Strategi Ketahanan Pangan Model Nabi Yusuf AS
Blueprint Peradaban dari Wahyu, Kepakaran, dan Etika Kekuasaan
Oleh: SiS Antarkita
Ketahanan pangan bukan isu teknis semata. Ia adalah persoalan hidup dan mati sebuah bangsa, penentu stabilitas sosial, bahkan penyangga legitimasi kekuasaan. Sejarah mencatat, banyak peradaban runtuh bukan karena kalah perang, tetapi karena gagal mengelola pangan. Al-Qur’an, jauh sebelum lahirnya konsep ketahanan pangan modern, telah menghadirkan satu model yang utuh, visioner, dan berlapis melalui kisah Nabi Yusuf AS. Kisah ini bukan sekadar cerita moral, melainkan arsitektur kebijakan publik yang berpijak pada wahyu, ilmu pengetahuan, dan etika kepemimpinan.
Kisah itu bermula dari kegelisahan negara. Seorang raja Mesir bermimpi tentang tujuh sapi gemuk yang dimakan tujuh sapi kurus, serta tujuh bulir gandum hijau dan tujuh bulir kering. Mimpi ini adalah simbol siklus sejarah: masa surplus yang akan diikuti oleh masa krisis. Namun kegelisahan itu tidak mampu dijawab oleh para penasihat istana, para ahli tafsir mimpi, dan elite pengetahuan yang mengelilingi kekuasaan. Mereka memiliki jabatan, tetapi kehilangan kapasitas. Mereka dekat dengan kekuasaan, tetapi jauh dari kebenaran.
Di sinilah Al-Qur’an menyampaikan kritik mendasar yang lintas zaman: krisis sering kali bukan akibat ketiadaan sumber daya, melainkan akibat kegagalan menghadirkan kepakaran yang sejati dalam pengambilan keputusan. Nabi Yusuf AS, yang justru berada di luar struktur kekuasaan dan bahkan dipenjara, tampil dengan tafsir yang jernih dan rasional. Ia membaca mimpi bukan sebagai fenomena mistik, melainkan sebagai indikator perubahan ekonomi dan sosial.
Namun keunggulan Nabi Yusuf AS tidak berhenti pada kemampuan membaca tanda-tanda zaman. Ia melangkah lebih jauh dengan menyusun strategi ketahanan pangan yang sistemik dan berjangka panjang. Pada tujuh tahun masa subur, Yusuf AS mendorong peningkatan produksi pertanian secara maksimal. Tetapi pada saat yang sama, ia menekankan pengendalian konsumsi. Hasil panen tidak dihabiskan, melainkan disimpan dalam lumbung-lumbung negara. Gandum disimpan bersama tangkainya agar lebih tahan lama. Ini bukan kebijakan spontan, melainkan manajemen stok berbasis ilmu dan pengalaman empiris.
Di sini kita melihat bahwa ketahanan pangan menurut Nabi Yusuf AS mencakup tiga lapisan utama: produksi, distribusi, dan cadangan. Produksi ditingkatkan, distribusi dikendalikan agar adil, dan cadangan disiapkan untuk menghadapi masa krisis. Model ini sejalan dengan konsep ketahanan pangan modern yang menekankan ketersediaan, akses, stabilitas, dan keberlanjutan.
Keberanian Nabi Yusuf AS mencapai titik puncak ketika ia secara sadar meminta amanah strategis negara: “Jadikanlah aku bendaharawan negeri. Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.” Pernyataan ini sering disalahpahami sebagai ambisi pribadi. Padahal, dalam konteks krisis yang akan datang, ini adalah tindakan etis dan politis yang sangat berani. Yusuf AS menegaskan bahwa jabatan publik harus dipegang oleh mereka yang memiliki kapasitas dan integritas, bukan oleh mereka yang sekadar dekat dengan kekuasaan.
Inilah kritik Al-Qur’an yang sangat relevan hari ini: menyerahkan urusan pangan kepada orang yang tidak ahli adalah bentuk pengkhianatan terhadap rakyat. Ketahanan pangan tidak bisa dikelola dengan coba-coba, apalagi dengan pendekatan populis jangka pendek. Kesalahan kebijakan pangan bukan hanya soal angka statistik, tetapi bisa berujung pada kelaparan, konflik sosial, dan runtuhnya kepercayaan publik.
Ketika masa paceklik benar-benar datang, Mesir tidak runtuh. Negara tetap berjalan, rakyat tidak dibiarkan kelaparan, dan stabilitas sosial terjaga. Bahkan negeri-negeri sekitar datang ke Mesir untuk membeli pangan. Ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya alat bertahan, tetapi juga sumber kedaulatan dan kekuatan geopolitik. Mesir tidak hanya selamat, tetapi menjadi penopang kawasan.
Jika kita tarik ke konteks masa kini, “paceklik” tidak lagi hadir hanya dalam bentuk kekeringan atau gagal panen. Ia menjelma sebagai krisis iklim, kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan, ketergantungan impor, fluktuasi harga pangan global, hingga marginalisasi petani. Lebih jauh lagi, paceklik juga hadir dalam bentuk kelangkaan kepakaran, krisis integritas, dan kebijakan pangan yang terjebak pada kepentingan jangka pendek.
Sering kali negara mengetahui tanda-tanda krisis: data iklim tersedia, riset akademik melimpah, dan peringatan para ahli terus disuarakan. Namun kebijakan tetap bersifat reaktif, tambal sulam, dan berubah mengikuti siklus politik. Dalam kondisi seperti ini, kisah Nabi Yusuf AS menjadi cermin kritik yang tajam dan menyakitkan: kita gagal bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau bersiap.
Model ketahanan pangan Nabi Yusuf AS juga mengajarkan bahwa iman tidak pernah bertentangan dengan rasionalitas. Justru iman melahirkan disiplin, kesabaran, dan keberanian untuk menunda kenikmatan hari ini demi keselamatan esok hari. Inilah etika kebijakan publik yang semakin langka: keberanian mengambil keputusan yang tidak populer demi kepentingan jangka panjang rakyat.
Lebih dari itu, strategi Yusuf AS menempatkan rakyat—khususnya petani—sebagai subjek utama. Produksi dihargai, kerja petani dilindungi, dan distribusi diawasi agar tidak jatuh ke tangan spekulan. Negara hadir sebagai pengelola amanah, bukan sebagai pedagang yang tunduk sepenuhnya pada mekanisme pasar. Ketahanan pangan, dalam perspektif ini, adalah soal keadilan sosial dan tanggung jawab moral negara.
Akhirnya, kisah Nabi Yusuf AS bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah blueprint peradaban. Sebuah pengingat bahwa bangsa yang mampu bertahan dari krisis adalah bangsa yang menghormati ilmu, menempatkan ahli pada tempatnya, dan mengelola sumber daya dengan amanah. Tanpa itu semua, ketahanan pangan hanya akan menjadi jargon, dan paceklik—dalam berbagai wajahnya—akan terus berulang.
Pertanyaan mendasar bagi kita hari ini bukan lagi apakah krisis akan datang, tetapi apakah kita memiliki keberanian moral dan politik untuk benar-benar belajar dari Nabi Yusuf AS.