You are currently viewing Hadirnya ANTARKITA

Hadirnya ANTARKITA

Hadirnya ANTARKITA

 

Ikhtiar Melawan Hegemoni Ekonomi Kapitalistik dengan Spirit Ekonomi Muhammadiyah

 

Kita hidup dalam sebuah zaman ketika hegemoni ekonomi kapitalistik tidak hanya menguasai pasar, tetapi juga menguasai kesadaran. Sebuah sistem ekonomi yang bekerja bukan sekadar melalui kekuatan modal, tetapi melalui pembiasaan, pencitraan, dan normalisasi cara hidup. Ia hadir setiap hari, di setiap ruang kehidupan, hingga akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan tak terelakkan.

Hampir seluruh kebutuhan ekonomi dan kebutuhan hidup masyarakat dikuasai oleh hegemoni ini. Dari produk kebutuhan dapur, air minum, hingga kasur tempat manusia beristirahat; dari sumur sebagai sumber kehidupan hingga sistem distribusi yang mengalirkan air ke rumah-rumah; semuanya bergerak dalam logika kapitalistik yang terpusat pada penguasaan dan akumulasi.

Sektor keuangan, industri manufaktur, otomotif, elektronik, fashion, pangan, pertanian, peternakan, transportasi, ritel modern, industri air minum, marketplace, hingga layanan ojek online, hampir tanpa sisa berada dalam kendali kekuatan modal besar. Ruang hidup rakyat semakin menyempit, sementara kekuasaan ekonomi semakin terpusat.

Hegemoni ini bekerja secara halus namun sistemik. Ia tidak hadir dengan paksaan, melainkan dengan kemudahan. Ia tidak memerintah, tetapi membujuk. Lama-kelamaan, hegemoni ini diterima sebagai keniscayaan. Banyak orang akhirnya menyerah, bukan karena setuju, tetapi karena merasa tidak memiliki pilihan lain.

Dalam hegemoni ekonomi kapitalistik, hubungan ekonomi berubah menjadi hubungan materialistik. Relasi manusia direduksi menjadi transaksi. Penjual dan pembeli tidak lagi saling mengenal sebagai sesama manusia, melainkan sekadar angka dan data. Teknologi dan algoritma mengambil alih ruang interaksi. Bisnis kehilangan wajah kemanusiaannya.

Dalam sistem seperti ini, UMKM yang sejatinya merupakan tulang punggung ekonomi rakyat sering kali hanya dijadikan pemanis dan pelengkap. Hadir sebagai aksesoris ekosistem bisnis besar yang sudah dikuasai oleh hegemoni kapitalistik. UMKM diberi ruang hidup, tetapi tidak diberi kedaulatan. Dilibatkan, tetapi tidak menentukan arah.

Situasi ini sejatinya bertentangan dengan cita-cita keadilan sosial dan ekonomi sebagaimana termaktub dalam Pasal 33 UUD 1945, serta bertentangan dengan pandangan ekonomi Muhammadiyah yang menempatkan ekonomi sebagai sarana memuliakan manusia dan mewujudkan kemaslahatan umum.

Muhammadiyah sejak awal memandang ekonomi bukan semata urusan pasar, tetapi bagian dari ibadah sosial. Dalam berbagai keputusan Muktamar dan Tanwir, ditegaskan bahwa pembangunan ekonomi harus berorientasi pada keadilan, kebermanfaatan, dan keberpihakan kepada kaum lemah (mustadh’afin). Inilah yang dikenal sebagai Ekonomi Islam Berkemajuan—ekonomi yang berlandaskan nilai tauhid, keadilan, dan kemanusiaan.

KH. Ahmad Dahlan menegaskan bahwa agama harus hadir dalam tindakan nyata. Islam tidak boleh berhenti pada ritual, tetapi harus menjelma menjadi gerakan yang membela kehidupan. Dalam konteks ini, ekonomi bukan sekadar aktivitas mencari keuntungan, tetapi bagian dari dakwah bil-hal: dakwah melalui praksis sosial.

Di titik inilah ANTARKITA hadir.

ANTARKITA bukan sekadar komunitas atau jaringan bisnis. ANTARKITA adalah pilihan sikap ideologis untuk tidak tunduk pada hegemoni ekonomi kapitalistik. ANTARKITA hadir dengan spirit kemandirian dan kedaulatan ekonomi rakyat, sejalan dengan prinsip ekonomi Muhammadiyah yang menolak eksploitasi dan ketimpangan struktural.

ANTARKITA membangun ekonomi kebersamaan dan kolaboratif, berlandaskan nilai ta’awun (tolong-menolong), syirkah (kemitraan), dan ukhuwwah (persaudaraan). Dalam ANTARKITA, sesama pelaku usaha bukanlah lawan yang harus disingkirkan, melainkan mitra yang harus dikuatkan bersama.

ANTARKITA memandang manusia sebagai subjek utama ekonomi. Bukan sekadar konsumen, bukan sekadar produsen, dan bukan objek algoritma. Teknologi ditempatkan sebagai media, bukan tujuan. Prinsip ini sejalan dengan pandangan Muhammadiyah bahwa modernitas harus dikendalikan oleh nilai, bukan sebaliknya.

ANTARKITA mengembalikan bisnis sebagai ruang silaturahmi dan komunikasi antarmanusia. Dalam perspektif ekonomi Muhammadiyah, muamalah ekonomi adalah ruang etika dan moral. Bisnis bukan hanya tentang untung dan rugi, tetapi tentang amanah, kejujuran, dan tanggung jawab sosial.

Dalam ANTARKITA, membeli produk teman bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan bentuk keberpihakan. Bela beli produk sesama adalah praktik nyata ekonomi umat—sebuah ikhtiar kolektif untuk membangun close loop economy di mana nilai ekonomi berputar dan menguatkan komunitas sendiri.

ANTARKITA juga menegaskan kesederhanaan teknologi. ANTARKITA tidak berlomba menciptakan kecanggihan yang menjauhkan manusia dari manusia lain. Sebaliknya, teknologi digunakan secukupnya untuk memudahkan interaksi, memperluas jejaring, dan memperkuat kolaborasi. Prinsip ini sejalan dengan semangat tajdid Muhammadiyah: pembaruan yang berakar pada nilai.

ANTARKITA hadir bukan untuk menandingi raksasa dengan cara raksasa, tetapi membangun kekuatan rakyat dengan cara rakyat. Pelan, sederhana, tetapi berkelanjutan. Tidak spektakuler, tetapi berakar kuat pada kesadaran kolektif.

Pada akhirnya, ANTARKITA hadir untuk satu tujuan besar:

mewujudkan kesejahteraan bersama (falah)—kesejahteraan yang mencakup aspek material, sosial, dan spiritual.

ANTARKITA adalah kesederhanaan.

ANTARKITA adalah kemandirian.

ANTARKITA adalah ekonomi berkeadilan dan berkemajuan.

 

SiS,ANTARKITA

Tinggalkan Balasan