Hamba Siaga
Siap Menjalani Setiap Peran Pilihan Allah SWT
Oleh SiS Antarkita
Pada hakikatnya manusia adalah makhluk Allah sepenuhnya. Kita tidak menciptakan diri kita sendiri, tidak menentukan tempat kita dilahirkan, tidak memilih keluarga kita, bahkan tidak mengetahui bagaimana akhir perjalanan hidup kita.
Semua itu berada dalam ketetapan dan kehendak Allah SWT.
Manusia sering merasa memiliki kendali penuh atas hidupnya. Ia merencanakan banyak hal, menyusun target, membangun cita-cita, bahkan terkadang merasa bahwa keberhasilan hidup adalah hasil sepenuhnya dari kecerdasan dan kerja kerasnya.
Padahal jika direnungkan dengan jujur, manusia sebenarnya hanya menjalani skenario kehidupan yang telah Allah tetapkan.
Kita hanyalah hamba yang menjalankan peran.
Allah-lah yang memilihkan peran tersebut.
Allah SWT adalah Sang Pencipta yang paling mengenal makhluk-Nya. Dia mengetahui potensi yang tersimpan dalam diri setiap manusia, mengetahui batas kemampuan kita, dan mengetahui jalan kehidupan yang paling sesuai bagi setiap hamba-Nya.
Karena itu Allah memberikan peran kehidupan yang berbeda-beda kepada setiap manusia.
Ada yang dipilih menjadi pemimpin.
Ada yang dipilih menjadi penggerak umat.
Ada yang dipilih menjadi guru yang mencerdaskan.
Ada yang dipilih menjadi pedagang yang menghidupi banyak orang.
Ada yang dipilih menjadi pekerja yang tekun dan jujur.
Ada yang Allah berikan kekayaan.
Ada yang Allah berikan kesederhanaan hidup.
Ada yang Allah uji dengan kekuasaan.
Ada yang Allah uji dengan keterbatasan.
Semua itu bukan kebetulan.
Semua itu adalah peran yang Allah pilihkan dengan kebijaksanaan-Nya yang sempurna.
Namun sering kali manusia tidak menyadari hal ini. Manusia justru sibuk membandingkan perannya dengan peran orang lain.
Ketika melihat orang lain memiliki kekuasaan, ia merasa dirinya kecil.
Ketika melihat orang lain memiliki kekayaan, ia merasa hidupnya tidak berarti.
Padahal setiap peran memiliki nilai dan kemuliaan tersendiri di hadapan Allah.
Dalam pandangan Allah, yang paling penting bukanlah besar kecilnya peran, tetapi ketulusan hati dalam menjalankan peran tersebut.
Karena itu seorang mukmin harus memiliki satu sikap penting dalam menjalani kehidupan:
menjadi Hamba Siaga.
Hamba siaga adalah hamba yang selalu siap menerima ketetapan Allah dalam hidupnya.
Ia tidak memilih-milih takdir.
Ia tidak memberontak terhadap peran yang Allah berikan.
Ia justru menjalani semuanya dengan kesadaran penuh bahwa Allah tidak pernah salah dalam memilihkan peran bagi hamba-Nya.
Hamba siaga menyadari bahwa setiap peran selalu disertai dengan bekal dari Allah.
Jika Allah memberi seseorang peran sebagai pemimpin, Allah juga memberikan kemampuan memimpin.
Jika Allah memberi seseorang peran sebagai penggerak masyarakat, Allah juga memberikan kekuatan mental dan kesabaran.
Jika Allah memberi seseorang peran sederhana dalam kehidupan, Allah juga memberikan ketenangan hati.
Allah tidak pernah memberikan amanah tanpa menyediakan bekal untuk menjalaninya.
Karena itu seorang mukmin tidak perlu merasa takut menghadapi peran hidup yang diberikan Allah.
Yang perlu dilakukan hanyalah siap siaga menjalani peran tersebut dengan penuh keikhlasan.
Siaga dalam menjalankan amanah.
Siaga dalam menghadapi ujian kehidupan.
Siaga dalam menerima perubahan yang mungkin Allah tetapkan dalam perjalanan hidup.
Hari ini kita mungkin berada dalam posisi tertentu.
Besok bisa saja Allah memindahkan kita ke posisi yang berbeda.
Hari ini kita mungkin merasakan kemudahan.
Besok bisa saja Allah menguji kita dengan kesulitan.
Semua itu adalah bagian dari proses pembelajaran yang Allah berikan kepada hamba-Nya.
Karena itu sikap terbaik seorang mukmin adalah menjalani hidup dengan empat sikap utama:
Syukur, karena setiap peran adalah karunia dari Allah.
Ikhlas, karena semua peran adalah amanah dari Allah.
Ridha, karena Allah pasti memilihkan yang terbaik bagi hamba-Nya.
Dan gembira, karena setiap takdir pasti mengandung hikmah yang indah.
Ketika seseorang mampu menjalani hidup dengan kesadaran seperti ini, maka hatinya menjadi ringan.
Ia tidak lagi iri terhadap kehidupan orang lain.
Ia tidak lagi merasa kecil dengan perannya sendiri.
Ia justru merasa bangga menjalani peran yang Allah pilihkan untuknya.
Karena ia yakin bahwa Allah tidak pernah salah memilih hamba-Nya untuk menjalankan sebuah peran.
Pada akhirnya kehidupan ini bukanlah tentang siapa yang paling terkenal, siapa yang paling kaya, atau siapa yang paling berkuasa.
Tetapi kehidupan ini adalah tentang siapa yang paling tulus menjalankan peran yang Allah amanahkan kepadanya.
Dan orang yang memahami hal ini akan menjalani hidup dengan sikap yang indah:
selalu siap, selalu bersyukur, selalu ikhlas, dan selalu gembira.
Ia hidup sebagai Hamba Siaga —
siap menjalani setiap peran dari Allah SWT dengan penuh syukur, ikhlas, ridha, dan kebahagiaan.
SiS Antarkita