekadar tradisi, tetapi modal sosial yang paling berharga. Dalam silaturahmi tumbuh kepercayaan, dan dari kepercayaan lahir keberanian untuk melangkah bersama. Ketiga, kolaborasi. Kami sadar tidak semua bisa dikerjakan sendiri. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, tetapi alasan untuk saling menguatkan. Kolaborasi adalah jalan keluar dari kesempitan. Keempat, sinergi. Setiap langkah harus berada dalam satu arah yang sama dengan nilai dan visi Persyarikatan. Sinergi memastikan bahwa ikhtiar ekonomi JSM Banyumas tidak berjalan sendiri, tetapi menjadi bagian dari gerakan besar Muhammadiyah. Kelima, eksekusi. Inilah kunci penentu. Tanpa eksekusi, komunikasi hanya menjadi percakapan, silaturahmi hanya menjadi pertemuan, dan kolaborasi hanya menjadi niat. Eksekusi, meski sederhana, adalah bukti kesungguhan. Langkah Kecil di Awal Tahun Pertemuan ini mungkin tampak kecil dan biasa. Namun bagi kami, ia memiliki makna simbolik yang kuat. Ia menandai bahwa JSM Banyumas masih hidup, masih bergerak, dan masih berupaya merespons zaman dengan caranya sendiri—pelan, terbatas, tetapi konsisten. Kami berharap langkah kecil di awal tahun 2026 ini mendapatkan kemudahan dan kelancaran dari Allah SWT. Semoga ia menjadi stimulus bagi lahirnya program-program lain yang lebih terstruktur dan berdampak, baik dalam penguatan jaringan, peningkatan kapasitas pelaku usaha, maupun pengembangan ikhtiar ekonomi alternatif seperti Antarkita. Karena pada akhirnya, gerakan tidak selalu lahir dari keputusan besar di ruang rapat. Ia sering tumbuh dari pertemuan sederhana, niat yang lurus, dan kesediaan untuk terus melangkah meski dengan segala keterbatasan. Awal tahun 2026 ini kami niatkan sebagai pengingat: lebih baik melangkah perlahan daripada berhenti menunggu sempurna. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Mengintip Sistem Budidaya Ikan Gabus Thailand, Bisa Ditiru Petani Indonesia

Mengintip Sistem Budidaya Ikan Gabus Thailand, Bisa Ditiru Petani Indonesia Ikan Gabus (Channa sp.) berasal dari family Perciformes yang merupakan kelompok terbesar dari ikan – ikan penting secara komersial dan rekreasi. Anggota kelompok ikan ini menunjukkan kemampuan adaptasi sangat baik terhadap berbagai lingkungan, ungkap Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unsoed Agung Cahyo Setyawan, S.Pi., M.Si.saat bincang-bincang dengan Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com Ikan Gabus di Indonesia menurut Agung Cahyo (S3 ongoing Aquatic Pathobiology – Copenhagen University, Denmark) termasuk salah satu jenis ikan ekonomis dengan produksi mencapai lebih dari 30 ribu ton pada tahun 2024 (KKP 2024). Ikan ini disukai karena cita rasa dan ketebalan daging serta kandungan nutrisinya. Adanya kandungan albumin yang memiliki banyak manfaat dalam bidang kesehatan menambah nilai ekonomis dari ikan Gabus. Di Indonesia saat ini harga per Kg ikan Gabus mencapai 60 – 80 ribu rupiah, ujar Agung Cahyo yang juga dosen ahli Manajemen Kualitas Air dari FPIK Unsoed. Kebutuhan pasar untuk Ikan Gabus saat ini sebagian besar masih dipenuhi dari kegiatan penangkapan. Hal ini menyebabkan ketersediaan Ikan Gabus di alam semakin menurun. Muchlisa (2024) melaporkan bahwa laju ekploitasi (penangkapan) Ikan Gabus di alam telah melebihi ambang batas toleransi (E > 0,5). Solusi untuk memenuhi kebutuhan Ikan Gabus adalah dengan kegiatan budidaya. Namun budidaya Ikan Gabus menghadapi beberapa tantangan, terutama karena sifat kanibalismenya. Sifat ini membuat Ikan Gabus kecil harus segera dipisahkan dari ikan yang berukuran lebih besar. Selain itu, habitat alami Ikan Gabus adalah perairan sungai, danau, dan rawa sehingga memerlukan modifikasi lingkungan dalam proses pemijahan dan budidayanya. jelas Agung Cahyo (Ketua ISPIKANI (Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia) DPC Banyumas. Agung Cahyo mengatakan bahwa pembudidayaan Ikan Gabus di Indonesia saat ini banyak dilakukan dengan kolam terpal, kolam tanah, dan kolam beton. Namun di Thailand terdapat metode budidaya ikan Gabus yang unik dengan menggabungkan beberapa teknik sehingga proses budidaya menjadi lebih efisien, terstruktur, dan tingkat keberhasilannya meningkat. Metode tersebut dilakukan dengan menggunakan ember untuk wadah pemijahan, kolam beton untuk penetasan, dan kolam tanah untuk pembesaran. Pemijahan pada ember sangat memudahkan pembudidaya untuk mengambil telur dan memisahkannya dari induk (menghindari kanibalisme), penetasan dan pemeliharaan larva pada kolam beton memudahkan kontrol kualitas air, manajemen pakan, serta monitoring pertumbuhan dan kesehatan, sementara itu pembesaran pada kolam tanah dilakukan untuk menyesuaikan habitat alami ikan Gabus. Selanjutnya Agung Cahyo menjelaskan ember yang digunakan untuk pemijahan dipilih yang berwarna gelap dan memiliki tutup. Warna terang harus dihindari karena pada dasarnya ikan Gabus adalah hewan diurnal (aktif pada malam hari) dan melakukan pemijahan di malam hari. Pada saat melakukan pemijahan, ember ditutup rapat agar ikan tidak melompat keluar. Namun tutup ember harus dilubangi agar tetap terjadi sirkulasi udara di dalam dan di luar ember. Ukuran ember yang digunakan umumnya adalah 80 atau 100 liter dengan volume air 80%. Hal ini bertujuan agar permukaan air tidak menempel pada tutup karena pada saat terjadi pemijahan, Ikan Gabus akan mengeluarkan busa sebagai tempat menempelnya telur yang mengapung di permukaan. Pemijahan dapat dilakukan dengan memasukkan sepasang induk yang telah siap (matang gonad) ke dalam ember. Induk tersebut terlebih dahulu disuntik dengan hormon perangsang pemijahan agar proses kematangan gonadnya lebih cepat dan seragam. Selama proses pemijahan ini, air di dalam ember tidak perlu diaerasi karena Ikan Gabus dapat mengambil oksigen langsung dari udara. Pemijahan sebaiknya dilakukan pada malam hari agar suhu lebih stabil dan sebagai upaya meniru kondisi di lingkungan liar. Pada umumnya pemijahan terjadi antara 8 – 12 jam setelah induk dimasukkan. Telur yang telah dibuahi dan sehat akan terlihat mengapung di permukaan air dan berwarna kuning transparan, sedangkan telur yang mati akan tenggelam di dasar dan berwarna pucat. Penggunan ember berwarana gelap (hitam) juga akan memudahkan dalam pengamatan di tahap ini. Telur yang sehat harus segera diambil dan dipindahkan ke kolam penetasan agar tidak dimakan oleh induknya. Telur ikan Gabus akan menetas setelah 24 jam dan selama tiga hari berikutnya belum perlu diberi makan karena larva memiliki cadangan makanan pada kuning telur yang masih menempel pada tubuhnya. Kolam penetasan dan pemeliharaan larva ini harus diaerasi dengan kuat karena ikan belum memiliki organ tubuh lengkap dan membutuhkan kondisi yang ideal bagi pertumbuhannya. Pakan pertama untuk larva Ikan Gabus adalah pakan alami dari kelompok Zooplankton seperti Artemia sp. atau Daphnia sp., Cacing sutra (Tubifex sp.) juga dapat diberikan sebagai pakan awal, namun menurut Priayadi et.al (2010), pakan yang paling baik adalah Artemia sp. karena kandungan nutrisi dan kesesuaian ukuran bukaan mulut larva Ikan Gabus. Setelah larva berumur satu minggu, pakan berupa pellet dapat mulai diberikan dengan tetap dicampur pakan awal untuk memudahkan adaptasi dan meningkatkan nilai nutrisinya. Di Thailand, pada tahap ini pakan diberikan dengan cara dicampur merata, dibuat pasta, dan ditempelkan pada bola plastik agar saat diberikan bisa tetap mengapung di permukaan air. Memasuki umur dua atau tiga minggu pakan berupa pellet murni mulai dapat diberikan secara penuh agar pertumbuhan larva menjadi lebih merata. Pada tahap ini pakan pellet yang diberikan harus dipilih dari jenis pakan yang dikhususkan untuk larva agar kebutuhan nutiri dan ukurannya sesuai dengan kebutuhan dan ukuran bukaan mulut ikan. Pemberian pakan ini dapat diteruskan sampai Ikan Gabus berumur satu bulan dan telah tumbuh menjadi benih yang siap ditebar di kolam pembesaran, ungkap Agung Cahyo. Agung Cahyo menambahkan bahwa penebaran benih Ikan Gabus diawali dengan grading (sortir) berdasarkan ukuran. Hal ini perlu dilakukan agar ikan yang ditebar dalam satu kolam berukuran sama untuk menghindari terjadinya kanibalisasi. Pakan yang diberikan pada tahap pembesaran ini adalah pellet murni yang dipilih sesuai dengan peruntukan yang disarankan oleh produsen pakan agar kebutuhan nutrisi ikan terpenuhi. Kolam pembesaran ini sebelumnya harus dipupuk agar subur dan ditebari kapur untuk mempertahankan kestabilan keasaman tanah dan membunuh hama yang mungkin terdapat di lingkungan budidaya. Kolam pembesaran siap digunakan apabila air sudah tampak tidak keruh namun berwarna gelap. Ikan Gabus ukuran konsumsi pada umumnya dapat diperoleh setelah pemeliharaan selama 2,5 sampai dengan 3 bulan.

Scroll to Top