You are currently viewing Bangga Hidup Miskin  Pelajaran Panjang dari Guru Kehidupan

Bangga Hidup Miskin Pelajaran Panjang dari Guru Kehidupan

Bangga Hidup Miskin

Pelajaran Panjang dari Guru Kehidupan

Suwatnoibnusudihardjo

Antarkita

 

Antara terkejut, kaget, aneh, dan lucu. He… he… he…

Begitulah reaksi saya ketika Kang Slamet, dengan wajah santai dan nada bercanda, mengucapkan satu kalimat yang terdengar tidak masuk akal bagi banyak orang.

“Saya bangga hidup miskin.”

Saya tertawa. Kang Slamet ikut tertawa. Namun tawa itu tidak lama. Ia terdiam sejenak, menyeruput kopi, lalu berkata, lebih pelan,

“Kalimat ini bukan saya yang bikin. Ini saya dapet dari guru kehidupan saya.”

Sejak kalimat itu, suasana obrolan berubah. Kang Slamet mulai bercerita tentang masa ketika hidupnya benar-benar berada di bawah. Masa ketika ia tidak punya apa-apa selain tenaga dan harapan. Masa ketika iri melihat teman-temannya sudah mapan, sementara dirinya masih berkutat dengan kebutuhan paling dasar.

“Waktu itu,” katanya, “saya sering mengeluh ke beliau. Rasanya hidup nggak adil. Kerja keras iya, tapi hasilnya segitu-gitu saja.”

Guru kehidupannya tidak menasehati panjang lebar. Tidak mengutip ayat atau teori. Ia hanya mendengarkan. Lalu suatu hari, dengan nada datar tapi menembus hati, guru itu berkata:

“Le, kamu jangan takut hidup miskin. Takutlah kalau hidupmu kotor.”

Kang Slamet mengaku kalimat itu membuatnya diam lama. Ia tidak langsung paham. Guru itu lalu melanjutkan:

“Banyak orang hari ini kelihatan kaya, tapi hatinya miskin. Kamu jangan iri sama tampilan. Tampilan itu sering menipu.”

Di situlah pertama kali Kang Slamet mendengar istilah bangga hidup miskin. Bukan sebagai slogan, tapi sebagai sikap batin. Guru kehidupannya menjelaskan bahwa bangga hidup miskin bukan berarti memilih kekurangan, melainkan memilih tidak menjual nilai hidup demi kenyamanan sesaat.

Guru itu berkata lagi,

“Lebih baik kamu kelihatan miskin tapi tidur nyenyak, daripada kelihatan kaya tapi hidup was-was.”

Kalimat itu pelan, tapi berat. Sejak saat itu, Kang Slamet mulai melihat hidup dari sudut pandang berbeda. Hidup bukan tentang seberapa cepat naik, tapi seberapa kuat menjaga diri agar tidak tergelincir.

Guru kehidupannya sering mengingatkan,

“Rezeki itu urusan Gusti Allah. Tapi cara nyarinya, itu tanggung jawab kamu.”

Dari situlah Kang Slamet belajar bahwa tidak semua peluang adalah rezeki, dan tidak semua keuntungan membawa keberkahan. Ada saat-saat ketika peluang datang dengan hitung-hitungan besar, tapi hati kecil terasa tidak nyaman. Di momen seperti itu, suara guru kehidupannya selalu hadir.

“Kalau nurani kamu sudah nolak, berarti itu bukan jatahmu.”

Prinsip bangga hidup miskin menjadi pagar hidup Kang Slamet. Pagar yang membuatnya berani menolak jalan pintas, meski kondisi hidup sedang menekan. Ia memilih hidup sederhana, bukan karena tidak mampu bermimpi, tapi karena tidak ingin kehilangan arah.

Di zaman sekarang, ketika pencitraan dan flexing menjadi kebiasaan, prinsip ini terasa semakin kontras. Dunia mengajarkan: tampil dulu, urusan benar belakangan. Guru kehidupannya mengajarkan sebaliknya: benar dulu, tampilan menyusul kalau memang pantas.

“Kalau kamu ingin kaya,” ujar sang guru suatu hari,

“jangan sibuk kelihatan kaya. Sibuklah jadi orang yang dipercaya.”

Kalimat itu Kang Slamet pegang sampai hari ini. Ia tidak ingin kelihatan kaya. Yang ia inginkan adalah kaya yang sebenarnya. Kaya hati sehingga tidak iri. Kaya sabar sehingga tidak tergesa. Kaya syukur sehingga selalu merasa cukup.

Bagi Kang Slamet, lebih baik terlihat miskin daripada harus melakukan hal-hal yang menyimpang dari aturan agama. Lebih baik hidup pelan daripada cepat tapi salah arah. Prinsip ini yang, menurutnya, telah menyelamatkan hidupnya—bukan hanya secara ekonomi, tapi secara batin.

Ia menutup ceritanya dengan senyum kecil.

“Hari ini orang boleh menilai saya apa saja. Yang penting saya tenang.”

Dan saya mengerti. Prinsip bangga hidup miskin bukan tentang masa lalu Kang Slamet. Ia adalah komitmen hidup: tidak ingin kelihatan kaya, tapi ingin kaya yang sebenarnya.

Kang Slamet… Kang Slamet…

Semoga engkau selalu diberi keselamatan dalam setiap langkah, keteguhan dalam menjaga nilai, kelapangan rezeki, serta keberkahan dalam hidup dan usaha.

Dan soal siapa guru kehidupannya?

Kang Slamet hanya tertawa kecil.

“Yang penting ilmunya hidup, bukan nama orangnya.”

Tinggalkan Balasan