Berkelit di Kondisi yang Sulit, kopdar Ngapak Raya
Rakyat Indonesia memang luar biasa. Sejarah panjang bangsa ini selalu mencatat satu hal yang sama: dalam kondisi apa pun, rakyat kecil selalu menemukan cara untuk bertahan. Di tengah situasi ekonomi yang kian menekan—harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja menyempit, dan kebijakan yang sering kali terasa jauh dari kepentingan wong cilik—mereka tidak serta-merta menyerah pada keadaan.
Justru dari tekanan itulah daya lenting rakyat tumbuh. Mereka berkelit, bukan untuk menghindar dari kenyataan, tetapi untuk tetap hidup dengan martabat. Bertahan dengan kerja keras, kesabaran, dan kreativitas yang lahir dari pengalaman sehari-hari.
Kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak pada rakyat kecil memaksa mereka untuk mencari jalan alternatif. Jika ruang formal tertutup, maka ruang informal dibuka. Jika pintu lama tak lagi ramah, maka jendela baru dicoba diketuk. Di era digital ini, salah satu ruang itu bernama: konten kreator.
Menjadi konten kreator bukan lagi sekadar hobi atau gaya hidup. Bagi sebagian rakyat kecil, ini adalah ikhtiar ekonomi, jalan survival, sekaligus media ekspresi. Dengan modal yang relatif terjangkau—sebuah gawai, kuota internet, dan ide—mereka mengubah keseharian menjadi cerita. Bahasa daerah, logat ngapak, guyonan khas kampung, kritik sosial yang lugas, hingga nasihat hidup sederhana disajikan apa adanya.
Dan ternyata, kejujuran itulah yang dicari penonton. Sudah banyak yang berhasil. Tidak hanya dikenal, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga. Dari yang semula hanya mengisi waktu luang, kini bisa menjadi sumber penghidupan. Dari yang awalnya dipandang remeh, kini justru menjadi kekuatan.
Pagi ini, Ahad 25 Januari 2026, semangat itu menjelma dalam sebuah pertemuan sederhana namun sarat makna. Para konten kreator Ngapak Raya se-Banyumas Raya berkumpul di Patikraja, tepatnya di Kedungrandu, di rumah Kang Tarmin Ngaklak—salah satu figur konten kreator yang lahir dari rakyat dan tumbuh bersama rakyat.
Kopdar ini bukan sekadar temu fisik, melainkan temu rasa dan temu nasib. BUNGAH. Seneng. Itulah suasana yang terasa sejak awal. Tidak ada jarak, tidak ada hierarki. Semua duduk sejajar sebagai kanca sedulur perkontenan. Dari Ngapak Raya Official, Tarmizi Balungwesi, Iis Turyanto Vlog, hingga konten kreator lainnya—semua hadir membawa cerita, pengalaman, dan harapan.
Di rumah sederhana itu, diskusi mengalir tanpa naskah. Tentang algoritma dan konsistensi, tentang jatuh bangun mencari penonton, tentang hujatan dan pujian, hingga tentang mimpi sederhana: bisa terus berkarya dan tetap menghidupi keluarga. Tawa lepas bercampur obrolan serius, karena begitulah karakter rakyat—ringan dalam canda, berat dalam tanggung jawab.
Yang paling terasa dari pertemuan ini adalah kekompakan. Mereka datang dari latar belakang berbeda, tetapi disatukan oleh keadaan yang sama: kondisi sosial-ekonomi yang tidak selalu berpihak pada rakyat kecil. Alih-alih saling sikut, mereka memilih saling rangkul. Alih-alih berjalan sendiri, mereka membangun jejaring kebersamaan.

Maju bareng.
Sukses bareng.
Horeeee…!
Kopdar ini menjadi penanda bahwa kreativitas rakyat kecil tidak boleh dipandang sebelah mata. Dari Patikraja, dari Kedungrandu, dari bahasa ngapak yang sering dianggap pinggiran, lahir gerakan kultural yang kuat—gerakan bertahan, berdaya, dan berbagi harapan.
Di tengah kondisi yang sulit, mereka berkelit bersama. Dan dalam kebersamaan itulah, masa depan perlahan dirajut.
SiS, Antarkita