You are currently viewing Satu Rumah, Satu Cahaya, Mewujudkan Kedaulatan Ekonomi Umat dengan Spirit Pasar Rasulullah ﷺ

Satu Rumah, Satu Cahaya, Mewujudkan Kedaulatan Ekonomi Umat dengan Spirit Pasar Rasulullah ﷺ

Satu Rumah, Satu Cahaya, Mewujudkan Kedaulatan Ekonomi Umat dengan Spirit Pasar Rasulullah ﷺ

Sejarah Islam tidak pernah memisahkan antara iman dan ekonomi, antara ibadah dan pasar. Sejak awal, Rasulullah ﷺ memahami bahwa kekuatan umat tidak hanya dibangun dari masjid, tetapi juga dari pasar yang adil, mandiri, dan berdaulat.

Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, beliau mendapati realitas ekonomi yang timpang. Aktivitas perdagangan dikuasai oleh pasar Bani Qainuqa’, dengan sistem yang sarat riba, manipulasi harga, dan monopoli. Kaum Muslimin—meski jumlahnya semakin besar—hanya menjadi konsumen, bukan pengendali sistem.

Rasulullah ﷺ tidak merespons kondisi itu dengan konflik atau konfrontasi. Beliau memilih jalan ijtihad peradaban: membangun pasar sendiri. Sebuah pasar alternatif yang berdiri di atas nilai tauhid, kejujuran, dan keadilan sosial. Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Ini adalah pasar kalian. Jangan dipersempit dan jangan dipungut pajak.”

(HR. Ibnu Majah)

Pasar Madinah bukan pasar eksklusif, tetapi pasar yang membebaskan. Bebas dari riba. Bebas dari pungutan yang menindas. Bebas dari monopoli. Pasar itu hidup bukan karena modal besar, melainkan karena kesadaran kolektif umat untuk saling membeli dan saling menguatkan.

Inilah pelajaran besar yang sering terlupakan:

pasar umat tidak akan hidup tanpa keberpihakan umatnya sendiri.

Sejarah yang Berulang dalam Wajah Baru

Hari ini, sejarah itu seakan berulang dalam bentuk yang berbeda. Pasar kebutuhan pokok, industri pangan, hingga produk konsumsi harian dikuasai oleh korporasi raksasa dengan modal besar, jaringan distribusi luas, dan kekuatan iklan masif. Umat Islam—termasuk warga Muhammadiyah—kembali berada pada posisi sebagai pasar, bukan pemilik pasar.

Dalam konteks inilah Biskuit Cahaya Muhammadiyah hadir. Ia lahir di tengah lautan kompetisi yang sangat tidak seimbang. Jika dihadapkan secara langsung dengan korporasi raksasa yang telah puluhan tahun menguasai pasar, maka Biskuit Cahaya jelas bukan lawan yang sepadan.

Namun sejarah Madinah mengajarkan:

kemenangan pasar umat tidak ditentukan oleh besarnya modal, tetapi oleh soliditas jamaah.

Biskuit Cahaya tidak bertumpu pada kekuatan kapital, tetapi pada kekuatan sikap. Sikap warga Muhammadiyah untuk berpihak. Sikap untuk mendahulukan. Sikap untuk membela dengan cara yang bermartabat.

Satu Rumah, Satu Cahaya: Strategi Kecil, Dampak Besar

Dari kesadaran inilah lahir gerakan Satu Rumah, Satu Cahaya. Sebuah strategi yang sangat sederhana, namun sangat strategis.

Satu rumah.

Satu kaleng Biskuit Cahaya.

Tidak ada target yang rumit. Tidak ada tuntutan berlebihan. Tidak ada kewajiban yang memberatkan. Hanya satu permintaan moral: hadirkan Cahaya di rumah kita sendiri.

Jika satu keluarga Muhammadiyah mengambil satu kaleng, maka satu kaleng terserap.

Jika satu juta rumah melakukan hal yang sama, maka satu juta kaleng hidup di pasar.

Jika pasar hidup, maka produksi berlanjut.

Jika produksi berlanjut, maka tenaga kerja terserap.

Jika tenaga kerja terserap, maka martabat ekonomi umat terangkat.

Inilah ekonomi ukhuwah yang sesungguhnya. Ekonomi yang tidak mengandalkan spekulasi, tetapi solidaritas. Ekonomi yang tidak dibangun dari persaingan mematikan, tetapi dari kepercayaan dan kebersamaan.

Allah SWT menegaskan:

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.”

(QS. Ar-Ra’d: 26)

Ayat ini bukan ajaran fatalisme, melainkan ajaran ketenangan: bahwa manusia wajib berikhtiar, sementara hasil adalah hak prerogatif Allah. Ikhtiar kolektif seperti Satu Rumah, Satu Cahaya adalah bentuk usaha yang bernilai ibadah.

Bela Beli sebagai Ibadah Sosial

Membeli Biskuit Cahaya bukan sekadar transaksi ekonomi. Ia adalah sikap ideologis. Ia adalah pernyataan keberpihakan. Ia adalah wujud nyata dari bela beli produk Muhammadiyah.

Bela beli bukan berarti menutup diri dari dunia luar, tetapi menguatkan rumah sendiri terlebih dahulu. Sebagaimana Rasulullah ﷺ membangun pasar Madinah sebelum berinteraksi dengan pasar-pasar lain, maka Muhammadiyah hari ini sedang menata ulang fondasi ekonominya sendiri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

(HR. Ahmad)

Manfaat itu hari ini bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: memilih produk sendiri agar usaha umat tidak mati di tengah jalan.

Menyalakan Cahaya, Menjaga Masa Depan

Satu Rumah, Satu Cahaya bukan sekadar slogan kampanye. Ia adalah ikhtiar peradaban. Cahaya itu menyala di dapur, di ruang tamu, dan di hati. Menjadi penanda bahwa umat ini masih punya keberanian untuk berdiri, meski dengan langkah kecil.

Dari rumah, kita bangun pasar.

Dari kebiasaan kecil, kita bangun kedaulatan.

Dari Cahaya, kita nyalakan masa depan umat.

SiS, Antarkita

Note : pesan hubungi antarkita: 0851-2262-5529

Tinggalkan Balasan