BESAR, TETAPI BUKAN SEMPURNA

Besar, Tapi Bukan Sempurna

Oleh: SiS Antarkita

Muhammadiyah adalah gerakan yang besar.

Tetapi besar bukan berarti sempurna.

Justru kebesaran Muhammadiyah hari ini merupakan hasil dari perjalanan panjang, perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian banyak generasi yang telah memberikan sebagian hidupnya untuk Persyarikatan, umat, bangsa, dan kemanusiaan.

1912 — Bukan Waktu yang Sebentar

Muhammadiyah berdiri pada tahun 1912.

Lebih dari satu abad adalah perjalanan yang sangat panjang.

Selama perjalanan tersebut, generasi demi generasi datang silih berganti. Ada yang merintis, ada yang melanjutkan, ada yang mengembangkan, dan ada pula yang menyempurnakan.

Apa yang kita lihat sebagai Muhammadiyah hari ini sesungguhnya merupakan akumulasi dari kerja keras para pendahulu.

Karena itu, menjadi bagian dari Muhammadiyah seharusnya membuat kita bersyukur sekaligus merasa memiliki tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan tersebut.

Mengabdi Sebelum NKRI Berdiri

Muhammadiyah bahkan telah hadir dan berkhidmat kepada masyarakat sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri pada tahun 1945.

Ketika Indonesia belum menjadi sebuah negara merdeka, Muhammadiyah telah bergerak melalui dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, kesehatan, dan berbagai bentuk pemberdayaan masyarakat.

Artinya, perjalanan Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan dari perjalanan masyarakat dan bangsa Indonesia.

Muhammadiyah bukan hanya tumbuh setelah Indonesia merdeka.

Muhammadiyah ikut berkontribusi dalam mempersiapkan manusia Indonesia melalui pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, dan berbagai amal nyata.

Pendidikan, Sosial, dan Kesehatan Telah Terbangun

Hari ini kita dapat melihat hasil perjuangan panjang tersebut.

Sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah hadir di berbagai daerah.

Rumah sakit dan fasilitas kesehatan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Panti asuhan dan berbagai lembaga sosial menjalankan fungsi pelayanan kemanusiaan.

Masjid, lembaga dakwah, dan berbagai aktivitas keumatan terus berkembang.

Semua itu bukanlah sesuatu yang muncul dengan sendirinya.

Ada sejarah panjang di belakangnya.

Ada keringat para kader.

Ada wakaf para warga.

Ada pengorbanan para pendiri.

Ada guru yang mengabdi.

Ada relawan yang bekerja.

Ada pimpinan yang meluangkan waktu.

Ada jamaah yang terus menjaga keberlangsungan amal usaha.

Karena itu, kebesaran Muhammadiyah hari ini layak kita syukuri dan kita apresiasi.

Tetapi Gerakan Tidak Boleh Berhenti

Namun sebuah gerakan yang hidup tidak boleh berhenti pada keberhasilan masa lalu.

Apa yang sudah dibangun harus terus disempurnakan.

Apa yang sudah baik harus diperkuat.

Apa yang belum ada perlu dirintis.

Dan apa yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan zaman perlu diperbarui.

Tantangan masyarakat terus berubah.

Jika dahulu kebutuhan utama masyarakat adalah pendidikan dasar, dakwah, pelayanan kesehatan, dan bantuan sosial, maka hari ini muncul berbagai persoalan baru yang tidak kalah penting.

Lapangan pekerjaan.

Kemandirian ekonomi.

UMKM.

Kewirausahaan.

Teknologi digital.

Ekonomi kreatif.

Ketahanan pangan.

Lingkungan.

Pengembangan kompetensi anak muda.

Dan berbagai persoalan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Maka Muhammadiyah abad kedua memiliki kesempatan untuk memperluas medan pengabdiannya.

Bukan meninggalkan pendidikan.

Bukan meninggalkan kesehatan.

Bukan meninggalkan dakwah dan sosial.

Tetapi menambahkan kekuatan baru sesuai kebutuhan zaman.

Besar, Tetapi Bukan Sempurna

Di sinilah kita perlu membangun cara pandang yang dewasa.

Muhammadiyah adalah organisasi besar.

Tetapi Muhammadiyah bukan organisasi yang sempurna.

Kesempurnaan adalah milik Allah SWT.

Sebagai sebuah gerakan yang dijalankan oleh manusia, tentu ada kekurangan, keterbatasan, dan persoalan yang perlu terus diperbaiki.

Mengakui adanya kekurangan tidak berarti mengecilkan Muhammadiyah.

Mengkritik bukan berarti membenci.

Menyampaikan aspirasi bukan berarti melawan.

Justru kritik yang lahir dari kepedulian dapat menjadi energi untuk melakukan perbaikan.

Organisasi yang besar semestinya tidak takut terhadap kritik.

Yang perlu dijaga adalah cara menyampaikan kritik: objektif, santun, konstruktif, tidak menyerang pribadi, dan sebisa mungkin disertai gagasan solusi.

Ketidaksempurnaan Membuka Ruang Khidmat

Ada sisi lain yang menarik.

Justru karena Muhammadiyah tidak sempurna, maka ruang pengabdian bagi kader selalu terbuka.

Kalau semuanya sudah selesai, apa lagi yang akan kita kerjakan?

Kalau semua persoalan sudah terpecahkan, di mana ruang kita untuk berkhidmat?

Kalau semua gagasan sudah tersedia, apa yang harus kita gagas?

Ketidaksempurnaan bukan alasan untuk meninggalkan gerakan.

Sebaliknya, ketidaksempurnaan adalah undangan untuk ikut menyempurnakan.

Yang belum ada, kita rintis.

Yang sudah ada, kita lanjutkan.

Yang belum optimal, kita perbaiki.

Yang sudah baik, kita kembangkan.

Yang terpisah, kita hubungkan.

Yang berjalan sendiri-sendiri, kita kolaborasikan.

Inilah Makna Kader Penyempurna

Kader Muhammadiyah tidak hanya dibutuhkan untuk menjadi pengikut.

Kader dibutuhkan untuk menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan.

Pelopor berani memulai.

Pelangsung menjaga keberlanjutan.

Penyempurna menghadirkan pembaruan.

Karena itu, setiap kader sebenarnya memiliki ruang untuk berkhidmat sesuai kapasitasnya.

Seorang guru dapat menyempurnakan pendidikan.

Seorang dokter dapat menyempurnakan pelayanan kesehatan.

Seorang pengusaha dapat membangun kemandirian ekonomi.

Seorang profesional dapat menyumbangkan keahliannya.

Seorang anak muda dapat membawa inovasi digital.

Seorang warga di ranting dapat memulai pemberdayaan ekonomi jamaah.

Tidak harus menunggu menjadi pimpinan.

Tidak harus menunggu mendapat jabatan.

Tidak harus menunggu instruksi.

Khidmat bisa dimulai dari apa yang kita mampu.

Dari Kritik Menjadi Kontribusi

Karena itu, mari kita ubah cara memandang kritik.

Jangan berhenti pada:

“Ini masih kurang.”

Lanjutkan dengan:

“Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaikinya?”

Jangan berhenti pada:

“Mengapa belum ada?”

Lanjutkan dengan:

“Mungkinkah saya ikut merintisnya?”

Jangan berhenti pada:

“Seharusnya Muhammadiyah melakukan ini.”

Mari tambahkan:

“Apa yang bisa saya kontribusikan agar hal itu dapat terwujud?”

Di situlah kritik berubah menjadi kontribusi.

Di situlah aspirasi berubah menjadi gerakan.

Dan di situlah seorang kader mulai menjalankan perannya sebagai penyempurna gerakan.

Menjaga Rumah Besar Persyarikatan

Muhammadiyah adalah rumah besar.

Rumah besar tentu tidak selalu sempurna.

Ada bagian yang sudah kokoh.

Ada bagian yang perlu direnovasi.

Ada ruang yang perlu diperluas.

Ada pintu yang perlu dibuka lebih lebar.

Tetapi ketika rumah itu adalah rumah kita bersama, maka tugas kita bukan merobohkannya.

Tugas kita adalah merawat, memperbaiki, memperluas, dan membuatnya semakin bermanfaat.

Maka mari mencintai Muhammadiyah dengan cara yang dewasa.

Bangga terhadap sejarahnya.

Menghargai perjuangan pendahulunya.

Menjaga nilai-nilainya.

Terbuka terhadap kritik.

Berani melakukan evaluasi.

Dan memiliki keberanian untuk menghadirkan pembaruan.

Penutup

Muhammadiyah sudah besar.

Tetapi bukan sempurna.

Dan justru di situlah letak kesempatan kita.

Kesempatan bagi generasi baru untuk hadir.

Kesempatan bagi kader untuk berkhidmat.

Kesempatan bagi para perintis untuk membuka jalan.

Kesempatan bagi para pelangsung untuk menjaga perjuangan.

Dan kesempatan bagi para penyempurna untuk menghadirkan inovasi.

Maka jangan hanya bertanya:

“Apa yang sudah diberikan Muhammadiyah kepada kita?”

Mari bertanya:

“Apa yang bisa kita berikan kepada Muhammadiyah?”

Karena Muhammadiyah tidak hanya membutuhkan kader yang mampu menjaga apa yang telah dibangun.

Muhammadiyah juga membutuhkan kader yang berani mengatakan:

“Yang belum ada, mari kita mulai.”

“Yang belum optimal, mari kita perbaiki.”

“Yang sudah baik, mari kita lanjutkan.”

“Yang terpisah, mari kita hubungkan.”

“Yang belum bersinergi, mari kita kolaborasikan.”

Itulah semangat pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan.

Bukan untuk menghapus sejarah.

Tetapi untuk melanjutkan sejarah.

Bukan untuk meruntuhkan kebesaran Muhammadiyah.

Tetapi untuk membuat kebesaran itu semakin besar manfaatnya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Besar, tapi bukan sempurna.

Dan selama masih ada ruang untuk perbaikan, selama itu pula ruang untuk berkhidmat akan selalu terbuka.

Tinggalkan Balasan