ADA APA DENGAN KOPERASI?
Oleh SiS antarkita
Setiap rezim datang dengan narasi besar tentang ekonomi rakyat.
Setiap masa menghadirkan jargon baru, program baru, dan harapan baru.
Namun ada satu kata yang hampir selalu muncul kembali dalam setiap pergantian zaman itu.
Koperasi.
Seolah-olah koperasi adalah “tokoh lama” yang selalu dipanggil kembali ke panggung sejarah bangsa ini.
Kadang redup.
Kadang dilupakan.
Lalu tiba-tiba dihidupkan lagi dengan semangat baru.
Hari ini, di era pemerintahan baru, kita kembali mendengar narasi besar: Koperasi Merah Putih.
Sebuah gagasan yang ingin menghidupkan kembali koperasi sebagai kekuatan ekonomi rakyat.
Tentu gagasan ini menarik.
Namun sebelum kita terlalu jauh membahas masa depan koperasi, ada baiknya kita berhenti sejenak.
Lalu bertanya dengan jujur.
Sebenarnya ada apa dengan koperasi?
Hehehe… 😄
Koperasi: Ide Besar Para Pendiri Bangsa
Jika kita menengok sejarah, koperasi bukanlah ide kecil.
Ia lahir dari gagasan besar para pendiri bangsa, terutama Mohammad Hatta, yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.
Bung Hatta melihat bahwa ekonomi tidak boleh hanya dikuasai oleh segelintir pemilik modal.
Menurutnya, sistem ekonomi yang adil harus memberi ruang bagi rakyat kecil untuk memiliki, mengelola, dan menikmati hasil usaha bersama.
Karena itulah koperasi disebut sebagai soko guru perekonomian Indonesia.
Artinya koperasi diharapkan menjadi tiang utama ekonomi rakyat.
Bahkan secara konstitusional, semangat koperasi tercermin dalam Pasal 33 UUD 1945, yang menekankan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.
Secara filosofis, koperasi adalah manifestasi dari gotong royong dalam ekonomi.
Konsepnya luar biasa indah.
Rakyat kecil tidak hanya menjadi konsumen.
Tetapi menjadi pemilik ekonomi itu sendiri.
Negara Sangat Serius
Jika melihat struktur kelembagaan, negara terlihat sangat serius membangun koperasi.
Negara membentuk:
Kementerian Koperasi dan UKM di tingkat pusat
dinas koperasi di tingkat provinsi
dinas koperasi di tingkat kabupaten dan kota
Struktur ini sudah berjalan puluhan tahun.
Ada berbagai program:
pelatihan koperasi
pembinaan koperasi
penguatan koperasi
revitalisasi koperasi
Dan tentu saja semua itu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.
Yang jika kita telusuri, semua itu berasal dari uang rakyat.
Maka pertanyaannya menjadi sangat wajar:
Apa yang sebenarnya diperoleh rakyat dari investasi negara yang begitu besar pada koperasi?
Mari Kita Turun ke Kehidupan Nyata
Sekarang mari kita keluar dari ruang seminar.
Mari kita berjalan ke tempat yang paling jujur dalam menggambarkan ekonomi rakyat:
Pasar.
Masuklah ke pasar tradisional.
Di sana kita melihat ekosistem ekonomi yang sangat hidup.
Ada:
tukang ojek
pedagang sayur
pedagang ikan
pedagang daging
pedagang sembako
pedagang pakaian
pedagang perabot
penjual makanan
Ekosistem ekonomi rakyat yang luar biasa dinamis.
Sekarang kita bertanya secara sederhana:
Berapa banyak dari ekosistem ini yang benar-benar lahir dari koperasi?
Kalau kita menggunakan pendekatan statistik yang jujur, jawabannya agak mengejutkan.
Persentasenya sangat kecil.
Bahkan dalam beberapa analisis ekonomi, kontribusi koperasi di sektor ini dianggap hampir tidak signifikan.
Hehehe… agak pahit memang. 😅
Kita Geser ke Pasar Modern
Sekarang mari kita bergeser sedikit.
Masuk ke mall.
Masuk ke pusat perbelanjaan modern.
Di sana kita melihat jaringan ekonomi yang sangat kuat:
supermarket besar
minimarket berjaringan
brand nasional
brand global
Mereka memiliki:
sistem distribusi yang rapi
manajemen profesional
jaringan modal yang kuat
Sekali lagi kita bertanya:
Di mana koperasi dalam ekosistem ekonomi modern ini?
Jawabannya sering kali sama.
Koperasi hadir…
tetapi tidak terlihat sebagai kekuatan besar.
Koperasi yang Berubah Fungsi
Dalam praktiknya, banyak koperasi akhirnya berubah fungsi.
Alih-alih menjadi mesin produksi dan distribusi ekonomi rakyat, koperasi lebih sering menjadi:
koperasi simpan pinjam
koperasi pegawai
koperasi sekolah
Fungsinya lebih banyak sebagai lembaga administratif atau lembaga keuangan kecil.
Padahal cita-cita awal koperasi jauh lebih besar.
Ia seharusnya menjadi:
penggerak produksi rakyat
penguat distribusi rakyat
pelindung harga bagi produsen kecil
Sebuah Pertanyaan yang Tidak Nyaman
Maka pertanyaan penting yang harus kita ajukan bukanlah:
“Apakah koperasi itu penting?”
Karena jawabannya jelas: penting.
Pertanyaan yang lebih jujur adalah:
Mengapa koperasi tidak tumbuh menjadi kekuatan ekonomi nyata di masyarakat?
Apakah karena:
manajemennya tidak profesional
terlalu birokratis
terlalu bergantung pada program pemerintah
atau mentalitas pengelola yang belum siap menjadi pengusaha kolektif
Pertanyaan-pertanyaan ini memang tidak selalu nyaman.
Namun sejarah menunjukkan bahwa perubahan sering kali dimulai dari kejujuran melihat kenyataan.
Kini Muncul Narasi Baru: Koperasi Merah Putih
Sekarang kita kembali memasuki babak baru.
Narasi besar kembali muncul dengan nama:
Koperasi Merah Putih.
Sebuah gagasan untuk membangkitkan koperasi sebagai kekuatan ekonomi nasional.
Harapannya tentu sangat mulia.
Agar koperasi tidak lagi hanya hidup di dokumen kebijakan.
Tidak hanya hidup di pidato.
Tidak hanya hidup di papan nama.
Tetapi benar-benar hidup di:
produksi
distribusi
perdagangan
kesejahteraan rakyat
Pelajaran dari Sejarah
Bangsa ini sebenarnya tidak kekurangan ide besar.
Yang sering kali kita kekurangan adalah:
konsistensi
profesionalisme
dan keberanian untuk jujur melihat kegagalan masa lalu.
Jika koperasi benar-benar ingin bangkit, maka ia harus berubah dari:
organisasi administratif
menjadi
mesin ekonomi rakyat.
Koperasi harus masuk ke:
pertanian
perdagangan
distribusi
industri kecil
bahkan teknologi.
Jika tidak, koperasi akan terus menjadi narasi yang indah tetapi lemah dalam realitas.
Sebuah Renungan
Pada akhirnya pertanyaan ini tetap menggantung.
Dengan sedikit senyum,
sedikit renungan,
dan sedikit humor.
Ada apa dengan koperasi?
Apakah kali ini koperasi benar-benar akan menjadi kekuatan ekonomi rakyat?
Atau ia hanya akan kembali menjadi cerita lama yang berulang dari rezim ke rezim?
Kita lihat saja.
Sambil minum kopi.
Dan sambil berharap…
suatu hari koperasi benar-benar menjadi rumah besar ekonomi rakyat Indonesia.
Hehehe… ☕😄