Dari Museum ke Laboratorium Alam, Refleksi Outing Class SMP MUHAMRA di Yogyakarta
Yogyakarta || AntaraKita.com – Pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Prinsip inilah yang dihidupkan oleh SMP Muhammadiyah Rawalo (MUHAMRA), Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, melalui kegiatan outing class atau pembelajaran luar ruangan ke Yogyakarta pada Sabtu (17/1/2026). Kegiatan yang diikuti siswa kelas VIII dan IX ini mengusung tema “Edutrip Muhamra Goes to Jogja”, sebagai ikhtiar menghadirkan pembelajaran kontekstual yang menyenangkan, bermakna, dan berorientasi pada pembentukan karakter.
Didampingi lima orang pendamping, para siswa mengikuti rangkaian edutrip dengan penuh antusias. Sejak keberangkatan hingga kembali ke Rawalo, kegiatan berlangsung tertib, ceria, dan sarat pengalaman belajar. Outing class ini dirancang tidak sekadar sebagai kunjungan rekreatif, melainkan sebagai ruang belajar alternatif yang mengintegrasikan pengetahuan, pengalaman empiris, kebersamaan, serta kemandirian murid.

Bendahara SMP Muhammadiyah Rawalo, Wahyu Yulirianto, A.P., yang turut mendampingi kegiatan, menjelaskan bahwa edutrip kali ini menyasar tiga destinasi edukatif utama, yakni Merapi Adventure Magelang, Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, dan Taman Pintar Yogyakarta.
“Di Merapi Adventure, siswa belajar tentang sejarah erupsi Gunung Merapi, dampak sosial-bencana, serta pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Kegiatan dilanjutkan dengan penelusuran Museum Sisa Hartaku sebagai pengingat nilai ketangguhan dan ketabahan masyarakat lereng Merapi,” jelasnya.

Sementara itu, di Museum Dirgantara Mandala, para siswa dikenalkan pada sejarah kedirgantaraan Indonesia, nilai-nilai kebangsaan, keberanian, kedisiplinan, dan pengabdian para tokoh TNI AU. Adapun Taman Pintar Yogyakarta menjadi ruang belajar sains interaktif yang mendorong rasa ingin tahu, berpikir kritis, dan kreativitas siswa melalui pendekatan aplikatif yang menyenangkan.
Kepala SMP Muhammadiyah Rawalo, Murtafingah Ekaningrum, S.Pd., menegaskan bahwa outing class dirancang sebagai pembelajaran langsung (experiential learning) untuk melatih motorik, kreativitas, kemandirian, serta membentuk karakter murid agar berakhlak, tangguh, dan berkepribadian.
“Melalui kegiatan ini, murid diajak menumbuhkan kebersamaan, kepedulian terhadap lingkungan, wawasan kebencanaan, serta nilai disiplin dan cinta tanah air. Outing class juga menjadi sarana menumbuhkan minat murid terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya bidang dirgantara dan sains,” ujarnya.
Senada dengan itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Galih Dewi Anggraeni, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan outing class tidak dilepaskan dari proses pembelajaran terintegrasi. Para murid diberikan tugas berupa pembuatan vlog dan kliping lintas mata pelajaran, meliputi IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Pendidikan Agama Islam (PAI).
“Selain edukatif, kegiatan ini juga bersifat rekreatif sehingga mampu mengurangi kejenuhan belajar. Murid belajar bertanggung jawab, bekerja sama, dan mengapresiasi sejarah serta nilai kebangsaan secara langsung,” ungkapnya.
Pengalaman belajar di luar kelas ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para siswa. Putri Marfiani, siswi kelas IX A, menilai pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami karena dapat melihat dan mengalami langsung objek pembelajaran di Museum Dirgantara, Lava Tour Merapi, dan Taman Pintar.
Hal senada disampaikan Catur Danu, siswa kelas VIII A, yang mengaku belajar terasa lebih menyenangkan karena dapat mencoba berbagai alat sains, bekerja sama dengan teman, serta belajar sambil bermain.
Melalui interaksi di ruang publik, para siswa juga belajar bersikap santun, bekerja sama, saling menghargai, serta membangun kepekaan sosial. Sebagai penutup rangkaian kegiatan, rombongan menyempatkan diri mengunjungi kawasan Malioboro untuk menikmati suasana kota dan membeli oleh-oleh.
Melalui kegiatan Edutrip Outing Class ini, SMP Muhammadiyah Rawalo berharap para siswa memperoleh pengetahuan, pengalaman berharga, kebersamaan, serta kenangan indah yang membekas. Kegiatan ini menegaskan bahwa belajar dapat dilakukan di mana saja—di museum, alam terbuka, dan ruang publik—sebagai bagian dari upaya menumbuhkan karakter, wawasan, dan kesadaran murid sebagai pembelajar sepanjang hayat.
(Tarqum Aziz – JurnalisMu Banyumas Raya)