You are currently viewing Pelaksanaan DAM Haji di Daerah Asal Jama’ah Haji Muhammadiyah

Pelaksanaan DAM Haji di Daerah Asal Jama’ah Haji Muhammadiyah

Pelaksanaan DAM Haji di Daerah Asal Jama’ah Haji Muhammadiyah

Langkah Strategis Penyelamatan dan Pemberdayaan Peternak serta Stimulus Mata Rantai Bisnis Rakyat

Setiap tahun, ratusan ribu jama’ah haji Indonesia menunaikan kewajiban Dam Haji. Jika dikalkulasi dari jumlah jamaah dan harga satuan kambing atau domba, potensi dana yang berputar mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Ini adalah kekuatan ekonomi yang hadir rutin setiap tahun.

Di sisi lain, peternak kambing dan domba rakyat justru menghadapi kenyataan yang keras: harga anjlok, biaya produksi meningkat, dan ketidakpastian pasar yang berulang. Kondisi ini bukan asumsi, melainkan fakta lapangan yang berulang kali dilaporkan media dan lembaga resmi.

Pertanyaannya menjadi mendesak:

Apakah potensi besar DAM Haji sudah dimanfaatkan untuk memperkuat peternak rakyat?

📉 Fakta Lapangan: Harga Anjlok, Peternak Tertekan

Berbagai laporan media menunjukkan harga kambing dan domba di sejumlah daerah turun signifikan pasca Idul Adha.

Laporan dari TIMES Indonesia tentang kondisi di Pacitan mencatat harga kambing dewasa mengalami penurunan, sementara biaya pakan dan perawatan tetap tinggi. Peternak mengaku terpaksa menjual karena membutuhkan perputaran modal, meski harga tidak menutup biaya produksi.

Tulisan opini di Kompasiana juga mengulas anjloknya harga kambing dan domba serta mempertanyakan siapa yang diuntungkan ketika harga jatuh. Pola yang sama muncul: peternak kecil berada di posisi paling rentan, sementara pelaku distribusi bermodal kuat lebih fleksibel menyerap ternak murah.

Secara makro, data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa subsektor peternakan sangat sensitif terhadap fluktuasi harga input (pakan, transportasi) dan permintaan musiman. Ketika harga jual turun sementara biaya produksi relatif tetap atau naik, margin keuntungan peternak langsung tergerus.

Sementara itu, laporan kebijakan pangan dan diskursus publik juga kerap menyinggung bahwa impor daging atau karkas murah dapat menekan harga ternak lokal. Ketika pasar dibanjiri produk lebih murah, peternak rakyat sulit bersaing karena biaya produksi mereka tidak bisa ditekan secara drastis.

🔍 Struktur Kerugian Peternak Rakyat

Kerugian peternak bukan hanya karena harga turun. Ada struktur masalah yang lebih dalam:

1️⃣ Biaya Produksi Tinggi

Pakan menjadi komponen biaya terbesar.

Harga konsentrat dan hijauan naik mengikuti harga komoditas.

Biaya tenaga kerja dan perawatan meningkat.

2️⃣ Permintaan Musiman

Permintaan melonjak saat Idul Adha.

Di luar musim itu, pasar melemah.

Tidak ada sistem kontrak pembelian tahunan yang stabil.

3️⃣ Ketergantungan pada Tengkulak

Peternak kecil tidak punya akses langsung ke pasar besar.

Harga sering ditentukan sepihak oleh pembeli bermodal kuat.

4️⃣ Minimnya Intervensi Stabilisasi

Berbeda dengan komoditas strategis lain seperti beras yang memiliki mekanisme stabilisasi, ternak rakyat belum memiliki instrumen penyangga harga yang terstruktur.

Akibatnya, banyak peternak hanya bertahan, bukan berkembang.

🌱 DAM Haji sebagai Instrumen Penyelamatan

Di sinilah pelaksanaan DAM Haji di daerah asal jama’ah haji Muhammadiyah memiliki makna strategis.

Jika setiap jama’ah Muhammadiyah menunaikan DAM melalui sistem terorganisir di daerahnya sendiri, maka:

✔ Permintaan ternak menjadi terjadwal setiap tahun

✔ Peternak memiliki kepastian pasar

✔ Harga lebih terkendali

✔ Perputaran ekonomi tetap di desa

Ini bukan sekadar pemindahan lokasi penyembelihan. Ini adalah desain sistem ekonomi berbasis ibadah.

🕌 Infrastruktur Muhammadiyah yang Mendukung

Muhammadiyah memiliki modal sosial yang lengkap untuk menjalankan model ini.

Sebagai organisasi nasional, Muhammadiyah mampu mengoordinasikan gerakan kolektif lintas daerah.

KBIH Muhammadiyah dapat menjadi pintu pengelolaan DAM secara kolektif dan akuntabel.

Lazismu memiliki pengalaman distribusi daging dan program ketahanan pangan.

Jaringan Tani Muhammadiyah dapat mengorganisir peternak serta menyusun sistem pembelian terencana.

Jika seluruh komponen bergerak terpadu, terbentuklah rantai ekonomi:

Peternak → Pengadaan → Penyembelihan → Pengolahan → Distribusi → Penerima manfaat

💰 Efek Berganda bagi Ekonomi Rakyat

Pelaksanaan DAM Haji di daerah asal akan:

Menjadi penyangga harga ternak

Mendorong peningkatan populasi ternak

Menggerakkan industri pakan

Menghidupkan pasar hewan

Menyerap tenaga kerja desa

Setiap rupiah yang beredar akan menciptakan efek berganda dalam ekonomi lokal.

🚨 Mengapa Harus Segera?

Literatur ekonomi pembangunan menunjukkan bahwa sektor riil rakyat membutuhkan permintaan yang stabil agar bisa tumbuh. Tanpa kepastian pasar, peternak enggan berinvestasi menambah populasi.

DAM Haji adalah permintaan yang pasti dan rutin. Jika tidak didesain menjadi instrumen stabilisasi, potensi besar ini akan terus berlalu tanpa dampak sistemik.

Karena itu, diperlukan konsolidasi nasional dan kerja sama formal dengan pemerintah melalui MoU yang jelas, agar pelaksanaan DAM di daerah asal memiliki payung hukum dan standar operasional yang kuat.

🌍 Dari Ibadah Menuju Keadilan Ekonomi

Ibadah dan keadilan sosial tidak bisa dipisahkan. Pelaksanaan DAM Haji di daerah asal jama’ah Muhammadiyah dapat menjadi langkah konkret:

Menyelamatkan peternak rakyat

Menstabilkan harga ternak

Menghidupkan mata rantai bisnis desa

Menguatkan ketahanan pangan nasional

Saatnya potensi besar DAM Haji tidak hanya menjadi kewajiban ritual, tetapi juga menjadi gerakan pemberdayaan ekonomi umat yang terencana dan berkelanjutan.

Karena di balik setiap kambing yang dijual murah,

ada keluarga peternak yang menunggu kepastian.

Dan mungkin, kepastian itu bisa dimulai dari desain pengelolaan DAM Haji yang lebih visioner dan berpihak pada rakyat.

 

Oleh SiS, antarkita

Tinggalkan Balasan