You are currently viewing Kalau Belum Mampu Memproduksi, Ambil Bagian dari Mata Rantai Ekonomi

Kalau Belum Mampu Memproduksi, Ambil Bagian dari Mata Rantai Ekonomi

Kalau Belum Mampu Memproduksi, Ambil Bagian dari Mata Rantai Ekonomi

Meneladani Spirit Pasar Rasulullah ﷺ di Madinah

Kesadaran pertama yang harus dibangun dalam gerakan bela beli produk Muhammadiyah adalah kejujuran membaca realitas. Fakta yang tidak bisa dipungkiri, hingga hari ini Muhammadiyah—baik sebagai organisasi maupun warganya secara perorangan—belum sepenuhnya memiliki produk sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup jama’ah, mulai dari kebutuhan primer, sekunder, hingga tersier.

Namun keterbatasan ini bukan alasan untuk berhenti berikhtiar. Justru dari kesadaran inilah lahir strategi yang lebih membumi dan realistis: mengambil bagian dalam mata rantai ekosistem bisnis.

Jika belum mampu memproduksi, maka:

belilah dari sesama pedagang Muhammadiyah,

jadilah distributor, agen, reseller, atau mitra pemasaran,

ambil peran pada layanan pendukung dan purna jual,

bangun jaringan distribusi dan kepercayaan pasar.

Inilah bentuk jihad ekonomi yang paling mungkin dilakukan oleh banyak orang, tanpa harus menunggu modal besar dan fasilitas lengkap.

Dalam ekosistem bisnis modern, hampir tidak ada produk yang berdiri sendiri. Setiap barang hidup karena rantai panjang peran manusia. Muhammadiyah dan warganya dapat masuk ke dalam rantai tersebut secara bertahap dan terhormat.

Contoh konkret dapat dilihat pada berbagai sektor strategis:

Otomotif: dealer, showroom, bengkel, suku cadang, jasa servis, asuransi, pembiayaan, hingga edukasi pengguna.

Home appliances: penjualan ritel, instalasi, perawatan, servis, logistik, dan layanan garansi.

Furniture dan properti: produksi skala kecil, showroom, desain interior, pengadaan proyek, hingga distribusi.

Motor listrik dan teknologi ramah lingkungan: penjualan unit, baterai, charging point, perawatan, komunitas pengguna, dan edukasi pasar.

Setiap peran itu mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan secara berjama’ah, ia membentuk ekosistem yang hidup dan berdaulat.

Spirit ini bukanlah hal baru dalam Islam. Ia telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ ketika hijrah ke Madinah. Pada masa itu, aktivitas ekonomi Madinah dikuasai oleh pasar Bani Qainuqa’, dengan sistem monopoli, riba, dan ketidakadilan. Kaum Muslimin hadir sebagai konsumen, tetapi tidak memiliki kedaulatan.

Rasulullah ﷺ tidak memerintahkan umat untuk merusak pasar yang ada. Beliau membangun pasar alternatif, yang berdiri di atas nilai kejujuran, keadilan, dan kebebasan berusaha. Dalam hadis disebutkan:

“Ini adalah pasar kalian. Jangan dipersempit dan jangan dipungut pajak.”

(HR. Ibnu Majah)

Namun pasar itu tidak akan hidup hanya karena dibangun. Ia hidup karena para sahabat memilih berdagang dan berbelanja di sana. Mereka sadar bahwa keberpihakan adalah kunci. Ada yang menjadi pedagang besar, ada yang menjadi pedagang kecil, ada pula yang sekadar menjadi pembeli setia. Semua peran bernilai.

Inilah teladan besar bagi Muhammadiyah hari ini. Jika belum bisa memproduksi, maka keberpihakan melalui distribusi dan konsumsi sadar adalah jalan awal membangun kemandirian ekonomi jama’ah.

Membeli dari sesama pedagang Muhammadiyah bukan sekadar transaksi, tetapi:

menjaga keberlangsungan usaha saudara, menguatkan ukhuwah ekonomi, mengedarkan rezeki di dalam jama’ah, dan menyiapkan fondasi menuju produksi di masa depan.

Antarkita hadir dalam kerangka ini sebagai support system, penghubung, dan kolaborator. Menghubungkan pelaku usaha, distributor, driver, dan konsumen Muhammadiyah dalam satu ruang yang berangkat dari nilai kebersamaan, bukan sekadar persaingan.

Karena sejatinya, kedaulatan ekonomi tidak lahir dari satu perusahaan besar, tetapi dari ribuan langkah kecil yang bergerak searah.

Jika hari ini kita belum mampu memproduksi,  maka jangan berhenti pada keluhan. Ambil bagian. Masuk ke mata rantai. Berpihak dengan sadar.

Dari sanalah pasar umat akan tumbuh, sebagaimana pasar Rasulullah ﷺ tumbuh di Madinah— pelan, jujur, dan penuh keberkahan.

SiS, Antarkita

Tinggalkan Balasan