Antarkita

Author name: Suwatno Ibnu Sudihardjo

Coach Imansu, Ruang Kita

Kutukan Generasi Ketiga

Kutukan Generasi Ketiga Caruban, dekade 1980-an. Nama-nama itu masih kokoh berdiri di memori saya hingga hari ini. Atik Suryangsih, Lus Hadi, Ipung, Tatik, Mamik, Jon Jiyono. Mereka adalah insan radio ternama pada masanya di wilayah yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Madiun. Nama pertama adalah penyiar RRI Madiun. Empat nama berikutnya adalah penyiar Radio Moderato Madiun. Dan nama terakhir, Jon Jiyono, adalah operator radio Moderato. Pada masa itu, saya hanyalah seorang remaja—namun seorang remaja yang pendengar radio fanatik. Bukan hanya radio lokal. Saya juga setia mendengarkan radio luar negeri. BBC, Radio Australia, dan Voice of America menjadi menu harian. Gelombang short wave yang timbul tenggelam, kadang jernih kadang hilang, justru menghadirkan kenikmatan tersendiri. Ada sensasi perjuangan di sana. Tujuan saya sederhana namun serius: mengasah kemampuan bahasa Inggris. Masa SMP dan SMA adalah masa di mana semangat belajar bahasa Inggris saya sedang menyala-nyala. Radio adalah satu-satunya media yang tersedia. Dari siaran radio luar negeri itulah saya mengenal nama Ebet Kadarisman, penyiar kenamaan yang suaranya hingga kini masih melekat kuat di ingatan. Namun, kecintaan saya pada dunia radio sebenarnya sudah tumbuh sejak masa kanak-kanak. Ada dua nama yang sangat berbekas: Pak Har dan Pak Imam dari RRI Madiun. Pak Har adalah pengasuh acara dongeng anak-anak yang disiarkan setiap Jumat pukul lima sore. Bisa dipastikan, setiap Jumat sebelum jam lima saya sudah duduk nguping di depan radio Philips berbaterei empat di rumah. Tidak pernah absen. Pak Har juga sosok yang ditunggu-tunggu setiap bulan Ramadan. Setiap dini hari, beliau mengisi acara pengantar makan sahur. Sampai hari ini, saya masih menyimpan instrumentalia lagu “Selayang Pandang” yang menjadi musik pembuka dan penutup acara tersebut. Ketika Pak Har uzur, acara itu dilanjutkan oleh Pak Imam. Bagi Iman Supriyono kecil, Pak Har dan Pak Imam adalah sumber ilmu agama yang luar biasa pada zamannya. Radio bukan sekadar hiburan. Ia adalah sekolah kehidupan. Lalu ada iklan. “Rokoke Reco Pentung, Weton pabrik Tulungagung. Tuku rokok ojo bingung, Milih’o cap Reco Pendung…” Lirik iklan itu masih saya hafal hingga hari ini. Sebuah iklan rokok berbentuk tembang gamelan dengan irama lagu Sluku-sluku Bathok. Lagu anak-anak yang sangat populer saat itu. Iklan tersebut diputar berulang-ulang di radio. Sebagai penggemar radio, saya hafal di luar kepala. Dan baru kemudian saya sadar, iklan-iklan itulah yang membiayai siaran radio swasta yang menemani masa kecil dan remaja saya. Dekade 80-an adalah dekade radio. Dan radio hidup dari iklan. Siapa pengiklan terbesar itu? Tidak lain adalah perusahaan rokok cap Redjo Pentung dari Tulungagung. Sebuah pabrik rokok yang memang sedang berada di masa jayanya. Pada puncak kejayaan, bisnis keluarga Soemiran Karsodiwirjo ini mempekerjakan sekitar 4.500 orang. Angka yang luar biasa untuk ukuran industri rokok kretek daerah pada masa itu. Kejayaan Redjo Pentung kemudian saya saksikan dari jarak yang lebih dekat ketika menjadi mahasiswa. Salah satu teman seangkatan saya di Jurusan Teknik Mesin ITS adalah anggota keluarga Redjo Pentung. Saat itu saya tinggal di rumah kos di kawasan Gebang, sebelah barat Kampus ITS. Kamar kos saya berukuran sekitar 2,5 x 3 meter, berisi sebuah ranjang tingkat. Satu kamar dihuni dua mahasiswa. Hidup sederhana, serba terbatas, dan penuh penghematan. Persis di sebelah barat kampung Gebang, berdiri Kompleks Perumahan Kertajaya Indah. Kompleks hunian besutan PT Sinar Galaxy ini adalah perumahan termewah di Surabaya pada masa itu. Rumah-rumah besar, halaman luas, pagar tinggi, dan mobil-mobil mahal menjadi pemandangan biasa. Kawan saya dari keluarga Redjo Pentung tinggal di sana. Ketika saya berkunjung ke rumahnya, perasaan yang muncul hanya satu: perbedaan antara langit dan sumur. Rumah super mewah dengan perabotan kelas atas berhadapan langsung dengan kamar indekos sempit yang saya tempati sehari-hari. Dua dunia. Dua realitas. Dua titik berangkat kehidupan yang sama sekali tidak sejajar. Itulah Redjo Pentung pada zamannya. Namun, sejarah hampir selalu memiliki bab berikutnya. Sepeninggal Soemiran Karsodiwirjo pada tahun 1997, pengelolaan bisnis dilanjutkan oleh Ismanu Soemiran, putra sulungnya, lelaki kelahiran tahun 1949. Di tangannyalah bisnis rokok Redjo Pentung bertahan—namun hanya untuk sementara. Pada awal tahun 2000-an, perusahaan itu akhirnya pailit. Sebuah kisah klasik tentang kejayaan, warisan, dan apa yang oleh banyak literatur manajemen disebut sebagai kutukan generasi ketiga—the third generation curse. Kekayaan yang tidak mampu bertahan lintas generasi. Sebuah pelajaran sunyi tentang bisnis keluarga, tentang kesinambungan, dan tentang betapa sejarah ekonomi sering kali berulang dengan pola yang sama. Karya ke-491 Iman Supriyono,Ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan,Surabaya, Edisi November 2025

Coach Imansu, Ruang Kita

Satu Lagi dari ACR: Wakaf Saham Apotek Titokita

Satu Lagi dari ACR: Wakaf Saham Apotek Titokita Sebagai salah satu pendiri dan kemudian Ketua ACR (www.acrku.org), sejak awal saya sepenuhnya menyadari bahwa apa yang sedang dibangun ini adalah sebuah proses panjaaaang. Tidak instan. Tidak bisa tergesa-gesa. Catatan sejarah memberi pelajaran yang sangat jelas. Membangun pengelola zakat dan infak sekelas YDSF yang berdiri tahun 1987 membutuhkan waktu sekitar 20–30 tahun hingga menjadi organisasi yang benar-benar kokoh. Dompet Dhuafa, yang berdiri tahun 1993, pun menempuh perjalanan serupa. Kini, lebih dari 30 tahun kemudian, masyarakat benar-benar merasakan manfaat dan kehadirannya. ACR sejak awal memang didesain sebagai institusi dana abadi, atau dalam terminologi Islam disebut wakaf. Dalam konteks ekonomi modern, dana abadi atau wakaf hanya tepat dikelola dengan model investing company, bukan operating company. Ini bukan konsep yang umum. Tidak banyak yang memahaminya. Karena itu, sejak awal para pendiri ACR sudah sepakat bahwa organisasi ini harus dibangun dengan kesadaran waktu yang panjang. Perkiraannya pun sama: 20–30 tahun. Lalu, seperti apa gambaran ACR ketika sudah “jadi” nanti? Kurang lebih begini. ACR akan memiliki aset dalam bilangan triliun rupiah. Aset tersebut dikelola sepenuhnya dengan model investing company. Sekitar 50% portofolio berupa ekuitas atau saham di berbagai perusahaan. Seluruhnya adalah saham minoritas, sehingga ACR tidak melakukan konsolidasi laporan keuangan dengan perusahaan-perusahaan tempatnya berinvestasi. Akan ada ratusan perusahaan investee berkualitas dalam portofolio ACR. Selanjutnya, sekitar 30% aset ditempatkan dalam instrumen sukuk atau deposito syariah di berbagai bank. Sisanya, sekitar 20%, berupa aset lain seperti kepemilikan properti untuk disewakan, pembiayaan murabahah proyek, dan instrumen syariah produktif lainnya. Dengan struktur seperti ini, maka pekerjaan para pengurus ACR pada fase matang kelak adalah berpindah dari satu RUPS ke RUPS berikutnya, memastikan tata kelola berjalan baik dan amanah. Karena ACR memiliki aset saham yang secara akuntansi dicatat berdasarkan nilai pasar, maka kepemilikan aset triliunan rupiah tersebut bukan berarti para donatur—yakni anggota ACR—benar-benar menyetor dana sebesar itu secara tunai. Perlu dipahami, ACR adalah ormas berbadan hukum perkumpulan, di mana asetnya berasal dari iuran anggota. Namun, sebagian besar pertumbuhan aset akan berasal dari kenaikan nilai pasar saham-saham yang dimiliki, bukan semata-mata dari setoran anggota. Hal ini dimungkinkan karena ACR umumnya masuk sebagai pemegang saham melalui skema private placement pada perusahaan-perusahaan terpilih, jauh sebelum IPO. Pada fase ini harga saham masih relatif murah, sementara potensi pertumbuhannya sangat tinggi. Secara teknis, perusahaan yang dipilih adalah perusahaan yang sudah berada pada tahap revenue and profit driver, yakni tahap kelima dari delapan siklus pertumbuhan perusahaan. Inilah praktik yang lazim dilakukan oleh pengelola dana abadi raksasa dunia seperti Harvard University, MIT, maupun The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints (LDS Church)—organisasi keagamaan dengan aset lebih dari Rp 4.000 triliun. ACR adalah program besar. Maka, mengelola ACR adalah perjalanan panjang. Tidak boleh grusa-grusu. Tidak boleh tergesa-gesa. Tetapi juga tidak boleh diam. Karena itulah, sore itu menjadi momen yang sangat saya syukuri. Perjalanan saya mengemudikan mobil dari Natar, Lampung Selatan, menuju Banjar Agung, Tulang Bawang, terasa begitu bermakna. Pada tanggal 11 Desember 2025, saya menikmati perjalanan di Tol Lintas Sumatera untuk sebuah peristiwa penting: penandatanganan masuknya ACR sebagai pemegang saham PT Titokita Farma Sejahtera. PT Titokita Farma Sejahtera adalah perusahaan apotek yang telah memiliki 8 gerai. Masuknya ACR sebagai pemegang saham menandai awal proses scale up Titokita untuk menjadi korporasi sejati. Perusahaan yang diharapkan tidak hanya tumbuh secara bisnis, tetapi juga menjadi rahmat bagi seluruh alam—rahmatan lil ‘alamin. Satu lagi dari ACR. Itulah spiritnya. Di kantor Notaris Tria Agustia, mewakili ACR saya menandatangani akta bersama para pemegang saham Titokita lainnya. Bismillah… inilah saham ke-4 ACR. Insyaallah akan disusul saham ke-5, ke-6, dan seterusnya, hingga kelak jumlahnya bisa mencapai lebih dari seribu, sebagaimana portofolio saham yang dimiliki LDS Church. Semoga langkah ini membawa keberkahan bagi keluarga besar Titokita, keberkahan bagi keluarga besar ACR, dan tentu saja keberkahan bagi adik-adik cemerlang kader umat yang saat ini sedang menempuh pendidikan dengan dukungan beasiswa ACR. Amin. Karya ke-494,Iman Supriyono,Ditulis di Bandar Lampung,12 Desember 2025

Coach Imansu, Ruang Kita

Nasib Pensiunan Amil, Marbot, dan Imam

Nasib Pensiunan Amil, Marbot, dan Imam Pembaca yang baik, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya: siapa yang memikirkan masa tua para amil, marbot, dan imam—mereka yang sepanjang usia produktifnya mengabdikan diri penuh waktu di lembaga-lembaga amil zakat, masjid, dan institusi keumatan? Saat tenaga mereka tak lagi sekuat dulu, saat usia menuntut perlindungan dan kepastian, apakah mereka akan dibiarkan menghadapi hari tua dengan segala keterbatasan? Pertanyaan ini bukan pertanyaan sepele. Ini adalah pertanyaan peradaban. Jawaban atas persoalan ini sesungguhnya sudah pernah ditunjukkan lebih dari seabad yang lalu oleh sebuah institusi keagamaan di belahan dunia lain. Jawabannya bukan dengan belas kasihan sesaat, bukan pula dengan santunan sporadis, melainkan dengan sistem: mengumpulkan dan mengelola endowment fund—yang dalam terminologi Islam kita kenal sebagai wakaf—lalu menginvestasikannya dengan manajemen dan tata kelola modern. Manajemen modern di sini memiliki makna yang sangat spesifik. Dana abadi atau wakaf tidak dikelola sebagai operating company, melainkan sebagai investing company. Artinya, lembaga pengelola wakaf tidak sibuk berbisnis secara langsung, tidak terseret dalam kompetisi pasar yang keras, melainkan berperan sebagai investor jangka panjang yang profesional. Dampaknya berlapis: perusahaan-perusahaan operasional di berbagai sektor terdorong untuk tumbuh dan melakukan scale up, ekonomi menguat, dan pada saat yang sama masa senja para amil, marbot, dan imam dapat diamankan. Sekali merengkuh dayung, dua bahkan tiga pulau terlampaui. Pertanyaannya kini beralih kepada kita. Anda profesional di bidang amil zakat, wakaf, atau takmir masjid? Siapkah mengambil fardhu kifayah ini? Mari kita tengok sebuah contoh konkret. New York, tahun 1914. Para pengelola The Episcopal Church mulai berpikir jauh ke depan. Mereka mengajukan pertanyaan mendasar: bagaimana nasib para pendeta dan karyawan gereja yang telah mengabdikan diri sepanjang usia produktif mereka? Haruskah mereka terlantar di hari tua setelah puluhan tahun melayani umat? Pertanyaan itu tidak dijawab dengan retorika, tetapi dengan tindakan nyata. Mereka mendirikan Church Pension Fund, sebuah lembaga berbadan hukum non profit corporation—dalam tata hukum Indonesia dikenal sebagai perkumpulan, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Lembaga ini mulai beroperasi secara penuh pada tahun 1917. Kegiatan utamanya adalah mengumpulkan donasi non-konsumtif yang disebut sebagai endowment fund. Dalam perspektif Islam, inilah hakikat wakaf produktif. Dana yang terkumpul tidak dihabiskan, melainkan diinvestasikan secara profesional. Hasil investasinya kemudian digunakan untuk membayar uang pensiun bulanan bagi para pendeta dan pekerja gereja yang telah mengabdi penuh waktu. Hasilnya sungguh luar biasa. Berdasarkan laporan resmi per 31 Maret 2025, nilai aset Church Pension Fund mencapai USD 17,7 miliar, atau setara dengan Rp 296 triliun. Laporan ini telah diaudit oleh Ernst & Young, salah satu kantor akuntan publik paling kredibel di dunia. Dana tersebut diinvestasikan melalui portofolio modern bersama perusahaan-perusahaan investasi raksasa seperti BlackRock, State Street, Vanguard, dan lainnya. Sebagian besar portofolionya berupa kepemilikan saham di berbagai perusahaan besar lintas sektor. Pada tahun buku 2024, imbal hasil investasinya tercatat sebesar 7,2%. Artinya, dari pengelolaan dana abadi tersebut dihasilkan sekitar Rp 21 triliun dalam satu tahun. Dana inilah yang digunakan untuk membiayai uang pensiun puluhan ribu pendeta dan pekerja gereja lainnya—secara berkelanjutan, bermartabat, dan tanpa membebani umat secara langsung. Kisah ini seharusnya menjadi cermin bagi kita semua. Jika lembaga keagamaan di luar Islam mampu membangun sistem jaminan hari tua berbasis dana abadi sejak lebih dari seabad lalu, mengapa lembaga-lembaga keumatan kita masih gagap memikirkan nasib amil, marbot, dan imam di masa pensiun? Padahal instrumen wakaf telah lama dikenal dan diajarkan dalam tradisi Islam. Masalahnya bukan pada ketiadaan ajaran, melainkan pada keberanian membangun sistem dan kesungguhan mengelolanya secara profesional. Inilah panggilan fardhu kifayah zaman ini. Bukan sekadar mengumpulkan dana, tetapi membangun tata kelola wakaf yang modern, amanah, dan berorientasi jangka panjang. Demi menjaga martabat para penjaga rumah ibadah. Demi memastikan bahwa pengabdian tidak berujung pada keterlantaran. Dan demi membangun peradaban yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berkeadaban. Semoga kita tidak sekadar terinspirasi, tetapi juga tergerak untuk bertindak. Karya ke-495,Iman Supriyono,Ditulis di Surabaya,19 Desember 2025

Coach Waidi, Ruang Kita

On Becoming Personal Excellent

On Becoming Personal Excellent Oleh: Waidi, MBA, CPC Personal excellence is not a destination, but a conscious journey of becoming.   Kehidupan manusia pada hakikatnya adalah proses menjadi. Tidak ada manusia yang lahir langsung unggul, matang, dan paripurna. Keunggulan personal bukan anugerah instan, melainkan hasil dari kesadaran, latihan, dan konsistensi panjang dalam mengelola diri. Inilah makna mendalam dari On Becoming Personal Excellent—sebuah perjalanan sadar untuk terus bertumbuh menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Kata becoming menjadi kunci utama. Ia menegaskan bahwa personal excellence bukan kondisi statis, bukan gelar, bukan jabatan, dan bukan pula pengakuan sosial. Ia adalah proses dinamis, yang berlangsung seumur hidup. Seseorang bisa hari ini berada di titik rendah, tetapi tetap berada di jalur personal excellence selama ia memiliki kesadaran untuk belajar, memperbaiki diri, dan bergerak maju. Banyak orang keliru memaknai keunggulan personal sebagai kecerdasan intelektual semata. Padahal, sejarah hidup manusia menunjukkan bahwa kecerdasan tanpa karakter justru sering menjadi sumber kehancuran. Personal excellent bertumpu pada keseimbangan antara cara berpikir (mindset), sikap batin (attitude), nilai hidup (values), dan tindakan nyata (behavior). Dalam perspektif ini, kegagalan tidak pernah menjadi musuh. Kegagalan hanyalah umpan balik kehidupan. Yang menentukan arah hidup seseorang bukanlah peristiwa yang dialami, melainkan respons mental dan emosional terhadap peristiwa tersebut. Dua orang bisa mengalami kegagalan yang sama, tetapi menghasilkan masa depan yang sangat berbeda karena sikap batin yang berbeda. Personal excellence menuntut seseorang untuk berani mengambil tanggung jawab penuh atas hidupnya. Tidak menyalahkan orang tua, latar belakang ekonomi, sistem pendidikan, atau keadaan sosial. Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi makna atas masa lalu selalu bisa direkayasa ulang. Di sinilah letak kekuatan manusia sebagai makhluk berpikir. Dalam kerangka NLP (Neuro-Linguistic Programming), keunggulan personal sangat ditentukan oleh program mental yang tertanam di alam bawah sadar. Banyak orang hidup dengan limiting beliefs—keyakinan keliru yang membatasi potensi diri: merasa tidak mampu, tidak pantas sukses, atau terjebak pada label masa lalu. Personal excellent berarti berani menyadari, menantang, dan mengganti program mental yang tidak lagi relevan dengan tujuan hidupnya. Menjadi pribadi unggul juga berarti menjadi pembelajar sejati. Pembelajar yang tidak selektif hanya pada ilmu formal, tetapi belajar dari kehidupan itu sendiri. Dari pengalaman pahit, dari kesalahan, dari kritik, bahkan dari orang-orang yang tidak disukai. Setiap peristiwa selalu membawa pesan pembelajaran bagi mereka yang bersedia membuka kesadaran. Namun, personal excellence tidak berhenti pada keberhasilan pribadi. Keunggulan yang sejati selalu bermuara pada kebermanfaatan. Seseorang belum bisa disebut unggul jika kehadirannya tidak membawa kebaikan bagi lingkungan. Dalam konteks ini, personal excellence berkelindan dengan kepemimpinan moral—memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain. Keunggulan personal juga harus berpijak pada nilai spiritual. Kesuksesan tanpa nilai hanya akan melahirkan kegelisahan batin. Sebaliknya, keberhasilan yang selaras dengan nilai akan melahirkan ketenangan, rasa cukup, dan keberkahan. Personal excellent bukan tentang memiliki lebih banyak, tetapi tentang menjadi lebih bermakna. On Becoming Personal Excellent pada akhirnya adalah sebuah ajakan reflektif: Apakah kita sedang benar-benar bertumbuh, atau sekadar sibuk? Apakah kita sedang belajar, atau hanya mengulang kebiasaan lama dengan cara yang berbeda? Menjadi pribadi unggul adalah keputusan sadar, yang harus diperbarui setiap hari. Ia menuntut kejujuran pada diri sendiri, keberanian menghadapi kelemahan, dan komitmen jangka panjang untuk terus memperbaiki kualitas hidup—pikiran, sikap, dan tindakan. Karena personal excellence bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang tidak berhenti menjadi lebih baik.

Prespektif, Ruang Kita

Prabowo: Duplikasi Jokowi Style

Prabowo: Duplikasi Jokowi Style   Ketika Bencana Dijadikan Latar, dan Kegaduhan Dijadikan Alat Tiga minggu bencana banjir besar melanda Sumatera. Dalam hitungan kemanusiaan, tiga minggu adalah waktu yang terlalu lama untuk sekadar menunggu. Dalam standar penanggulangan bencana, tiga minggu pertama adalah fase krusial: fase penyelamatan, pemenuhan kebutuhan dasar, dan pemulihan awal. Namun hingga memasuki minggu ketiga, realitas di lapangan menunjukkan satu fakta pahit: masih banyak korban yang belum terjangkau negara. Akses logistik tersendat, distribusi bantuan tidak merata, dan koordinasi antarinstansi berjalan lamban. Negara hadir, tetapi tidak sepenuhnya bekerja. Presiden Prabowo Subianto, sebagai pemegang komando tertinggi pemerintahan, memperlihatkan respons yang jauh dari urgensi situasi. Pola ini mengingatkan publik pada satu gaya lama yang seharusnya sudah ditinggalkan: lamban di krisis, aktif di pencitraan. Status Bencana Nasional yang Terlambat Penetapan status bencana nasional bukan sekadar label administratif. Dalam kerangka UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, status ini adalah kunci untuk: percepatan komando nasional, kemudahan mobilisasi anggaran lintas kementerian, percepatan pengerahan TNI, Polri, dan sumber daya nasional, serta pembukaan akses bantuan internasional. Ketika status ini ditetapkan terlambat, konsekuensinya nyata: keterlambatan bantuan berarti penderitaan yang diperpanjang. Kelambanan ini bukan soal teknis, melainkan soal keberanian politik. Dan di titik ini, keberanian itu absen. Penolakan Bantuan Luar Negeri: Nasionalisme Palsu Alasan pemerintah menolak bantuan dari luar negeri terdengar patriotik di permukaan, tetapi rapuh secara nalar. Tidak ada satu pun konsep hukum yang menyatakan bahwa menerima bantuan kemanusiaan menghilangkan kedaulatan negara. Justru sebaliknya, dalam hukum humaniter internasional, negara berkewajiban menerima bantuan jika kemampuan domestik tidak mencukupi. Lebih absurd lagi adalah klaim “bantuan pemerintah”. Sejak kapan pemerintah memiliki kekayaan sendiri? Semua dana yang digunakan negara berasal dari pajak rakyat, utang rakyat, dan pengelolaan sumber daya alam milik rakyat. Maka ketika negara menolak bantuan, sesungguhnya yang dikorbankan adalah rakyat, bukan martabat negara. Banjir Sumatera dan Terbukanya Borok Lama Banjir besar di Sumatera bukan fenomena alam murni. Ia adalah akumulasi dari kebijakan yang salah dan pembiaran yang disengaja. Deforestasi masif, eksploitasi tambang tanpa kendali, dan rusaknya daerah aliran sungai adalah faktor struktural yang selama ini disangkal. Di sinilah bencana menjadi “pembuka arsip”. Praktik mafia hutan dan tambang kembali terkuak. Izin-izin bermasalah, konsesi rakus, dan jejaring kekuasaan yang melindungi kejahatan lingkungan perlahan muncul ke permukaan. Dalam literasi ekologi politik, ini adalah bentuk kejahatan lingkungan sistemik yang dilindungi negara (state-corporate crime). Teradrone dan Pola Pembungkaman Ketika satu per satu pihak yang memegang bukti mulai dibidik, pola lama kembali bekerja. Kantor Teradrone dibakar, direkturnya dijadikan tersangka. Teradrone diketahui memegang data dan bukti penting terkait praktik mafia hutan dan tambang. Alih-alih dilindungi sebagai sumber informasi, justru dihancurkan. Ini bukan peristiwa tunggal, melainkan pola klasik kekuasaan korup: mengamankan pelaku besar dengan mengorbankan pembawa bukti. Dalam literasi hukum kritis, ini dikenal sebagai selective law enforcement dan criminalization of inconvenient actors. Kegaduhan sebagai Strategi Kekuasaan Sejarah kekuasaan mengajarkan satu hal: penguasa korup tidak pernah menghadapi krisis dengan transparansi. Mereka menciptakan kegaduhan baru untuk menutup kasus lama. Dan kegaduhan itu akhirnya muncul dalam bentuk Peraturan Kepolisian Nomor 10 Tahun 2025. Perpol ini membuka ruang bagi anggota Polri aktif untuk menduduki jabatan sipil di 17 kementerian dan lembaga negara. Padahal Mahkamah Konstitusi melalui Putusan MK Nomor 114/PUU-XXIII/2025 telah menegaskan bahwa anggota Polri hanya dapat menduduki jabatan sipil setelah mengundurkan diri atau pensiun. Putusan MK bersifat final dan mengikat. Tidak ada ruang tafsir ulang. Tidak ada ruang kompromi. Maka ketika Perpol 10/2025 diterbitkan, ini bukan kesalahan teknis, melainkan tindakan sadar yang melawan konstitusi. Guru Besar Hukum Tata Negara Prof. Mahfud MD secara tegas menyatakan bahwa Perpol tersebut bertentangan langsung dengan putusan MK dan tidak memiliki dasar dalam UU Polri maupun UU ASN. Ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun peraturan internal yang boleh menundukkan konstitusi. Pembangkangan Konstitusi yang Disengaja Penting untuk ditegaskan: mereka tahu ini melanggar hukum. mereka tahu ini bertentangan dengan MK. Namun tetap dilakukan. Mengapa? Karena kegaduhan adalah alat. Ketika publik terbelah oleh polemik Perpol, perhatian terhadap: banjir Sumatera yang belum tertangani, mafia hutan dan tambang, serta tanggung jawab negara perlahan menghilang dari ruang publik. Inilah Jokowi Style Pola ini tidak lahir hari ini. Ini adalah warisan gaya kekuasaan Jokowi: menunda penyelesaian substansi, menciptakan konflik di permukaan, mengelola narasi alih-alih tanggung jawab, dan mengorbankan kepentingan publik demi stabilitas kekuasaan. Kini pola itu tidak hanya diteruskan, tetapi diduplikasi secara utuh oleh Prabowo. Bencana yang Sesungguhnya Banjir Sumatera adalah tragedi. Namun tragedi yang lebih besar adalah ketika: bencana diperlakukan sebagai gangguan politik, hukum diperlakukan sebagai alat kekuasaan, dan konstitusi diperlakukan sebagai rintangan. Jika pola ini dibiarkan, maka Indonesia tidak hanya menghadapi krisis lingkungan, tetapi krisis negara hukum. Dan sejarah selalu mencatat dengan kejam: bukan siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling abai terhadap penderitaan rakyatnya. Suwatno Ibnu Sudihardjo, Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Paganisme Era Digital

Paganisme Era Digital Paradoks Baru Rakyat Indonesia Di era ketika seluruh dunia berada dalam genggaman layar 6 inci, saat semua orang bisa belajar apa saja tanpa harus duduk di bangku kuliah, kita justru menyaksikan fenomena yang tidak diduga para antropolog: kembalinya paganisme dalam bentuk paling modern dan paling ironis. Bukan penyembahan pohon keramat, bukan memuja patung atau benda magis. Paganisme di era digital justru menjelma dalam bentuk yang jauh lebih halus: penyembahan terhadap pemimpin politik. Di tengah derasnya arus data, logika justru banyak tenggelam. Kita melihat sebagian rakyat Indonesia berubah menjadi “penganut setia” dalam sebuah “agama politik baru,” di mana pemimpin yang seharusnya dikontrol justru diagungkan, disakralkan, dan dibela mati-matian. Paradoks Besar Bangsa Digital Di negara demokrasi, rakyat adalah pemilik kedaulatan tertinggi. Pada kertas konstitusi, rakyat adalah majikan, pemimpin hanyalah pelayan. Tapi dalam kenyataan, logika ini sering terbalik seperti sandal jepit tertukar di masjid: Pemimpin disembah seperti dewa. Kebijakan dianggap wahyu. Kritik dianggap dosa besar. Fakta ditolak, akal sehat dimatikan. Semua ini terjadi meski kita hidup di zaman di mana kebenaran bisa dicari dalam 10 detik lewat mesin pencari. Ironinya, akses pengetahuan yang tak terbatas tidak otomatis membuat sebagian orang lebih kritis. Sebaliknya, banyak yang larut dalam fanatisme politik, sibuk memuja “idola kekuasaan” sambil menutup mata terhadap penyimpangan. Inilah mental paganisme modern: pemujaan terhadap manusia yang penuh salah, seolah mereka makhluk sempurna tanpa noda. — Ketika Pemimpin Dianggap Sesembahan Kita sering melihat fenomena aneh yang berulang: Ketika pemimpin berbuat salah — dibela. Ketika pemimpin melanggar hukum — ditutupi. Ketika pemimpin gagal — disalahkan rakyat, oposisi, bahkan takdir. Ketika rakyat menderita — pemimpin tetap dipuja. Padahal, pemimpin itu dipilih oleh rakyat, digaji dengan uang rakyat, diberi mandat oleh rakyat, dan seharusnya disupervisi oleh rakyat. Namun ketika rakyat terseret mental sahaya, semuanya berubah: kontrol berubah jadi kultus, kritik berubah jadi kebencian, pengawasan berubah jadi pengorbanan buta, demokrasi berubah jadi panggung fanatisme. Beginilah paganisme bekerja: logika lenyap, yang tersisa hanya rasa takjub dan penyembahan. — Akar Masalah: Hilangnya Kesadaran Kedaulatan Rakyat Rakyat kadang lupa bahwa: mereka bukan hamba kekuasaan, mereka bukan pengikut yang harus patuh, mereka bukan beban yang harus diatur, mereka adalah pemegang mandat tertinggi negara. Dalam demokrasi, pemimpin bukan “raja baru,” bukan “orang suci,” apalagi “dewa penolong.” Mereka hanyalah pekerja publik yang wajib diukur kinerjanya, dipuji ketika benar, dan dikritik ketika melenceng. Tanpa kesadaran itu, rakyat sendiri yang membuka pintu menuju kehancuran bangsa — bukan karena tirani pemimpin, tetapi karena paganisme rakyat yang membuat pemimpin kebal dari kritik. Saatnya Beranjak dari Paganisme Menuju Kedewasaan Politik Sebagai bangsa besar, kita hanya punya dua pilihan: 1. Terus menuhankan pemimpin, lalu menanggung akibatnya: kesalahan dibiarkan, korupsi membesar, kekuasaan tak terkendali. 2. Menjadi rakyat dewasa, yang: mendukung kebaikan, mengoreksi kesalahan, menjaga akal sehat, menempatkan pemimpin pada posisi semestinya: pekerja negara, bukan sesembahan. Karena pemimpin memang bisa salah, bisa lupa, bisa tergoda kekuasaan — itulah manusia. Tetapi rakyat tidak boleh ikut tersesat. Di era digital ini, musuh terbesar bangsa bukan lagi kurangnya informasi, melainkan mental paganisme politik yang membuat sebagian orang rela menutup mata pada kebenaran. Dan selama mental ini belum berubah, teknologi secanggih apa pun tak akan mampu menyelamatkan bangsa.   Suwatnoibnusudihardjo, Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Kalian Bajingan

Kalian Bajingan   Ya, kalian memang bajingan. Bukan sekadar kasar dalam perilaku, tetapi bajingan dalam pilihan sadar—pilihan untuk merusak Bangsa dan Negara Indonesia demi kepentingan sempit kalian sendiri. Bangsa ini tidak rusak oleh rakyat kecil. Tidak oleh korban bencana. Tidak oleh mereka yang menjerit karena ketidakadilan. Bangsa ini rusak karena kalian, para relawan kekuasaan, yang dengan sengaja menghadirkan dan memelihara penguasa zalim dan korup. Kalianlah yang membuka jalan menuju kekuasaan. Kalian yang memoles kebusukan menjadi prestasi. Kalian yang mengubah dusta menjadi narasi. Kalian yang membungkam kebenaran lalu menuding siapa pun yang kritis sebagai musuh negara. Kalian para relawan kekuasaan adalah bajingan, karena kalian diam ketika musibah kemanusiaan dan bencana alam terjadi. Saat rakyat kehilangan rumah, kehilangan keluarga, kehilangan masa depan—kalian menghilang. Tidak ada empati. Tidak ada solidaritas. Tidak ada kerja nyata. Kalian tidak sibuk menggalang bantuan. Kalian tidak hadir di lumpur, di puing-puing, di tenda pengungsian. Karena penderitaan rakyat tidak menghasilkan cuan. Namun kalian ribut, gaduh, dan beringas ketika tuan kalian dikritik karena melakukan kesalahan. Kritik kalian sebut kebencian. Fakta kalian sebut fitnah. Akal sehat kalian serang dengan kebisingan massal. Kalian lebih tersinggung ketika penguasa disinggung, daripada ketika rakyat mati sia-sia. Di situlah wajah asli kalian terbuka. Kalian bajingan karena bagi kalian, urusan Bangsa dan Negara hanyalah urusan perdagangan. Segalanya bisa ditukar. Segalanya bisa ditawar. Segalanya ada harganya. Nilai ditukar jabatan. Nurani ditukar proyek. Kebenaran ditukar akses. Kalian bajingan karena bagi kalian, urusan negara dan bangsa hanya sebatas cuan. Bansos dijadikan alat politik. Parkir dijadikan wilayah kuasa. Proyek dibagi sebagai upah loyalitas. Tambang dirampas atas nama pembangunan. Kursi menteri dan komisaris dijadikan hadiah kesetiaan. Rakyat hanya statistik. Lingkungan hanya angka. Masa depan bangsa hanya catatan kaki. Lebih menjijikkan lagi, kalian bajingan karena menjadikan pemimpin politik sebagai Tuhan sesembahan. Tidak boleh salah. Tidak boleh dikritik. Tidak boleh dimintai pertanggungjawaban. Kalian sembah kekuasaan dengan cara mematikan nalar sendiri. Kalian sucikan pemimpin dengan mengorbankan konstitusi. Kalian jaga citra tuan dengan menginjak martabat rakyat. Padahal pemimpin politik hanyalah manusia biasa: dipilih rakyat, digaji rakyat, dan seharusnya tunduk pada hukum serta kritik rakyat. Namun di tangan kalian, pemimpin politik berubah menjadi berhala—disembah, dibela, dan dipertahankan meski jelas merusak. Kalian bukan relawan. Kalian bukan pejuang. Kalian bukan pembela bangsa. Kalian adalah pedagang kekuasaan, makelar kebusukan, dan penjaga sistem rusak yang membuat kejahatan terasa normal dan pengkhianatan tampak wajar. Kalian menjual negeri ini sedikit demi sedikit, sambil berteriak paling nasionalis dan paling patriotik. Dan jangan khawatir— sejarah tidak pernah lupa. Sejarah tidak hanya mencatat siapa yang berkuasa, tetapi juga siapa saja yang dengan sadar menjadi alat kekuasaan ketika Bangsa dan Negara dikhianati. Dan di halaman itu, nama kalian akan tertulis jelas: bajingan yang memilih berpihak pada kekuasaan, bukan pada kemanusiaan.   Suwatno Ibnu Sudihardjo,Antarkita

Coach Imansu, Ruang Kita

Menjaga Pendidikan Tetap Berjiwa Sosial: Pelajaran dari MIT

Menjaga Pendidikan Tetap Berjiwa Sosial: Pelajaran dari MIT Massachusetts Institute of Technology (MIT) memperoleh pendapatan non SPP (non tuition) bukan dari berbisnis. Hal ini bukan kebetulan, melainkan pilihan sadar yang lahir dari pemahaman mendalam tentang hakikat pendidikan. Mengapa ini penting? Karena ketika pendapatan non tuition sebuah kampus bersumber dari aktivitas bisnis, maka secara perlahan kampus tersebut bergeser dari institusi pendidikan yang berkarakter sosial menjadi organisasi bisnis layaknya perusahaan. Pergeseran ini berbahaya. Ia menggerus ruh pendidikan, mengubah relasi akademik menjadi relasi transaksional, dan pada akhirnya menjauhkan pendidikan dari misi peradaban. MIT memahami risiko itu. Karena itulah MIT secara konsisten menghindarinya. Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya MIT membiayai dirinya tanpa terjebak pada bisnis? Jawabannya terletak pada apa yang disebut sebagai Indeks Wakafisasi (IW). IW adalah sebuah ukuran yang menggambarkan kemampuan lembaga pendidikan dalam menjadikan dana wakaf atau dana abadi (endowment fund) sebagai penopang utama keberlangsungan institusi. IW merupakan kebalikan dari Indeks Ketergantungan (IK), yaitu ketergantungan lembaga pendidikan terhadap uang yang dibayarkan oleh peserta didik. IW dapat diukur melalui dua pendekatan: lag indicator dan lead indicator. Lag indicator menggambarkan hasil dari sebuah proses, sedangkan lead indicator mencerminkan upaya strategis yang sedang dan akan terus dilakukan. Jika diukur melalui lag indicator, IW dihitung dari persentase pendapatan yang berasal dari hasil investasi dana abadi dibandingkan dengan total pendapatan lembaga pendidikan. Dalam laporan keuangan MIT tahun 2024, pendapatan dari hasil investasi dana abadi tercatat sebesar USD 1,48 miliar, sementara total pendapatan kampus mencapai USD 5,07 miliar. Dengan demikian, IW MIT berbasis lag indicator berada pada angka 29%. Artinya, hampir sepertiga pendapatan MIT berasal dari hasil pengelolaan dana abadi, bukan dari mahasiswa. Penting untuk dicatat, pendapatan dana abadi tersebut diperoleh melalui investasi, bukan bisnis. MIT mendirikan MIT Investment Management Company (MITIMCO), sebuah entitas berbadan hukum PT yang berfungsi sebagai investing company, bukan operating company. Dengan model ini, MIT tidak menjalankan bisnis secara langsung. MIT tidak masuk ke arena persaingan usaha yang keras dan sering kali bertentangan dengan karakter sosial pendidikan. Sebaliknya, dana investasi MIT justru memperkuat perusahaan-perusahaan operasional yang menjadi investee berkualitas. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa dominasi Amerika Serikat—yang menyumbang hampir 700 dari 2.000 perusahaan terbesar dunia berdasarkan omzet, laba, aset, dan kapitalisasi pasar—tidak bisa dilepaskan dari peran institusi pendidikan seperti MIT melalui investasi endowment fund-nya. Lalu, berapa nilai IK MIT? Pada tahun 2024, pendapatan MIT dari tuition fee tercatat sebesar USD 428 juta. Jika dibandingkan dengan total pendapatan sebesar USD 5,07 miliar, maka nilai IK MIT hanya sekitar 8%. Angka ini menunjukkan bahwa MIT tidak bergantung pada mahasiswa untuk membiayai keberlangsungan institusinya. Di sinilah terlihat dengan jelas bahwa IW dan IK saling berlawanan: semakin tinggi IW, semakin rendah IK. Jika IW diukur melalui lead indicator, hasilnya bahkan lebih mencengangkan. Dalam laporan keuangan yang sama, nilai aset investasi dana abadi MIT mencapai USD 31,76 miliar, sementara total aset kampus sebesar USD 39,98 miliar. Artinya, 79% aset MIT berbentuk aset investasi wakaf. Ini menunjukkan bahwa secara struktural MIT telah menempatkan wakaf sebagai fondasi utama institusinya. Lawan dari IW berbasis lead indicator adalah Indeks Aset Operasional (IO). Dari total aset MIT, aset operasional berupa tanah, gedung, dan peralatan pendidikan hanya sebesar USD 5,43 miliar, atau sekitar 14% dari total aset. Makin rendah IO, makin tinggi IW. Keduanya bergerak berlawanan. MIT memilih jalan ini dengan sadar: kampus bukan ditopang oleh gedung megah, melainkan oleh dana abadi yang produktif. Kini pertanyaannya beralih kepada kita. Anda pengelola lembaga pendidikan? Sudahkah Anda menghitung IW lembaga yang Anda kelola? Berapa IW jika diukur dengan lag indicator? Berapa jika diukur dengan lead indicator? IW yang rendah—terutama jika berada di bawah 50% pada pendekatan lead indicator—menjadi sinyal bahwa lembaga pendidikan tersebut membutuhkan upaya serius untuk mendayagunakan wakaf atau endowment fund. Untuk menjadi lebih baik, tidak ada jalan pintas. Dibutuhkan strategi yang tepat, yang disusun secara komprehensif dalam sebuah roadmap lembaga pendidikan. Roadmap ini harus berangkat dari kondisi IW saat ini, menuju IW di atas 50%, dan dalam jangka panjang bisa meneladani MIT dengan IW lead indicator sebesar 79%. Menariknya, MIT yang IW-nya sudah sangat tinggi pun masih terus menggali donasi. Ini menunjukkan dua hal penting. Pertama, IW MIT ke depan masih akan terus meningkat. Kedua, dan yang jauh lebih penting, masyarakat masih memandang MIT sebagai institusi pendidikan berkarakter sosial, bukan institusi bisnis. Perlu ditegaskan, IW dibangun melalui donasi masyarakat, bukan dari menyisihkan laba operasional. Bagaimana dengan lembaga pendidikan yang Anda pimpin? Sudahkah masyarakat berbondong-bondong menyumbang untuk endowment fund atau aset wakaf? Jika belum, bisa jadi masalahnya bukan pada masyarakat, melainkan pada persepsi. Jangan-jangan lembaga pendidikan tersebut lebih dipandang sebagai institusi bisnis. Dan satu hal yang pasti: tidak ada yang mau menyumbang institusi bisnis. Secara akuntansi, IK yang tinggi—terlebih jika mendekati atau mencapai 100%—adalah tanda bahwa lembaga pendidikan tersebut masih sangat jauh dari kondisi ideal. Mengapa harus fokus pada IW berbasis lead indicator? Karena itulah indikator yang paling bisa dikendalikan. Jika aset wakaf sudah kuat, tugas berikutnya adalah bagaimana fund manager bekerja mengonversinya menjadi pendapatan berkelanjutan. Peran ini persis seperti perusahaan investasi. Di Indonesia, analoginya bisa dilihat pada Saratoga. Lalu, apa yang akan Anda lakukan? Jika diperlukan, SNF Consulting siap membantu menyusun roadmap dan strategi wakaf atau endowment fund. Semoga kita semua bisa berkontribusi mengembangkan aset wakaf untuk dunia pendidikan. Mengubah pendidikan yang transaksional menjadi pendidikan yang berjiwa sosial. Berperan membangun amal jariah, bukan hanya untuk kehidupan dunia, tetapi juga untuk kehidupan setelah kematian. Semoga. Karya ke-492, Iman Supriyono, Ditulis di Kantor Pusat SNF Consulting, di jantung Kota Pahlawan, 18 November 2025

Coach Imansu, Ruang Kita

Mengapa MIT Tidak Berbisnis: Kunci Menjaga Pendidikan Tetap Berkarakter Sosial

Mengapa MIT Tidak Berbisnis: Kunci Menjaga Pendidikan Tetap Berkarakter Sosial MIT memperoleh pendapatan non-SPP (non tuition) bukan dari berbisnis. Ini bukan kebetulan, bukan pula karena MIT tidak mampu berbisnis. Justru sebaliknya, MIT sangat mampu jika ingin mengubah dirinya menjadi korporasi bisnis raksasa berbasis teknologi. Namun jalan itu secara sadar dihindari. Mengapa hal ini penting? Karena ketika pendapatan non-tuition sebuah kampus diperoleh dari bisnis operasional, maka secara perlahan kampus tersebut berubah dari institusi pendidikan berkarakter sosial menjadi organisasi bisnis seperti perusahaan. Ketika itu terjadi, logika pendidikan akan tunduk pada logika laba. Dan inilah yang berbahaya. Pendidikan kehilangan ruhnya. Itulah sebabnya MIT tidak memilih jalan berbisnis. Lalu bagaimana caranya MIT tetap mampu membiayai operasional kampus, menggaji dosen terbaik dunia, membiayai riset mutakhir, dan memberi beasiswa luas tanpa bergantung pada uang kuliah mahasiswa? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mulai dengan satu konsep kunci: Indeks Wakafisasi (IW). Indeks Wakafisasi (IW) Indeks Wakafisasi (IW) adalah sebuah terminologi untuk mengukur kemampuan sebuah lembaga pendidikan—baik sekolah, perguruan tinggi, maupun pondok pesantren—dalam mendayagunakan dana wakaf atau dana abadi (endowment fund) sebagai penopang utama pendapatan lembaga. IW adalah kebalikan dari Indeks Ketergantungan (IK), yaitu tingkat ketergantungan lembaga pendidikan terhadap pendapatan yang bersumber langsung dari peserta didik. Semakin tinggi IW, semakin rendah IK. Dan semakin rendah IK, semakin kecil kemungkinan pendidikan berubah menjadi transaksional. Dengan kerangka ini, kita bisa melihat secara jernih bagaimana MIT menyusun struktur pendapatannya. Empat Sumber Pendapatan Lembaga Pendidikan Secara umum, sumber pendapatan lembaga pendidikan dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori utama. Pertama, pendapatan yang bersumber langsung dari peserta didik. Ini adalah bentuk paling umum dan paling mudah dikenali: uang sekolah, SPP, UKT, uang kuliah, uang bulanan, atau uang syahriah dari santri. Pendapatan jenis ini sah secara administratif, namun jika porsinya dominan, maka pendidikan akan cenderung bersifat transaksional. Guru, dosen, dan ustadz hidup dari uang peserta didiknya. Kedua, pendapatan dari proyek berbasis keilmuan. Ini bukan bisnis. Ini adalah hasil dari mempraktikkan ilmu. MIT, misalnya, memiliki lembaga riset bernama Lincoln Laboratory. Lembaga ini mendapatkan proyek riset dari pemerintah federal Amerika Serikat, khususnya dari Departemen Pertahanan—yang pada era Presiden Trump sempat disebut sebagai Departemen Perang. Pendapatan ini lahir dari kompetensi akademik, bukan dari aktivitas jual beli komersial. Ketiga, pendapatan dari investasi dana abadi. Inilah jantung dari model MIT. MIT secara konsisten menggalang endowment fund dari masyarakat—dalam terminologi Islam disebut wakaf. Dana ini tidak dihabiskan, tidak pula dipakai untuk operasional harian. Dana tersebut diinvestasikan dengan tata kelola modern, dan hasil investasinya digunakan untuk membiayai operasional kampus. Inilah bentuk pendapatan yang paling berkelanjutan dan paling menjaga karakter sosial lembaga pendidikan. Keempat, pendapatan lain-lain. Ini adalah pendapatan yang tidak termasuk dalam tiga kategori sebelumnya. Biasanya porsinya kecil dan tidak strategis, serta tidak dijadikan tulang punggung pembiayaan. Pelajaran Penting dari MIT Dari struktur pendapatan tersebut, kita bisa menarik satu pelajaran kunci: MIT menjaga IW tetap tinggi dengan menjadikan pendapatan investasi dana abadi sebagai penopang utama, bukan uang kuliah mahasiswa dan bukan bisnis operasional. Inilah sebabnya MIT bisa menjaga pendidikan tetap berkarakter sosial, meski beroperasi dalam ekosistem kapitalisme global. Inilah pula sebabnya dosen tidak “dibayar” mahasiswa, dan mahasiswa tidak merasa sedang membeli jasa pendidikan. Pertanyaannya kini kembali kepada kita. Bagaimana dengan lembaga pendidikan yang kita kelola? Berapa IW-nya? Dan seberapa besar ketergantungannya pada uang peserta didik? Jika lembaga pendidikan ingin keluar dari jebakan pendidikan transaksional, maka tidak ada jalan lain kecuali meningkatkan Indeks Wakafisasi (IW) melalui pembangunan dan pengelolaan dana abadi yang profesional. Tanpa itu, pendidikan akan terus bergantung pada transaksi, dan kehilangan ruh sosialnya. Semoga kita mampu belajar, bahkan dari MIT yang berada jauh di belahan dunia lain, tentang bagaimana menjaga pendidikan tetap mulia, berkelanjutan, dan menjadi amal jariah lintas generasi. Karya ke-492,Iman Supriyono,Ditulis di Kantor Pusat SNF Consulting,di jantung Kota Pahlawan,18 November 2025

Coach Imansu, Ruang Kita

Cegah Pendidikan Transaksional

Cegah Pendidikan Transaksional Pendidikan tidak boleh berkarakter transaksional. Pendidikan adalah amanah peradaban, bukan sekadar pertukaran jasa. Ketika pendidikan direduksi menjadi transaksi, maka yang lahir bukan lagi proses pemanusiaan manusia, melainkan sekadar relasi penjual dan pembeli. Penanda paling jelas dari pendidikan yang berkarakter transaksional adalah ketika guru dibayari murid, dosen dibayari mahasiswa di dunia perguruan tinggi, atau ustadz dibayari santri di dunia pondok pesantren. Tentu saja, praktik ini tidak pernah terlihat secara fisik. Tidak ada murid yang setiap pagi menyerahkan uang tunai kepada gurunya sebelum pelajaran dimulai. Tidak ada santri yang selepas ngaji menyodorkan amplop ke ustadznya. Tidak pula mahasiswa yang mentransfer uang ke rekening dosennya setelah ujian akhir semester. Namun secara substansi, praktik itu bisa saja terjadi. Bukan secara kasat mata, melainkan secara struktural. Lalu bagaimana cara mengetahuinya? Tidak ada cara lain kecuali dengan membaca laporan keuangan lembaga pendidikan tersebut. Dari sanalah kita bisa melihat: dari mana sumber pendapatan lembaga pendidikan berasal, dan siapa sejatinya yang membiayai proses pendidikan. Untuk memperjelas persoalan ini, saya akan mengambil contoh laporan keuangan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kampus yang dikenal dengan singkatan MIT ini pantas dijadikan acuan, paling tidak karena lima alasan utama. Pertama, MIT adalah kampus swasta murni yang berbadan hukum non profit corporation. Tidak ada keraguan tentang misi sosial lembaga pendidikan ini. Dalam tata hukum Indonesia, non profit corporation setara dengan perkumpulan. Ini adalah badan hukum yang secara sadar dipilih oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan ketika mendirikan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Hingga hari ini, NU dan Muhammadiyah tetap berbadan hukum perkumpulan, bukan yayasan. Pilihan badan hukum ini menunjukkan orientasi jangka panjang dan misi sosial yang kuat, bukan orientasi bisnis. Kedua, MIT secara konsisten berada di peringkat pertama QS World University Rankings. Kampus-kampus terbaik dunia kalah bersaing dengan MIT, padahal luas lahannya hanya sekitar 68 hektar. Bandingkan dengan Universitas Indonesia yang luas lahannya lebih dari tiga kali MIT, namun berada di peringkat 189 dunia. Atau NTU Singapura yang berada di peringkat 12 dunia. Prestasi MIT menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh luas lahan atau besarnya gedung, melainkan oleh tata kelola dan keberlanjutan ekosistem akademiknya. Ketiga, MIT telah melahirkan 105 penerima Hadiah Nobel. Ini bukan angka yang main-main. Hingga hari ini, perguruan tinggi besar di Indonesia seperti UI, ITB, ITS, Unair, IPB, maupun UGM belum menghasilkan satu pun peraih Nobel dari kalangan alumni atau dosen tetapnya. Bahkan NTU Singapura pun belum mencatatkan penerima Nobel dari internal kampusnya. Ini menunjukkan betapa kuatnya ekosistem riset dan akademik MIT. Keempat, berdasarkan laporan keuangan tahun 2024, uang kuliah mahasiswa (UKT, SPP, tuition fee) hanya berkontribusi sekitar 8% dari total pendapatan MIT. Angka ini sangat penting. Artinya, MIT telah keluar sepenuhnya dari paradigma dosen dibayari mahasiswa. Gaji dosen, fasilitas riset, dan operasional kampus tidak bergantung pada uang mahasiswa, melainkan ditopang oleh sumber lain yang berkelanjutan. Kelima, MIT memperoleh pendapatan non-SPP bukan dari aktivitas bisnis operasional. Ini poin yang sering disalahpahami. Mengapa ini penting? Karena jika pendapatan non-tuition diperoleh dari bisnis—misalnya kampus membuka usaha komersial besar-besaran—maka kampus berpotensi bergeser dari institusi pendidikan berkarakter sosial menjadi organisasi bisnis. Dan itu berbahaya. Pendidikan tidak boleh dikendalikan oleh logika laba. MIT memperoleh pendapatan non-tuition terutama dari endowment fund (dana abadi/wakaf) yang dikelola secara profesional. Dana inilah yang diinvestasikan dan hasil investasinya digunakan untuk membiayai operasional kampus, riset, beasiswa, dan kesejahteraan dosen. Dari sini kita belajar satu hal penting: pendidikan yang tidak transaksional hanya mungkin terwujud jika lembaga pendidikan memiliki dana abadi yang kuat. Selama sebuah lembaga pendidikan hidup dari uang murid, santri, atau mahasiswa, maka selama itu pula pendidikan akan terus bersifat transaksional. Maka upaya mencegah pendidikan transaksional bukan sekadar soal niat baik, tetapi soal desain kelembagaan dan tata kelola keuangan. Pertanyaannya kini kembali kepada kita: Bagaimana dengan lembaga pendidikan yang kita kelola atau kita cintai? Apakah guru masih “dibayar” murid? Apakah dosen masih “dibayar” mahasiswa? Apakah ustadz masih “dibayar” santri? Jika jawabannya ya—meski tidak secara langsung—maka pekerjaan rumah kita masih sangat besar. Membangun pendidikan berkarakter sosial berarti membangun wakaf pendidikan dan endowment fund secara serius, profesional, dan berjangka panjang. Inilah ikhtiar untuk menjaga marwah pendidikan. Agar pendidikan kembali menjadi jalan pengabdian, bukan sekadar transaksi. Agar guru, dosen, dan ustadz dapat mendidik dengan merdeka. Dan agar lembaga pendidikan menjadi amal jariah yang pahalanya terus mengalir lintas generasi. Karya ke-492,Iman Supriyono,Ditulis di Kantor Pusat SNF Consulting,di jantung Kota Pahlawan,18 November 2025

Scroll to Top