You are currently viewing Masjid Mukiyem Islamiyati: Oase Spiritual Baru di Cilacap

Masjid Mukiyem Islamiyati: Oase Spiritual Baru di Cilacap

Masjid Mukiyem Islamiyati: Oase Spiritual Baru di Cilacap

Kamis, 12 Februari 2026

Pagi ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ia seperti rangkaian mozaik yang Allah susun rapi—setiap titiknya terhubung, setiap pertemuannya mengandung makna.

Langkah pertama membawa saya ke SMP IT Buah Hati Cilacap, sekolah penghafal Al-Qur’an yang menumbuhkan generasi dengan fondasi langit. Di ruang-ruang kelas itu, saya melihat masa depan. Anak-anak yang bukan hanya belajar matematika dan sains, tetapi juga menanam ayat-ayat Allah di dalam dada.

Di sinilah peradaban dimulai.

Bukan dari gedung tinggi.

Bukan dari kekuasaan.

Tetapi dari hafalan, pemahaman, dan akhlak.

Suasana pagi itu terasa teduh. Saya membayangkan, 10–20 tahun ke depan, anak-anak ini akan menjadi pemimpin, pengusaha, ulama, dan profesional—yang keputusan hidupnya dituntun oleh wahyu.

Silaturahmi berlanjut dengan saudara seperjuangan di Ranting Muhammadiyah Pecikalan. Obrolan kami mengalir alami—dan menariknya, sangat nyambung dengan diskusi saya sebelumnya bersama teman Alumni Fapet Unsoed tentang peternakan.

Dari kampus peternakan, teori breeding dan manajemen ternak, kini berpindah ke praktik sosial-ekonomi di tingkat ranting.

Dan saya dibuat kagum.

Sahabat ranting ini ternyata telah mempraktikkan konsep arisan kurban kambing dan sapi sejak tahun 2004.

Bayangkan… sejak 2004.

Sebuah konsep yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat strategis:

Jamaah menabung secara kolektif.

Hewan kurban direncanakan jauh hari.

Peternak lokal diberdayakan.

Ibadah berjalan.

Ekonomi bergerak.

Ini bukan sekadar arisan.

Ini adalah rekayasa sosial berbasis ibadah.

Kurban yang biasanya bersifat musiman, diubah menjadi sistem berkelanjutan.

Jamaah tidak lagi “dadakan” saat Idul Adha, tetapi memiliki perencanaan.

Peternak tidak lagi menunggu pasar tidak pasti, tetapi memiliki kepastian pembeli.

Di titik ini saya semakin yakin:

Masjid dan ranting tidak boleh hanya menjadi pusat ritual, tetapi juga pusat ekonomi umat.

Kalau arisan kurban bisa berjalan konsisten sejak 2004, itu artinya ada budaya kolektif yang terbangun. Ada kepercayaan. Ada manajemen. Ada kepemimpinan akar rumput yang bekerja tanpa sorotan.

Inilah kekuatan ranting.

Dalam perjalanan pulang, Allah seakan menutup hari itu dengan simbol yang indah. Saya melewati sebuah masjid dengan nama yang unik dan langsung mengundang rasa penasaran.Masjid Mukiyem Islamiyati: Oase Spiritual Baru di Cilacap

Di Desa Tritih Lor, Kecamatan Jeruklegi, berdiri sebuah rumah ibadah yang bukan hanya bangunan fisik, tetapi pernyataan harapan: Masjid Mukiyem Islamiyati.

Letaknya strategis, tepat di belokan menuju Perumahan Mahkota Al Fatih dan Grand Mahkota Permai. Siapa pun yang melintas hampir pasti melihatnya. Ia seperti penjaga gerbang spiritual bagi kawasan yang terus tumbuh.

Dekat dengan Bandar Udara Tunggul Wulung, masjid ini menghadirkan pesan simbolik yang dalam:

Setinggi apa pun manusia terbang, tetap harus kembali bersujud.

Nama “Mukiyem Islamiyati” terasa unik di telinga. Namun justru di situlah kekuatannya. Nama itu sarat doa—tentang ketenangan (mukim, menetap dalam kedamaian) dan keislaman yang menyeluruh (kaffah). Ia bukan sekadar label, tetapi visi.

Sejak diresmikan pada 9 November lalu, masjid ini telah memasuki babak baru kehidupan berjamaah di kawasan tersebut. Ia dirancang bukan hanya untuk shalat lima waktu dan Jumat, tetapi juga sebagai:

Pusat pendidikan agama

Tempat kajian keislaman

Ruang aktivitas sosial kemasyarakatan

Titik temu silaturahmi warga

Masjid yang hidup bukan hanya ramai saat takbir, tetapi juga ramai dengan gagasan, kolaborasi, dan pemberdayaan.

Hari ini seperti dirangkai dalam satu benang merah besar:

🔹 Sekolah tahfidz — membangun generasi.

🔹 Arisan kurban — membangun ekonomi jamaah.

🔹 Masjid baru — membangun pusat peradaban.

Spiritualitas, pendidikan, dan kemandirian ekonomi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Jika ketiganya disatukan, lahirlah umat yang kokoh.

Saya membayangkan suatu saat:

Di Masjid Mukiyem Islamiyati, lahir program arisan kurban seperti di Pecikalan.

Dari SMP IT Buah Hati, lahir generasi penggerak ekonomi berbasis syariah.

Dari diskusi peternakan, lahir sistem distribusi kurban yang profesional.

Inilah ekosistem umat.

Kita sering berbicara tentang kebangkitan.

Padahal kebangkitan dimulai dari hal sederhana:

Dari silaturahmi.

Dari diskusi kecil.

Dari arisan kurban.

Dari masjid yang dibangun dengan niat tulus.

Perjalanan hari ini mengajarkan satu hal:

Peradaban tidak lahir dari keramaian wacana, tetapi dari konsistensi kerja nyata.

Semoga setiap langkah yang kita ayunkan—di sekolah, di ranting, di kandang ternak, dan di masjid—menjadi bagian dari ikhtiar membangun umat yang berilmu, beriman, dan berdaya.

Karena ketika ayat dijaga, ekonomi dikelola, dan masjid dihidupkan—

maka harapan tidak pernah benar-benar padam.

Oleh SiS antarkita

Tinggalkan Balasan