Wakaf Korporasi dan Keberlanjutan Pendidikan
Studi Kasus Al-Qarawiyyin, Al-Azhar, dan Harvard University: Dari Tradisi Wakaf hingga Endowment Modern
Oleh: SiS, antarkita
Pendahuluan: Mengapa Kampus Besar Tidak Pernah Bergantung pada SPP
Satu kesalahan berpikir yang umum dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah menganggap bahwa biaya pendidikan harus ditanggung oleh peserta didik. Ketika SPP menjadi tulang punggung utama, pendidikan pelan-pelan kehilangan watak sosialnya dan berubah menjadi industri jasa.
Padahal, jika kita menoleh pada sejarah dan praktik global, kampus-kampus besar dunia justru dibangun di atas logika yang berlawanan:
mereka hidup dari wakaf dan dana abadi, bukan dari “menjual kursi kuliah”.
Di sinilah wakaf korporasi menemukan relevansinya—bukan sebagai konsep normatif keagamaan, tetapi sebagai arsitektur keuangan peradaban.
Al-Qarawiyyin: Wakaf sebagai Fondasi Pendidikan Sepanjang Zaman
Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, berdiri pada tahun 859 M dan diakui sebagai universitas tertua di dunia yang masih beroperasi. Namun nilai terbesarnya bukan pada usia, melainkan pada model pembiayaannya.
Al-Qarawiyyin didirikan oleh Fatima al-Fihri melalui wakaf pribadi. Wakaf tersebut:
Menjamin keberlanjutan kegiatan belajar-mengajar, Membiayai pengajar dan fasilitas, Membuka akses pendidikan bagi masyarakat luas tanpa diskriminasi ekonomi
Model ini menjadikan pendidikan: Tidak tunduk pada kekuasaan politik, Tidak bergantung pada kemampuan bayar mahasiswa, Tidak terjebak logika untung-rugi jangka pendek
Al-Qarawiyyin mengajarkan satu prinsip mendasar:
pendidikan yang ditopang wakaf memiliki daya tahan lintas abad, karena ia tidak hidup dari ketakutan kehilangan murid.
Al-Azhar: Wakaf sebagai Ekosistem Global Pendidikan
Jika Al-Qarawiyyin adalah fondasi, maka Al-Azhar adalah ekspansi sistemik wakaf pendidikan. Sejak berdiri pada abad ke-10, Al-Azhar membangun jaringan wakaf yang sangat luas: Tanah pertanian, Properti komersial, Unit-unit ekonomi produktif
Hasilnya bukan hanya keberlanjutan kampus, tetapi keadilan akses pendidikan global. Mahasiswa dari Asia, Afrika, hingga Eropa Timur dapat belajar di Al-Azhar dengan: Beasiswa penuh, Tunjangan hidup, Akomodasi
Wakaf menjadikan Al-Azhar: Mandiri secara finansial, Relatif independen secara politik, Berani menjaga tradisi keilmuan
Pelajaran strategis dari Al-Azhar:
wakaf bukan sekadar dana cadangan, tetapi instrumen keberpihakan sosial.
Harvard University: Wakaf dalam Bahasa Kapital Modern
Dalam dunia Barat, wakaf dikenal dengan istilah endowment fund. Secara substansi, endowment adalah wakaf versi modern: dana pokok dijaga, hasilnya dikembangkan, manfaatnya digunakan untuk kepentingan publik.
Harvard University adalah contoh paling ekstrem sekaligus paling sukses.
Pada tahun 2025: Total aset Harvard diperkirakan USD 82,4 miliar, Endowment mencapai USD 56,9 miliar
Pertumbuhan sekitar 7% dari tahun sebelumnya, terutama dari pengelolaan investasi
Dana ini memungkinkan Harvard: Memberi beasiswa besar-besaran, Menarik dosen dan peneliti terbaik dunia, Menopang riset jangka panjang, Menjaga stabilitas keuangan tanpa menaikkan biaya kuliah secara agresif Ironinya, praktik ini sangat dekat dengan konsep wakaf Islam, tetapi sering dianggap sebagai inovasi Barat.
Pelajaran dari Harvard: wakaf yang dikelola profesional mampu melahirkan keunggulan akademik dan keadilan sosial sekaligus.
Benang Merah Global: Wakaf sebagai Penyangga Martabat Pendidikan
Dari Al-Qarawiyyin, Al-Azhar, hingga Harvard, terdapat pola yang konsisten:
Dana abadi adalah syarat utama keberlanjutan pendidikan, Institusi yang bergantung pada iuran peserta didik rentan krisis, Wakaf/endowment menciptakan kemandirian moral dan akademik, Profesionalisme tidak bertentangan dengan nilai keikhlasan
Inilah yang disebut wakaf korporasi:
wakaf yang dikelola dengan disiplin manajemen modern, tetapi diabdikan sepenuhnya untuk misi sosial.
Konteks Indonesia: Pendidikan yang Terjebak Logika Pasar, Di Indonesia, banyak lembaga pendidikan—termasuk milik organisasi keagamaan—mengalami paradoks: Gedung megah, Aset melimpah, Tetapi guru dan karyawan hidup pas-pasan
Ketergantungan pada SPP menjadikan: Pendidikan sensitif terhadap fluktuasi jumlah murid, Guru tertekan oleh target finansial, Relasi akademik berubah menjadi transaksional
Belajar dari tiga kampus dunia tersebut, jelas bahwa: pendidikan tidak boleh dibiarkan hidup dari kecemasan ekonomi.
Refleksi untuk Muhammadiyah: Dari Aset ke Keadilan
Muhammadiyah memiliki: Ribuan lembaga pendidikan, Jaringan sosial yang kuat, Kepercayaan umat yang besar
Namun tanpa wakaf korporasi yang terintegrasi, potensi ini berisiko terfragmentasi. Wakaf korporasi memungkinkan: Subsidi silang antaramal usaha, Jaminan kesejahteraan pendidik dan karyawan, Pendidikan yang tetap inklusif dan berkeadilan
Ini bukan sekadar pilihan teknis, melainkan keputusan ideologis.
Penutup: Wakaf sebagai Infrastruktur Masa Depan
Wakaf bukan cerita masa lalu., Ia adalah bahasa masa depan bagi pendidikan yang bermartabat.
Jika Al-Qarawiyyin bertahan lebih dari seribu tahun,, jika Al-Azhar mencetak ulama lintas benua,, jika Harvard memimpin riset global, semuanya karena mereka tidak membiarkan pendidikan hidup dari pasar semata.
Pertanyaannya bukan apakah kita mampu membangun wakaf korporasi,
Tetapi apakah kita berani mengubah cara berpikir.
Dari membanggakan gedung, menuju memuliakan manusia.