You are currently viewing Futuristik Kiai Ahmad Dahlan: Dari Kesadaran Zaman Menuju Pembangunan Peradaban

Futuristik Kiai Ahmad Dahlan: Dari Kesadaran Zaman Menuju Pembangunan Peradaban

Futuristik Kiai Ahmad Dahlan: Dari Kesadaran Zaman Menuju Pembangunan Peradaban

 

Kiai Ahmad Dahlan adalah contoh langka seorang ulama yang tidak hanya hidup di zamannya, tetapi melompat melampaui zamannya. Pada awal abad ke-20, ketika sebagian besar masyarakat Muslim Nusantara masih terkungkung oleh kemiskinan struktural, kebodohan, dan pemahaman keagamaan yang ritualistik, Dahlan justru membaca tanda-tanda perubahan dunia. Ia memahami bahwa umat Islam tidak akan bangkit hanya dengan kesalehan simbolik, melainkan dengan pembaruan cara berpikir, cara beragama, dan cara mengelola kehidupan sosial.

Futuristik Kiai Ahmad Dahlan bukan futurisme spekulatif yang sibuk meramal masa depan, melainkan futurisme praksis—membangun masa depan melalui tindakan nyata hari ini. Ia menyadari bahwa masa depan umat ditentukan oleh kualitas institusi, sistem pendidikan, etos kerja, dan keberpihakan sosial. Karena itu, Dahlan tidak berhenti pada dakwah lisan, tetapi membangun struktur peradaban yang memungkinkan nilai Islam hidup dan berdaya guna lintas generasi.

Dari Tauhid ke Transformasi Sosial

Akar futurisme Dahlan bertumpu pada pemahaman tauhid yang menyeluruh. Tauhid baginya bukan sekadar pengakuan teologis, tetapi prinsip pembebasan manusia dari kebodohan, ketergantungan, dan ketidakadilan. Inilah yang kemudian dikenal sebagai tauhid sosial—sebuah konsep yang menegaskan bahwa iman harus berdampak pada struktur sosial dan kehidupan bersama.

Kisah pengajian Surah Al-Ma’un yang berulang-ulang adalah bukti paling jelas. Dahlan menolak pemahaman agama yang berhenti pada hafalan dan ritual. Pertanyaannya yang terkenal, “Kalau sudah paham, apa sudah diamalkan?”, bukan sekadar teguran moral, melainkan kritik epistemologis terhadap cara beragama yang mandek. Baginya, agama yang tidak melahirkan tindakan sosial adalah agama yang kehilangan makna sejarahnya.

Dari tafsir Al-Ma’un inilah lahir gerakan amal Muhammadiyah. Anak yatim, fakir miskin, orang sakit, dan kaum terpinggirkan bukan objek belas kasihan, tetapi subjek perjuangan keadilan sosial. Di sinilah futurisme Dahlan bekerja: ia menjadikan teks suci sebagai energi perubahan sosial.

Modernisasi Pendidikan sebagai Investasi Peradaban

Salah satu lompatan futuristik terbesar Kiai Ahmad Dahlan adalah di bidang pendidikan. Pada masanya, pendidikan agama dan pendidikan umum dipisahkan secara tajam. Dahlan memandang dikotomi ini sebagai sumber kemunduran umat. Maka ia membangun sekolah-sekolah yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu modern—sebuah langkah radikal pada zamannya.

Bagi Dahlan, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi proses pembentukan manusia beriman, berilmu, dan berdaya guna. Ia memahami bahwa masa depan umat Islam tidak mungkin dibangun tanpa penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan etos rasional. Inilah sebabnya Muhammadiyah sejak awal menjadi pionir pendidikan modern di Indonesia, jauh sebelum negara memiliki sistem pendidikan nasional yang mapan.

Keberanian ini menunjukkan bahwa Dahlan tidak sedang mempertahankan masa lalu, tetapi menyiapkan generasi masa depan.

Membangun Organisasi yang Melampaui Figur

Futuristik Kiai Ahmad Dahlan juga tampak jelas dalam cara ia membangun Muhammadiyah sebagai organisasi. Muhammadiyah tidak dibangun di atas karisma personal, melainkan di atas sistem, nilai, dan tata kelola. Dahlan memahami bahwa gerakan besar tidak boleh bergantung pada satu tokoh, tetapi harus memiliki mekanisme kaderisasi, administrasi, dan evaluasi yang berkelanjutan.

Inilah sebabnya Muhammadiyah mampu bertahan lebih dari satu abad dan tetap relevan dalam berbagai rezim politik, perubahan sosial, dan tantangan zaman. Muhammadiyah tidak berhenti sebagai organisasi dakwah, tetapi berkembang menjadi gerakan peradaban: pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, hingga kebencanaan.

Apa yang dilakukan Dahlan sejatinya adalah desain masa depan—membangun institusi yang mampu hidup lebih lama dari dirinya sendiri.

Islam Berkemajuan: Warisan Futuristik Dahlan

Pemikiran futuristik Kiai Ahmad Dahlan kemudian dirumuskan secara konseptual dalam gagasan Islam Berkemajuan. Islam Berkemajuan bukan Islam yang tercerabut dari tradisi, tetapi Islam yang berani berdialog dengan modernitas. Islam yang tidak defensif terhadap perubahan, tetapi kritis, selektif, dan kreatif.

Dalam kerangka ini, Muhammadiyah tidak alergi terhadap sains, teknologi, dan perubahan sosial. Namun, semuanya harus diarahkan pada kemaslahatan, keadilan, dan martabat manusia. Inilah yang membuat Muhammadiyah selalu relevan dengan perkembangan zaman—bukan karena mengikuti arus, tetapi karena memiliki kompas nilai yang jelas.

Dari Dahlan ke Masa Kini

Lebih dari satu abad setelah wafatnya, Kiai Ahmad Dahlan masih “hidup” melalui amal dan gagasannya. Rumah sakit Muhammadiyah, sekolah, universitas, panti asuhan, gerakan sosial, dan ekonomi umat adalah bukti konkret bahwa futurisme Dahlan bukan utopia.

Dalam dunia yang hari ini dikuasai kapitalisme global, krisis kemanusiaan, dan ketimpangan sosial, warisan Dahlan justru semakin relevan. Ia mengajarkan bahwa agama harus menjadi solusi, bukan sekadar identitas. Bahwa masa depan tidak ditunggu, tetapi dibangun—dengan iman yang rasional, amal yang terorganisir, dan keberpihakan yang jelas kepada kemanusiaan.

Futuristik Kiai Ahmad Dahlan adalah pelajaran penting bagi kita hari ini:

bahwa berpikir ke depan bukan berarti meninggalkan nilai,

dan membangun masa depan tidak cukup dengan wacana,

tetapi membutuhkan keberanian untuk bekerja, berkorban, dan berorganisasi.

 

SiS,,Antarkita

Tinggalkan Balasan