Absennya Generasi Muda di Cabang dan Ranting Muhammadiyah
Tantangan Regenerasi dan Adaptasi di Era Digital
Sore itu saya sengaja menunaikan shalat Ashar di sebuah masjid ranting Muhammadiyah. Masjid yang secara fisik terawat, bersih, dan cukup representatif. Seperti biasa, selepas shalat saya tidak langsung beranjak pergi. Ada jeda yang saya ambil—bukan karena lelah, melainkan karena pikiran saya tertahan oleh sebuah keganjilan yang terasa begitu nyata.
Sejak awal memasuki masjid, saya mengamati satu per satu: muazin yang mengumandangkan adzan, imam yang memimpin shalat, hingga jamaah yang merapatkan shaf. Semuanya, hampir tanpa kecuali, adalah orang-orang tua. Mereka khusyuk, tenang, dan penuh kesabaran. Wajah-wajah yang barangkali telah puluhan tahun setia merawat masjid, menjaga pengajian, dan mempertahankan denyut Muhammadiyah di tingkat ranting.
Namun justru di situlah sebuah pertanyaan sederhana, tapi menghantam kesadaran saya:
ke mana anak-anak muda?
Pertanyaan itu yang membuat saya memilih duduk lebih lama. Saya menahan diri untuk tidak segera pulang. Saya ingin memastikan, apakah yang saya lihat ini hanya kebetulan sore itu, atau memang cerminan realitas sehari-hari. Dari obrolan ringan dengan Ketua Ranting Muhammadiyah, perlahan saya mendapat jawabannya. Bukan hanya sore itu. Bukan hanya masjid itu. Kondisi ini telah berlangsung lama.
Fenomena Sunyi yang Terjadi Berulang
Apa yang saya saksikan di masjid ranting sore itu sejatinya bukan peristiwa tunggal. Di banyak cabang dan ranting Muhammadiyah, fenomena serupa berulang. Masjid tetap berdiri, kegiatan tetap berjalan, struktur organisasi tetap lengkap—namun kehadiran generasi muda semakin jarang terlihat, baik sebagai jamaah aktif, apalagi sebagai penggerak.
Ironisnya, Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai gerakan modernis, gerakan pembaruan (tajdid), yang lahir dari keberanian membaca zaman dan merespons tantangan sosial. Cabang dan ranting adalah ujung tombak dari spirit ini. Di sanalah Muhammadiyah seharusnya paling hidup, paling dekat dengan umat, dan paling responsif terhadap perubahan sosial.
Namun ketika cabang dan ranting didominasi oleh generasi senior, muncul pertanyaan yang tidak bisa dihindari:
bagaimana pembaruan akan terus berlangsung jika generasi penerus tidak hadir dan tidak merasa memiliki?
Data yang Mengonfirmasi Kegelisahan
Kegelisahan ini bukan sekadar perasaan subjektif. Data LPCRPM PP Muhammadiyah melalui Sistem Informasi Cabang dan Ranting (SICARA) justru menguatkannya. Berdasarkan pengolahan data nasional:
72,9% pengurus Cabang Muhammadiyah berusia di atas 45 tahun
69,9% pengurus Ranting Muhammadiyah juga berada pada rentang usia di atas 45 tahun
Angka ini bukan untuk menegasikan peran generasi senior. Justru sebaliknya, data ini menunjukkan betapa besarnya jasa mereka dalam menjaga keberlangsungan Muhammadiyah hingga hari ini. Namun di saat yang sama, data ini juga menjadi alarm keras bahwa proses regenerasi belum berjalan secara sistematis dan berkelanjutan.
Di banyak forum musyawarah, kita sering sepakat bahwa masa depan Muhammadiyah ada di tangan IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ‘Aisyiyah, dan seluruh Angkatan Muda Muhammadiyah. Sayangnya, semangat regenerasi sering berhenti di tataran wacana, pidato, dan rekomendasi. Di lapangan, struktur cabang dan ranting masih diisi oleh wajah-wajah yang sama dari periode ke periode.
Anak Muda dan Tata Kelola: Antara Harapan dan Kenyataan
Berbagai riset internasional menunjukkan bahwa kehadiran anak muda dalam organisasi bukan sekadar pelengkap, tetapi kunci vital keberlanjutan organisasi. Zeldin, S., dkk. (2020) dalam riset Youth in Decision-Making menegaskan bahwa keterlibatan pemuda dalam proses pengambilan keputusan berdampak signifikan terhadap dinamika organisasi. Mereka merangkum temuannya dalam ungkapan yang kuat:
“Youth blow the doors off governance.”
Maknanya, pemuda memiliki kemampuan untuk mendobrak kebekuan tata kelola, membawa inovasi, dan menyegarkan organisasi yang mulai stagnan. Dalam konteks Muhammadiyah, ini seharusnya menjadi dasar bahwa cabang dan ranting bukan sekadar ruang administratif, melainkan ruang kaderisasi dan kepemimpinan lintas generasi.
Namun realitas di lapangan sering tidak seideal itu. Anak muda kerap dilibatkan sebatas sebagai panitia teknis, dokumentasi, atau penggerak lapangan, tanpa ruang nyata dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Kepercayaan belum sepenuhnya diberikan, sementara tanggung jawab sering kali sudah dibebankan.
Tantangan Hidup Anak Muda di Era Digital
Absennya generasi muda juga tidak bisa dilepaskan dari konteks kehidupan mereka hari ini. Anak muda hidup di era digital dengan ritme yang jauh berbeda. Mereka bergulat dengan tuntutan pekerjaan, tekanan ekonomi, pencarian jati diri, hingga tanggung jawab keluarga.
Pola kegiatan cabang dan ranting yang kaku—rapat malam yang panjang, administratif, dan berulang—sering kali tidak kompatibel dengan realitas ini. Belum lagi jarak generasi yang membuat komunikasi terasa canggung. Budaya satu arah, minim dialog, dan sarat hierarki pelan-pelan menciptakan jarak emosional.
Tak mengherankan jika banyak anak muda lebih memilih aktif di ortom atau komunitas lain yang terasa lebih egaliter, cair, dan partisipatif. Di sana mereka merasa didengar, dihargai, dan diberi ruang berekspresi.
Regenerasi Bukan Menyalahkan, Tapi Menyambung
Dalam obrolan sore itu, saya menyadari satu hal penting: regenerasi bukan soal menyalahkan siapa yang tidak hadir, tetapi soal menciptakan suasana yang membuat orang ingin hadir.
Islam dan Muhammadiyah mengajarkan ta’awun—kerja kolektif. Generasi senior memiliki peran penting sebagai penjaga nilai, pewaris pengalaman, dan penuntun kebijaksanaan. Sementara generasi muda membawa energi, kreativitas, serta keberanian membaca dan merespons zaman.
Perubahan harus berjalan dua arah. Senior perlu berbesar hati memberi ruang yang nyata, bukan simbolik. Anak muda pun perlu berlapang dada memahami bahwa Persyarikatan memiliki ritme, tradisi, dan proses yang menuntut kesabaran.
Cabang dan Ranting sebagai Rumah Bersama
Cabang dan ranting seharusnya bukan sekadar struktur organisasi, tetapi rumah bersama. Rumah tempat nilai diturunkan, gagasan dipertukarkan, dan energi perubahan dinyalakan. Rumah yang ramah bagi lintas generasi—tempat yang tua mengajarkan kebijaksanaan, dan yang muda menyalakan harapan.
Sore itu, ketika saya akhirnya melangkah meninggalkan masjid, saya membawa satu harapan sederhana: semoga suatu hari nanti, shaf-shaf shalat di masjid ranting Muhammadiyah kembali dipenuhi oleh lintas generasi. Yang tua dan yang muda berdiri sejajar, bukan saling menggantikan, tetapi saling menguatkan.
Karena masa depan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh kokohnya aset dan bangunan, melainkan oleh siapa yang hadir, belajar, dan berkhidmat di dalamnya.
SiS, Antarkita