Antarkita

Uncategorized

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Sehat Sejahtera di Ujung Usia

Sehat Sejahtera di Ujung Usia Menjaga Semangat, Menata Akhir Perjalanan dengan Penuh Kesadaran Oleh SiS Antarkita Ada satu fase kehidupan yang sering kali datang tanpa persiapan yang matang: ujung usia. Saat tenaga tidak lagi sekuat dulu. Saat langkah mulai melambat. Saat pikiran mulai lebih banyak merenung daripada berlari mengejar. Di fase ini, banyak orang mulai kehilangan semangat. Motivasi untuk sukses perlahan memudar. Impian diperkecil, bahkan ditinggalkan. Seolah-olah hidup sudah sampai di titik akhir, dan tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan. Padahal justru di sinilah letak ujian sebenarnya. Apakah kita akan menyerah pada keadaan, atau justru menata ulang arah hidup dengan lebih bijak dan bermakna? Karena bagaimanapun juga… sehat dan sejahtera di ujung usia jauh lebih baik dibandingkan kondisi apapun. Namun sehat dan sejahtera tidak datang begitu saja. Ia adalah hasil dari pilihan-pilihan yang kita ambil sepanjang hidup. Sehat, bukan hanya tentang fisik yang kuat. Tetapi juga tentang hati yang tenang, pikiran yang jernih, dan jiwa yang tidak gelisah. Sejahtera, bukan sekadar banyaknya harta. Tetapi tentang kecukupan, rasa cukup, dan hidup yang tidak dibebani oleh kegelisahan dunia. Banyak orang di usia muda mengejar sukses dengan penuh ambisi, tetapi lupa menyiapkan masa tua yang bermartabat. Mereka bekerja tanpa menjaga kesehatan. Mereka mengumpulkan harta tanpa mengatur keseimbangan hidup. Mereka mengejar dunia tanpa mempersiapkan bekal akhirat. Akibatnya, ketika usia mulai menua, yang datang bukan ketenangan… tetapi kelelahan. Bukan rasa cukup… tetapi kekhawatiran. Di sinilah pentingnya kesadaran baru. Bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai sesuatu, tetapi tentang bagaimana kita mengakhiri perjalanan dengan baik. Masih ada waktu. Untuk memperbaiki pola hidup. Untuk mulai menjaga kesehatan dengan lebih serius. Untuk mengatur keuangan agar tidak menjadi beban di masa depan. Untuk memperkuat hubungan dengan keluarga dan lingkungan. Dan yang paling penting… Untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena pada akhirnya, ketenangan di ujung usia bukan ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, tetapi oleh seberapa dekat kita dengan Allah. Harta bisa membantu, tetapi tidak menjamin ketenangan. Relasi bisa menguatkan, tetapi tidak selalu menemani sampai akhir. Namun ketika hati sudah bersandar kepada Allah, ada ketenangan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. Di usia yang semakin matang, seharusnya yang bertambah bukan hanya angka usia, tetapi juga kedewasaan dalam memandang hidup. Ambisi boleh tetap ada, tetapi harus lebih terarah. Usaha tetap dijalankan, tetapi tidak melupakan kesehatan. Keinginan tetap ada, tetapi dibatasi dengan kebijaksanaan. Karena hidup bukan lagi soal mengejar sebanyak-banyaknya, tetapi tentang menyaring mana yang benar-benar penting. Tetap produktif, tetapi tidak memaksakan diri. Tetap berusaha, tetapi tidak melupakan istirahat. Tetap mencari rezeki, tetapi tidak melupakan keberkahan. Dan yang paling penting… Menyiapkan diri untuk perjalanan yang sesungguhnya. Karena ujung usia bukanlah akhir dari segalanya, tetapi justru gerbang menuju kehidupan berikutnya. Maka jangan pernah merasa terlambat. Selama nafas masih ada, selama tubuh masih bisa digerakkan, selama hati masih bisa merasakan… Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki. Untuk hidup lebih sehat. Untuk hidup lebih seimbang. Untuk hidup lebih dekat dengan Allah. Menuju satu harapan yang sederhana namun mulia: menjalani ujung usia dalam keadaan sehat, sejahtera, tenang, dan penuh keberkahan. Karena pada akhirnya, hidup bukan dinilai dari seberapa tinggi kita pernah naik, tetapi dari bagaimana kita menutup perjalanan dengan baik. Dan sebaik-baiknya penutup adalah ketika kita kembali kepada Allah dalam keadaan tenang, cukup, dan diridhai-Nya. SiS Antarkita

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

ADA APA DENGAN KOPERASI?

ADA APA DENGAN KOPERASI? Oleh SiS antarkita Setiap rezim datang dengan narasi besar tentang ekonomi rakyat. Setiap masa menghadirkan jargon baru, program baru, dan harapan baru. Namun ada satu kata yang hampir selalu muncul kembali dalam setiap pergantian zaman itu. Koperasi. Seolah-olah koperasi adalah “tokoh lama” yang selalu dipanggil kembali ke panggung sejarah bangsa ini. Kadang redup. Kadang dilupakan. Lalu tiba-tiba dihidupkan lagi dengan semangat baru. Hari ini, di era pemerintahan baru, kita kembali mendengar narasi besar: Koperasi Merah Putih. Sebuah gagasan yang ingin menghidupkan kembali koperasi sebagai kekuatan ekonomi rakyat. Tentu gagasan ini menarik. Namun sebelum kita terlalu jauh membahas masa depan koperasi, ada baiknya kita berhenti sejenak. Lalu bertanya dengan jujur. Sebenarnya ada apa dengan koperasi? Hehehe… 😄 Koperasi: Ide Besar Para Pendiri Bangsa Jika kita menengok sejarah, koperasi bukanlah ide kecil. Ia lahir dari gagasan besar para pendiri bangsa, terutama Mohammad Hatta, yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Bung Hatta melihat bahwa ekonomi tidak boleh hanya dikuasai oleh segelintir pemilik modal. Menurutnya, sistem ekonomi yang adil harus memberi ruang bagi rakyat kecil untuk memiliki, mengelola, dan menikmati hasil usaha bersama. Karena itulah koperasi disebut sebagai soko guru perekonomian Indonesia. Artinya koperasi diharapkan menjadi tiang utama ekonomi rakyat. Bahkan secara konstitusional, semangat koperasi tercermin dalam Pasal 33 UUD 1945, yang menekankan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Secara filosofis, koperasi adalah manifestasi dari gotong royong dalam ekonomi. Konsepnya luar biasa indah. Rakyat kecil tidak hanya menjadi konsumen. Tetapi menjadi pemilik ekonomi itu sendiri. Negara Sangat Serius Jika melihat struktur kelembagaan, negara terlihat sangat serius membangun koperasi. Negara membentuk: Kementerian Koperasi dan UKM di tingkat pusat dinas koperasi di tingkat provinsi dinas koperasi di tingkat kabupaten dan kota Struktur ini sudah berjalan puluhan tahun. Ada berbagai program: pelatihan koperasi pembinaan koperasi penguatan koperasi revitalisasi koperasi Dan tentu saja semua itu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Yang jika kita telusuri, semua itu berasal dari uang rakyat. Maka pertanyaannya menjadi sangat wajar: Apa yang sebenarnya diperoleh rakyat dari investasi negara yang begitu besar pada koperasi? Mari Kita Turun ke Kehidupan Nyata Sekarang mari kita keluar dari ruang seminar. Mari kita berjalan ke tempat yang paling jujur dalam menggambarkan ekonomi rakyat: Pasar. Masuklah ke pasar tradisional. Di sana kita melihat ekosistem ekonomi yang sangat hidup. Ada: tukang ojek pedagang sayur pedagang ikan pedagang daging pedagang sembako pedagang pakaian pedagang perabot penjual makanan Ekosistem ekonomi rakyat yang luar biasa dinamis. Sekarang kita bertanya secara sederhana: Berapa banyak dari ekosistem ini yang benar-benar lahir dari koperasi? Kalau kita menggunakan pendekatan statistik yang jujur, jawabannya agak mengejutkan. Persentasenya sangat kecil. Bahkan dalam beberapa analisis ekonomi, kontribusi koperasi di sektor ini dianggap hampir tidak signifikan. Hehehe… agak pahit memang. 😅 Kita Geser ke Pasar Modern Sekarang mari kita bergeser sedikit. Masuk ke mall. Masuk ke pusat perbelanjaan modern. Di sana kita melihat jaringan ekonomi yang sangat kuat: supermarket besar minimarket berjaringan brand nasional brand global Mereka memiliki: sistem distribusi yang rapi manajemen profesional jaringan modal yang kuat Sekali lagi kita bertanya: Di mana koperasi dalam ekosistem ekonomi modern ini? Jawabannya sering kali sama. Koperasi hadir… tetapi tidak terlihat sebagai kekuatan besar. Koperasi yang Berubah Fungsi Dalam praktiknya, banyak koperasi akhirnya berubah fungsi. Alih-alih menjadi mesin produksi dan distribusi ekonomi rakyat, koperasi lebih sering menjadi: koperasi simpan pinjam koperasi pegawai koperasi sekolah Fungsinya lebih banyak sebagai lembaga administratif atau lembaga keuangan kecil. Padahal cita-cita awal koperasi jauh lebih besar. Ia seharusnya menjadi: penggerak produksi rakyat penguat distribusi rakyat pelindung harga bagi produsen kecil Sebuah Pertanyaan yang Tidak Nyaman Maka pertanyaan penting yang harus kita ajukan bukanlah: “Apakah koperasi itu penting?” Karena jawabannya jelas: penting. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: Mengapa koperasi tidak tumbuh menjadi kekuatan ekonomi nyata di masyarakat? Apakah karena: manajemennya tidak profesional terlalu birokratis terlalu bergantung pada program pemerintah atau mentalitas pengelola yang belum siap menjadi pengusaha kolektif Pertanyaan-pertanyaan ini memang tidak selalu nyaman. Namun sejarah menunjukkan bahwa perubahan sering kali dimulai dari kejujuran melihat kenyataan. Kini Muncul Narasi Baru: Koperasi Merah Putih Sekarang kita kembali memasuki babak baru. Narasi besar kembali muncul dengan nama: Koperasi Merah Putih. Sebuah gagasan untuk membangkitkan koperasi sebagai kekuatan ekonomi nasional. Harapannya tentu sangat mulia. Agar koperasi tidak lagi hanya hidup di dokumen kebijakan. Tidak hanya hidup di pidato. Tidak hanya hidup di papan nama. Tetapi benar-benar hidup di: produksi distribusi perdagangan kesejahteraan rakyat Pelajaran dari Sejarah Bangsa ini sebenarnya tidak kekurangan ide besar. Yang sering kali kita kekurangan adalah: konsistensi profesionalisme dan keberanian untuk jujur melihat kegagalan masa lalu. Jika koperasi benar-benar ingin bangkit, maka ia harus berubah dari: organisasi administratif menjadi mesin ekonomi rakyat. Koperasi harus masuk ke: pertanian perdagangan distribusi industri kecil bahkan teknologi. Jika tidak, koperasi akan terus menjadi narasi yang indah tetapi lemah dalam realitas. Sebuah Renungan Pada akhirnya pertanyaan ini tetap menggantung. Dengan sedikit senyum, sedikit renungan, dan sedikit humor. Ada apa dengan koperasi? Apakah kali ini koperasi benar-benar akan menjadi kekuatan ekonomi rakyat? Atau ia hanya akan kembali menjadi cerita lama yang berulang dari rezim ke rezim? Kita lihat saja. Sambil minum kopi. Dan sambil berharap… suatu hari koperasi benar-benar menjadi rumah besar ekonomi rakyat Indonesia. Hehehe… ☕😄  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Jangan Takut Salah, Takutlah Tidak Bersandar

Jangan Takut Salah, Takutlah Tidak Bersandar Oleh: SiS, antarkita Manusia sering kali hidup dalam ketakutan: takut salah langkah, takut salah memilih, takut salah berbicara, takut salah mengambil keputusan. Kita ingin semuanya sempurna. Kita ingin semua berjalan tanpa cela. Padahal kita ini manusia. Tempatnya lupa. Tempatnya khilaf. Tempatnya salah. Yang seharusnya kita takutkan bukanlah kesalahan itu sendiri. Yang seharusnya kita takutkan adalah ketika kita melangkah tanpa bersandar kepada Allah. Karena kesalahan yang lahir dari hati yang bersandar masih bisa Allah luruskan. Tetapi kesombongan yang merasa tidak butuh kepada Allah bisa menjerumuskan. Allah ﷻ berfirman: “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. Al-Qur’an, At-Talaq: 3) Bersandar kepada Allah bukan berarti kita tidak berusaha. Justru kita berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada-Nya. Kita berpikir, bermusyawarah, berikhtiar, kemudian bertawakal. Sering kali kita menunda keputusan karena takut salah. Kita menahan langkah karena takut gagal. Kita diam karena takut dikritik. Padahal hidup ini memang ruang ujian. Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah yang banyak bertaubat.” (HR. Imam Tirmidzi, hasan shahih) Hadits ini menenangkan hati. Salah itu manusiawi. Yang membedakan adalah bagaimana kita kembali. Jika salah, istighfar. Jika keliru, perbaiki. Jika jatuh, bangkit lagi. Yang berbahaya bukan salahnya, tetapi merasa benar tanpa mau kembali kepada Allah. Allah juga mengingatkan: “Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Al-Qur’an, Ali ‘Imran: 159) Ayat ini mengajarkan keseimbangan: tekad dulu, tawakal kemudian. Jangan hanya tawakal tanpa usaha. Jangan pula hanya usaha tanpa tawakal. Ada orang yang gagal tapi hatinya tenang, karena ia tahu ia telah melibatkan Allah dalam setiap langkahnya. Ada pula orang yang berhasil tetapi hatinya gelisah, karena ia merasa semua karena dirinya. Maka jangan takut salah memilih selama pilihan itu diawali dengan doa. Jangan takut melangkah selama langkah itu diiringi istikharah. Jangan takut gagal selama hati tetap bersujud. Karena jika kita bersandar kepada Allah, bahkan kesalahan pun bisa menjadi jalan kebaikan. Dan jika kita tidak bersandar, bahkan keberhasilan pun bisa menjadi awal kehancuran. Pada akhirnya, hidup bukan tentang selalu benar. Hidup adalah tentang selalu kembali. Kembali ketika salah. Kembali ketika ragu. Kembali ketika lemah. Karena hanya Allah tempat bersandar yang tidak pernah mengecewakan. Jangan takut salah, takutlah tidak bersandar. Oleh: SiS, antarkita

Uncategorized

Dukungan Muhammadiyah terhadap MBG di Tengah Kontroversi: Antara Komitmen Sosial dan Tanggung Jawab Kritis

Dukungan Muhammadiyah terhadap MBG di Tengah Kontroversi: Antara Komitmen Sosial dan Tanggung Jawab Kritis Oleh: SiS, antarkita Program MBG (Makan Bergizi Gratis) digagas dengan narasi besar: memperbaiki kualitas gizi masyarakat, terutama anak-anak, sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat melalui pelibatan rantai pasok lokal. Secara normatif, tujuan ini selaras dengan agenda keadilan sosial dan pembangunan sumber daya manusia. Tidak mengherankan jika berbagai elemen masyarakat, termasuk Muhammadiyah, menyatakan dukungan terhadap orientasi besar program tersebut. Namun dalam praktik kebijakan publik, niat baik tidak selalu berbanding lurus dengan implementasi yang efektif. Di ruang publik, MBG memunculkan sejumlah kontroversi yang layak didiskusikan secara terbuka dan rasional. Pertama, soal istilah “gratis”. Dalam tata kelola fiskal, tidak ada program yang benar-benar tanpa biaya. Semua bersumber dari anggaran negara yang dihimpun dari pajak rakyat. Karena itu, persoalan mendasarnya bukan pada istilahnya, tetapi pada transparansi pembiayaan, efisiensi penggunaan anggaran, dan akuntabilitas distribusi manfaat. Jika masyarakat merasa terbebani pajak, sementara kualitas program dipertanyakan, maka komunikasi kebijakan menjadi lemah. Kedua, muncul pertanyaan mengenai urgensi MBG dibanding penguatan Program Makan Bergizi (PMB) yang telah ada. Apakah pendekatan baru ini merupakan penyempurnaan, atau justru penggantian tanpa evaluasi komprehensif terhadap program sebelumnya? Dalam kebijakan publik, kesinambungan program sangat penting agar tidak terjadi pemborosan sumber daya dan disrupsi sistem yang sudah berjalan. Ketiga, perdebatan tentang sumber anggaran. Jika benar ada kekhawatiran bahwa alokasi untuk MBG beririsan dengan sektor pendidikan, maka ini menyentuh isu prioritas pembangunan. Pendidikan dan pemenuhan gizi sama-sama fundamental dalam membangun generasi unggul. Kebijakan yang baik seharusnya tidak menciptakan dikotomi, melainkan integrasi yang memperkuat keduanya. Keempat, janji penguatan ekosistem UMKM. MBG diproyeksikan sebagai penggerak ekonomi rakyat melalui keterlibatan petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil dalam rantai pasok. Tetapi jika dalam implementasi UMKM tidak dilibatkan secara luas dan adil, bahkan justru tersisih oleh skema pengadaan yang terpusat, maka tujuan pemberdayaan menjadi kontradiktif. Program sosial berskala besar seharusnya membuka akses ekonomi yang inklusif, bukan mempersempitnya. Kelima, isu kualitas dan keamanan pangan. Munculnya laporan kasus keracunan serta dugaan ketidaksesuaian antara nilai anggaran dan mutu makanan menuntut evaluasi serius. Dalam program yang menyasar jutaan penerima, pengawasan kualitas bukan sekadar teknis, melainkan menyangkut kepercayaan publik dan keselamatan anak-anak sebagai kelompok paling rentan. Di tengah dinamika tersebut, posisi Muhammadiyah menjadi signifikan. Sebagai gerakan Islam modern yang berakar pada tajdid (pembaruan) dan keberpihakan kepada mustadh’afin (kelompok lemah), dukungan terhadap kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat adalah hal yang konsisten dengan misi dakwah sosialnya. Namun Muhammadiyah juga memiliki tradisi intelektual yang kuat dalam mengedepankan musyawarah, objektivitas, dan keberanian moral. Di sinilah ruang refleksi muncul: apakah dukungan terhadap MBG telah diiringi dengan sikap evaluatif yang memadai? Mengapa belum banyak terdengar kritik terbuka dari kader Muhammadiyah terhadap berbagai persoalan implementatif yang berkembang? Apakah kritik dipahami sebagai bentuk oposisi, atau justru sebagai bagian dari tanggung jawab amar ma’ruf nahi munkar dalam konteks kebijakan publik? Dukungan organisasi seharusnya tidak menutup ruang koreksi. Dalam tradisi pemikiran Islam yang moderat, sikap tawasuth (jalan tengah) mengajarkan keseimbangan antara loyalitas dan objektivitas. Mendukung tujuan baik sebuah program tidak berarti menutup mata terhadap kekurangannya. Justru kritik konstruktif menjadi instrumen perbaikan agar kebijakan benar-benar menghadirkan maslahat. Muhammadiyah memiliki kapasitas kelembagaan—melalui jaringan pendidikan, kesehatan, dan sosial—untuk melakukan kajian independen berbasis data mengenai dampak MBG. Kajian semacam itu dapat menjadi kontribusi strategis bagi negara, sekaligus menjaga integritas moral organisasi. Jika ditemukan kelemahan dalam implementasi, rekomendasi perbaikan dapat disampaikan secara terbuka dan argumentatif. Dalam demokrasi yang sehat, organisasi masyarakat sipil bukan sekadar pendukung kebijakan, melainkan mitra kritis yang menjaga arah pembangunan tetap berada di jalur kepentingan rakyat. Dukungan tanpa evaluasi berisiko menjadi legitimasi pasif. Sebaliknya, kritik tanpa solusi juga tidak produktif. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan: dukungan berbasis prinsip, kritik berbasis data, dan solusi berbasis kepentingan publik. Pada akhirnya, isu MBG bukan sekadar tentang program makan, melainkan tentang bagaimana negara dan masyarakat sipil membangun sistem kebijakan yang adil, transparan, dan berpihak kepada rakyat. Muhammadiyah, dengan sejarah panjangnya dalam membangun sekolah, rumah sakit, dan gerakan pemberdayaan, memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan setiap kebijakan yang didukungnya benar-benar membawa kemaslahatan yang nyata. Keberanian untuk bersikap kritis bukanlah tanda perpecahan, melainkan wujud kecintaan terhadap bangsa dan amanah publik. Dan di situlah ukuran sejati dukungan: bukan pada seberapa keras ia disuarakan, tetapi pada seberapa konsisten ia menjaga kepentingan rakyat.

Uncategorized

🌿 URIP AJA MUNG MANGAN TURU 🌿*

*🌿 URIP AJA MUNG MANGAN TURU 🌿* Dening : mBah Parji 220226 Urip iku aja nganti mung kebak mangan lan turu. Saben ndina mung ngenteni wektu mangan, bar kuwi turu maneh, esuke tangi mung mbaleni pakulinan sing padha. Yen urip mung kaya ngono, apa bedane karo wong sing ora nduwe tujuan lan ora nduwe gegayuhan? Eman banget, akeh wong padha sambat kekurangan wektu. Rumangsa wektu iku kurang kanggo nyambut gawe, kurang kanggo ngupaya masa depan, kurang kanggo nindakake kabecikan. Nanging ing sisih liyane, ana uga wong sing uripe entek mung kanggo mangan lan turu. Wektune akeh, nanging ora digunakake kanggo ngupaya urip sing luwih becik. Kamangka kebutuhan urip iku akeh sing kudu digoleki. Sandhang, pangan, papan, lan kabutuhan liyane ora bakal teka dhewe tanpa usaha. Lha terus yen sing aweh mangan saben dinane wis ora ana, banjur arep mangan apa wong kuwi mau? Pitakon iki kudune dadi pangeling supaya saben wong sadar yen urip ora bisa gumantung marang liyan saklawase. Iki nuduhake yen wong kuwi durung nduwe pangerten menawa urip iku nduwe tanggung jawab dhewe-dhewe. Saben wong kudu usaha, kudu nyambut gawe, kudu ngupaya piye carane yen wis dewasa bisa nguripi awake dhewe. Urip iku ora mung njaluk lan nampa, nanging uga kudu gelem makarya lan tanggung jawab marang uripe dhewe. Aja nganti dadi wong sing mung njagakake liyan, nanging ora gelem obah kanggo masa depane. Jane ya ora tega ndeleng wong sing nduwe sipat kaya mangkono. Urip tanpa usaha, tanpa tanggung jawab, lan tanpa semangat ngupaya kabecikan. Kahanan iki kerep kedadeyan dudu tanpa sebab. Bisa uga amarga biyen wong tuwane kurang nggatekake pendidikan lan panggulawentah tumrap anake. Anak ora diwulang mandiri, ora dibiasakake tanggung jawab, mula nalika diwasa dadi wong sing gumantung marang liyan. Mula iki dadi pepeling kanggo kita kabeh, luwih-luwih sing duwe anak. Anak kudu digulawentah kanthi becik, diwulang kerja keras, diwenehi tuladha tanggung jawab, lan dibiasakake urip mandiri. Supaya ing tembe mburine, uripe anak ora mung kebak mangan lan turu saben dinane, nanging dadi wong sing migunani, nduwe tujuan, lan bisa nguripi awake dhewe uga menehi manfaat kanggo wong liya. Urip iku cekak, wektu ora bakal mbaleni. Mula gunakna saben detik kanthi makna. Obaha awakmu, ngupayaa masa depanmu, lan dadia wong sing tanggung jawab marang uripmu dhewe. Aja nganti urip mung kari crita: mangan, turu, lan tanpa guna. Elinga, urip iku kanggo diupayakake, dudu mung kanggo dinikmati tanpa tanggung jawab.

Uncategorized

Jantung Rumah Adalah Ayah dan Ibu — Perspektif Islami

*🌿 Jantung Rumah Adalah Ayah dan Ibu — Perspektif Islami 🌿* Oleh: espeje 1309/PT 220226 Dalam pandangan Islam, keluarga bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ladang amal, tempat bertumbuhnya iman, dan madrasah pertama bagi anak-anak. Di dalam rumah itulah nilai kehidupan ditanamkan, akhlak dibentuk, dan masa depan generasi ditentukan. Dan di pusat semua itu, Allah menempatkan ayah dan ibu sebagai penentu arah kehidupan keluarga. Rumah ibarat sebuah tubuh, dan orang tua adalah jantungnya. Jantung yang sehat mengalirkan darah yang bersih, memberi kehidupan, kekuatan, dan keseimbangan bagi seluruh tubuh. Begitu pula ayah dan ibu yang hatinya hidup dengan iman, akhlaknya terjaga, dan cintanya tulus karena Allah, akan mengalirkan kebaikan kepada seluruh anggota keluarga. Dari merekalah mengalir ketenangan, kasih sayang, dan keberkahan. Sebaliknya, jika jantung melemah, seluruh tubuh merasakan dampaknya. Jika orang tua jauh dari nilai iman dan keteladanan, rumah kehilangan arah, dan anak-anak tumbuh tanpa pegangan yang kuat. Karena itulah kualitas keluarga sangat bergantung pada kualitas ayah dan ibu. Allah SWT menegaskan tanggung jawab besar orang tua dalam firman-Nya: > “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” > (QS. At-Tahrim: 6) Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga keluarga bukan hanya urusan dunia, tetapi juga tanggung jawab akhirat. Orang tua bertugas menuntun, mendidik, dan membimbing keluarga menuju keselamatan dan kebaikan. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan besarnya amanah tersebut. Beliau bersabda: > “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” > (HR. Bukhari dan Muslim) Sabda Nabi Muhammad ini menegaskan bahwa ayah dan ibu adalah pemimpin dalam rumah tangga. Kepemimpinan itu bukan hanya dalam memenuhi kebutuhan lahir, tetapi juga membimbing iman, akhlak, dan kehidupan anak-anak. Ayah adalah tiang kekuatan keluarga. Dari keteguhan dan tanggung jawabnya, anak belajar tentang perjuangan, kejujuran, dan ketegasan dalam kebenaran. Ayah menanamkan rasa aman dan arah hidup bagi keluarganya. Ibu adalah sumber kasih sayang dan kelembutan. Dari didikannya, anak mengenal cinta, kesabaran, dan keikhlasan. Pelukan ibu menjadi sekolah pertama tentang ketenteraman jiwa dan kehangatan iman. Ketika ayah dan ibu berjalan bersama dalam kebaikan, rumah menjadi taman yang penuh keberkahan. Allah menggambarkan keindahan hubungan keluarga dalam firman-Nya: > “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup agar kamu memperoleh ketenangan darinya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” > (QS. Ar-Rum: 21) Dari ketenangan dan kasih sayang itulah lahir keluarga yang harmonis. Anak-anak tumbuh dengan jiwa yang sehat, akhlak yang mulia, dan hati yang dekat dengan Allah. Dari rumah yang baik akan lahir generasi yang membawa kebaikan bagi masyarakat. Sekolah, lingkungan, dan pergaulan hanyalah tempat lanjutan pembelajaran. Namun fondasi utamanya tetap di rumah. Jika jantung keluarga sehat, maka seluruh kehidupan keluarga akan berjalan dengan baik. Tetapi jika jantung itu lemah, pengaruh luar mudah menggoyahkan. Maka menjadi ayah dan ibu adalah amanah yang agung. Ia menuntut kesabaran dalam mendidik, kebijaksanaan dalam bersikap, dan ketulusan dalam mencintai karena Allah. Setiap kata adalah doa, setiap sikap adalah pelajaran, dan setiap perbuatan menjadi warisan bagi anak-anak. Marilah kita merenung. Jika kita adalah jantung bagi keluarga kita, maka hidupkanlah hati dengan iman, kuatkan dengan ibadah, dan hiasi dengan akhlak mulia. Biarkan kebaikan mengalir dari diri kita kepada pasangan dan anak-anak, hingga rumah menjadi sumber ketenangan dan keberkahan. Semoga dengan memahami amanah ini, kita mampu membangun keluarga yang berkualitas, sehat, dan harmonis — keluarga yang dipenuhi rahmat Allah, diliputi kasih sayang, dan menjadi jalan keselamatan di dunia serta akhirat. 🌿

Uncategorized

MAKAN BERGIZI GRATIS DAN UJIAN KEJUJURAN BANGSA

MAKAN BERGIZI GRATIS DAN UJIAN KEJUJURAN BANGSA Oleh: Abudin Robbani* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya adalah ikhtiar negara menyiapkan masa depan bangsa. Ia tidak sekadar program sosial, melainkan investasi peradaban: memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing. Namun di balik tujuan mulia itu, MBG juga menjadi ujian kejujuran kolektif, terutama bagi para pengelolanya. Belakangan, muncul kegelisahan publik: *praktik pengurangan porsi, penurunan kualitas gizi, hingga penyiasatan harga demi mengambil keuntungan.* Jika benar terjadi, ini bukan sekadar pelanggaran teknis, tetapi pengkhianatan amanah yang berdampak panjang—baik secara moral, sosial, maupun spiritual. *Amanah Publik yang Tidak Ringan* Dalam perspektif Islam, dana publik adalah amanah suci. Al-Qur’an menegaskan: *وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ* “Dan janganlah kamu memakan harta sesama kamu dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 188) Menyiasati anggaran MBG—dengan dalih efisiensi atau operasional—pada hakikatnya adalah memakan harta negara dan hak anak-anak secara batil. Lebih dari itu, *praktik ini masuk dalam kategori tathfîf (kecurangan)* yang secara keras dikecam Al-Qur’an: *وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ* “Celakalah orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthaffifin: 1) Jika dulu kecurangan berbentuk timbangan, hari ini ia bermetamorfosis menjadi pengurangan gizi, porsi, dan kualitas. *Antara Ghulul dan Penipuan Sistemik* Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras kepada para pengelola urusan publik: *مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ* “Siapa yang kami tugaskan dalam suatu pekerjaan dan telah kami beri gaji, maka apa yang ia ambil setelah itu adalah ghulul (korupsi).” (HR. Abu Dawud) Ghulul bukan sekadar korupsi uang besar. Selisih kecil yang diambil secara sengaja dari dana publik tetaplah ghulul. Apalagi jika dampaknya langsung mengenai kebutuhan dasar anak-anak. Nabi ﷺ juga menegaskan prinsip etika publik yang tak lekang oleh zaman: *مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا* “Barang siapa menipu kami, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim) Menurunkan mutu makanan sambil melaporkan anggaran seolah sesuai standar adalah penipuan sistemik. *Perspektif Ulama: Dosa Besar dan Bahaya Sosial* Imam An-Nawawi menegaskan bahwa ghulul adalah dosa besar karena berkaitan dengan hak umum kaum Muslimin. Ibnu Taimiyah bahkan menyebut pengelola yang menyalahgunakan harta rakyat sebagai pengkhianat amanah yang wajib dihentikan demi kemaslahatan publik. Sementara Imam Al-Ghazali mengingatkan: “Harta haram meski sedikit akan merusak agama, akhlak, dan masyarakat.” (Ihya’ Ulumiddin) Dampak MBG yang dikelola secara curang tidak berhenti pada angka laporan keuangan. Ia menjalar menjadi: Anak-anak kurang gizi Prestasi belajar menurun Ketimpangan sosial makin tajam Hilangnya kepercayaan publik pada negara *Jalan Lurus: Transparansi atau Mundur* Islam tidak menutup mata terhadap realitas kenaikan harga bahan pangan atau tekanan operasional. Namun kaidah fiqh menegaskan: *الضَّرَرُ لَا يُزَالُ بِالضَّرَرِ* “Mudarat tidak boleh dihilangkan dengan mudarat yang lain.” Jika anggaran tidak mencukupi, jalan syar’i dan konstitusionalnya adalah: Transparansi kepada pemberi amanah Evaluasi dan renegosiasi anggaran Atau mundur secara terhormat dari pengelolaan Bukan dengan mengorbankan hak anak-anak.   *Penutup: MBG sebagai Cermin Bangsa* Makan Bergizi Gratis bukan hanya soal makanan, tetapi soal moral. Di meja makan anak-anak itu, sesungguhnya sedang diuji: apakah bangsa ini mampu jujur ketika diberi amanah, atau justru tergelincir saat kekuasaan kecil berada di tangan. Kejujuran para pengelola MBG hari ini akan menentukan kualitas generasi Indonesia esok hari. Sebab bangsa besar tidak hanya dibangun oleh program besar, tetapi oleh integritas orang-orang kecil yang memegang amanah besar. **Founder* *UMMUL QURO INSTITUTE* *Bekasi, 3 Februari 2026*

Uncategorized

PENDUKUNG BERLANDASKAN NILAI, PENJILAT BERLANDASKAN KEPENTINGAN

📌 PENDUKUNG BERLANDASKAN NILAI, PENJILAT BERLANDASKAN KEPENTINGAN Oleh SiS antarkita Di setiap perjalanan kepemimpinan, kita selalu menemukan dua tipe orang yang berdiri di dekat penguasa: pendukung dan penjilat. Keduanya tampak serupa—setia, loyal, dan terlihat membela. Namun jika ditelusuri lebih dalam, keduanya memiliki fondasi yang berbeda, yang berdampak sangat jauh bagi pemimpin, rakyat, dan masa depan bangsa. 1. Pendukung: Loyal pada Nilai dan Regulasi Pendukung sejati tidak membela pemimpin karena takut atau mengharapkan keuntungan pribadi. Ia membela nilai (values), prinsip, dan regulasi (rules/laws) yang berlaku. Loyalitasnya bersifat kritis namun konstruktif: ia membela yang benar, menegur yang salah, dan memastikan setiap kebijakan pemimpin selaras dengan kemaslahatan rakyat. Landasan hukum dan moral: Sistem demokrasi modern menekankan checks and balances (Montesquieu, 1748). Tanpa mekanisme ini, kekuasaan eksekutif dapat disalahgunakan, dan kesalahan pemimpin berdampak luas bagi rakyat. Pendukung sejati menjadi perpanjangan tangan prinsip ini di lapangan, memastikan nilai-nilai dijaga. Tanggung jawab sosial: Pendukung memahami bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak milik. Koreksi yang ia lakukan bukan untuk menjatuhkan pemimpin, tetapi untuk menyelamatkan bangsa, rakyat, dan pemimpin itu sendiri dari kesalahan yang bisa menghancurkan moral dan legitimasi kepemimpinan. Contoh nyata: Dalam sejarah Indonesia, beberapa pejabat yang berani mengingatkan presiden atau gubernur terhadap keputusan yang keliru, meski berisiko kehilangan posisi, justru menyelamatkan stabilitas negara dan rakyat. Pendukung sejati mengajarkan bahwa loyalitas yang buta adalah racun, sedangkan loyalitas yang kritis adalah kekuatan. Ia berdiri bukan demi kursi, tetapi demi keberlanjutan nilai yang diperjuangkan. 2. Penjilat: Bersandar pada Personal, Mengabaikan Benar dan Salah Penjilat adalah kebalikan dari pendukung. Ia membela figur pribadi pemimpin, bukan nilai atau regulasi. Salah atau benar, merugikan rakyat atau tidak, semua dianggap benar selama memuaskan ego pemimpin. Bahaya psikologis: Fenomena ini disebut “yes-man syndrome”, di mana individu menyesuaikan pandangan untuk menyenangkan otoritas, mengabaikan fakta dan kebenaran (Janis, 1982, Groupthink). Lingkungan semacam ini membuat pemimpin kehilangan cermin moral dan penilaian objektif. Dampak sosial dan politik: Pemimpin yang dikelilingi penjilat akan mudah melakukan kesalahan berulang, kebijakan merugikan rakyat diterapkan, dan legitimasi kepemimpinan tergerus. Rakyat yang menjadi korban kesalahan ini sering kali tidak punya jalur kritik yang efektif karena semua kanal dikontrol oleh orang-orang yang selalu mengatakan “ya” kepada penguasa. Contoh sejarah: Banyak rezim yang jatuh bukan karena lawan politik, tetapi karena dikelilingi oleh lingkaran internal yang menyanjung tanpa nurani. Ketika kritik ditekan dan kesalahan dibenarkan, keruntuhan moral dan struktural menjadi tidak terelakkan. 3. Konsekuensi bagi Pemimpin, Negara, dan Rakyat Pemimpin: Tanpa pendukung yang berani mengoreksi, pemimpin kehilangan arah dan moral. Puji tanpa kritik membuatnya buta terhadap kesalahan, yang akhirnya merusak reputasi dan otoritasnya. Negara: Penjilat memungkinkan kebijakan keliru diterapkan tanpa hambatan. Transparansi dan akuntabilitas hilang, sistem pemerintahan melemah, dan potensi korupsi meningkat. Rakyat: Kesalahan yang tidak dikoreksi berimbas pada kesejahteraan rakyat. Penjilat menutupi masalah, sehingga rakyat menderita akibat keputusan yang seharusnya bisa diperbaiki. 4. Kesimpulan: Loyalitas Sejati vs Kepentingan Diri Pendukung: Berdiri di atas nilai, hukum, dan kepentingan rakyat. Penjilat: Berdiri di atas kepentingan pribadi dan figur penguasa. Loyalitas sejati bukan sekadar menyanjung. Loyalitas sejati adalah keberanian untuk berkata benar, menegur yang salah, dan menjaga amanah. Bangsa hanya bisa maju bila pemimpin dikelilingi pendukung yang berani mengoreksi, bukan penjilat yang menjerumuskan. Sejarah membuktikan: yang menyelamatkan pemimpin bukan sanjungan, tapi kebenaran. Yang menghancurkan pemimpin bukan musuh luar, tapi penjilat di sekitarnya. Maka pertanyaannya sederhana: Apakah kita menjadi pendukung yang menjaga nilai dan regulasi, atau penjilat yang menjaga kepentingan diri sendiri?

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

MBG 80% Menu Lokal: Menggerakkan Ekonomi Lokal, Melestarikan Keanekaragaman, dan Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional

MBG 80% Menu Lokal: Menggerakkan Ekonomi Lokal, Melestarikan Keanekaragaman, dan Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional Oleh: SiS, antarkita Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar menyediakan makanan bagi anak sekolah dan ibu hamil. Dengan perencanaan yang tepat, MBG dapat menjadi instrumen strategis pembangunan ekonomi lokal, penguatan UMKM, dan ketahanan pangan nasional. Salah satu strategi utama adalah mengalokasikan 80% isi menu MBG dari produk lokal setiap wilayah, sehingga konsumsi gizi tidak hanya bermanfaat bagi penerima, tetapi juga memberdayakan ekonomi masyarakat setempat dan mendorong pertumbuhan industri pangan lokal. 1️⃣ Memberdayakan Ekonomi Lokal secara Berkelanjutan Menggunakan bahan pangan lokal sebagai 80% isi menu MBG memberikan efek multiplier ekonomi. Petani, peternak, nelayan, dan pengolah pangan UMKM menjadi bagian dari rantai pasok. Dampaknya: Meningkatkan pendapatan pelaku UMKM dan petani lokal. Menciptakan lapangan kerja tambahan di sektor produksi, pengolahan, dan distribusi pangan. Menjaga aliran uang tetap berputar di wilayah masing-masing, memperkuat ekonomi lokal dan desa. Pendekatan ini selaras dengan konsep ekonomi kerakyatan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM, yang menekankan pemberdayaan usaha kecil menengah sebagai tulang punggung ekonomi nasional. 2️⃣ Melestarikan Keanekaragaman Pangan Nasional Indonesia memiliki kekayaan pangan yang luar biasa, dengan lebih dari 1.300 jenis tumbuhan pangan lokal Pangan Lokal Indonesia. Mengintegrasikan pangan lokal ke dalam menu MBG: Membiasakan generasi muda dengan cita rasa dan nutrisi khas daerah masing-masing. Mengurangi ketergantungan pada pangan impor. Mendukung pelestarian varietas lokal yang berpotensi hilang akibat homogenisasi pangan global. Keanekaragaman ini juga mendukung kesehatan jangka panjang, karena variasi pangan lokal cenderung kaya mikronutrien dan serat, sehingga memperkuat imunitas anak dan ibu hamil. 3️⃣ Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional Ketahanan pangan bukan sekadar ketersediaan pangan, tetapi mencakup aspek gizi, distribusi, akses, dan keberlanjutan produksi lokal, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Dengan MBG berbasis 80% pangan lokal: Pasokan pangan nasional menjadi lebih stabil, terutama saat terjadi fluktuasi harga atau krisis impor. Petani dan produsen lokal memiliki pasar tetap dan terencana. Pangan sehat dan bergizi tersedia untuk anak-anak, ibu hamil, dan masyarakat luas tanpa mengorbankan pendidikan atau sektor strategis lainnya. 4️⃣ Menjadi Lokomotif Pembangunan UMKM dan Industri Pangan Lokal MBG bukan sekadar program distribusi, tetapi bisa menjadi ekosistem industri pangan lokal. Dengan integrasi pelaku UMKM dan koperasi: Dapur komunitas, pengolahan makanan skala kecil, dan distribusi pangan lokal dapat tersertifikasi dan mendapatkan pelatihan standar kualitas. Anggaran APBN yang sudah ada dioptimalkan untuk memberdayakan ekonomi lokal, bukan sekadar mengalihkan dana. Munculnya inovasi produk lokal, seperti olahan sagu, jagung, singkong, dan sayuran lokal, yang siap dipasarkan lebih luas. 5️⃣ Menjamin Efektivitas dan Keadilan Anggaran Dengan fokus pada pemberdayaan lokal: Program MBG tetap mematuhi konstitusi terkait anggaran pendidikan minimal 20% APBN (Pasal 31 ayat 4 UUD 1945). Efisiensi anggaran diarahkan pada penguatan ekonomi masyarakat, bukan sekadar pemotongan biaya operasional atau birokrasi. Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana menjadi kunci agar MBG benar-benar memberi manfaat bagi rakyat. Kesimpulan Mengalokasikan 80% menu MBG dari produk lokal adalah strategi multi-dimensi: Meningkatkan ekonomi lokal dan memberdayakan UMKM Melestarikan keanekaragaman pangan nasional Memperkuat ketahanan pangan dan kedaulatan pangan Indonesia MBG bukan sekadar soal makanan, tetapi investasi jangka panjang bagi generasi dan ekonomi nasional, yang harus dirancang dengan prinsip lokalisasi, desentralisasi, inklusivitas, dan konstitusional. Oleh: SiS, antarkita  

Uncategorized

Menghadapi Takdir yang Tidak Disukai: Sikap Seorang Muslim Saat Ujian Datang dari Rumah Sendiri

🌙 Menghadapi Takdir yang Tidak Disukai: Sikap Seorang Muslim Saat Ujian Datang dari Rumah Sendiri Tidak semua musibah datang dari luar. Ada ujian yang justru hadir dari orang yang paling dekat — pasangan hidup sendiri. Seorang suami diuji dengan sakit yang membuatnya tak mampu bekerja. Tubuhnya lemah, penghasilannya terhenti. Namun di saat seperti itu, ia tidak menemukan empati dari istrinya. Tidak ada perhatian terhadap kesehatannya, tidak ada dukungan untuk pemulihan, bahkan tuntutan nafkah tetap datang tanpa mempertimbangkan kondisi. Ini bukan sekadar persoalan ekonomi. Ini ujian hati, ujian kesabaran, ujian keimanan. Lalu bagaimana sikap seorang muslim menghadapi takdir seperti ini? 1️⃣ Memahami Hakikat Ujian Allah SWT berfirman bahwa manusia akan diuji dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Ujian bukan tanda kebencian Allah. Justru sering kali menjadi tanda perhatian-Nya. Ujian dalam rumah tangga adalah bentuk seleksi kualitas iman. Karena rumah adalah tempat paling pribadi — jika di sana kita mampu sabar, berarti iman kita sedang ditempa. 2️⃣ Sabar yang Bermartabat Sabar bukan berarti membiarkan diri dizalimi tanpa batas. Sabar adalah kemampuan mengendalikan emosi dan tetap berada dalam koridor syariat. Seorang suami yang sakit tetap memiliki kewajiban memberi nafkah sesuai kemampuan. Namun ketika benar-benar tidak mampu, Islam tidak membebani di luar kesanggupan. Di sisi lain, seorang istri juga memiliki kewajiban berbuat baik, mendampingi, dan menjaga kehormatan suami. Jika empati tidak hadir, itu adalah kekurangan yang perlu diperbaiki — bukan dibalas dengan kemarahan, tetapi dengan kebijaksanaan. 3️⃣ Muhasabah dan Introspeksi Muslim yang matang tidak langsung menyalahkan. Ia bertanya pada diri sendiri: Apakah komunikasi selama ini terbangun dengan baik? Apakah pasangan memahami sepenuhnya kondisi sakit yang dialami? Apakah ada luka lama yang belum terselesaikan? Kadang sikap keras muncul karena ketakutan ekonomi, kecemasan masa depan, atau ketidakdewasaan emosional. Memahami akar masalah adalah langkah awal penyelesaian. 4️⃣ Dialog dengan Hikmah Islam menganjurkan musyawarah dalam rumah tangga. Sampaikan kondisi secara terbuka: “Aku sedang sakit, aku ingin sembuh, aku ingin tetap bertanggung jawab, tapi aku butuh dukunganmu.” Gunakan bahasa yang menenangkan, bukan menyudutkan. Karena hati yang keras tidak akan luluh oleh bentakan, tetapi bisa melembut oleh ketulusan. Jika perlu, libatkan keluarga atau tokoh yang bijak sebagai mediator. 5️⃣ Tawakal dan Doa sebagai Kekuatan Di titik terlemah, seorang muslim tidak kehilangan harapan. Ia bersujud lebih lama. Ia berbicara kepada Allah dengan kejujuran penuh. Kadang Allah tidak langsung mengubah pasangan kita. Tapi Allah mengubah hati kita lebih dulu — agar lebih kuat, lebih sabar, lebih matang. Dan sering kali pertolongan Allah datang tanpa diduga: Rezeki dari arah yang tak disangka Kesembuhan yang lebih cepat dari perkiraan Perubahan sikap pasangan setelah melalui fase tertentu Allah SWT Maha Membolak-balikkan hati manusia. 6️⃣ Mengambil Keputusan dengan Bijak Jika setelah ikhtiar, dialog, dan mediasi keadaan tetap tidak adil dan merusak kesehatan fisik maupun mental, Islam juga memberi ruang untuk mengambil keputusan besar dengan pertimbangan matang. Namun keputusan itu bukan karena emosi, melainkan karena menjaga keadilan dan kemaslahatan. Tujuan pernikahan adalah sakinah, mawaddah, rahmah. Jika itu tidak tercapai, maka solusi harus dicari dengan tetap menjaga adab dan kehormatan. 🌿 Intinya: Respon Lebih Penting dari Kejadian Takdir mungkin tidak selalu bisa kita pilih. Tetapi sikap kita selalu bisa kita tentukan. Musibah bukan untuk menjatuhkan. Ia datang untuk menguatkan. Bisa jadi sakit itu menghapus dosa. Bisa jadi kesabaran itu mengangkat derajat. Bisa jadi luka itu menjadi jalan Allah mendekatkan kita lebih dalam kepada-Nya. Seorang muslim sejati tidak diukur dari seberapa mudah hidupnya, tetapi dari seberapa teguh ia berdiri saat hidup terasa tidak adil. Dan ingatlah… Tidak ada doa yang sia-sia. Tidak ada air mata yang tak tercatat. Tidak ada kesabaran yang tidak diganjar. Oleh SiS, antarkita

Scroll to Top