You are currently viewing Saatnya Muhammadiyah Ambil Peranan

Saatnya Muhammadiyah Ambil Peranan

Saatnya Muhammadiyah Ambil Peranan

Pariwisata Indonesia tengah bangkit. Setelah terpukul pandemi, sektor ini kembali menemukan momentumnya sebagai andalan ekonomi nasional. Devisa meningkat, pergerakan wisatawan melonjak, dan ekonomi daerah kembali berdenyut. Pariwisata bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi telah menjadi salah satu pilar strategis penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Namun di balik kebangkitan besar ini, muncul satu pertanyaan reflektif: di manakah posisi Muhammadiyah?

Sebagai organisasi Islam besar dengan jaringan amal usaha, sumber daya manusia, dan kekuatan sosial yang luas, keterlibatan Muhammadiyah—baik secara organisasi maupun perorangan—di sektor pariwisata masih belum terlihat signifikan. Padahal, sektor ini bukan hanya besar secara ekonomi, tetapi juga strategis secara ideologis dan kultural.

Tidak ada yang benar-benar netral dalam ekonomi. Setiap keuntungan yang dihasilkan akan bermuara pada kepentingan nilai, golongan, dan arah perjuangan tertentu. Karena itu, ketika umat Islam—termasuk Muhammadiyah—tidak mengambil bagian, maka ruang tersebut akan diisi oleh kepentingan lain, dengan nilai dan orientasi yang belum tentu sejalan dengan dakwah dan kemaslahatan umat.

Di sinilah urgensi kehadiran Muhammadiyah di sektor pariwisata menjadi sangat relevan. Bukan sekadar mengejar profit, tetapi membawa misi dakwah ekonomi: bagaimana hasil ekonomi pariwisata dapat dikembalikan untuk pendidikan, kesehatan, pemberdayaan UMKM, dan penguatan umat. Pariwisata tidak hanya menjadi mesin uang, tetapi juga instrumen nilai.

Pariwisata adalah kebutuhan tersier, dan dalam praktiknya memiliki potensi besar mengarah pada maksiat jika tidak dikelola dengan prinsip yang jelas. Karena itu, kehadiran Muhammadiyah juga penting untuk menjaga pariwisata tetap berada dalam koridor syariah—aman, bermartabat, dan beretika. Bukan dengan pendekatan pelarangan, tetapi melalui pengelolaan yang beradab dan berorientasi maslahat.

Potensi pengembangan pariwisata syariah dan hotel syariah sangat terbuka lebar. Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki pasar domestik yang kuat, sekaligus daya tarik global. Wisata yang ramah keluarga, halal, bersih, dan berlandaskan nilai lokal justru menjadi keunggulan kompetitif di tengah kejenuhan wisata massal yang eksploitatif.

Data menunjukkan optimisme itu. Dosen Prodi Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Diah Setyawati Dewanti, Ph.D., memproyeksikan nilai ekonomi pariwisata Indonesia pada 2025 mencapai Rp1.269,8 triliun—melonjak sekitar 400 persen dibandingkan periode sebelum pandemi. Dalam enam tahun terakhir, pariwisata kembali menempati posisi sebagai salah satu sumber penerimaan nasional terbesar.

Kontribusinya pun nyata di daerah. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, sektor pariwisata menyumbang sekitar 16,19 persen terhadap total nilai produksi, menjadikannya tulang punggung ekonomi lokal. Dari sisi kunjungan, perjalanan wisata domestik telah melampaui satu miliar perjalanan lintas daerah, sementara wisatawan mancanegara hingga Agustus 2025 mencapai sekitar 10,9 juta orang—mendekati target tahunan 17–19 juta kunjungan.

Lebih jauh, Diah menekankan pentingnya penguatan halal tourism sebagai arah masa depan pariwisata Indonesia. Wisata halal bukan semata soal label keagamaan, melainkan tentang kualitas pengalaman, kenyamanan layanan, serta kekayaan budaya dan sejarah lokal. Pengemasan kuliner, tradisi, dan kearifan lokal terbukti mampu meningkatkan daya tarik destinasi sekaligus memperkuat UMKM dan ekonomi kreatif.

Di titik inilah Muhammadiyah seharusnya hadir. Mengambil peran, meski dengan segala keterbatasan. Memulai dari yang mungkin: pengelolaan homestay syariah, hotel syariah, travel halal, ekosistem kuliner halal, hingga platform digital yang menghubungkan wisata, UMKM, dan dakwah.

Pariwisata bukan sekadar soal jalan-jalan. Ia adalah arena ideologis, ekonomi, dan kultural. Dan saat sektor ini bangkit menjadi andalan ekonomi nasional, sudah saatnya Muhammadiyah tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama yang memberi arah—agar pariwisata Indonesia tidak hanya tumbuh, tetapi juga mencerahkan.

SiS, Antarkita

 

Dikutip dari: https://www.umy.ac.id/pariwisata-indonesia-bangkit-jadi-andalan-ekonomi-nasional/

Tinggalkan Balasan