You are currently viewing Kalian Bajingan

Kalian Bajingan

Kalian Bajingan

 

Ya, kalian memang bajingan.

Bukan sekadar kasar dalam perilaku, tetapi bajingan dalam pilihan sadar—pilihan untuk merusak Bangsa dan Negara Indonesia demi kepentingan sempit kalian sendiri.

Bangsa ini tidak rusak oleh rakyat kecil.

Tidak oleh korban bencana.

Tidak oleh mereka yang menjerit karena ketidakadilan.

Bangsa ini rusak karena kalian, para relawan kekuasaan, yang dengan sengaja menghadirkan dan memelihara penguasa zalim dan korup.

Kalianlah yang membuka jalan menuju kekuasaan.

Kalian yang memoles kebusukan menjadi prestasi.

Kalian yang mengubah dusta menjadi narasi.

Kalian yang membungkam kebenaran lalu menuding siapa pun yang kritis sebagai musuh negara.

Kalian para relawan kekuasaan adalah bajingan, karena kalian diam ketika musibah kemanusiaan dan bencana alam terjadi.

Saat rakyat kehilangan rumah, kehilangan keluarga, kehilangan masa depan—kalian menghilang.

Tidak ada empati.

Tidak ada solidaritas.

Tidak ada kerja nyata.

Kalian tidak sibuk menggalang bantuan.

Kalian tidak hadir di lumpur, di puing-puing, di tenda pengungsian.

Karena penderitaan rakyat tidak menghasilkan cuan.

Namun kalian ribut, gaduh, dan beringas ketika tuan kalian dikritik karena melakukan kesalahan.

Kritik kalian sebut kebencian.

Fakta kalian sebut fitnah.

Akal sehat kalian serang dengan kebisingan massal.

Kalian lebih tersinggung ketika penguasa disinggung, daripada ketika rakyat mati sia-sia.

Di situlah wajah asli kalian terbuka.

Kalian bajingan karena bagi kalian, urusan Bangsa dan Negara hanyalah urusan perdagangan.

Segalanya bisa ditukar.

Segalanya bisa ditawar.

Segalanya ada harganya.

Nilai ditukar jabatan.

Nurani ditukar proyek.

Kebenaran ditukar akses.

Kalian bajingan karena bagi kalian, urusan negara dan bangsa hanya sebatas cuan.

Bansos dijadikan alat politik.

Parkir dijadikan wilayah kuasa.

Proyek dibagi sebagai upah loyalitas.

Tambang dirampas atas nama pembangunan.

Kursi menteri dan komisaris dijadikan hadiah kesetiaan.

Rakyat hanya statistik.

Lingkungan hanya angka.

Masa depan bangsa hanya catatan kaki.

Lebih menjijikkan lagi, kalian bajingan karena menjadikan pemimpin politik sebagai Tuhan sesembahan.

Tidak boleh salah.

Tidak boleh dikritik.

Tidak boleh dimintai pertanggungjawaban.

Kalian sembah kekuasaan dengan cara mematikan nalar sendiri.

Kalian sucikan pemimpin dengan mengorbankan konstitusi.

Kalian jaga citra tuan dengan menginjak martabat rakyat.

Padahal pemimpin politik hanyalah manusia biasa:

dipilih rakyat, digaji rakyat, dan seharusnya tunduk pada hukum serta kritik rakyat.

Namun di tangan kalian, pemimpin politik berubah menjadi berhala—disembah, dibela, dan dipertahankan meski jelas merusak.

Kalian bukan relawan.

Kalian bukan pejuang.

Kalian bukan pembela bangsa.

Kalian adalah pedagang kekuasaan, makelar kebusukan, dan penjaga sistem rusak yang membuat kejahatan terasa normal dan pengkhianatan tampak wajar. Kalian menjual negeri ini sedikit demi sedikit, sambil berteriak paling nasionalis dan paling patriotik.

Dan jangan khawatir—

sejarah tidak pernah lupa.

Sejarah tidak hanya mencatat siapa yang berkuasa,

tetapi juga siapa saja yang dengan sadar menjadi alat kekuasaan ketika Bangsa dan Negara dikhianati.

Dan di halaman itu, nama kalian akan tertulis jelas:

bajingan yang memilih berpihak pada kekuasaan, bukan pada kemanusiaan.

 

Suwatno Ibnu Sudihardjo,Antarkita

Tinggalkan Balasan