Paganisme Era Digital
Paradoks Baru Rakyat Indonesia
Di era ketika seluruh dunia berada dalam genggaman layar 6 inci, saat semua orang bisa belajar apa saja tanpa harus duduk di bangku kuliah, kita justru menyaksikan fenomena yang tidak diduga para antropolog:
kembalinya paganisme dalam bentuk paling modern dan paling ironis.
Bukan penyembahan pohon keramat, bukan memuja patung atau benda magis.
Paganisme di era digital justru menjelma dalam bentuk yang jauh lebih halus:
penyembahan terhadap pemimpin politik.
Di tengah derasnya arus data, logika justru banyak tenggelam.
Kita melihat sebagian rakyat Indonesia berubah menjadi “penganut setia” dalam sebuah “agama politik baru,” di mana pemimpin yang seharusnya dikontrol justru diagungkan, disakralkan, dan dibela mati-matian.
Paradoks Besar Bangsa Digital
Di negara demokrasi, rakyat adalah pemilik kedaulatan tertinggi.
Pada kertas konstitusi, rakyat adalah majikan, pemimpin hanyalah pelayan.
Tapi dalam kenyataan, logika ini sering terbalik seperti sandal jepit tertukar di masjid:
Pemimpin disembah seperti dewa.
Kebijakan dianggap wahyu.
Kritik dianggap dosa besar.
Fakta ditolak, akal sehat dimatikan.
Semua ini terjadi meski kita hidup di zaman di mana kebenaran bisa dicari dalam 10 detik lewat mesin pencari.
Ironinya, akses pengetahuan yang tak terbatas tidak otomatis membuat sebagian orang lebih kritis.
Sebaliknya, banyak yang larut dalam fanatisme politik, sibuk memuja “idola kekuasaan” sambil menutup mata terhadap penyimpangan.
Inilah mental paganisme modern:
pemujaan terhadap manusia yang penuh salah, seolah mereka makhluk sempurna tanpa noda.
—
Ketika Pemimpin Dianggap Sesembahan
Kita sering melihat fenomena aneh yang berulang:
Ketika pemimpin berbuat salah — dibela.
Ketika pemimpin melanggar hukum — ditutupi.
Ketika pemimpin gagal — disalahkan rakyat, oposisi, bahkan takdir.
Ketika rakyat menderita — pemimpin tetap dipuja.
Padahal, pemimpin itu dipilih oleh rakyat, digaji dengan uang rakyat, diberi mandat oleh rakyat, dan seharusnya disupervisi oleh rakyat.
Namun ketika rakyat terseret mental sahaya, semuanya berubah:
kontrol berubah jadi kultus,
kritik berubah jadi kebencian,
pengawasan berubah jadi pengorbanan buta,
demokrasi berubah jadi panggung fanatisme.
Beginilah paganisme bekerja:
logika lenyap, yang tersisa hanya rasa takjub dan penyembahan.
—
Akar Masalah: Hilangnya Kesadaran Kedaulatan Rakyat
Rakyat kadang lupa bahwa:
mereka bukan hamba kekuasaan,
mereka bukan pengikut yang harus patuh,
mereka bukan beban yang harus diatur,
mereka adalah pemegang mandat tertinggi negara.
Dalam demokrasi, pemimpin bukan “raja baru,” bukan “orang suci,” apalagi “dewa penolong.”
Mereka hanyalah pekerja publik yang wajib diukur kinerjanya, dipuji ketika benar, dan dikritik ketika melenceng.
Tanpa kesadaran itu, rakyat sendiri yang membuka pintu menuju kehancuran bangsa — bukan karena tirani pemimpin, tetapi karena paganisme rakyat yang membuat pemimpin kebal dari kritik.
Saatnya Beranjak dari Paganisme Menuju Kedewasaan Politik
Sebagai bangsa besar, kita hanya punya dua pilihan:
1. Terus menuhankan pemimpin, lalu menanggung akibatnya:
kesalahan dibiarkan, korupsi membesar, kekuasaan tak terkendali.
2. Menjadi rakyat dewasa, yang:
mendukung kebaikan,
mengoreksi kesalahan,
menjaga akal sehat,
menempatkan pemimpin pada posisi semestinya: pekerja negara, bukan sesembahan.
Karena pemimpin memang bisa salah, bisa lupa, bisa tergoda kekuasaan — itulah manusia.
Tetapi rakyat tidak boleh ikut tersesat.
Di era digital ini, musuh terbesar bangsa bukan lagi kurangnya informasi, melainkan mental paganisme politik yang membuat sebagian orang rela menutup mata pada kebenaran.
Dan selama mental ini belum berubah, teknologi secanggih apa pun tak akan mampu menyelamatkan bangsa.
Suwatnoibnusudihardjo, Antarkita